
Mencoba tersenyum, walau sebenarnya hati ini terlalu sakit untuk terima kenyataan.
.
.
.
.
" Dika! pulang.!!" Rengek Alex yang sedari tadi meminta pulang saat dirinya sudah mulai lelah berada di taman, duduk berdua bersama Dika dan tak di perbolehkan bermain. Sungguh kejam sekali Dika ini.!
" Sebentar lagi." Jawab Dika sambil melihat ponsel.
" Pulang, Alex capek.!" Ucapnnya seperti anak kecil.
" Capek apaan, orang dari tadi kamu makan es crim dan jajan melulu." Seloroh Dika yang di palak oleh Alex, meminta jajan dan es crim tidak ada henti-hentinya, membuat kantong dompetnya sedikit jebol.
Main gak bolehin, jajan di omelin, berdiri di liatin, duduk di diamin. Pikir Alex, jika dirinya bisa menggerutu seperti orang normal.
Sungguh menyebalkan sekali Dika ini, merasa senang di ajak keluar sama Dika, tapi sampai di taman dirinya tidak boleh bermain dan harus diam di samping Dika.
Mengerucutkan bibirnya, menjabuti rumput yang Alex dudukki sambil menatap anak anak yang bermain di taman. Ingin sekali dirinya main, tapi Dika tidak mengijinkannya dan tidak berani membantah.
Melihat Alex yang merasa sedih karena sedari tadi dirinya tidak memperbolehkan dia main hingga dirinya merasa kasihan dan menghembuskan nafas berat.
" Sana main, tapi jangan jauh-jauh." Perintah Dika, membuat Alex menatapnya lekat.
" Iya! sudah sana main." Ucapnya lagi, membuat Alex tersenyum, berdiri dan berjalan ke arah lapangan yang penuh dengan anak kecil.
Memasukkan ponselnya, dan mengikuti Alex dari belakang serta mengawasinya bermain agar tidak ada yang berani mengganggu Alex.
Dika yang saat itu ke rumah Dhira ingin mengambil barang miliknya yang ketinggalan dan akan pergi pulang tapi terurungkan, kala Bik Minah meminta tolong padanya untuk membawa Alex keluar rumah. Karena ada mama Dhira yang sedang ingin bertemu dengan putrinya, dan itu pastinya akan ada pertengkaran antara ibu dan anak. Jika Alex mendengarnya, di pastikan Alex juga akan marah dan menangis karena tidak terima jika Dhira di sakiti.
Menunggu tidak jauh dari Alex bermain bersama orang yang baru di kenal dan tersenyum saat dirinya menyadari jika ia seperti seorang baby sister, atau pengawal.
" Untung dia kakak sahabat gue. Kalau bukan, ogah banget gue jadi baby sisternya." Gerutu Dika pada diri sendiri.
" Om.?" Sapa anak kecil dengan rambut yang di kuncir dua.
Menatap ke arah samping dengan mengerutkan kening saat anak kecil itu memanggilnya om.
__ADS_1
" Om.!" Gumam Dika dan di anggukkan oleh putri kecil itu.
Emang wajahku sudah tua apa, bisa-bisanya dia panggil aku om." Gerutunya dalam hati.
" Om.!" Panggilnya sekali lagi.
" Eh, iya. Ada apa." Tanya Dika.
" Mau itu?" Kata putri kecil dengan menunjukkan coklat yang ada di kantong plastik putih. " Boleh." Ujarnya lagi, dengan memelas.
" Ini." Kata Dika saat menunjukkan coklat, dan di anggukkan oleh Putri kecil dengan senyum lebar.
" Cium dulu.!" Pinta Dika dengan tersenyum, memberikan satu ciuman manis di pipi Dika agar ia mendapatkan permen yang di inginkan, membuat Dika geli dan gemas.
" Ini!" Ucap Dika dan memberikannya pada putri kecil.
" Makasih.!" Ucap putri kecil, membuka bungkus coklat dan memakannya di samping Dika.
" Mama kamu kemana?" Tanya Dika.
" Kerja buat beli susu." Jawabnya.
" Terus ke sini sama siapa."
" Dika!!" Seru Alex yang menghampirinya, membuat Dika menoleh ke sumbur arah.
" Coklat Alex.!" Kata Alex yang melihat coklatnya di makan oleh putri kecil.
" Gak papa, nanti Dika beliin yang banyak sama kayak itu." Jawab Dika.
" Mau?" Ucap putri kecil pada Alex, hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tanpa di duga gadis kecil yang seperti masih berumur tiga tahun lebih itu memberikan coklat batang yang sudah dia patahkan menjadi dua, dan memberikan yang belum dia sentuh untuk Alex. Dika yang melihatnya pun tersenyum dan mencubit gemas pipi gadis kecil itu yang bersikap seperti orang dewasa.
" Icha?" Sapa Nenek tua menghampiri cucunya yang duduk bersama dua pria.
" Ayo pulang Nak." Ajak Neneknya, Icha pun berdiri dari duduknya dan sebelum menghampiri Neneknya dia berbisik pada Dika.
" Sampai nanti, Papa.?" Pamit gadis kecil dengan mencium pipinya dan berjalan ke arah Neneknya memegang tangan yang kriput itu sambil melambaikan tangan pada Dika.
" Papa!" Gumam Dika mengulang kata bisikan gadis kecil itu dengan menggelengkan kepala dan tersenyum.
__ADS_1
" Ayo pulang." Ajak Dika pada Alex, hanya mengangguk dan berjalan beriringan dengan Dika sambil makan coklat.
****
Memeluk tubuh kekasihnya yang menangis dan bergetar saat dia baru saja dia bertengkar dengan ibu kandungnya.
Ke dua kali dirinya melihat Dhira selalu menangis ketika bertemu dengan ibunya dan selalu membuat dia membuka luka lama yang ingin sekali dia hapus dan lupakan.
Pelukan dan sandaran yang menghangatkan saat dirinya benar-benar rapuh dan membutuhkan ketenangan. Melepaskan pelukan Revan saat dirinya sudah mulai tenang dan menghapus sisa air mata yang ada di pipinya.
" Kata mama tadi di mall juga nangis, kenapa? bertengkar sama mama kamu." Tanya Revan yang mendapatkan laporan dari mamanya saat dirinya menelpon untuk menanyakan keberadaan Dhira.
" Bukan sama dia, tapi sama anaknya." Jawab Dhira.
" Anak!" dengan kening mengkerut. " Kamu bertemu dengan anaknya.!" Tanyanya.
" Iya." Jawab Dhira. " Kamu juga pernah bertemu dengannya." Imbuhnya, yang membuat Revan sedikit terkejut akan perkataan Dhira.
Belum pernah Revan menceritakan pertemuannya dengan ibu Dhira beserta keluarga barunya, dan kenapa Dhira bisa tau. Dari siapa, Pikir Revan!
" Dia yang mengirimkan foto kalian ke nomerku. saat di acara pesta." Ucap Dhira yang mengerti akan keterkejutan Revan.
Dia! ah .. yang kekasihnya maksud pasti saudara tirinya, yang mengirimkan pesan gambar foto mereka pada Dhira.
Tapi tunggu, kenapa saudara tirinya mengirimkan foto dirinya saat bersama keluarga baru ibu Dhira dan apa alasannya. Dan bagaimana bisa dia mengambil fotonya saat mereka berada dalam satu meja yang sama. Pertanyaan itu ada dalam kepala Revan saat ini.
" Apa karena itu, kamu semalaman pergi dari rumah, tidur di cafe dan mematikan ponsel." Tanya Revan yang baru sadar, saat dirinya ke rumah Dhira tidak menemukan kekasihnya di rumah, menunggunya sampai pagi tau-tau mata Dhira sudah membengkak saat dia tidur.
" Hanya butuh sedikit udara segar saat melihat kekasihku bersama dia." Jawab Dhira.
" Apa kamu percaya denganku." Tanya Revan.
" Iya." Jawab Dhira dengan tersenyum, menggenggam tangan kekasihnya dan juga ikut tersenyum serta memeluknya kembali.
" Apapun yang kamu dengar dari orang, tolong! jangan sepenuhnya percaya. dan tetaplah percaya dengan ku." Pinta Revan pada kekasihnya, yang sebenarnya ingin sekali ia ungkapkan hari ini juga tapi melihat keadaan Dhira dirinya pun mengurungkannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃