
Cinta pertama adalah kamu dan yang ke dua adalah ibu mu, karena kamu anugrah terindah yang akan mewarisi darahku.
.
.
.
.
Perjuangan seorang istri untuk melahirkan garis keturunannya begitu sangat menyayat hatinya. Rasa kasihan dan tidak tega melihat bagaimana sakitnya seorang istri yang sedang kesakitan saat akan melahirkan buah hati cinta mereka ke dunia indah ini.
Dimana saat Dhira yang merasakan kontraksi begitu hebat, wajah yang pucat, keringat sebiji jagung berkucuran di wajahnya dan bagaiman dirinya menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Sangat sakit, membuat Dhira meneteskan air mata dan tanpa terasa ia pun juga meneteskan air mata melihat perjuangan istrinya.
Menemani istrinya yang memiringkan tubuhnya agar cepat pembukaan dan bisa untuk memulai mengejan nanti saat pembukaan sudah lengkap.
Menggenggam tangan Dhira menciumi punggung tangannya, mengusap keringat di keningnya dan memperhatikan lekat-lekat wajah istrinya yang kesakitan.
" Dhira sayang?" Ucap wanita paruh baya, baru datang dan mengusap lembut pipinya.
Nyonya Devi, yang baru tiba seterlah mendapatkan telpon dari Kinan jika Dhira akan melahirkan.
Revan melihat kedatangan ibu mertuanya pun berdiri dari duduknya dan menyalimi ibu mertuanya. dan beberapa detik ibunya sendiri juga baru datang dan menghampiri dirinya.
" Ma?" Lirih Dhira.
" Iya sayang.? Jawab Nyonya Devi, menggenggam tangan Dhira dengan lembut.
" Sakit?" Hanya mengangguk dan kembali merasakan kontraksi lagi.
" Enggak papa, jangan tegang, mama akan di sini nungguin kamu." Ucap Nyonya Devi hanya mengangguk dan tersenyum.
" Dhira sayang?" Sapa Nyonya Vani.
" Mama?" sapa balik Dhira lirih dan tersenyum.
" Semangat ya nak nanti kalau mengejan! genggam tangan suami kamu juga gakpapa sayang biar tau rasa sakitnya juga gimana." Ucap Nyonya Vani
" Mau di jambak atau di cakar pun juga gakpapa sayang." Ujarnya lagi, membuat Dhira tersenyum lebar dan mengangguk. Mendapatkan kesempatan dan ide dari ibu mertuanya.
" Permisi! Maaf, yang jaga cukup satu orang saja ya bu?" Tegur suster pada mereka, saat Dhira di kerumuni tiga orang.
" Iya sus maaf." Ucap Nyonya Vani dan di anggukkan suster.
" Mama tinggal keluar dulu ya sayang?" Pamit Nyonya Vani, sebelum keluar mengusap perut Dhira dan mencium kening menantunya.
__ADS_1
" Jaga dan beri semangat untuk istri kamu." Pesan Nyonya Vani pada putranya, hanya mengangguk untuk menjawab.
" Mama juga keluar dulu ya sayang. Jangan menangis, semangat, dan harus kuat." Pamit Nyonya Devi, mengusap air mata Dhira yang mengalir.
" Ma? Maafin Dhira selama ini. Dhira selalu bentak mama dan selalu marah sama mama." Ucap Dhira, meminta maaf pada ibunya membuat Nyonya Devi tak bisa lagi menahan air matanya.
Dirinya menyadari rasa sakit yang luar biasa saat akan melahirkan. rasa sakit yang di alaminya begitu dahsyat seakan dirinya sadar akan perbuatannya pada ibunya dulu, membentak, marah, dan selalu bertengkar bila bertemu.
Tidak seharusnya dirinya bersikap jahat pada ibunya, mungkin sakit yang ia rasakan tidak akan sama seperti sakit yang ibunya alami. Mungkin ibunya lebih sakit daripada dirinya saat itu.
" Maafin mama juga ya sayang, mama juga salah pada kamu dan kak Alex." Ucap Nyonya Devi.
" Mama di luar ya nak? kamu harus kuat, mama akan selalu berdoa." Ujarnya lagi tidak sanggup melihat anaknya sakit seperti yang ia rasakan dulu, melahirkan anak pertamanya.
Hanya mengangguk dan tersenyum. " Makasih ma?" Ucap Dhira.
Kembali berdua bersama dengan suaminya yang setia menemani dan memberikan perhatian kecil padanya. mengusap perutnya yang sangat sakit dan selalu memberikan kecupan ringan padanya.
" Kita lihat dulu ya mbak?" Ucap bu dokter untuk memeriksanya.
" Wahh, sudah lengkap. Sudah siap untuk keluar ini."
" Siap ya mbak, untuk mengejan." Tanya Dokter dan di anggukkan Dhira.
" Ngejan yang kuat mbak, pegangan sama suaminya." Perintahnya, dan memulai untuk memberi tindakan ada Dhira.
Tapi dirinya tak mempedulikan itu semua saat ia mulai mendengar dan melihat secara langsung tubuh mungil yang baru saja keluar dari dalam perut istrinya.
Tangisan yang begitu kuat dan darah segar yang menempel pada tubuh mungil itu begitu membuatnya terharu dan menciumi wajah istrinya berkali-kali.
" Terima kasih sayang, terima kasih.!" Ucap Revan, menangis haru melihat perjuangan istrinya.
***
" Hmm, lucu sekali!!" Ucap Citra, melihat bayi mungil tidur di samping ibunya. dengan di bedong seluruh tubuhnya dan menyisakan wajah bulat yang tertidur.
" Hay, little princess!! Selamat datang di dunia yang baru ini ya." Ujarnya lagi, menyentuh pipi yang masih merah.
" Hay, bayi imut. Selamat datang dan panggil aku aunty cantik ya." Ucap Kinan yang tak kalah senangnya melihat bayi yang baru lahir.
" Jangan mau di suruh panggil aunty Cantik, panggil saja aunty lampir!" Sahut Dika membuat Kinan melototkan mata, sedangkan semua orang tertawa melihatnya.
" Loe!" Geram Kinan.
" Apa, Mak lampir!" Seru Dika.
" sudah-sudah bertengkar mulu kalau ketemu, cucu mama nanti nangis.!" Pisah Nyonya Devi membuat ke duanya diam, menghampiri cucunya dan menggendongnya.
__ADS_1
" Cucu mama cantik sekali?" puji Nyonya Devi, melihat cucunya yang cantik dan manis.
" Cucu aku juga lho jeng!" Seru Nyonya Vani, yang juga ikut menghampiri cucunya dan tidak mau kalah dengan Nyonya Devi.
Bagaimana tidak mau kalah, yang di inginkan Nyonya Vani terkabul. Ingin mempunyai cucu perempuan yang sudah lama dirinya tunggu-tunggu dan bisa membuat suasana rumah akan menjadi ramai. Dan dirinya merasa sempura mempunyai dua cucu laki-laki dan cucu perempuan yang cantik dan tampan.
" Wahh ... bakalan ada perang dunia ini, memperebutkan cucu!" Seru Dika. " Buat lagi Dhir!" Cetus Dika, membuat Dhira melototkan mata.
" Kau pikir adonan donat apa, sekali buat langsung jadi." Gerutu Dhira.
" Buatnya gampang, brojolnya yang susah." imbuhnya lagi, membuat semua orang menggelengkan kepala dan tertawa.
" Mau di kasih nama siapa cucu mama ini?" Tanya Nyonya Vani, mencoba menggendong cucunya yang masih ada di dalam gendongan besannya.
" Masih belum tau Ma." Jawab Revan, menatap mamanya yang begitu senang menggendong cucu perempuannya.
" Dia mirip sama papanya?" Kata Nyonya Vani.
" Iya?" Timpal Nyonya Devi, memperhatikan lekat cucunya sambil tersenyum.
Citra yang melihat dua paruh baya sedang memperebutkan cucu itu seakan teringat akan ibu mertuanya dan juga teringat suaminya. Ada rasa nyeri di hatinya, kala ia masih belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan, menundukkan kepala mengusap mata yang akan menurunkan air di pipinya.
" Citra?" Sapa Nyonya Vani, membuat Citra menatapnya.
" Mau gendong sayang?" Ujarnya, membuat memandangi semua orang terutama Dhira dan Dhira pun mengangguk serta tersenyum.
Menggendong bayi mungil, mencium pipinya yang berisi dan mengusapnya secara lembut.
" Jangan menyerah! Tetap semangat." Kata Nyonya Devi. Hanya mengangguk dan tersenyum.
" Di mana Rizal." Tanya Nyonya Vani.
" Sedari tadi bolak balik ke kamar mandi ma, mual terus!" Jawab Revan.
" Mual!" Ulang Nyonya Vani. " Dia sakit!"
" Tidak tan, tadi di rumah dia baik-baik saja. Pas mulai masuk sini, dia mulai mual." Jawab Citra.
" Kok aneh ya, kayak orang hamil saja. Bau obat " Ucap Kinan, membuat Citra terhenyak dan menatapnya.
" Aku belum datang bulan, dari bulan kemarin." Gumam Citra dari dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃