Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
terbongkar.


__ADS_3

Setidaknya aku tau jika kamu memang mencintaiku dan akan tetap selamanya seperti itu.!


.


.


.


.


Sudah tiga hari setelah acara lamaran, Dhira masih saja tetap tak berubah. Dengan dia yang mendiamkan Revan serta tidak pernah memberikan kabar lewat pesan ataupun telepon, perubahan itu sungguh membuat Revan tersiksa dan tidak mengerti apa kesalahannya.


Tiga hari mereka tidak bertemu dengan Revan yang begitu sibuk dengan pekerjaannya dan Dhira yang juga menyibukkan diri dengan dia yang pergi ke cafe hingga malam. Entah Dhira ingin menghindar dari Revan atau dia hanya ingin menyibukkan dirinya saja untuk melupakan amarahnya pada Revan.


Sungguh Dhira sangat marah akan ketidak jujuran Revan, dirinya seperti orang bodoh yang selalu percaya akan perkataan Revan dan selalu menurut apa yang Revan bilang.


Bukankah dalam sebuah hubungan mereka harus saling jujur meskipun dari salah satunya akan marah dan kecewa, dan mereka punya solusi untuk memperbaikinya lagi dengan mulai dari awal.


Entah motiv apa Revan menyembunyikan identitasnya pada Dhira. Hingga Dhira selalu berpikir negatif terhadapnya.


Malam yang begitu larut dengan Dhira yang sedang duduk di sofa depan jendela sambil menatap langit di kamar tempat biasa Revan menginap.


Tersenyum saat mengingat kembali hari-harinya bersama Revan dan kembali murung saat mengingat ayahnya.


" Papa pernah berbuat curang dalam berbisnis, dan ini adalah hukuman papa." Ucap ayahnya yang teringat di dalam memory kepalanya saat mereka berdua di kamar rumah sakit


" Papa melakukan itu karena hilaf dan ingin membuat mama kamu terus merasa senang dan menebus dosa dosa yang pernah dulu Papa buat." Dosa, entah dosa apa yang di perbuat oleh Papanya hingga mama membenci Papanya dan memilih pergi darinya.


" Tapi kini justru papa membuat kamu menderita. Maafkan papa ya." Ujarnya yang mulai mengeluarkan air mata saat memandang Dhira, putri kesayangannya.


" Papa tidak perlu minta maaf, sudah seharusnya Dhira menemani papa dan membantu papa untuk cepat sembuh dan kita bisa kembali ke rumah dan berkumpul bersama lagi meskipun tanpa mama." Ucap Dhira untuk menenangkannya, berharap keajaiban akan datang.

__ADS_1


" Andai dulu papa enggak memanipulasi dan berbuat curang pada Pt.Vateks, mungkin Tuan Revan Giovano tidak akan membuat papa bangkrut. dan tidak akan membuat kamu seperti ini sekarang." ucap Papa Dhira yang mulai berbicara kesalahannya dengan masih menatap putrinya.


" Jika suatu saat kamu bertemu dengannya ketika papa sudah tidak ada, kamu mau kan meminta maaf padanya untuk papa." Ucapan yang sudah mulai melantur kemana mana.


" Papa bilang apa sih! papa pasti sembuh dan kita akan meminta maaf bersama ya." Kata Dhira, " Papa sekarang tidur ya sudah malam." perintahnya lagi dan membenarkan selimut papanya.


Percakapan antara dirinya dan Papanya teringat kembali, bagaiman papanya dulu sangat menyesal dan ingin sekali meminta maaf pada Revan Giovano, dan jika papanya masih hidup mungkin papanya akan meminta pekerjaan pada Revan atau mungkin mereka akan meninggalkan kota ini, kota penuh kenangan.


Ternyata takdir mempertemukannya dengan cara berbeda, awal hanya menggoda dan lama-lama tumbuh menjadi benih cinta. Dia yang menerima cinta Revan tanpa tau latar belakangnya, karena dirinya percaya jika Revan orang yang baik dan tidak pernah memperlakukan buruk terhadapnya.


Bukan sepenuhnya salah Revan, jika Dhira di posisi Revan mungkin ia juga akan sama seperti Revan. Melakukan sedikit pelajaran agar dia tau bagaimana rasanya di usik dan di hianati.


Ia sangat marah sekali mengetahui kekasihnya ternyata orang sudah membuat hidup dirinya dan kuluarga hancur, membuat ayahnya sakit dan meninggal.


Menatap cincin di jari manis pemberian dari Revan dengan tersenyum getir, ada rasa cinta dan benci, ada rasa kecewa dan marah semua yang ada di hatinya berkumpul menjadi satu.


" Kenapa aku harus mencintainya Tuhan, kenapa!! Apa aku harus membalaskan dendam atau aku harus mengiklaskannya, tolong berikan aku jalan Tuhan." Gumam Dhira dalam hati, menangis dalam gelapnya malam.


Revan yang baru saja selesai dari pertemuannya dengan klaen hingga malam dan masih mengendarai mobilnya dengan rasa lelah serta bingung akan apa yang terjadi dengan sikap Dhira belakangan ini, yang mendiamkannya dan menghindarinya.


Sungguh rasanya sakit sekali di diamkan kekasih tanpa tau apa kesalahannya, tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.


Malam ini dirinya memutuskan untuk ke rumah Dhira, memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Kekasihnya.


Turun dari mobil dan mendapati motor Dhira yang terparkir di garasi hingga ia sedikit lega jika Dhira malam ini ada di rumah tidak menghindar darinya dan itu artinya ia bisa berbicara dengan kekasihnya.


Memasuki rumah dan menuju ke kamar Dhira tapi tidak mendapatinya, hingga dirinya berjalan ke lantai atas berhenti tepat di depan kamarnya yang sedikit terbuka memperlihatkan Dhira yang memeluk lutut menyembunyikan wajahnya di sana dengan dia yang menangis begitu pilu. Entah apa yang terjadi dengan Dhira hingga dia bisa menangis.


Memasuki kamar begitu pelan dan berjongkok di hadapan kekasihnya dengan dirinya yang menyentuh lembut tangan Dhira, hingga Dhira berhenti menangis serta mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang datang.


Tersenyum saat kekasihnya menatapnya walaupun matanya begitu bengkak. dan mengusap lembut pipi Dhira yang masih basah akan air mata.

__ADS_1


" Kenapa?" tanya Revan lembut.


" Tidak papa." Jawab Dhira dan menyingkirkan tangan Revan dari pipinya.


Penolakan! baru kali ini Dhira menolaknya baru kali ini ia melihat kekecewaan di dalam mata Dhira.


" Kenapa menangis?" Tanya Revan dengan sabar.


" Hanya kangen Papa." Jawab Dhira dan berdiri dari duduknya, di ikuti Revan yang juga ikut berdiri.


Berjalan melewati Revan untuk kembali ke dalam kamarnya saat dirinya yang belum siap untuk bertemu dengan kekasihnya.


" Kenapa kamu menghindar dari aku." Kata Revan dengan mencekram tangan Dhira, membuat Dhira berhenti dan menatap ke belakang.


" Kenapa menghindar, kamu marah dengan ku, apa aku melukai kamu, apa aku berbuat salah dengan kamu. Jawab Dhir jawab.!" Kata Revan sedikit menaikkan suaranya dan marah akan apa yang di lakukakn Dhira.


" Apa kau tidak ingin berkata jujur padaku, Tuan Revan Giovano." Tekan Dhira dengan menatap kekasihnya yang mulai terkejut saat mengetauhi namanya.


" Dhir." Lirih Revan dengan melihat mata Dhira yang muli menggenang dan akan sorot mata kemarahannya terpancar jelas di sana. dan ini lah yang dia takutkan, jika kekasihnya tau terlebih dulu sebelum dia mengatakannya.


" Kenapa harus kamu, Kenapa kamu orangnya, kenapa!! Aku benci kak, Aku benci denganmu, aku benci.!!" Seru Dhira yang mulai menangis dan dengan cepat Revan memeluknya.


" Maafkan aku, maafkan aku Dhir." Ucap Revan sambil memeluk erat kekasihnya, tak ingin melepaskan dia, yang menangis begitu pilu karena ulahnya, karena kesalahannya dan karena ketidak jujurannya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2