Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
Revan giovano


__ADS_3

Saat aku tau kenyataannya dari orang lain. Lebih hancur, ketika kamu tidak jujur denganku.


.


.


.


Seiringnya bertambahnya waktu, dan hari semakin dekat untuk menuju lamaran banyak sekali yang harus di siapkan. Tapi mereka menikmatinya dan saling membantu satu sama lain jika membutuhkan Atau kekurangan sesuatu.


Termenung di meja makan saat dirinya sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya, sungguh sulit ia harus memilih.


" Non.!" Sapa lembut Bik Minah, membuat dirinya tersadar dari lamunannya.


" Ada apa Non.?" Tanya Bik Minah yang menatap anak majikannya tidak menyentuh makanannya sama sekali. " Apa masakannya enggak enak." Tanyanya lagi, membuat Dhira cepat-cepat menggelengkan kepala.


" Tidak Bik, masakannya enak kok." Jawab Dhira dengan tersenyum. " Duduk Bik." Pinta Dhira, untuk duduk di sebelahnya.


" Non Dhira ada masalah?" Tanya Bik Minah yang sudah duduk di samping Dhira. Menatap lekat-lekat anak majikannya jika memang Dhira sedang memikirkan sesuatu yang pasti dia sulit sekali untuk berbagi pada siapa pun. karena sifat Dhira yang sedikit penutup walaupun dengan orang dekat.


Menghembuskan nafas berat seakan dirinya sudah tidak bisa lagi memendamnya sendiri dan membutuhkan pendapat orang.


" Bik!" Ucapnya sedikt ragu, dengan setia Bik Minah masih menunggu Dhira yang ingin berbicara.


" Apa aku harus mengundang dia untuk datang di acara pertunangan anaknya." Kata Dhira dengan lirih.


Dia, yang di maksud adalah mamanya dan Bik Minah tak perlu lagi bertanya seakan dirinya tau siapa yang di maksud Dhira dan membuat Dhira termenung memikirkan beban yang begitu berat di kepalanya yang tak bisa lagi ia simpan sendiri.


" Boleh Bibik kasih saran." Ucap Bik Minah dan di anggukkan oleh Dhira serta menatap wanita tua yang sudah mengabdi di rumahnya begitu lama, tiga puluh tahun sebeluk ayahnya menikah.


" Sebaiknya Non Dhira mengundang Mama, walaupun Non Dhira kecewa dengannya." Kata Bik Minah, membuat Dhira mengerutkan kening.


" Non Dhira masih mempunyai ibu, biarkan dia melihat anaknya bahagia walaupun hanya sebentar. Jangan biarkan orang lain tau bagaimana renggangnya antara ibu dan anak, dan pastinya orang-orang akan menjelekkan anaknya, karena mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi." tutur Bik Minah dengan lembut dan mengusap tangan Dhira.


Dhira yang mendengarkan tutur kata dari Bik Minah, membuatnya berfikir dan memang ada benarnya. Jika aib keluarga harusnya tidak perlu di umbar cukup orang rumah saja yang tau, Tidak perlu orang luar juga ikut tau tentang permasalahan di dalam keluarga kita. Ya walaupun pada akhirnya mereka akan tau semuanya dengan sendirinya.

__ADS_1


Menerawang jauh, bisakah dirinya datang sendiri ke rumah baru ibunya, Bisakah dia menghadapi suami serta anak tiri ibunya itu. Sulit sekali rasanya untuk datang sendiri.


" Kenapa melamun lagi Non.!" Usap lembut Bik Minah.


" Enggak papa Bik." Jawabnya. " Makasih ya bik sarannya." Ujarnya dengan tersenyum.


" Sama-sama Non." Jawab Bik Minah. " Kalau begitu Bibik ke dapur lagi ya Non."


" Di sini saja Bik, kita makan bersama ya." Ajak Dhira setengah memohon saat dirinya benar-benar merasa sepi.


Hanya mengangguk dan tersenyum serta duduk kembali bersama dengan Nona kecilnya yang sudah lama ia rawat seperti anaknya sendiri.


Makan bersama bik Minah yang sudah lama sekali dirinya tidak pernah makan di suapin oleh orang yang merawat dirinya dari kecil, sedikit manja dengan dirinya yang meminta untuk di suapin dari tangan yang sudah mulai mengeriput dan sekali kali mereka bernostalgia dengan menceritakan masa kecil Dhira dan Alex.


****


" Yakin aku harus nunggu di sini, enggak sekalian saja aku ikut temani kamu ke dalam." Kata Dika, yang sedikit khawatir meninggalkan Dhira di luar pagar saat dirinya dan Dhira ke rumah ibu Dhira.


" Enggak perlu, aku hanya sebentar." Jawab Dhira. " Kamu tunggu saja di sini." perintahnya, membuat Dika pasrah tidak bisa lagi untuk memaksa.


Berjalan melangkah dengan tegak, tidak ada rasa takut sama sekali saat dirinya memutuskan untuk menemui ibunya di rumah suami barunya.


Menekan tombol pagar meminta ijin pada satpam untuk menemui Nyonya Devi dan menyuruhnya untuk bilang pada Nyonya Devi jika putrinya ingin bertemu.


Berlari kecil, membukakan pagar pada putri majikannya dan mengantarkannya masuk ke dalam rumah.


Duduk di dalam rumah tanpa dia yang tidak ingin melihat isi rumah yang begitu mewah, hanya duduk dan menatap bawah serta ingin cepat-cepat pulang.


" Dhira?" Sapa Nyonya Devi yang berjalan menghampiri putrinya, di ikuti suaminya yang berada di belakang dengan tersenyum.


Dhira yang merasa di panggil oleh Tuan rumah pun segera berdiri dan sedikit menundukkan kepala.


" Duduk Dhira?" Perintah Tuan Hasan, Dhira pun duduk dan menatap sepasang suami istri itu tanpa tersenyum.


" Om senang kamu datang ke rumah." Ujar Tuan Hasan dengan tersenyum. " Ada apa Nak." Tanyanya dengan ramah.

__ADS_1


Tidak ada wajah benci yang Dhira lihat dari suami baru ibunya, senyum ramah dan tangan terbuka dia tunjukkan padanya. Seakan dirinya menerima Dhira sebagai anaknya.


" Saya kesini hanya ingin mengundang Om dan Nyonya untuk datang ke rumah saya, empat hari lagi saya akan di lamar." Ucap Dhira, membuat Tuan Hasan dan Nyonya Devi saling menatap.


" Kamu mau di lamar Nak, dengan siapa.?" Tanya Tuan hasan.


" Dengan Tuan Revan yang dulu papa pernah kenalkan mama di acara pesta Tuan Adi." sahut cepat Nyonya Vani, membuat suaminya sedikit terkejut.


" Tuan Revan Giovano, Pemilik PT. Vateks." Ucap Tuan Hasan, yang membuat Dhira menatap tajam ke arah Tuan Hasan.


" Revan Giovano, PT. Vateks." Ulang Dhira dengan suara pelan


" Kamu akan di lamar sama putra Tuan Gio nak." Tanya Tuan Hasan, membuat Dhira kembali mengingat nama ayah Revan yang bernama Tuan Gio dan Nyonya Vani


" Pemilik tekstil terbesar se asia dan pemuda sukses di usia muda. Dan kamu gadis beruntung di lamar oleh Tuan Revan." Ujarnya lagi dan entah kenapa mata Dhira seakan menjadi orang hilang akal sesaat mengingat nama Revan Giovano.


" Maaf Om, saya harus pulang." Pamit Dhira dan berdiri dari duduknya, membuat Ibu dan suaminya ikut berdiri serta memandang heran Dhira yang sedikit berubah dan belum sama sekali menjawab pertanyaan ayah tirinya.


" Saya permisi Om." Pamit Dhira sekali lagi dengan sedikit menundukkan kepala dan berjalan cepat untuk keluar rumah dari ibunya itu.


****


Berjalan cepat menuju ruang kerjanya meninggalkan Dika yang sedang berada di parkiran sendiri dan membuat dia juga merasa heran dengan perubahan Dhira saat keluar dari rumah ibunya.


Menyalakan laptopnya dan mencoba mengetik nama Revan Giovano, berharap nama orang itu bukanlah kekasihnya karena dirinya tak pernah tau nama panjang Revan dan bekerja sebagai apa, dirinya tidak pernah tau.


Revan Giovano, pemilik PT. VAteks terbesar se asia dan memperlihatkan satu foto hingga membuatnya terkejut dengan mata yang membulat tajam.


" Revan, Giovano.! Pt.Vateks, ayah.!" Gumam Dhira dengan menatap foto kekasihnya.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2