Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
bertemu lagi


__ADS_3

Banyak teman lelaki bukan berarti kita nakal, hanya teman lelaki yang bisa mengerti tentang rahasia.


.


.


.


.


Dhira, berteman dengan siapa saja tidak pernah memandang bulu, dia kaya atau miskin, dia anak pejabat atau anak buruh. Baginya berteman siapa saja yang terpenting dirinya nyaman dan senang, serta bisa mengerti tentang rasa pertemanan kala duka maupun senang, kala susah maupun bahagia.


Hanya satu teman pria yang dia percaya di clubnya, Dika! Teman yang tidak pernah neko, tidak pernah pacaran, tidak pernah ikut-ikutan gaya seperti teman lainya. Dia menjadi dirinya sendiri, dia yang tidak malu di suruh-suruh temannya untuk memperbaiki motornya di beri uang sebagai tanda terima kasih.


Apa yang dia miliki riel dari kerja kerasnya sendiri, ya walaupun terkadang ibunya juga memberikan dia uang tapi tidak pernah ia pakai untuk berfoya-foya, dia simpan jika suatu saat ada hal yang mendesak bisa ia gunakan.


Sikap itulah yang Dhira suka dari Dika, kemana-mana selalu berdua, dia yang selalu menolong, dia yang menganggapnya asli sebagai teman tanpa embel-embel suka, dan ia percaya pada Dika untuk mengurus cafe bila dirinya tidak ada.


Bukan sebagai teman saja tapi juga sudah menganggap pertemanan mereka sebagai sahabat, saudara.


Melihat kerja keras Dika yang sudah dua bulan mengoprasikan cafenya dengan mulai banyaknya pelanggan dan menambah omset penjualan membuatnya senang.


" Dik, ini gajian kamu.?" Kata Dhira saat dirinya menyuruh Dika untuk keruangannya.


" Terima kasih?" ucap Dhika dengan senang dan memulai menghitung uang gajiannya.


Mengerutkan kening saat nominal uang gajian dirinya tidak seperti bulan sebelumnya, di mana gajian yang sekarang sedikit lebih banyak.


" Ini kebanyakan Dhir?" kata Dhika dan mengembalikan sisa uang yang di hitungnya pada Dhira.


" Itu omset kamu Dika, karena omset bulan ini melebihi batas yang di tentukan.?" jawabnya dengan tersenyum dan menggeser uangnya ke arah Dika.


" Beneran ini?" tanya Dika antusias dan di anggukkan oleh Dhira dengan tersenyum.


" Tanks Dhir.!" serunya dengan senang.


" Iya?" jawab Dhira yang juga senang melihat tingkah Dika.


" Kamu hari ini sibuk gak" tanya Dika, membuat Dhira mengerutkan kening saat menghadapnya.


" Kenapa?" tanya balik Dhira.


" Aku mau mentraktir kamu, kan bulan kemarin belum sempat mentraktir kamu."

__ADS_1


" Elaah.. mentang-mentang udah gajian mau mentraktir aku segala." cibir Dhira dengan menahan tawa.


" Iya lah, kapan lagi coba mentraktir si bos plus teman.!" ujarnya dengan menaikkan alis membuat Dhira tak bisa menahan tawa dan melempar bulpoin ke arahnya.


" Sekarang?" tanya Dhira.


" Iya, sekalian cari makan siang." ucapnya, dan di anggukkan oleh Dhira.


Berjalan keluar beriringan dan menitipkan cafenya pada karyawan lain saat dirinya dan Dika keluar sebentar.


Seperti biasa, hanya memakai satu motor dengan Dika yang membonceng Dhira. Tapi kali ini dirinya memakai motor Dika.


Memasuki area mall, beriringan bersama mencari makanan dengan harga yang terjangkau sekali-kali mentraktir teman atau bisa di bilang bosnya juga.


Memasuki restoran jepang, memilih tempat duduk yang terbuka dengan duduk di dekat jendela.


Memilih berbagai menu, karena ini pertama kali Dika tidak pernah memasuki restoran jepang ia pun sempat bingung serta menelan ludah melihat harga makanan.


" Expresi mu kenapa begitu.!" ucap Dhira dengan menahan senyum.


" Enggak.! orang expresiku emang seperti ini dari dulu." elak Dika.


" Enggak usah bohong dech Dik!!" cibir Dhira yang tidak bisa lagi menahan tawanya.


" Mangkanya jangan nyuruh Wanita untuk menentukan tempat makanan, kalau enggak mau di bawa ke tempat mahal." ujar Dhira. " Udah nanti kita patungan, dan totalan di cafe?" kata Dhira, membuat Dika mengerucutkan bibirnya lantaran ia malu sekali sama Dhira niat ingin mentraktirnya malah sekarang harus ngajak patungan saat mengetahui harga makanan di restoran jepang.


Memicingkan mata ke Dika yang sedang memesan banyak makanan, seperti ebi furai, karage, tempura, takoyaki, origini, mochi dan takoyaki. Sedangkan dirinya hanya memesan shabu-shabu untuk permulaan Dika yang baru merasakan makanan jepang.


" Kamu pesan banyak sekali?" tanya Dhira.


" Mumpung patungan dan enggak akan aku sia-siakan." jawab enteng Dika dengan tersenyum, membuat Dhira melongo dan menggelengkan kepala karena tingkah temannya.


" Aku ke toilet dulu Dhir?" pamit Dika dan di anggukkan oleh Dhira.


Membuka ponsel, dan mencoba mengirim pesan pada kekasihnya.


" Lagi apa? sudah makan siang belum." tulis pesan Dhira untuk Revan.


" Baru selesai metiing, kamu lagi apa?" balas pesan Revan cukup lama.


" Lagi makan di luar, mumpung ada yang traktir.?" balas Dhira


" Siapa?" tanya Revan.

__ADS_1


" Surahan kamu untuk menjaga ku jika kamu tidak ada." membuat yang di sebrang sana mengerutkan kening, lalu tersenyum saat menerima foto dari kekasihnya.


" Dia memberitahu kamu." tanya Revan.


" Hemm, dia tidak bisa bohong kepada ku. Lain kali jangan sembunyi-sembuyi jika mau memeriksa ponselku." balas Dhira.


" Kenapa? enggak boleh ya." tanyanya lagi, membuat Dhira tersenyum.


" Boleh, malah aku senang." jawab Dhira dengan mengirim gambar tanda cinta, yang membuat orang di sana tersenyum sendiri.


" Love you." pesan Revan, membuat Dhira tersenyum malu.


" love you too." balas Dhira.


" Senyam senyum sendiri lagi chat sama pacar ya." tegur Dika saat dia sudah kembali dari toilet.


" Kepo.!" seru Dhira dengan tertawa, yang membuat Dika memonyongkan bibirnya.


" Permisi?" ucap seorang wanita tua cantik, menegur Dhira dan Dika yang asyik dengan tertawanya.


Menatap ke arah wanita tua itu dengan kening yang berkerut " Iya, ada apa ya buk?" tanya sopan Dhira.


" Masih inget tante gak." tanya Wanita itu dengan tersenyum.


Memicingkan mata, menatap lekat wanita yang ada di hadapannya dengan Dika yang mulai bersuara dahulu.


" Bukannya tante yang hampir di rampok waktu itu pas di lingkar timur." tebak Dika, dan membuat wanita tua itu tersenyum serta mengangguk.


Ya siapa lagi jika bukan Nyonya Vani yang menyapa Dhira dan Dika terlebih dulu, saat dia tidak sengaja bertemu dengannya di tempat restoran yang sama.


Awalnya ia ragu melihat gadis yang menolongnya waktu itu atau bukan hingga dirinya mencoba lebih mendekat dan tersenyum jika memang benar gadis itu.


Melupakan teman arisan yang sedang menunggunya di vvip hanya demi gadis itu yang sudah menolong banyak pada dirinya dan suaminya.


Dan Dhira yang baru ingat akan itu pun langsung berdiri " Aah, maaf tante saya lupa?" ucap Dhira sedikit menundukkan kepala dengan rasa hormat. " Silahkan tante, duduk dulu." ajak Dhira dan di anggukkan Nyonya Vani.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2