Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
Saling menginginkan


__ADS_3

Setidaknya aku tau kamu masih mencintaiku, dan terima kasih, masih menjaga hatimu untukku.


.


.


.


.


Menunggu di ruang tamu saat Dhira masih setia berada di dapur untuk membantu para Art, sempat di larang oleh Art tapi Dhira selalu memaksa lantaran tak enak hati sudah menumpang makan di rumah mantan kekasih.


Revan tidak marah pada Art, justru itu adalah kesempatan dirinya bisa berlama-lama dengan Dhira. Membuka ponsel dan menghubungi asistennya untuk tidak menjemputnya lantaran dirinya akan datang ke kantor siang, entah benar akan datang ke kantor atau tidak. Dan menyuruh asistennya untuk menghandel semuanya.


Dhira yang sudah selesai dengan dapur pun, kini menghampiri Revan, yang sedang melihat ponselnya.


" Aku pulang ya, terima kasih sarapan paginya." Ucap Dhira, membuat Revan menatapnya. Berdiri dari duduknya menaruh ponselnya ke dalam saku dan berjalan menghampiri Dhira.


" Aku ingin bicara dengan kamu." Kata Revan, menatapnya dengan mengerutkan kening saat Revan ingin mengajaknya berbicara


" Apa.?" Tanya Dhira.


Bukan menjawab justru ia menarik tangan Dhira, membawanya menuju lantai dua dan membuat Dhira terkesiap serta mengikutinya dari belakang tanpa membantah.


Berada di lantai dua, ruang tv dengan saling berhadapan serta saling menatap, hingga tanpa di sangka Revan terlebih dulu memeluknya.


" Aku kangen kamu Beb.!" Lirih Revan.


Deg.


Panggilan itu yang selalu Dhira rindukan, panggilan itu yang ingin Dhira dengar selama ini. Kekasihnya, ralat mantan kekasih terindah yang selalu ada di hati Dhira.


Perlahan ke dua tangannya bergerak menuju punggung Revan untuk membalas pelukannya. dan air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.


" Aku enggak bisa melupakan kamu, aku enggak bisa.!" Ucap Revan dengan membenamkan kepalanya lebih dalam di ceruk leher Dhira.


" Kak.!"

__ADS_1


" Please Beb! jangan buat aku seperti ini!! Kamu boleh menghukumku tapi jangan tinggalin aku." Kata Revan.


" Aku enggak bisa Beb, aku menderita. Selama ini aku mencoba melupakan kamu tapi tidak bisa, menyibukkan diriku tetap saja aku masih memikirkan kamu, aku sungguh masih mencintai kamu Dhira.!" imbuhnya, dengan memeluk Dhira lebih erat.


Dia benar-benar rapuh, menumpahkan semua isi hatinya pada Dhira. Menangis dalam pelukan kekasihnya, mengeluh akan di tinggalkan olehnya dan semua itu karena ia memang mencintai Dhira, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Dhira di dalam hatinya.


Lelaki yang sudah jatuh cinta dan tidak mempedulikan harga dirinya di hadapan orang yang dia cintai, seperti anak kecil menangis dan tak ingin di tinggalkan. Karena memang dialah yang pantas di pertahankan.


Bukan hanya Revan saja yang sama tersakiti, dirinya pun juga sama sepertinya. Masih mencintainya, hatinya hanya untuk Revan, tidak ada yang bisa menggantikannya dan cukup Nama Revan yang menghiasi hati dan pikirannya.


" Aku juga menderita kak!" Ucap Dhira pelan, dan masih terdengar oleh Revan. " Menderita karena aku masih mencintai kamu, akan selamanya tetap seperti itu dan aku tidak bisa berpaling dari kamu kak.!" Ujarnya lagi, membuat Revan terkesiap, melepaskan pelukannya dan menatap Dhira dalam-dalam mencari celah kebohongan dan dirinya tidak menemukan itu. Kejujuran yang ia lihat dan tatapan cinta yang sama seperti dulu.


" Maaf, sudah membuat kamu seperti ini." Kata Dhira, dengan mengusap wajah Revan yang di tumbuhi bulu-bulu halus di rahangnya dan terlihat sedikit tirus seperti tidak ada yang merawatnya.


" Aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu, waktu itu aku marah dan sedikit kecewa. Pikiranku buntu dan mengambil keputusan yang salah." menjeda ucapannya dan masih setia Revan mendengarkannya.


" Nyatanya aku lebih menderita kak, karena tidak bisa melupakan kamu dan masih cinta denganmu." Ucapnya dalam hati yang paling dalam, yang selama ini dirinya pendam sendiri dan ia ungkapkan saat Revan juga mengungkapkan isi hatinya.


Tersenyum dan mengusap lembut pipi Dhira, senang karena Dhira juga masih mencintainya.


" I love you." Ucap Revan.


" Love you too." Jawab Dhira dengan tersenyum.


Dan dewi asmara pun memulainya, dengan mereka yang saling menikmati dan saling melepas rindu satu sama lain. Mengalungkan ke dua tanganya di ke leher Revan tanpa melepaskan ciumannya kala kekasihnya mengangkat tubuhnya dan membawanya duduk di pangkuannya.


Saling mencicipi rasa manis yang sudah lama mereka rindukan, tidak ada yang saling mengalah, seperti mereka yang ingin menjadi dominan.


Tapi tetap sang prialah yang menjadi pemimpinnya, hingga sang ratu mulai kualahan merasakan sensasi gelenyar aneh yang menjalar ke seluruh tubuh, seperti menginginkan hal yang lebih, tanpa di buat-buat suara desahan keluar begitu saja hingga terdengar merdu di telinga sang Raja.


" Kak.!" Desah Dhira saat berada di atas pangkuan Revan.


" Hmm." Jawabnya dengan bergumam saat dirinya masih menikmati hidangan yang terbuka di depan wajahnya.


" Kak.!" Ucapnya sekali lagi dengan memberhentikan aktivitas Revan, membuat wajah Revan seakan tidak rela Dhira menghentikannya


" Nanti ada yang lihat.!" Kata Dhira dengan melihat pandangannya ke seluruh ruangan saat mereka berada di luar kamar.

__ADS_1


" Enggak papa biar mereka semua orang tau kalau kamu adalah kekasihku."


" Masih kekasih belum jadi istri, nanti apa kata orang kalau melihat aku seperti ini.!" sahut cepat Dhira dan mencoba menurunkan baju yang tersingkap ke atas karena ulah Revan.


Perkataan Dhira memang benar dirinya selalu agresif dan tidak mengerti situasi. Jika ada yang melihat Dhira pasti dia akan menjadi bahan cemooh semua orang dan aib jika belum menikahinya.


Menghembuskan nafas berat dan memeluk tubuh kekasihnya, membenamkan wajahnya di dada Dhira membuat Dhira duduk tegap saat Revan memeluknya erat.


" Kita pindah ke kamar yuk.!" Ajak Revan.


" Eh.!!" Pekik Dhira dan memukul punggung kekasihnya.


" Aku udah gak tahan!!" Jawab Revan lirih, membuat Dhira mengerutkan kening.


" Enggak tahan apa!" kata Dhira sambil membenarkan duduknya yang ada di atas pangkuan Revan.


" Jangan bergerak." Racau Revan lirih dengan menggigit bawah.


" Ini enggak nyaman kak.!!" Sungut Dhira mencoba melepaskan pelukan Revan dan ingin berdiri dari pangkuan Revan.


" Kalau bergerak terus, aku enggak bisa nahan Beb.! sempit." lirihnya, membuat Dhira semakin tak paham dan mencoba diam serta merasakan sesuatu di bawahnya yang sedikit mengganjal hingga dirinya membulatkan mata menatap Revan yang meringis tanpa bersalah.


" Astaga.!! lepas gak." Pekik Dhira yang wajahnya mulai memerah karena malu sendiri saat melihatnya, dengan terpaksa Revan melepaskannya. Mungkin karena sudah tak sanggup untuk menahannya.


Dhira pun dengan cepat berdiri dari pangkuan Revan dan Revan pun ikut berdiri serta berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Dhira yang menutup wajahnya dengan ke dua tangan, sungguh dirinya sangat malu melihat itu.


Menyembulkan wajahnya ke luar kamar sebelum menuntaskan diri dan menatap Dhira.


" Beb, besok kita nikah.!!" Ucapnya dan kembali menutup pintu.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2