
Seiring berjalannya waktu, mungkin! bisakah kita berbagi perasaan atau cukup menjadi teman.
.
.
.
.
" Aku dan kak Rizal hanya ingin minta satu permintaan dari ayah, papa dan mama." Pinta Citra menatap calon mertua dan ayahnya bergantian.
" Apa sayang?" Tanya Nyonya Rani, menatap lembut dengan tersenyum saat ayah Citra menerima lamaran putranya dengan senang hati serta menyambutnya dengan tangan terbuka.
Ya, sekitar satu jam yang lalu. Dimana drama antara ayah dan anak telah usai saling memaafkan, saling menangis dan saling berbagi keluh kesah di mana dulu anaknya membenci dan marah akan perlakuan ayahnya.
Kedatangan tamu di pagi hari, di sambut hangat oleh Ayah serta putrinya. Menunjukkan keramahan serta senyum tulus untuk tamu yang spesial bagi ayahnya.
Spesial bagi ayahnya bukan bagi Citra karena ini sangatlah sulit dan akan tetap ia jalani walaupun sama-sama terpaksa.
Begitu pun dengan Rizal menunjukkan sikap baik, tersenyum tulus dan ramah pada ayah Citra. Menghormati calon mertua yang akan sepenuhnya menanggung jawab putri tunggalnya jika nanti dirinya sudah menikahinya.
Sama, sungguh berat rasanya ia setuju menikah dengan Citra. Orang yang bukan dia cintai. Gadis yang beberapa waktu lalu dirinya bertemu dan selalu membuatnya merasa sebal dan juga bisa membuatnya tersenyum jika menggodanya.
Pertemuan tanpa sengaja, singkat dan menjerumuskan dalam persewaan cinta yang dia buat untuk menghindar dari perjodohan mamanya. Hingga dirinya sendirilah yang terjerat akan permainannya yang di buatnya.
Melihat ke arah Rizal saling menatap, memberi kode sebagai dirinya untuk meneruskan ucapannya.
" Saya dan Citra ingin akad nikahnya hanya di saksikan keluarga saja, tidak lebih." Ucap Rizal, hingga membuat dua orang tua dan calon mertua mengerutkan kening menatap ke arah Rizal.
" Kami hanya ingin pernikahan sederhana tanpa adanya resepsi." Lanjut Citra. " Cukup dua keluarga saja." Ujarnya lagi
" Kalian ingin menyembunyikan pernikahan kalian.?" Tanya Tuan Rama.
" Iya, Citra dan saya masih ada yang ingin di kejar. Setidaknya satu tahun waktu yang cukup buat kami menyembunyikan pernikahan." Jawab Rizal.
" Itu tidak bisa, dan mama enggak mau." Tolak Nyonya Rani.
" Ma?" Sapa Rizal. " Citra masih ingin bekerja dan ingin melanjutkan kuliah."
" Tidak masalah ingin melanjutkan kuliah, tapi tidak menyembunyikan pernikahan juga kan!" Sahut Nyonya Rani
__ADS_1
" Ini keputusan kami ma? Jika mama tidak mau kita bisa menundanya." Kata Rizal, hingga membuat dua pihak keluarga terkejut serta menatap tajam ke arah Rizal yang bersikap tenang.
" Citra!" Sapa Ayahnya menatap putrinya yang hanya diam saja.
" Maaf yah, tapi ini sudah keputusan kami. Jika Ayah, Mama dan Papa tidak mau. Kita bisa menunda-,"
" Tidak. Baik, Mama setuju dengan keputusan kalian." Ujarnya yang terpaksa menyetujui permintaan konyol putra dan calon menantunya.
" Tapi mama ingin, besok kalian harus menikah." Ujarnya lagi, kini giliran Rizal dan Citra yang terkejut serta membulatkan mata akan perkataan Nyonya Rani, mengharuskan menikah esok hari tanpa bantahan dan tanpa persiapan apapun.
Sungguh sangat mengejutkan bukan hanya mereka saja, tapi juga dua pria tua yang membuat mereka terkejut akan keputusan Nyonya Rani begitu mendadak serta tanpa bertanya terlebih dulu.
Ingin membuat rencana untuk menggagalkan atau mengundurkan pernikahan, malah kini mereka sendiri yang terjebak akan rencana yang di buatnya. Rencana pun gagal, mengharuskan mereka menerima resiko dan menjalani pernikahan tanpa adanya cinta.
****
" Rizal, kemana?" Tanya Revan pada sekertaris Rizal membawakan berkas-berkas ke dalam ruangannya.
" Pak Rizal sedang ada urusan keluarga pak, pak Rizal ijin masuk siang hari." Jawabnya.
" Urusan keluarga?"
" Urusan keluarga! tidak biasanya om dan tante memanggilnya pagi-pagi begini.?" Gumamnya sambil mengetuk ngetuk meja dengan bulpoinnya.
Sudah biasa dan sudah saling mengenal antara keluarganya dan keluarga Rizal. Ke dua orang tua yang saling mengenal dan berteman sejak lama hingga menjadi sahabat sampai mempunyai anak dan saling berteman serta bekerja bersama.
Sedikit tau akan kehidupan Rizal, yang sama seperti dirinya. Lebih memilih tinggal sendiri untuk lebih mandiri dan mencari ketenangan di saat orang tua mereka sedang mencarikan jodoh untuknya.
Bukan berarti tidak sayang, mereka sangat sayang pada orang tuanya. Mereka sudah besar, sudah bisa mengatur kehidupannya sendiri tanpa harus merepotkan orang tuanya.
Dia dan Rizal sedikit mempunyai kesamaan, tapi Rizal orang yang sangat tertutup dan tidak bisa membuat rayuan seperti dirinya.
Tersadar dari lamunan ketika mendengar suara ketukan pintu.
" Permisi pak, sebentar lagi kita ada meeting." Ucap sekertaris Rizal.
" Iya." Jawabnya, berdiri dari kursi kebesaran berjalan keluar ruangannya untuk memulai meeting bersama karyawannya.
****
" Ini semua gara-gara kamu!" Gerutu Citra, menyalahkan Rizal atas semua ide yang dia berikan, gagal dan menjerumuskannya ke dalam lubang yang sempit hingga sulit untuk mendapat celah.
__ADS_1
" Bukannya ini juga ide kamu." Sanggah Rizal tak mau kalah menyalahkan Citra.
" Salahku!" Melototkan mata. " Ini semua salah kamu, jika tidak melakukan ide gila yang kamu buat dari dulu mungkin ini tidak akan terjadi. pura-pura jadi pacar, sok romantis di depan orang tua dan apa lagi ini! harus nikah dadakan tanpa cinta." Omelnya, mengungkit masa dimana dirinya terjebak dengan permainan Rizal yang memintanya untuk menjadi pacar bohongannya di hadapan mama saat dirinya ada di apartemen Rizal.
Entah nasib sial atau beruntung bertemu dengan Rizal. Sial, terjebak pernikahan tanpa cinta, dan beruntung mempunyai mertua yang baik. Dimana dirinya bisa merasakan seorang ibu yang tulus memberikannya kasih sayang dan perhatian yang lebih walaupun itu bukan ibu kandungnya.
" Sudah terlanjur, mau bagaimana lagi. Kita jalani saja sampai satu tahun." Kata Rizal, pasrah akan kenyataan yang tidak berpihak padanya.
" Satu tahun! Maksutnya apa!!" Tanya Citra.
" Kita bisa bercerai jika pernikahan kita sudah satu tahun. Kamu bisa bebas dan aku pun juga sama bisa bebas dalam pernikahan tanpa adanya cinta." Jawab Rizal, dan entah kenapa dalam hatinya seakan dirinya tidak ingin melakukan perceraian, karena dirinya hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya.
Berharap, Citra menolak dan marah akan perkataannya yang bilang tentang perceraian.
Diam, menatap Rizal. Ingin rasanya ia marah dan menolak akan kata perceraian yang belum di lakukan sudah membuat hatinya sesak.
Bukan pernikahan sementara yang ia inginkan, bukan pernikahan tanpa adanya cinta yang ia inginkan dan bukan perceraian yang ia dengar suatu saat jika dirinya sudah berkeluarga.
" Hmm, baiklah." Jawab pasrah Citra dan kembali menatap luar jendela mobil, enggan untuk berbicara lagi seakan ia sudah rela akan nasib membawanya kemana.
Sama seperti Citra, mendengar jawaban yang tidak ia inginkan sama sekali hingga membuatnya terdiam. Seperti gambaran kecewa atau marah akan apa yang ia dengan jawaban Citra menyetujui keputusannya.
Menjalankan mobilnya kembali di saat perdebatan dirinya dan Citra telah usai. Mengantarkan Citra terlebih dulu menuju tempat kerjanya dengan saling diam.
.
.
.
.🍃🍃🍃
Maaf atas keterlambatannya.🙏
Dimana kita saling di pertemukan di situlah kita akan saling berpisah, di mana sang pencipta telah memanggil nama kita untuk kembali kepadanya.
Sudah cukup waktu yang di berikan Tuhan untuk kita merasakan kesenangan dan kesedihan. Tuhan begitu baik, memberikan kita umur panjang agar kita bisa membuat kenangan.
Bayangan akan kenangan indah untuk kita ingat dan kenangan menyakitkan untuk kita saling memaafkan.
Semoga Tuhan memberikan kita umur panjang, agar kita bisa di kenang dengan kebaikan. Amin.
__ADS_1