
Semalam kita masih bisa bicara, tapi kini. Kau mengacuhkanku dan itu membuat hatiku sakit.
.
.
.
.
Pagi, matahari yang bersinar menyilaukan mata membuatnya terganggu akan tidur paginya.
Terbangun mengerjabkan mata, menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang dengan memijat pangkal hidung yang terasa sedikit pusing.
Sudah hampir empat hari, dirinya di buat dilema dan bingung akan apa yang terjadi pada Citra beberapa hari ini.
Dimana mana Citra berubah menjadi dingin dan menjaga jarak padanya. Berbicara pun hanya sepatah dua kata dan tidak akan berbicara jika tidak ada perlunya.
Perubahan Citra itu karena empat hari yang lalu, dimana malam itu dia memperlihatkan struk belanja dan sedikit ada perdebatan kecil, hanya berdebat kecil tapi bukan tentang perselisihan ataupun kecemburuan. Hanya berdebat kecil tentang hak milik istri, dan sedikit salah di artikan Citra jika Rizal bilang dirinya masih tanggung jawabnya.
kata 'Masih'itulah yang membuat Citra mulai berubah, sedikit dingin dan pendiam tapi dia tidak melupakan kewajibannya.
Memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. serta melayaninya seperti biasa. Tapi begitu, tidak ada wajah senyum seperti dulu di wajah Citra.
Melihat ke arah samping, dimana tidak ada Citra di tempat tidur dan dirinya tau jika Citra sudah bangun dan menyiapkan makanan untuknya.
Menyiapkan makanan dalam piring Rizal dan duduk berhadapan dalam diam.
" Apa kamu libur hari ini?" Tanya Rizal, melihat Citra yang tidak memakai baju kerja. Memakan lahap makanan yang dirinya buat.
" Hhmm, iya." Jawab Citra, kembali menyuap nasi dalam mulutnya.
" Mau kemana?" Tanyanya lagi, membuat Citra menatapnya.
" Gak kemana-mana, hanya di rumah saja?" dan di anggukkan Rizal, hingga mereka diam kembali. Tidak ada percakapan atau pun pertanyaan dari bibir mereka, sampai sarapan mereka telah usai.
Memilih duduk di depan tv dengan dirinya yang sedang mengetik pesan pada seseorang. Memberi kabar jika dirinya hari ini ijin untuk tidak masuk kerja dan akan di handel oleh sekertarisnya, tapi tetap dirinya akan memantau lewat email. Beruntungnya hari sabtu tidak ada jadwal meting dan pertemuan dengan klain, dan tidak terlalu khawatir hingga dirinya di perbolehkan libur.
Mengerutkan kening melihat Rizal yang sedang duduk santai di ruang tv dan belum beranjak sama sekali keluar rumah untuk bekerja. Melihat jam dinding menunjukkan jam sudah di angka delapan, hingga dirinya mulai menghampiri Rizal.
__ADS_1
" Kamu belum berangkat! ini sudah jam delapan!" Tegur Citra lembut.
Mendongakkan kepala menatap Citra yang mau berbicara padanya lebih dulu.
" Tidak, aku libur hari ini." Jawabnya, dengan tersenyum.
" Libur!" Memicingkan mata. " Tapi kamu sudah pakai baju kan-,"
" Revan sedang ada acara sama Dhira." Bohong Rizal, dan semakin membuat Citra mengerutkan kening. " Mangkanya aku libur, lagian di kantor juga percuma, kerja setengah hari doang." Ujarnya lagi, berdiri dari duduknya dan menghampiri Citra yang sedang menatapnya.
" Aku mau mengajak kamu?" Kata Rizal tepat di hadapan Citra, mendongakkan kepala untuk melihatnya.
" Kemana?" Tanyanya.
" Nanti kamu juga akan tau?" Jawab Rizal dengan tersenyum. " Bersiaplah, aku akan ganti baju sebentar." Ujarnya lagi, berjalan meninggalkan Citra yang masih penasaran akan kemana Rizal mengajaknya.
****
" Ada apa kak?" Tanya Dhira melihat Revan yang sedang memeriksa ponsel sambil mengerutkan keningnya.
" Rizal ngirim pesan, katanya dia ijin tidak masuk kerja hari ini." Jawab Revan.
" Katanya lagi enggak enak badan." Jawabnya lagi, masih tetap melihat ponselnya.
" Ya sudah kak, biarkan kak Rizal libur. Lagian ini juga kan hari sabtu, kerjaan tidak terlalu banyak kan." Ucap Dhira dan di anggukkan Revan.
Mungkin memang benar, Rizal butuh libur dan istirahat karena dia sudah sangat bekerja keras serta jarang sekali untuk libur jika bukan urusan yang sangat penting.
Mengetik nomer kantor untuk menghubungi sekertarisnya, dan tersenyum saat dirinya sudah memutuskan panggilan.
" Kakak!" Tegur lembut Dhira dengan menggelengkan kepala, mendengar ucapan suaminya.
" Hehehheh, mau menghabiskan waktu dengan istri tercinta?" Godanya dengan tersenyum, membuat pipi Dhira memerah semu akan gombalan Revan.
Jika asistennya tidak masuk kantor, maka dari itu dirinya pun juga tidak akan masuk kantor. lebih baik kerja di rumah dan menyuruh sekertarisnya untuk membawakan semua berkas yang akan di tanda tangani ke rumahnya, sekalian ia bisa menghabiskan waktunya bersama istri tercintanya. Bukankah ini kesempatan yang bagus! Pikirnya!
***
" Kita mau kemana?" Tanya Citra, berada di dalam mobil yang sudah berjalan setengah jam yang lalu. Dengan Rizal yang juga sudah berganti pakaian santai, sangat berbeda sekali dengan dia yang memakai baju kerja. Ini terlihat tampan dan sexsi, baju yang pas dengan tubuh yang berotot.
__ADS_1
" Pantai?" Jawab Rizal, membuat Citra tersentak kecil dan menatapnya.
" Pantai?" Ulangnya dan di anggukkan Rizal.
" Iya, kenapa? Kamu enggak suka." Tanya Rizal, menatap sekilas Citra dan kembali melihat jalanan.
" Suka!" Serunya semangat. " Kenapa gak bilang tadi di rumah! Kan aku bisa cari baju pantai!" Gerutunya, mengerucutkan bibir lantaran Rizal baru mengatakannya di dalam mobil dan dirinya hanya memakai celana panjang, di padu dengan baju polos abu-abu.
Sama seperti warna baju Rizal yang di pakainya. Padahal mereka tidak janjian dan begitu tepat sekali, couple yang sangat romantis.
Ingin sekali dirinya ke pantai, tapi belum pernah terpenuhi dan dirinya hanya bisa berangan-angan. Membayangkan deru ombak yang menerpa kakinya, membayangkan keong pantai yang berjalan dan membayangkan senjanya di pantai dan melihat matahari terbenam. Pastilah sangat indah dan mengagumkan. Angannya!
Melihat Citra yang mengerucutkan bibir membuatnya gemas, tanpa sadar dirinya mengulurkan tangan mengacak rambut Citra.
" Ini juga sudah cantik." Puji Rizal, membuat pipi Citra seperti tomat.
" Gombal!" Cibir Citra.
" Beneran! Aku suka kamu yang seperti ini." Ucapnya tanpa ragu dan tersenyum tulus menatap Citra.
" Apaan sih kak!" Malu Citra memukul kecil lengan Rizal, hingga Rizal pun tertawa.
" Udah ah! Fokus nyetir sana." Ujarnya lagi, mengalihkan wajahnya menatap luar jendela sangat malu sekali di goda dan di tatap Rizal. Dan mereka mulai akrab kembali serta tak ada rasa canggung dan dingin seperti empat hari ini.
Mencari lagu yang sangat pas mengisi perjalanan mereka menuju pantai, dengan mereka yang juga ikut mengobrol dan bercerita di setiap perjalanan tanpa jenuh, tanpa bosan dan sangat semangat.
Sekali kali mereka berhenti di res area untuk membeli minuman dan makanan ringan. Memakannya di dalam mobil dengan Citra yang menyuapi Rizal.
Sungguh ini sangatlah berbeda dan tak pernah mereka melakukannya di dalam rumah. Rasanya mereka seperti sedang berpacaran, melakukan perjalan jauh dan saling menyemangati dengan rasa senang.
.
.
.
.πππ
Yeeeii, tinggal beberapa capther lagi babang kadal akan end.ππ Maaf ya jika novelnya tak sebagus dengan cerita Eva my life lineπ. Tapi insyaallah akan sangat menghibur kalian.
__ADS_1
salam hangat dari ku Cuuziie si welek-welek.ππ