
Dia calon mertua, tapi rasanya seperti ibu kandung. Yang tidak membedakan antara anak dan menantu.
.
.
.
.
Pertama kali Dhira bersama wanita tua yang baru dia kenal sebagai calon mertua dan pertama kali pula dia merasakan genggaman tangan yang begitu lembut penuh kasih sayang seperti seorang ibu kandung.
Tidak pernah dalam pikiran Dhira akan seperti ini, berjalan bersama dengan ibu calon mertua yang begitu baik dengannya.
Dalam pikiran dan hatinya hanya satu, apa nanti dirinya akan di terima dengan baik oleh ibu mertuanya, walaupun ia mempunyai keluarga yang kekurangan dalam arti seperti kak Alex yang berkebutuhan khusus. Hanya itu saja yang dirinya pikirkan tidak lebih.
Ternyata Tuhan sangat baik padanya, Tuhan mengirimkan ibu mertua yang baik dan mau menerima apa adanya tentang kekurangan keluargannya. Dia baik dan penyayang di hadapan anaknya atau tidak, sungguh dia sangat tulus sekali.
Berjalan mengelilingi mall bersama calon ibu mertuanya, mencari baju untuk dirinya dan Revan di dalam acara pertunangannya nanti.
" Ayo Dhira sayang kamu pilih yang mana.?" Kata Nyonya Vani.
" Dhira ikut pilihan tante saja."
" Kok tante sih panggilnya!" protes Nyonya Vani, membuat Dhira mengerutkan keningnya. " Mama dong sayang, sama kayak Revan kalau manggil, Mama." ujarnya lagi yang membuat Dhira tersenyum.
" Yang ini suka Dhira suka gak." Tanya Nyonya Vani melihatkan satu gaun yang terbuka di belakangnya dan itu akan memperlihatkan tato di punggungnya.
Sungguh bodoh Dhira lupa akan tato yang ada di punggungnya, itu pasti akan membuat ibu mertuanya terkejut dan mengira dirinya adalah gadis nakal. dan dirinya belum bilang itu pada ibu mertuanya.
" Em, Mam?" Ucap Dhira lirih.
" Iya sayang." Jawab Nyonya Vani.
" Dhira boleh jujur." Katanya yang membuat Nyonya Vani menatap dalam menantunya seakan dia takut mengungkapkannya.
" Apa sayang.?" Ujar Nyonya Vani dengan mengusap lengan Dhira dan tersenyum.
" Boleh tidak Dhira pakai bajunya yang tidak terbuka di bagian punggung." Ucapnya sedikit ragu. " Maaf, Dhira mempunyai tato." Ujarnya lagi dengan menundukkan kepalanya.
Sedikit terkejut akan ucapan calon menantunya yang jujur akan mempunyai tato di badannya. tak menyangka jika calon menantunya penggemar seni tato yang pasti mengira dia adalah gadis nakal.
Tersenyum dan mengusap lembut pipi Dhira yang menunduk akan takut dengannya.
__ADS_1
" Mama tidak marah dengan Dhira, Mama senang Dhira jujur begini." Ucapnya dengan tersenyum.
" Terima kasih Ma." Ucap Dhira.
" Mama pilihin baju yang sedikit tertutup ya, biar nanti Dhira enggak malu." Kata Nyonya Vani, Dhira pun tersenyum dan mengangguk.
Sebenar Dhira tidak malu hanya saja dirinya tak ingin orang tau jika dirinya mempunyai tato dan dirinya juga ingin menjaga nama baik calon keluarga suaminya agar tidak ada orang yang mencela keluarga suaminya dan dirinya.
Berjalan kembali memilih gaun untuk Dhira dan untuk Nyonya Vani hingga mereka menemukan baju motif yang sama tapi beda model dan mereka memutuskan untuk memilihnya agar terlihat kompak seperti keluarga, tak lupa juga ia memilihkan baju yang sama untuk menantunya yang sedang hamil tua.
" Buat siapa Ma.?" Tanya Dhira.
" Buat kakak iparnya Revan, dia sedang hamil besar sekarang." Ucap Nyonya Vani, membuat Dhira menganggukkan kepala dan Dhira baru tau jika Revan mempunyai kakak.
" Mama mau coba pakai baju ini dulu ya sayang, muat apa enggak." Ucap Nyonya Vani.
" Iya Ma." Jawab Dhira dengan tersenyum.
Nyonya Vani yang sedang pergi untuk mencoba baju pilihannya dan Dhira yang sedang mencari baju untuk Citra dan Bik Minah untuk mereka yang sudah menemaninya selama ini dan untuk mereka agar ikut mendampinginya nanti di acara pertunangannya.
Di saat Dhira sedang mencari baju untuk Citra dan akan mengambilnya dia sedikit terkejut saat ada yang menyenggol bahunya hingga sedikit oleng dan beruntung dirinya tidak terjatuh.
" Ups, sorry." Ucap seorang gadis yang tersenyum ejek memandang Dhira.
" Punya uang loe beli baju di butik ini.!" Ejeknya. " Atau jangan-jangan uang dari bokap gue tu." imbuhnya lagi, yang membuat Dhira langsung menatap tajam.
" Sory, gue bukan penikmat harta bokap loe." Jawab Dhira.
" Tapi nyokap loe nikmati tu uang dari bokap gue, pastinya dia kirim uang kan ke loe." Ucapnya lagi, siapa lagi jika bukan Kinan yang ada di hadapannya sekarang. Saat dia melihat Dhira sedang memilih baju, dan sudah lama dirinya tidak melihat Dhira hingga itu kesempatan Kinan untuk menghampirinya dan ingin mengejeknya.
Tersenyum sinis saat Kinan mengucapkannya. " Loe pikir gue mau terima uang dari nyokap tiri loe, Sorry bukan level gue karena gue sudah punya yang lebih besar dari pada uang kiriman nyokap tiri loe." Ejek Dhira, yang membuat Kinan menggertakkan gigi.
" Dan ingat, gue gak pernah ngambil uang dari nyokap tiri loe, semuanya sudah gue kembalikan." Tekan Dhira dengan tegas dan mata yang tajam.
Tak ingin meladeni kinan yang sudah membuatnya ingin marah, Dhira memutuskan untuk pergi. Tapi sial Kinan terlebih dulu menarik rambut Dhira dari belakang, dan membuat Dhira terhuyung ke belakang. Dhira dengan cepat mencekram tangan Kinan dengan kuat dan membuat tangan Kinan melepaskan rambutnya hingga dia memekik kesakitan.
Memelintir balik tangan Kinan dan mendorong kuat hingga dia terjatuh ke lantai.
" Kinan.!" Teriak wanita tua yang melihat anaknya terjatuh, membuat semua karyawan butik menatapnya dan beberapa pembeli pun juga ikut menatap sumber suara.
Menghampiri anaknya dan menolongnya berdiri. " Kamu tidak papa sayang?" Tanya wanita tua itu meneliti semua badan anak tirinya.
" Ma, dia mendorongku!!" Ucap Kinan dan menunjuk Dhira, mengikuti tangan anak tirinya yang menunjuk ke arah depan dan menatapnya dengan terkejut saat melihat anak kandungnya.
__ADS_1
" Dhira.!" Lirih Nyonya Devi, Dhira pun hanya menatapnya acuh.
" Kamu kenapa mendorongnya." Tanya Nyonya Devi pada putri kandungnya.
" Tanya putri anda, apa yang dia lakukan pada saya." Jawabnya.
" Dia yang memulai duluan Ma, dia menghina mama dan aku tidak terima itu.!" Sahut cepat Kinan, membuat Dhira tersenyum miris dan Nyonya Devi menatap Kinan dalam
" Loe pintar sekali membalikkan fakta." Sanggah Dhira " Nyokap sama Anak sama-sama munafik." Cibirnya, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari ibu kandung.
" Dhira!" Pekik Nyonya Devi, Berjalan menghampiri anaknya, mengangkat tangannya ke atas dan akan melayangkannya pada anak kandungnya, sayangnya tangan itu tak sampai mendarat di pipi Dhira karena di cengkram kuat oleh Calon mertunya.
" Jangan pernah mengangkat tangan pada menantu saya, jika anda tidak ingin berurusan dengan saya." Ancam Nyonya Vani menatap tajam dan menghempaskan tangan Nyonya Devi dengan kuat, Membuat Nyonya Devi sedikit oleng.
" Kamu tidak apa-apa sayang.?" Tanya lembut Nyonya Vani saat menghampiri calon menantunya dan mengusap lembut pipinya.
" Tidak Mam?" Jawabnya dengan tersenyum, menatap ke arah anaknya yang berinteraksi dengan wanita yang tidak dia kenal, entah kenapa membuat hatinya nyeri. Dan sedikit bingung dengan ucapan Wanita tua itu yang menyebut Dhira menantunya dan Kinan juga sama terkejutnya akan apa yang di katan Nyonya Vani pada ibu tirinya
" Siapa Anda.!" Tanya Nyonya Devi, membuat Nyonya Vani beralih menatapnya.
" Saya." dengan menunjuk dirinya sendiri. " Mama mertua dari AnanDhira." tambahnya dengan tersenyum
" Mertua.!" Gumamnya yang masih terdengar oleh Dhira dan Nyonya Vani.
" Ayo sayang kita cari baju untuk Kak Alex daj Revan." Ajak Nyonya Vani, yang termasuk menyinggung ibu kandungnya. Hanya mengangguk dan juga tersenyum untuk menjawab, dan Nyonya Vani menggenggam tangan menantunya saat akan berjalan bersama.
" Alex." Gumamnya lagi, serta menatap kepergian putri dan besannya yang begitu akrab bagai anak kandungnya sendiri.
" Revan! dia mamanya Revan!" Gumam Kinan dalam hati dan mengepalkan tangannya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃
Insyaallah mau tamatin ini.
Terus gak tau lagi mau nerusin nulis di sini apa enggak.😊😊
__ADS_1