
Hidup itu seperti piano, berwarna putih dan hitam. Dan aku menikmatinya, seperti alunan musik yang indah saat kau memainkannya. Seperti itulah kehidupan ku yang akan indah pada waktunya.
.
.
.
.
Jari jari yang lincah saat memainkan pianonya dengan piawai, memainkannya dengan nada-nada yang indah merasakan alunannya menusuk di hati yang paling dalam.
Dhira duduk dengan tenang di sisi kakaknya menikmati alunan nada piano yang sedang di mainkan Alex.
Alex dulu pernah mengikuti les khursus piano di salah satu SLB selama tiga tahun saat ayahnya masih hidup.
Berawal dia hanya mendengar nada suara piano dari siaran tv yang memperlihatkan seorang pria bermain piano dengan nada indah hingga dia menginginkannya untuk belajar bermain piano.
Ayah yang menuruti kemauan sang anak agar ia mempunyai bakat walaupun dia seorang anak berkebutuhan khusus setidaknya dia mampu untuk menjalani hidupnya kelak bila nanti ayahnya sudah tiada.
Piano hadiah dari sang ayah untuk Alex yang masih tersisa dan tidak di jual oleh Dhira saat ayahnya sakit dan membutuhkan uang banyak. Dia rela barangnya yang di jual, dari perhiasan gitar acoustic dan motor sport kesayangannya yang terpenting bukan piano alex yang hilang karena di sana ada kenangan indah dengan terukir nama, ayah, alex dan dirinya. Piano, nada nada indah dari jari lentik Alex.
Jarang sekali Dhira menemani kakaknya bermain piano, karena dia selalu bekerja menghabiskan harinya di luar hingga malam dan pulang dangan keadaan kakaknya yang sudah tertidur pulas.
Tapi tetap dia selalu menanyakan kabar kakaknya lewat vidio call atau telepon meskipun hanya sebentar saja walaupun kadang Alex yang selalu menelponnya.
Memainkan selama dua puluh menit dengan berakhir intonasi yang rendah, tepukan tangan dari Dhira membuat alex tertawa dan juga bertepuk tangan.
" Kamu hebat kak!" seru Dhira dengan tersenyum " belajar dari yutube ya" ujarnya lagi dan di anggukkan oleh Alex dengan tersenyum lebar.
" Mau main satu kali lagi." tanya Dhira.
" Iya." ucapnya dengan semangat.
Saat Alex sedang memainkan piano, bik minah datang menghampiri Dhira. Memberi tau jika ada Citra yang datang dan menunggunya di luar.
" Kenapa dia enggak masuk bik, biasanya dia langsung masuk ke dalam rumah." kata Dhira, " Suruh masuk saja bik." ujarnya lagi dan di anggukkan oleh bik minah.
Citra masuk ke dalam rumah dengan wajah yang dongkol karena Dhira tidak memberitahunya jika dia sedang terluka akibat menolong seorang cowok.
__ADS_1
Memutar badan saat mendapati suara Citra yang memanggilnya serta sedikit terkejut saat cowok yang dia tolong semalam datang bersama Citra.
Alex berhenti bermain saat suara citra menyapa adiknya dan ikut berbalik untuk menatap dia.
" Kamu ini kenapa, enggak mau cerita jika terluka.!" geram Citra yang sedari tadi di pendam saat dalam perjalanan.
" Kak? makan dulu ya sama bik minah. Ada coklat di dalam kulkas." kata Dhira pada Alex dengan lembut. hanya mengangguk dan tersenyum saat Dhira menyuruhnya pergi Berjalan dengan tangan yang memegang ponsel melihat yotube.
" Pelan kan suara mu jika kak Alex tau dia akan menangis." ucap Dhira membuat Citra merasa bersalah.
" Maaf." kata Citra.
" Cit.?" mengerutkan kening saat melihat Revan berada di rumahnya.
" Oh, tadi dia ke cafe ingin bertemu dengan mu, katanya kamu menolong dia dan terluka. Ya sudah aku ikut juga untuk ke rumah kamu. " jawab citra. " Aku ke kak alex dulu ya." ujar Citra dan meninggalkan Dhira.
Menghembuskan nafas berat karena ini pertama kalinya Dhira menerima tamu cowok asing yang baru dia kenal. berjalan menghampiri Revan yang berdiri tidak jauh darinya dan sedang menatapnya.
" Hay.?" sapa Dhira. " Silahkan duduk kak." ujarnya dan di anggukkan oleh Revan.
" Ada apa." tanya Dhira.
" Apa kamu baik baik saja." tanya Revan dengan nada sedikit khawatir.
" Aku hanya khawatir, bukan kangen dengan mu."
" Ah.! aku jadi tersinjing."
" Tersanjung.!" ralat Revan cepat.
" Hahahah, ya itu kak." jawabnya dengan tertawa saat melihat wajah Revan berubah asam.
" Apa itu tadi kakak kamu." tanya Revan membuat Dhira menatapnya.
" Iya, kenapa."
" Dia pintar sekali main piano." ucap Revan.
" Yakin cuma itu yang kakak katakan, tidak ada lagi." kata Dhira, Revan hanya menatapnya dan tidak ingin bertanya lebih karena dia tau pasti akan menyakitkan jika di ucapkan.
__ADS_1
" Dia lelaki yang hebat, walaupun dia seorang autis." ucap Dhira dengan tersenyum walaupun sebenarnya dia sedikit terluka untuk mengucapkannya.
" Aku tau dan kau tidak perlu mengucapkannya, karena hati mu pasti kan terluka." jawab Revan " Dia orang yang akan selalu di sayang oleh Tuhan dan akan selalu menjadi anak yang istimewa." ujarnya lagi hingga membuat Dhira tersenyum.
" Non, mari kita sarapan." ucap bik minah yang menghampiri Dhira, hanya anggukan kecil dan tersenyum.
" Kamu ke sini belum sarapan kan, mau makan bersama kami." ajak Dhira, karena tidak ingin menolak ajakan Dhira Revan pun mengangguk tersenyum untuk menerima ajakannya.
Berjalan mengikuti Dhira dari belakang, dengan memperhatikan dalam rumah Dhira yang sederhana dan tertata rapi.
Meja makan yang tergabung dengan Dapur memperlihatkan dapur yang minimalis dan bersih.
Duduk berempat, Dhira yang memilih duduk dengan Alex, Citra yang duduk bersama dengan Revan.
" Bik, ayo kita makan bersama." ajak Dhira.
" Tapi Non."
" Ayo bik." pinta Alex, karena Alex selalu bersama bik Minah jika Dhira tidak ada. Sempat melihat ke arah Citra dan Revan karena bik Minah merasa tidak enak jika harus makan bersama teman Dhira.
" Ayo bik, kita makan bersama." ajak Citra dengan tersenyum.
" Mari." ajak Revan juga, dan bik minah pun akhirnya mau untuk makan bersama dengan mereka.
Meja makan yang kini penuh dengan orang serta canda tawa membuat suasana menjadi indah. Ini pertama kali meja makan penuh dengan orang, Alex yang begitu senang karena mendapatkan teman baru.
Alex makan dengan lahap meskipun cara makannya sedikit berantakan, dengan telaten Dhira membersihkannya terkadang juga menyuapi kakaknya makan.
Sekaki kali Revan memperhatikan Dhira bagaimana sikap Dhira yang berubah dewasa saat ia bersama kakaknya, bersikap sabar, dan perhatian. Berbeda saat dia bersamanya sikap tengil dan suka menggodanya membuat Revan merasa sebal tapi dia juga menikmatinya.
Revan sempat bingung karena di rumah Dhira ia tidak melihat ke dua orang tua dia, Dhira juga tidak memajang foto ke dua orang tuanya. Tidak ada bingkai foto dalam dinding rumah Dhira.
Belum saatnya ia untuk bertanya, karena Dhira orang yang tidak gampang untuk berbagi cerita pada siapa pun. Hanya Citra dan bik Minah yang tau semuanya tanpa Dhira ceritakan masa lalunya yang sulit.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃
Terima kasih buat kalian yang sudah mendukung babang kadal.😍😍