
Menunggu adalah hal yang membosankan dan mengkhawatirkan, saat dia belum juga kunjung datang.
.
.
.
.
Malam yang tunggu pun datang dengan dia yang sudah menyiapkan segalanya dan memakai baju rumahan yang sederhana ala gadis remaja.
Celana jens di bawah lutut dan kaos putih oblong yang wanita itu pakai dengan rambut yang di gulung ke atas memperlihatkan jenjang leher putihnya.
Dhira yang sudah pulang lebih awal dari biasanya membuat bik Minah dan Alex sedikit heran tapi juga senang saat Dhira pulang sore hari, karena Alex bisa bermain dengan Dhira.
jam tujuh malam Revan belum kunjung datang ke rumah, hingga akhirnya Dhira menyuruh kakaknya untuk makan terlebih dulu dengan dirinya yang menemani kakaknya tanpa ikut makan. Karena ia ingin makan malam bersama Revan tapi yang di tunggu pun sampai sekarang belum juga datang.
Menemani kakaknya dengan bermain piano dan menemaninya menonton film kartu kesukaan mereka berdua hingga selesai dan Alaex yang mulai mengantuk saat jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan malam.
Menyuruh kakaknya untuk tidur di kamar dan dia memilih duduk di kursi teras dengan memegang ponsel untuk mencoba menghubungi kekasihnya.
Mencoba menghubunginya, tapi nomer tidak bisa di hubungi dan mencoba lagi tetap sama nomer tidak bisa di hubungi membuat Dhira merasa khawatir dengan Revan.
Kamu di mana!." gumamnya dalam hati dengan menatap ponselnya yang memperlihatkan foto dirinya dengan Revan.
sembilan tiga puluh, lebih dari tiga jam Dhira menunggu Revan yang belum menampakkan batang hidungnya, hingga Dhira mulai sedikit kecewa dan menghembuskan nafas berat saat hatinya mulai tak menentu.
Berdiri dari duduknya dan akan masuk ke dalam rumah sebelum ia mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Berjalan ke arah pintu pagar dan membuka dlsedikit pagarnya saat ia melihat mobil Revan yang ada di depan rumahnya dengan Revan yang sudah turun dari mobil dan menghampirinya.
" Yank?" sapa Revan dengan tersenyum " Maaf aku terlambat." ujarnya lagi
Awalnya Dhira cemberut saat melihat mobil Revan datang dan sedikit tersenyum serta kasihan melihat muka Revan yang lelah dan masih memakai baju kantornya.
" Kamu baru pulang." tanya Dhira dan di anggukkan oleh Revan.
" Ayo masuk kak." ajak Dhira, yang tidak jadi marah saat melihat Revan.
__ADS_1
" Iya sebentar." jawab Revan dan berbalik ke arah mobil mengambil tas kerja, tas ransel serta bingkisan makanan untuk Dhira.
" Bawa tas ransel, untuk apa?" tanya Dhira dengan mengerutkan kening.
" Ini baju-baju ku nanti tolong simpan di lemari kamu ya Yank, kalau aku nginap di rumah kamu kan enak gak perlu lagi ke rumah untuk ambil baju." jawab Revan dengan memperlihatkan tas ranselnya, membuat Dhira membulatkan mata mendengar ucapannya.
" Kamu nginap di sini?" tanya Dhira, di anggukkan oleh Revan dengan tersenyum.
Dhira menatap Revan dengan tidak percaya akan apa yang lelaki ini katakan saat dia akan selalu menginap di rumahnya. Sungguh pria ini begitu tengil dan berani dengan tindakannya yang bisa membuat wanita yang di cintainya menggelengkan kepala dan terkejut apa yang dia lakukan.
Menggandeng tangan kekasihnya untuk segera masuk dan menutup pintu pagar rumah.
" Aku mandi dulu Yank." ucap Revan dengan masuk ke dalam kamar Dhira, membuat Dhira lagi-lagi menatapnya dengan tidak percaya, seenak jidatnya dia masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.
" Sepertinya aku harus menikah dengan dia secepatnya, sebelum aku di grebek pak RT. " gumam Dhira dalam hati dengan wajah yang hampir menangis.
****
Sedangkan di apartemen milik seorang pria bujang duduk bersandar di sofa dengan dia yang merasa letih saat pulang dari bekerja karena lembur bersama bosnya
Merentangkan tangannya dengan kaki yang di luruskan dan mata yang mulai terpejam karena lelah, tapi ia terbangun saat benda di saku celananya bergetar dan ia pun mulai mengambilnya.
" Hal-
" Kak, saya yang tadi pagi nabrak mobil kakak. saya mau ambil sim dan ktp saya." ucap dari sebrang sana tanpa basa-basi atau mengucapkan salam terlebih dahulu, membuat Rizal sedikit mengerutkan kening dengan menatap ponsolnya.
" Hallo!!." ucapnya sekali lagi.
" Aku share lock, kau datanglah kemari." jawab Rizal dengan mematikan ponselnya, membuat di sebrang sana mengumpat kesal karena belum menjawabnya.
Mengirimkan lokasi pada gadis itu untuk datang ke apartemennya, dengan dia yang mulai berdiri menuju kamar untuk membersihkan diri.
Citra yng sudah sampai di apartemen Rizal pun segera menaiki lift untuk menuju lantai tiga puluh dimana Rizal menghuninya di sana.
Mencari nomer apartemen hingga dia menemukannya dan menekan tombol bell agar penghuni apartemen cepat keluar karena dari lorong apartemen sangatlah sepi dan Citra menjadi paranoit.
beberapa kali menekan bell dengan kesal dan selalu menjadi takut saat melihat kanan kini hingga akhirnya pintu terbuka dengan Rizal yang akan marah karena suara bell yang terus menerus.
" Apa kau tidak bisa sa-." belum sempat memarahi gadis itu, Citra dengan cepat masuk ke dalam aparteman Rizal tanpa di suruh. Membuat Rizal memekik kesakitan saat pintu di dorong oleh Citra dan mengenai kepalanya.
__ADS_1
Mengusap kepalanya yang terbentuh dan menutup pintu dengan melihat gadis yang ada di belakangnya.
" Kau!" geram Rizal dengan tangan yang mengepal.
" Maaf kak.!" ucap Citra dengan menundukkan kepala. " Mana sim dan ktp ku." ujarnya lagi.
" Uangnya mana." kata Rizal, membuat Citra mengerucutkan bibirnya.
" Diskon! jangan mahal-mahal malaknya."
" Kau pikir ini moll apa pakek discon segala." gerutu Rizal " Mana uangnya dulu." tambahnya lagi, Citra hanya menghembuskan nafas beratnya dan mengambil uangnya di tas.
" Nih, sembilan juta." ucap Citra dengan menyerahkan amplop coklat, di terima Rizal dan mencoba mengitungnya.
" Pakek di hitung segala." gerutu Citra.
" Ya harus di hitung, siapa tau kau curang mengambil satu atau dua lembar." jawab Rizal membuat Citra melototkan matanya.
" Kau pikir aku tukang nguntit apa.!" geram Citra dengan ke dua tangan yang berada di pinggang. " Ayo cepat mana sim dan ktp ku." ujarnya lagi karena sudah malas untuk berdebat dengan pria yang ada di hadapannya ini.
Berjalan menuju ruang tamu, mengambil tas kerjanya dan mencari sim serta ktp yang ia simpan di sana.
" Nih, sim dan ktp mu." ucap Rizal dengan mengasihkan dua kartu itu ke Citra, Citra pun mengambilnya dengan sedikit ketus dan memasukkannya ke dalam tas sebelum ia akan pergi.
Membuka pintu dan akan keluar tapi ia urungkan saat melihat lorong apartemen yang begitu sepi dan berbalik menatap Rizal yang sedang menunggunya keluar.
" Anterin aku turun ke bawah.!" pinta Citra pada Rizal.
" Ogah!" seru Rizal. " pintu ini otomatis dan akan terkunci bila sudah tertutup. Cepat keluar.!" ujarnya lagi membuat Citra membulatkan mata, saat di tinggal pergi oleh Rizal menuju kamarnya.
" Jika aku keluar dan pintunya tertutup aku enggak bisa kembali lagi.! aku ingin pulang, tapi lorongnya seperti horor begini.!" gumamnya dalam hati saat ia takut untuk keluar dari apartemen Rizal.
.
.
.
.🍃🍃🍃
__ADS_1
Ciye.!! sabar ya, kalau upnya lama.🙏