
Antara benar atau tidak, sungguh ini sangat membuat ku terkejut. Dan apakah aku harus jujur atau diam.
.
.
.
.
Mengetuk-ngetuk meja kerja kala mendapatkan kenyataan yang sungguh membuatnya terkejut dan tidak percaya akan apa yang di berikan selembar kertas informasi oleh asistennya itu.
Berulang kali ia membaca dan berulang kali masih menatap kertas yang mengganjal di hatinya. Bingung apa yang harus dia buat karena kenyataannya dia juga bersalah dalam bertindak hingga tidak menyadari jika dia membuat seorang anak menderita.
Bukan.! bukan sepenuhnya kesalahan dia, hanya saja ia merasa marah dan di bohongi oleh seorang klien yang membuat kesepakatan tapi tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut.
lima puluh, lima puluh persen dalam perjanjian tapi kenyataannya klien itu memanipulasi kerjasamanya. Membuat dua puluh persen yang seharusnya miliknya hilang saat klaen itu bilang jika barang yang di kirim dari pihak pabriknya sangat tidak berkualitas dan buruk hingga mereka mengembalikan barangnya.
Curiga karena barang yang di kembalikan seperti bukan miliknya, memang benar itu sangat mirip dengan produksi pabriknya tapi kualitasnya sangat beda jauh sungguh itu yang membuatnya langsung bertindak.
Menyuruh Anak buahnya untuk mencari informasi hingga membutuhkan waktu sekitar satu minggu, dan benar saja jika kecurigaannya memang benar jika kliennya membuat curang dan membuatnya merugi serta di bohongi.
Memberi pelajaran pada klien yang sudah membuatnya marah dengan membatalkan perjanjian dan diam-diam membuat membalasnya dengan perlahan hingga membuatnya mulai bangkrut.
Menghembuskan nafas dengan berat saat mengingat kembali kejadian tiga tahun yang lalu, hingga dia bertarung dengan dirinya sendiri.
Apa yang harus aku lakukan.! jika dia tau apa yang aku perbuat, apa dia akan marah dengan ku." gumamnya dengan meremas rambut dan mendongakkan kepala untuk menatap ke atas menutup mata dan mengingat wajah gadis itu.
Maafkan aku Cil, aku tidak tau jika kau yang harus menderita." ujarnya lagi.
Ya, siapa lagi jika bukan Revan yang merasa bersalah dan galau akan apa yang dia tau saat informasi tentang foto pria tua yang ada di rumah Dhira ternyata adalah Ayah Dhira, Adi Wijaya yang telah membuatnya marah karena di rugikan dan di bohongi.
__ADS_1
Takdir sungguh mempertemukan dia dengan putri Adi wijaya yang sudah mencuri hatinya kala Revan selalu bersamanya. Membuatnya bingung dan juga takut jika Dhira tau apa yang dia perbuat pada keluarganya.
Sungguh dia merasa bersalah dengan apa yang dia perbuat tiga tahun yang lalu pada Tuan Adi wijaya jika dia mengetahui bahwa Tuan Adi mempunyai seorang putra berkebutuhan khusus dan putri yang masih sekolah dulu.
Membuat seorang Anak menderita, kesusahan dan menyimpan rasa lelah sendiri kala saat Ayahnya bangkrut dan terkena penyakit struk. Di tinggalkan seorang ibu karena tidak mau hidup susah memilih pergi dan menelantarkan anak serta suaminya. Merawat ayah yang sakit dan merawat kakaknya yang berkebutuhan khusus sungguh gadis yang luar biasa.
Ingin rasanya ia menyimpannya tapi itu tidaklah mungkin, karena bangkai yang tersimpan rapi pun juga akan tercium. Berkata jujur juga tidak mungkin karena dia takut jika Dhira membencinya dan tidak ingin bertemu lagi dengannya. Sungguh pilihan yang sulit antara jujur atau menyembunyikannya.
Berikan aku jalan yang terbaik Tuhan.!" doanya Revan dengan meminta petunjuk pada penciptanya.
****
Satu minggu berada di rumah dengan selalu di temani kak Alex yang merawatnya, dengan penuh perhatian walaupun Dhira tidak pernah meminta atau menyuruh kakaknya.
Berdiam diri di rumah dan hanya mendapatkan laporan pendapatan lewat vidio call dengan Citra. dua hari sekali Citra ke rumah ingin melihat teman dan menyerahkan uang hasil penjualan cafe karena Dhira mempercayakan Citra untuk menjaga cafenya.
Satu minggu ini Dhira tidak pernah bertemu dengan Revan, entah dia sibuk atau memang sengaja untuk menghindar. Dan itu membuat Dhira rasanya rindu karena tidak bertemu dengan Revan begitu lama.
Duduk di ruang keluarga hanya bertiga tanpa Kenzi hari ini karena dia sedang kuliah.
" Kamu udah dapat kerjaan Dik.!" tanya Dhira pada Dika.
" Belum.! kenapa?" tanyanya dengan masih main playtasion bersama Alex.
" Aku mau buka cabang baru, kamu mau enggak kerja dengan ku."
" Mau.!! kapan dan di mana." tanya Dika dengan semangat, karena sudah lelah mencari pekerjaan dan belum satu pun perusahaan yang Dika datangi menelponnya.
" Ada di jalan, xxx. Nanti ikut aku ke sana ya." ajak Dhira.
" Kamu sudah sembuh."
__ADS_1
" Sudah dari kemarin.!! Kalian saja yang lebay enggak bolehin aku keluar rumah." ujarnya dengan sinis.
" Dhila mau kelual.?" tanya Alex yang mendengarkan percakapan adik dan temannya itu.
" Iya.? Dhira mau buka cabang cafe baru, doain cafe Dhira ramai ya kak." ucap Dhira pada kakaknya, hanya mengangguk dan tersenyum.
Ya, Dhira sedikit demi sedikit selalu mengumpulkan uang dari penjualan cafe. Dhira ingin sekali mengembangkan cafenya, membuka cabang baru dan membuat lowongan pekerjaan untuk orang yang sedang menyambung hidup.
***
Mengendarai motornya yang sudah di service oleh Dika, dengan Dika yang menyetir motornya.
Jalanan sore yang macet akan kendaraan. Berhenti saat rambu lalu lintas menunjukan lampu merah.
Menatap ke arah samping tanpa sengaja Dhira melihat Revan yang sedang mengendarai mobilnya. Tersenyum saat dia melihat Revan, ingin rasanya ia menyapa tapi sayang itu tidak bisa karena lampu sudah berganti hijau.
Satu minggu tidak bertemu dengan mu, rindu ya.?" gumamnya dengan tersenyum dan menatap mobil Revan yang sudah melaju dan berbelok arah.
Bukan hanya Dhira saja yang melihat Ravan, ternyata Ravan pun juga melihat Dhira saat sebelum Dhira melihatnya.
Menatap dari luar jendela, seperti melihat Dhira yang di bonceng oleh temannya. hingga Revan mengalihkan pandangannya kala Dhira menatap ke arahnya.
Apa kamu sudah sembuh.! aku rindu. Tapi aku belum siap untuk bertemu dengan mu." gumamnya dengan tersenyum miris.
.
.
.
.🐨🐨🐨
__ADS_1