Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
kasih sayang yang adil


__ADS_3

Kita bukan lagi sahabat, melainkan saudara. Kau sakit kita juga sakit, kau senang kita pun juga senang.


.


.


.


.


Duduk bertiga di meja bundar, cafe milik Dhira. dengan Dhira yang di tatap penuh selidik oleh ke dua sahabatnya. Hanya menahan senyum saat raut muka dua sahabatnya itu berubah menjadi serius.


Malam sepulang dari rumah Revan, Dhira mendapatkan pesan dari Dika dan Citra untuk datang ke cabang cafe, karena mereka berdua sangat penasaran dan ingin mengintrogasi sahabatnya yang tertutup itu. Sungguh sangat mengejutkan bagi Citra dan Dika hanya penasaran saja.


" Jangan tatap aku seperti itu, seperti maling saja tau gak." Kata Dhira, yang mulai bicara lebih dulu.


" Bukan maling, tapi bangkai." Sahut cepat Citra, membuat Dhira tersenyum sinis.


" Kamu kenapa enggak bilang ke kita jika sudah punya pacar." Kata Citra.


" Dika belum cerita ke kamu." Tanya Dhira, menggelengkan kepala dan menatap Dhira dan Dika bergantian.


" Kamu sudah tau Dik." Tanya Citra.


" Tau dari pacarnya, kalau dari dia." dengan menunjuk dagu ke arah Dhira " Mana mungkin dia berani cerita."


" Bukan aku enggak berani cerita." Sahut Dhira.


" Terus.!" Potong Citra.


" Belum saatnya saja aku cerita." Jawab Dhira.


" Dan sekarang kamu bisa ceritakan, sejak kapan pacaran terus kenapa kebelet nikah." Cecar Citra. " Atau ... jangan bilang kalau kamu ha-." Belum sempat berbicara Dika sudah melempar tissue kotor ke arah Citra.


" Iihh ... Dika! apaan sih." gerutu Citra.


" Kalau ngomong itu jangan ceplas ceplos, kayak emak-emak julit saja." Kata Dika.


" Emang emak julit." imbuh Dhira, dengan menggelengkan kepala menatap Citra yang ucapannya sungguh seperti mak rumpi.

__ADS_1


Tapi sedikit ada benarnya juga, Bukan karena hamil tapi karena dirinya ingin cepat menikah takut akan perbuatannya yang selalu berduan dengan Revan di kamar dan pastinya jika tidak terkontrol mereka sudah melakukan hal yang lebih dan akan membuat nama keluarga mereka hancur.


Revan yang selalu ke rumah dan nginap di rumahnya saja sudah membuatnya takut. takut akan di grebek para tetangga dan takut akan di nikahkan secara paksa. Tapi beruntung ia tinggal di perumahan bukan di kampung, perumahan yang jarang sekali tetangga keluar atapun bergosip. Mereka adalah tipikal orang pekerja tak memikirkan yang lain dan selalu di dalam rumah, jarang berinteraksi.


" Aku enggak julit ya, cuma nebak saja." elak Citra dengan mengerucutkan bibirnya.


" Tapi tebakan kamu salah." Kata Dhira. " sudah satu tahun aku pacaran sama dia, dia selalu ngajak nikah dan selalu aku tolak. Tapi kini aku sudah siap dan mau menikah dengannya, alasannya karena dia selalu ada untuk aku dan kak Alex." ujarnya lagi.


" Kalian mau mendukung keputusanku kan." Tanya Dhira, berharap dua sahabatnya mendukungnya untuk menikah dengan Revan yang di usinya masih terbilang muda.


Menatap dalam Dhira yang tersenyum, hingga membuat dua sahabatnya menghembuskan nafas berat serta menundukkan kepala.


" Kau yakin akan menikah di usia muda." tanya Dika.


" Iya, aku yakin." Jawab tegas Dhira.


" Jika itu yang terbaik aku akan mendukung kamu." ujar Dika dengan tersenyum, membuat Dhira ikut tersenyum.


" Dan kamu Cit.?" Tanya Dhira menatap Citra.


" Setelah kamu menikah, apa kita masih bisa bertemu, mengobrol bersama dan saling pergi ke mall dan apa boleh aku ke rumah kamu nanti." Tanya Citra begitu dalam, seakan dirinya takut jika Dhira akan di larang oleh suaminya nanti untuk tidak berhubungan lagi dengan dua sahabatnya.


" Aku merestui kamu dan akan mendukung keputusan kamu." Jawab Citra dan menepuk tangan Dhira. " Tapi ingat! jika ada apa-apa jangan sungkan untuk berbagi cerita pada kami." ujarnya lagi.


" Terima kasih." Jawab Dhira membuat Citra dan Dika tersenyum serta menganggukkan kepala.


Bukankah sahabat seharusnya begitu, saling mendukung dan saling memberi masukan satu sama lain, dan saling melindungi serta menegur jika ada yang salah.


Melihat Dhira yang tersenyum bahagia, membuat mereka juga ikut tersenyum bahagia. Menghabiskan malamnya kini dengan sahabat dan saling mengobrol hingga tak terasa malam semakin larut, dan mereka bertiga memutuskan untuk pulang walaupun sebenarnya mereka sudah mengantuk.


****


Restu orang tua sudah ia dapatkan dan dengan sangat mudahnya mereka merestuinya. Dan dirinya baru tau jika Dhira yang menolong ke dua orang tuanya hingga membuat dirinya terluka parah.


Tidak salah jika ke dua orang tuanya begitu memuji Dhira, gadis yang menoling mereka dan ingin sekali menjodohkan dirinya dengan gadis penolong.


Tidak salah pula ia jatuh cinta dengan gadis tomboy yang sudah membuat dirinya berubah dan bisa melupakan mantan kekasihnya.


Walaupun umurnya masih di bilang muda tapi sifat dia begitu dewasa dan bisa membuatnya menjadi gadis yang tangguh serta bertanggung jawab.

__ADS_1


" Pagi Ma, Pa." sapa Revan saat berada di meja makan.


" Pagi sayang.?" jawab Nyonya Vani dengan tersenyum hangat.


" Van, nanti siang mama mau ajak Dhira."


" Kemana Ma." Tanya Revan dengan mengerutkan keningnya.


" Mau cari cincin buat kalian bertunangan nanti." Jawabnya dengan tersenyum.


" Revan sudah punya cincin buat lamar Dhira ma, tapi kalau cincin buat akad nikah belum punya." Ujar Revan, membuat Nyonya Vani yang mengerutkan keningnya.


" Kenapa enggak bilang mama kalau sudah punya, tau gitu kan semalam bisa kamu lamar langsung di depan mama, papa dan sahabat Dhira." ujar Nyonya Vani.


" Momennya belum pas lah ma, kan Dhira masih mempunyai kakaknya di rumah." Jawab Tuan Gio dan di anggukkan oleh Revan


" Oh iya mama lupa, kasihan Dhira udah enggak punya Ayah dan ibu." ucap Nyonya Vani yang mulai sedih saat ia tahu jika Dhira sudah tak mempunyai orang tua.


" Dia masih mempunyai ibu Ma, tapi ibunya sudah menikah lagi saat ayahnya sakit dan bangkrut, meninggalkan Dhira yang mengurus ayah dan kakaknya sendiri." Jawab Revan.


" Ya Tuhan! ibu macam apa itu tega sekali meninggalkan anaknya yang berjuang sendiri." Timpal Nyonya Vani dengan terkejut. " Mama jadi kasihan dengan Dhira." ujarnya lagi.


" Mama sayang kan sama Revan." Tanya Revan.


" Ya sayang lah Van, kamu kan putra mama!" Seru Nyonya Vani.


" Kalau mama sayang sama Revan, mama mau kan sayang juga sama Dhira seperti mama sayang sama istrinya kak Arzan." Pinta Revan, membuat Nyonya Vani dan Tuan Gio menatapnya.


" Papa dan mama tidak akan membeda-bedakan antara kamu dan Arzan, Kita juga sayang sama kalian. Walaupun kamu yang terlebih dulu mendapatkan sayang begitu banyak dari pada kakak kamu." Jawab Tuan Gio, membuat Revan terdiam.


" Mama dan Papa juga tidak akan membeda Dhira dan istri kakak kamu. Mereka adalah menantu kami dan akan kami bagi kasih sayang kami dengan adil." Jawab Nyonya Vani dengan tersenyum, menatap ke arah Papa dan Mamanya yang tersenyum dan mengangguk dengan tegas membuat dirinya ikut tersenyum dan percaya akan perkataan orang tuanya. Yang memang orang tuanya tak pernah membedakan antara dirinya dan Arzan dan selalu membagi kasih sayangnya dengan adil.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2