
Tetap cinta ini hanya untuk kamu, walaupun kita jauh. Dan hanya satu kuncinya, percaya.!
.
.
.
.
sebagai seorang pemimpin dirinya sering kali ke luar kota maupun keluar negeri hanya untuk berkunjung ke anak cabang pabrik, menemui klaen atau menerima undangan resmi dari rekan bisnis.
Waktu yang tak bisa membutuhkan singkat, sering kali tiga atau sampai lebih lima harian dirinya bisa pergi dari kotanya, meninggalkan rumah, orang tua dan kekasih.
Ah!! kekasih. dua hari tidak bertemu dengannya sudah membuatnya rindu, padahal setiap hari mereka selalu vidio call jika ada waktu lenggang?
Meskipun vidio call tapi dirinya begitu kangen, kangen kekasihnya yang setiap malam selalu menginap di rumah dia.
Setelah selesai dengan urusannya dirinya akan melamar kekasihnya, memberikan sebuah cincin yang sudah ia beli saat dirinya baru pulang dari pertemuan dengan klaen.
Cincin berwarna putih dengan beberapa berlian kecil yang melingkari setangahnya, membuat jari manis putih itu terlihat elegan dan simpel jika di lihat seperti bukan cincin pertunangan.
Memandangi kotak brudu berwarn biru yang terbuka berada di tangannya dengan menampilkan cincin putih membuatnya tersenyum dan membayangkan cincin itu di pakai oleh kekasihnya.
Cantik? itulah yang ada di dalam pikiran Revan saat ini.
Sungguh dirinya tidak sabar kejutan yang akan di berikan pada Dhira.
" Semoga kamu suka beb?" gumamnya dalam hati, menutup kotak cincin dan menaruhnya di dalam tas kerjanya.
" Kita sudah sampai pak." ucap Rizal dengan dia yang duduk di depan.
Memandangi gedung yang sudah di dekorasi dengan mewah serta banyaknya tamu undangan di acara ulang tahun pernikahan salah satu rekan bisnisnya.
Turun dari mobil di dampingi dengan Rizal yang berada di sampingnya. Berjalan masuk dan membuat semua orang yang ada di dalam gedung menatapnya dengan pandangan yang berbeda.
" Pak Revan?" sapa manis dari sang pengundang acara.
" Tuan Adi, selamat hari pernikahan yang ke dua puluh lima tahun, Maaf Papa dan mama tidak bisa hadir." ucap Revan dengan berjabat tangan dan di balas oleh Tuan Adi.
" Terima kasih Pak Revan.?" jawabnya dengan tersenyum. " Iya tidak papa, bagaimana keadaan Tuan Gio, saya turut sedih dengan apa yang menimpa Tuan Gio." ujarnya lagi.
" Hanya luka kecil dan syukur sudah membaik." jawabnya. " Ah, iya ini dari Mama saya untuk Nyonya Adi." tambahnya dan menyerahkan bingkisan yang ada di tangannya untuk istri Tuan Adi.
" Terima kasih pak Revan, salam untuk Nyonya Vani." ucap Nyonya Adi saat menerima bingkisan dari tangan Revan, Hanya mengangguk dan tersenyum untuk membalasnya.
__ADS_1
Duduk dengan tenang bersama Rizal dan di layani baik oleh seorang pelayan, menikmati suasana pesta yang meriah mengundang beberapa penyanyi terkenal untuk mengisi acara pesta.
" Tuan Revan?" sapa seorang pria tua yang datang menghampirinya.
" Tuan Hasan." sapa balik Revan dengan berdiri dan tersenyum.
" Anda kenal Tuan Adi, Tuan?" ucapnya saat sudah berjabat tangan.
" Kami rekan Bisnis." jawabnya " Silahkan duduk Tuan Hasan."
" Ah? iya perkenalkan ini istri dan putri saya Tuan." ucap Tuan Hasan, membuat Revan menatap wanita tua yang pernah dia lihat sebelumnya.
" Selamat malam Kak, nama saya Kinan." salam gadis yang seperti usia kekasihnya.
" Revan." jawabnya dan membalas jabatan tangan Kinan, saat ingin melepaskan tangannya gadis itu masih saja menggenggam tangannya dengan tersenyum centil, membuatnya dengan terpaksa menariknya sedikit kasar.
" Ini istri saya, namanya Devi.?" ucap Tuan Hasan, memperkenalkan istrinya.
" Malam Nyonya Devi."
" Malam juga Tuan Revan." balasnya dengan tersenyum
" Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini Tuan!"
" Ini anak muda yang sukses Ma, membangun perusahaan papanya lebih maju dan berkembang pesat." puji Tuan Hasan
" Benarkah pa." Tanya Nyonya Devi
" Tidak juga Tuan Hasan, ini semua juga berkat karyawan dan asisten saya." rendah Revan dengan menepuk pundak Rizal yang membuat Rizal juga tersenyum.
" Berarti aku bisa dong pa minta ajarin kak Revan." saut cepat Kinan, membuat Revan dan Rizal menatapnya.
" Saya?" kata Revan dengan kening mengkerut.
" Iya kak Revan, kan kakak anak muda yang sukses dan menginsprirasi." jawab Kinan dengan semangat. " Iya kan Mam.?" tambahnya untuk meminta dukungan pada Nyonya Devi.
" Iya sayang.?" jawabnya dengan tersenyum.
Revan menatap dalam Nyonya Devi, ia seperti pernah melihatnya, wajahnya juga mirip sekali dengan seseorang. Dan dirinya baru teringat jika yang ada di hadapannya sekarang adalah wanita yang pernah dia liat waktu di rumah Dhira, Ibunya Dhira. yang di benci oleh anak kandung, lantaram menelantarkan anak serta suaminya saat mereka jatuh miskin.
Dan lihatlah sekarang wanita tua yang ada di hadapannya begitu tembut dan perhatian dengan suami serta anak sambungnya daripada apa anaknya sendiri.
Sungguh tragis nasib Dhira yang berjuang sendiri tanpa dukungan seorang ibu hingga dia benar-benar membencinya.
Bagaimana jika Dhira melihat semua ini di hadapannya sekarang apa dia akan menangis, marah atau dia akan semakin membencinya. Entahlah, tapi yang jelas Revan berharap semoga Dhira tidak akan melihat semua ini karena dirinya tau jika kekasihnya sangatlah rapuh.
__ADS_1
" Tuan Revan." sapa Nyonya Devi, membuat lamunan Revan buyar.
" Iya Nyonya.?"
" Bagaimana, apa Tuan bisa membantu putri kami un-."
" Maaf Nyonya tidak ada waktu dan saya bukan mentor." sela Revan dengan suara dingin.
" Maafkan istri dan putri saya Tuan Revan." ujar Tuan Hasan yang merasa tak enak hati.
" Tidak papa Tuan." jawabnya. " Apa putri anda hanya satu." tanyanya.
" Iya dia putri saya satu-satunya dan dia sangat manja sekali." kata Tuan Hasan, Kinan hanya cemberut saat orang tuanya menatapnya.
" Cantik, tapi kenapa tidak ada mirip-miripnya dengan Nyonya Vani." pancing Revan, membuat orang yang ada di hadapannya menatapnya.
" Saya mama sambung Kinan?" jawab Nyonya Vani.
" Maaf, saya tidak tau."
" Tidak papa Tuan," jawab Tuan Hasan " Ibu Kinan meninggal saat Kinan berusia lima tahun, dan saya baru menikah dengan istri ke dua saya empat tahun yang lalu."
" Dia istri yang baik, merawat saya, putri saya dengan sabar, dan selalu memanjakan putri saya." ujarnya lagi, dengan bangga dan tersenyum menghadap istrinya, membuat istrinya tersipu malu.
" Sayang mama?" manja Kinan dan memeluk Nyonya Vani dari samping.
" Mama juga sayang kinan?" jawabnya dengan mengusap lengan putri sambungnya, yang entah kenapa justru membuat hati Revan marah melihatnya.
Melihat betapa sayang dan perhatiannya pada anak orang dari pada dengan anaknya sendiri, yang hidup tanpa adanya dukungan dari dirinya.
Apa lagi anak kandungnya ada dua, yang satu laki-laki berkebutuhan khusus dan dan satunya lagi perempuan tangguh dan pekerja keras.
Ingin rasanya dia bilang, jika anak kandungnya juga membutuhkannya, membutuhkan perhatian dan kasih sayang seperti dia memperlakukan putri orang lain.
Revan akan berjanji dengan dirinya sendiri jika dirinya tidak akan menyianyiakan gadis seperti Dhira dan akan membuat Dhira bahagia bersamanya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1