Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
manja


__ADS_3

Katakan, jika itu adalah nyata. Dan anugrah yang kita tunggu sejak lama.


.


.


.


.


Sembilan bulan sudah Dhira mengandung, perut yang sudah membesar sempurna. Memperlihatkan tubuh yang mekar, perut yang bulat serta kaki yang membengkak.


Tidur yang sudah mulai sulit, selalu tidur miring, sering ke kamar mandi dan itu sering membuatnya kelelahan. Apa lagi jika malam hari dirinya sangat tersiksa, tapi juga menikmatinya.


Dirinya mulai tau, bagaimana sekarang rasanya hamil dan akan menjadi seorang ibu hingga dirinya mulai sadar. dulu dia sangat membenci dan bertengkar dengan ibunya, sekarang ada rasa sesal di dalam dirinya mengingat bagaimana dirinya sangat keterlaluan pada ibunya, Marah, benci dan pernah membentaknya.


Mwngingat itu dirinya mulai menangis dan juga betapa sakitnya jika melihat wajah ibunya yang sendu.


Ingin rasanya ia mengucapkan maaf pada ibunya, tapi bibirnya sulit untuk mengucapkan hal yang sederhana dan bisa membuat siapa saja akan luluh mendengarkannya.


Sekali saja, ia mengucapkannya pasti hati dan pikirannya akan terasa lega dan tidak ada beban dalam diriny saat melahirkan nanti.


Mengusap air mata yang entah kenapa bisa terjatuh sendiri.


" Ada apa? Hmm?" Tanya Revan, berada di samping Dhira dan melihatnya yang tiba-tiba menangis.


" Aku kangen Mamaku!" Lirih Dhira, menundukkan kepalanya kembali sambil mengusap pipinya.


" Mau di antar ke rumah mama?" Ajak Revan, membuat Dhira mengerutkan kening. " Siap ketemu saudara tiri?" Godanya, membuat Dhira mengerucutkan bibinya.


" Nanti di sana kayak kucing sama tikus." Ujarnya lagi, menahan senyum.


Pasalnya, Dhira tak pernah ke rumah ibunya, hanya Ibunya yang sering berkunjung ke rumahnya dan biasanya mengajak Kinan.


Entah, setiap bertemu dengan Kinan, dirinya sama sekali tak pernah akur. Selalu saja bedebat dan salalu saling mengejek seperti anak kecil. Dan Kinan tidak lagi seperti dulu, selalu menghina dan selalu saja mengajaknya berkelahi.


Dan dirinya juga menyadari Kinan sedikit mulai berubah, walaupun tidak sepenuhnya. Tetap, menjadi gadis yang cerewet serta ketus, dan dia juga sudah tidak lagi mengejar Revan, entah karena bosan atau memang dia tidak ingin merusak rumah tangga orang apa lagi saudara tirinya.


Mungkin Kinan sudah mulai membuka hati dan merubah jalan pikirnya menjadi dewasa. Tidak selamanya ayahnya hidup sendiri, dan tidak selamanya pula ia harus menjadi jahat ataupun manja.


Mencoba memahami keadan, jika semua tidak mungkin untuk Kinan kuasai sendiri ataupun menyakiti hati orang lagi.


" Gimana? Mau, di antar ke rumah Mama? Tanya Revan sekali lagi, menghembuskan nafas berat menatap lekat-lekat suaminya yang bisa dirinya lihat jika suaminya sedang menahan senyum.

__ADS_1


Rindu tetaplah Rindu, dan tidak selamanya ia harus berpura-pura acuh pada ibunya. " Iya?" Jawab Dhira.


" Iya apa Baby?" Tanya Revan.


" Iya! Aku mau di anterin ke rumah Mama!" Ucap Dhira, sedikit sebal mengulangi ucapannya. Revan yang begitu senang tidak bisa lagi melengkungkan bibirnya ke atas, ia pun mengacak rambut istrinya.


Revan tau akan yang sebenarnya terjadi antara Dhira dan ibunya, hanya kesalah pahaman dan mis komunikasi saja yang membuat Dhira membenci ibu mertuanya. Revan mengetahuinya kala Ayah mertuanya menceritakannya tentang ibu mertuanya saat ayah mertua berkunjung ke kantornya.


Menceritakan masa lalu ibu Dhira yang di perkosa ayah Dhira, di duakan saat menikah dengan ayah Dhira dan bagaimana dia menelantarkan anaknya dulu, menceritakan bagaimana kesedihannya saat Dhira membencinya, hanya karena salah paham tentang ibunya membawa seorang pria yaitu Ayah tirinya yang dulu masih berstatus bosnya.


Dan itu bisa di gambarkan, jika bukan sepenuhnya ibu mertuanya yang salah. Hanya tertekan, benci serta marah pada suaminya dan terimbas pada anak-anaknya, itulah sebabnya Nyonya Devi tidak pernah dekat dengan Dhira dan Alex.


" Ayo, aku anterin sekarang." Kata Revan, membuat Dhira tersenyum dan mengangguk.


" Kak Alex, Dhira mau ke rumah mama. Kak Alex mau ikut?" Tanya Dhira, melihat Alex yang terlalu hobby dengan film kartun.


Menatap Dhira dan menganggukkan kepala untuk ikut. Mungkin Alex juga jenuh jika di rumah saja dan dia begitu senang jika di ajak jalan-jalan, walaupun hanya ke rumah mamanya saja.


****


" Mau makan apa?" Tanya Rizal, yang sedari tadi menawarkan makan pada Citra.


" Aku malas makan!" Jawab Citra, tidur di sofa dengan paha suaminya yang menjadi bantal.


" Dari tadi pagi enggak mau makan, nanti sakit lho?" Khawatir Rizal, seharian bersama Citra di rumah.


" Aku mau makan." Ucap Citra, membuat Rizal tersenyum.


" Kamu mau makan?" Ulang Rizal, hanya dehemam yang ia dengar sambil menatap istrinya yang sedang berpikir.


" Aku mau nasi goreng."


" Aku pesanin on-."


" Jangan pesan online, Aku maunya kamu yang masakin?" Sahut cepat Citra, membuat Rizal mengerutkan kening.


" Mau ya sayang!" Ujarnya lagi, dengan manja dan memelas membuat Rizal tersenyum.


Mendekatkan wajahnya pada Citra, mencium ranum bibir berwana cery dengan singkat membuat yang pemilik bibir menggerutu.


" Kakak, ih!" pukul lengan Rizal sambil mengerucutkan bibir. " Kebiasaan." Ujarnya lagi.


" Istriku hari ini kenapa manja sekali sih! Hmm. " Kata Rizal, mengusap pipi Citra yang memerah mendapatkan godaan dari suaminya.

__ADS_1


Citra pun juga merasa bingung, entah kenapa dirinya ingin sekali di manja Rizal. Seperti ingin selalu di dekat suaminya dan tidak ingin jauh-jauh darinya.


Biasanya dirinya tidak pernah seperti ini, Rizal lah yang selalu manja, suka menggodanya dan suka sekali jail terhadapnya.


" Mau di masakin nasi goreng?" Tawar Rizal, membuat Citra tersadar dan mengangguk serta tersenyum untuk tawaran suaminya.


" Aku ikut ya?"


" Ikut masak?"


" Enggak." Geleng kepala. " Cuma mau liatin saja." Ujarnya lagi sambil menyengir kuda, hingga Rizal pun tertawa kecil.


Hanya menuju ke dapur, tapi Citra begitu manja sekali, menggelayut manja di lengan Rizal sambil menyandarkan kepalanya di bahunya. Sungguh ini bukanlah sifat istrinya!


Duduk di meja makan sambil terus melihat Rizal yang sangat terlihat tampan memakai aproun dan serius mengupas bumbu dan meraciknya.


" Kenapa liatin terus!" Tegur Rizal.


" Suamiku ini ternyata tampan ya." Ucap Citra.


" Kan memang dari dulu sudah tampan." Jawab Rizal, membuat Citra mendesah tak percaya akan kepedeannya Rizal. Mendengar decitan Citra, Rizal pun tertawa dan meneruskan kembali memasak.


" Hmm ... Harumnya kak! Sudah matang kak!" Tanya Citra, merasa tak sabar akan memakan masakan Rizal.


" Sabar ya sayang?" Ucap Rizal, membuat Citra tersenyum.


Dua piring nasi goreng tertata rapi dan sangat menggoda lidah serta cacing perut yang meronta-ronta ingin di kasih makan.


" Kakak gak makan?" Tanya Citra melihat Rizal akan kembali ke pantry.


" Kamu makan dulu, aku mau bersihin dapur sebentar."


" Aku tunggu kamu saja kak." Ucap Citra, dengan mata yang tertuju pada nasi goreng di depannya dan bukan melihat orang yang sedang menatapnya.


Lidah yang sudah tidak tahan untuk mencicipi dan tenggorokan yang sedari tadi hanya menelan ludah, kini tak sanggup untuk menahannya.


ia pun menyantap nasi goreng buatan suaminya dan merasa berbinar kala makanan pertama masuk ke dalam mulutnya.


Enak, sangat enak hingga dirinya mulai menyantapnya dengan lahap tanpa menunggu Rizal. dan ketika Rizal telah selesai mencuci tangan, dia terkejut dan melongo melihat istrinya yang menghabiskan dua piring nasi goreng sekaligus.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃


__ADS_2