
Kedatangan kamu membuat aku mengingat kembali di masa lalu antara marah, senang dan sedih.
.
.
.
.
Pekerjaan yang begitu banyak membuat Revan begitu fokus dan melupakan sejenak ponselnya hingga sore hari.
Memilih pulang ke rumah orang tuanya saat ia masih khawatir dengan keadaan Papanya, ya walaupun sebenarnya papanya sudah membaik.
Memasuki karangan rumah dan masuk ke dalam rumah dengan melihat ke dua orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga sedang menikmati teh malam hari sambil menonton tv.
" Tumben putra kita pulang pa.?" cibir Nonya Vani dengan menyambut kedatangan putranya.
" Revan kangan makan bersama mama dan papa." ucap Revan dan duduk di sofa tunggal. " Bagaimana keadaan Papa" tanya Revan.
" Sudah lebih baik." jawab Tuan Gio. " Bagaiman pekerjaan kamu." tanyanya.
" Tidak ada masalah Pa.?" jawab Revan.
" Sana mandi, Mama sudah menyiapkan makan malam." perintah Nyonya Vani dan di anggukkan oleh Revan, berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarmya di lantai dua.
Duduk di sofa panjang melepas sepatu dan kaos kaki, menaruh ponselnya di atas meja dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
Selesai dari kamar mandi ia segera mengganti bajunya dan keluar kamar turun ke bawah untuk makan bersama dengan orang tuanya yang sudah menunggunya di meja makan.
Sudah lama rasanya Revan tidak pernah makan bersama keluarganya semenjak ia menyendiri karena putus dari Eva.
Sama seperti Nyonya Vani yang merasa senang putranya bisa makan malam dan menginap di rumah. Makan dengan lahap dengan saling mengobrol hangat.
selesai dengan mengobrol dan makan malam Revan memilih kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah di kirim oleh asistennya lewat email.
Ia sungguh sangat sibuk hingga melupakan ponsel dan kekasihnya saat masih fokus dengan pekerjaan.
Cukup malam pekerjaan Revan selesai, mematikan laptopnya dan minum air putih yang ada di meja saat ia merasa haus. Menatap jam dinding yang menunjukkan angka sembilang dan dia baru teringat akan kekasihnya.
Sungguh bodoh Revan tidak mengabari kekasihnya sama sekali, mungkin karena terlalu sibuk hingga ia melupakan semuanya.
Membuka ponselnya yang ternyata ia silent waktu rapat dan mendapati beberapa pesan dari kekasihnya.
Melihat satu persatu chat dari kekasihnya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan."
"Kamu sudah pulang."
" jangan lupa makan siang." Isi pesan Dhira pada Revan membuat dia tersenyum dan merasa bersalah karena mengabaikan kekasihnya dan sedikit terkejut saat ia mendapati sat chat yang baru dia baca
" Kita nikah yuk Beb." ucap pesan Dhira pertama kali di siang hari saat ia sedang rapat.
Mata Revan membulat serta senyum mengembang saat membacanya hingga dirinya mencoba menelpon kekasihnya.
" Hallo?" sapa dari sebrang sana.
" Lagi apa Beb." tanya Revan. " Maaf ya seharian ini tidak bisa membalas pesan kamu." ujarnya lagi dengan sedikit menyesal, membuat di sebrang telpon tersenyum.
" Iya tidak papa kamu kan sibuk." ucap Dhira ." Kamu sudah makan." tanya Dhira.
" Hmm, sudah." dengan menyandarkan tubuhnya di sofa. " Kamu sudah makan." tanyanya.
" Belum lapar, lelah ya.?" tanya Dhira.
" Sedikit, Kamu lagi apa Beb.?"
" Lagi nonton tv, kamu lagi apa?" tanya balik Dhira.
" Gom-,"
" Ra kamu enggak makan." tanya seorang pria dari sebrang sana, membuat Revan mengerutkan kening saat mendengar nama belakang kekasihnya di panggil seperti mereka sudah akrab saja.
" Dhila ayok!" ajak Alex dn terdengar lagi oleh Revan hingga dirinya menegakkan tubuhnya.
" Siapa?" tanya Revan.
" Hhmm, teman." jawab Dhira malas. " Nanti aku telpon lagi ya Beb, love u." kata Dhira dan mematikan telponnya.
Dhira yang mematikan telponnya membuat Revan penasaran dan mulai cemburu saat ada pria lain datang ke rumah kekasihnya. Dan dia mendapatkan notif chat dari kekasihnya.
" Jangan marah dia hanya teman." tulis chat Dhira.
" Dia siapa, apa teman club kamu." tanya Revan.
" Bukan." jawab Dhira.
" Terus siapa.?" tanya Revan lagi karena dia sangat cemburu, tak ada balasan sama sekali oleh Dhira dan kini Revan benar-benar kalut serta cemburu.
Flasback.
__ADS_1
Dhira yang sedang berada di kamarnya sedikit mengerutkan kening kala mendengar suara ketukan pagar beberapa kali hingga Dhira keluar dari kamar dan mendapati bik minah yang sudah dulu keluar untuk membukakan pintu pagar.
Memilih duduk bersama alex yang sedang menonton tv dan mendapati bik minah yang kembali ke dalam rumah.
" Non Dhira ada tamu di luar." kata bik Minah membuat Dhira mengerutkan kening.
" Tamu? siapa bik." tanya Dhira.
" Itu Non, Mas Dav-." belum sempat berbicara pria itu sudah ada di belakang bik Minah.
" Hay.?" sapanya dengan tersenyum ramah.
" Dava!" pekik Dhira membuat Alex menatap ke arah Dava.
" Dava.!" seru Alex, berdiri dari duduknya serta berjalan ke arah Dava dan memeluknya dengan erat.
" Alex kangen.?" ucap Alex dengan masih memeluk Dava dan di balas pelukan oleh Dava.
" Dava juga kangen Alex." dengan melepaskan pelukannya. " Bagaimana kabar kamu." tanyanya.
" Baik? Dava kemana saja." tanya Alex, membuat Dava menatap Dhira yang sedang menatapnya dengan tajam seakan ia masih marah dengan dirinya dan tidak ingin bertemu dengannya.
" Maaf, Dava sibuk." ucapnya dengan sedikit berbohong. " Aku bawa ini untuk kamu." ujarnya lagi dengan membawa kantong plastik yang berisi makanan ringan kesukaan Alex.
Menerimanya dan membukanya dengan penuh semangat serta tersenyum senang saat dia mendapatkan makanan kesukaannya.
" Makasih." kata Alex dan di anggukkan oleh Dava.
" Dhila? Dava datang." ucapnya dengan senang membuat Dhira tersenyum paksa dan mengangguk.
Alex yang sudah lama tidak bertemu dengan Dava membuatnya senang karena Dava dulu selalu mengajak dirinya bermain, jalan-jalan dan menjaganya. Ia sangat merindukan teman lamanya.
Menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang keluarga dengan duduk di bawah yang tersedia bulu karpet dan tv di sana.
Menghembuskan nafas berat saat Dhira tidak bisa mengusir Dava karena kak Alex begitu senang dan rindu akan kehadiran teman lamanya.
Dhira berjalan ke ruang keluaraga dengan malas saat Alex mengajaknya untuk bergabung bersama dengan Dava.
Alex bercerita panjang lebar dengan Dava yang setia mendengarkannya dengan sekali-kali ia menatap Dhira yang sedang memegang ponsel karena malas sekali ia melihat Dava, walaupun kadang ia memperhatikan dan mendengarkan ucapan Alex.
Bik minah mengantarkan makanan ringan serta minuman untuk teman lama majikannya dan merasa senang saat melihat mereka bertiga ada di hadapannya seperti dulu yang selalu bertiga kemana-mana.
Dhira sedang menatap kakaknya dan beralih melihat ponselnya saat mendengar suara panggilan ponselnya membuat ia tersenyum dan berjalan ke arah ruang tamu untuk mengangkat telpon dan mengobrol dengan kekasihnya.
Dava yang melihat Dhira tersenyum dan pergi untuk mengangkat telpon hanya bisa menatapnya dengan dia yang duduk di sofa ruang tamu, dan menghembuskan nafas berat saat ia belum mendapatkan maaf dari Dhira.
__ADS_1