
Kau seperti wonder women, wanita pemberani dan pantang menyenyah dalam segala hal.
.
.
.
.
Berboncengan dengan Kenzi untuk menuju base camp saat motor Dhira di dorong oleh salah satu temannya karena mogok di jnoalan.
Sampai di depan base camp Dhira memilih untuk pulang dan tidak berkumpul dengan yang lain.
" Aku antar ya Dhir.?" kata Kenzi saat Dhira turun dari motornya.
" Tidak usah, terima kasih.?" tolak Dhira dengan tersenyum. " Dan jangan mengikuti ku.!" peringat Dhira pada Kenzi dengan tajam.
" Dik pinjam motor.!" ucap Dhira pada Dika,
" Hati-hati.?" ucap Dika merasa khawatir dan memberikan kunci motornya pada Dhira.
" Iya? motor ku bawa kebengkel saja. Nanti kena berapanya telpon ya." kata Dhira dan di anggukkan oleh Dika, karena Dhira lebih dekat dengan Dika dan yang mengurus semua motornya adalah Dhika.
" Aku pulang dulu.!" pamit Dhira pada semua temannya, dan semua orang serempak mengucapkan " Hati-hati" pada perempuan yang baru terjatuh dari motornya.
Menatap kepergian Dhira dengan menghembuskan nafas berat serta merasa khawatir akan keadaan Dhira. Ingin mengikutinya tapi itu tidak mungkin karena Dhira sudah memperingatkannya.
" Apa kita balas dendam dengan club itu." tanya salah satu teman Kenzi.
" Tidak perlu.! Dhira melarang kita untuk tidak membalasnya karena itu adalah urusan Dhira sendiri dan dia tidak ingin melibatkan kita." jawab Dika saat Dhira sudah memperingatkan mereka untuk tidak membalas dendam.
" Dia gadis yang kuat.!"
" Iya, aku baru tau marahnya Dhira seperti itu. Ngeri.!" saut salah satu teman clubnya dengan wajah yang takut dan di angguk-anggukkan oleh semua teman Dhira yang melihat kemarahan Dhira.
Mereka baru pertama kali melihat sisi lain dari Dhira, yang sekali di usik kehidupannya akan dia balas dan tidak tinggal diam tidak peduli itu seorang pria atau wanita Dhira akan tetap melawannya.
Gadis yang menurut mereka pendiam ternyata jika usik akan bangun seperti singa yang mengejar mangsa dan mencabik-cabiknya hingga menyisakan tulang.
bukan hanya mereka saja, Kenzi pun juga sama terkejutnya kala itu saat melihat kemarahan Dhira yang menampar wanita begitu keras hingga terjatuh dan menjatuhkannya dua kali saat wanita itu akan membalasnya. Dan tidak ada rasa takut sama sekali berhadapan dengan ketua Jaguar yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Berjalan masuk ke dalam rumah base camp dan berjalan ke lantai atas menuju ruang serbaguna. Merebahkan tubuhnya di sofa, menatap atap dan membayangkan wajah Dhira yang marah yang tidak pernah ia lihat sama sekali selama bersama Dhira.
Marah mu ternyata seperti singa.!" gumam Kenzi dengan tersenyum.
****
Mengendarai motor metic street sporty hitam dengan kecepatan sedang dan berhenti ke apotik dua puluh empat jam untuk membeli obat luka, gunting serta perban.
Mengendarai motornya kembali dan berhenti di sebuah taman. Duduk di kursi taman dengan membawa kantong plastik yang berisi obat luka.
Meluruskan kaki yang terluka, memperlihatkan celana jins yang sobek di betis bagian kiri saat ia terseret jauh bersama motor sportnya.
" Sial.!" umpatnya dengan melihat lukanya dan mengingat kelakuan betina tutul. "Jika kak Alex liat dia akan menangis." ujarnya lagi, Dhira begitu tidak tega melihat kakaknya menangis saat melihat dirinya terluka.
Menggunting celana jinsnya hingga memperlihatkan lukanya. Saat akan membersihkan lukanya dengan alkohol tangan kekar itu menyentuh tangan Dhira hingga membuat Dhira terkejut saat menatap pria yang ada di hadapannya dengan berjongkok.
" Kak Sad boy.!" pekik Dhira.
" Biar aku yang bersihkan.?" ucap Revan dan mengambil kapas yang berada di tangan Dhira.
Membersihkannya dengan sangat hati-hati dan pelan agar Dhira tidak merasa sakit.
" Sedikit." jawab Dhira dengan menahan rasa sakit saat terasa begitu nyeri.
" Tahan, sebentar lagi akan selesai." ujar Revan, hanya deheman untuk menjawab karena memang begitu perih dan nyeri saat obat merah itu menempel pada lukanya.
" Sudah." ucap Revan dengan mendongakkan kepalanya untuk menatap Dhira.
" Terima kasih.?" ucap tulus Dhira dengan tersenyum dan di anggukkan oleh Revan.
" Kenapa bisa terluka.?" tanya Revan dan duduk di sebelah Dhira.
" Jatuh dari motor.!" jawabnya.
" Jatuh sendiri atau di jatuhkan orang." tanyanya lagi membuat Dhira melirik Revan dan tersenyum.
" Di jatuhkan orang." jawabnya dengan jujur pada pria yang ada di sampingnya.
" Kau membalasnya." kata Revan dengan menatap Dhira.
" Hanya tamparan kecil dan mengingatkannya." mendengar jawaban Dhira membuat Revan tersenyum.
__ADS_1
Karena dia tau yang sesungguhnya. Saat berada di kamar Dhira ia melihat Dhira yang merapikan alat balap serta camera vlognya yang di masukkan ke dalam tasnya. Berpikir cepat jika nanti malam Dhira akan bertanding, dan itu sebabnya dia ingin melihat Dhira.
Melihat pertandingan balap liar dengan kerumunan banyak orang dan ini pertama kali dia melihat balapan liar, memilih menepikan motornya dan berjalan ke arah kerumunan saat balapan akan di mulai. Dan benar saja jika ia melihat Dhira yang menjadi joki dan akan bertanding dengan lawannya.
Rasanya sedikit khawatir jika Dhira akan bertanding. Seperti merasakan sesuatu yang akan terjadi dengannya.
Dan benar saja rasa khawatirnya terjadi begitu saja saat melihat motor Dhira yang lecet serta Dhira yang terluka. Ingin menghampirinya tapi dia berhenti kala Dhira berjalan dengan cepat dan mata yang tajam ke arah lawan club.
Terkejut dengan mata yang membulat melihat Dhira yang menampar joki lawannya dengan keras dan terjatuh, dan terkejut pula saat melihat Dhira mencekram wanita itu saat akan membalasnya dan mendorongnya hingga dia jatuh tersungkur.
Melihat Dhira pulang bersama teman clubnya dengan Dhira yang di bonceng oleh Kenzi.
Mengikutinya dari jarak jauh agar tidak terlihat curiga. Mengikuti Dhira dari apotik hingga berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah Dhira.
" Bocil yang hebat.!" seru Revan, membuat Dhira menatapnya dengan cemberut.
" Tukang nguntit.!" balas Dhira.
" Aku khawatir dengan bocil ku." ujarnya dengan mengacak rambut Dhira dan merangkul bahu Dhira untuk mendekat.
" Selalu mencari kesempatan." gerutu Dhira saat tangan Revan merangkulnya dan membuatnya lebih dekat, tapi tidak membuat Dhira marah dan menjauh dari Revan dia malah menikmatinya.
" Bilang saja jika kamu juga suka Cil.?" jawab Revan dengan tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke kepala Dhira yang menyandar di bahu Revan.
Entah kenapa Dhira mulai menyukai sandaran di bahu Revan dan mulai menyukai Revan yang begitu perhatian dengannya.
" Hati-hati jika bertanding balap, jangan buat diri mu terluka lagi." pinta Revan pada Dhira.
" Iya." jawabnya dengan menatap Revan "terima kasih sudah mengkhawatirkan ku." ujarnya lagi dengan tersenyum, membuat Revan mengangguk dan juga tersenyum.
.
.
.
.
🐨🐨🐨
Maaf atas keterlambatannya. 🙏🙏
__ADS_1