
Cemburu kamu begitu menyenangkan dan aku baru merasakan itu, berharap rasa cemburu kamu tidak akan berubah.
.
.
.
.
Senang rasanya Dhira bisa melihat wajah Revan yang cemburu dan dia yang bisa mengatur rasa marah serta ketidak sukanya terhadap pria yang ingin mencoba mendekati dirinya.
Senang ya, jika di cemburui sama orang yang kita cintai apa lagi cemburunya tidak kenak-kanakan.
Revan yang mulai berubah dewasa, bisa mengatur diri sendiri, pendirian tetap, serta cara bijak menghadapi situasi yang begitu sulit.
Dia yang benar-benar mencintai seorang gadis tomboy, membuat dirinya bisa berubah. Bukan, bukan sepenuhnya juga karena gadis tomboy itu ia berubah, tapi karena dirinya pernah mengalami kegagalan tentang bagaimana caranya berhubungan dengan kekasih yang saling mengerti perasaan satu sama lain.
Pernah gagal tentang hubungan yang begitu serius dan saling mencintai, tapi egony memilih orang yang telah melahirkannya, karena surga ada di bawah kakinya. Hingga dirinya memutuskan untuk berpisah dengan kekasihnya, walaupun sebenarnya ia tidak rela dan mulai membuat hidupnya pernah kacau berantakan.
Jika di ingat-ingat kembali Revan berubah seratus delapan puluh persen, tapi masih tetap dirinya tidak berubah jika berhadapan dengan orang yang dia cintai. Jail, suka mencari kesempatan, perhatian dan melindungi, walaupun sebenarnya Dhira bisa melindungi diri sendiri.
Menatap Kekasihnya yang sedang sarapan bersama dengan kak Alex begitu lahap dan melihat Revan yang juga telaten membersihkan makanan yang jatuh dari piring kakaknya.
Tersenyum dan bersyukur karena Revan juga perhatian serta sayang dengan kakaknya. Ikut bergabung dengan dirinya yang baru selesai menyiapkan bekal makan siang untuk Revan.
Duduk di samping Revan saat kak Alex sudah selesai makan dan pergi untuk mencuci tangan.
" Enggak nambah Beb?" tanya Dhira saat melihat piring Revan yang sudah kosong.
" Sudah kenyak Beb? Kamu enggak makan." tanya Revan.
" Nanti saja." jawabnya, mengambil tissue dan mengusap bibir Revan yang sedikit berminyak. Tersenyum karena kekasihnya begitu perhatian.
" Nanti sore aku keluar kota."
" Sampai kapan?" tanya Dhira.
" Mungkin tiga harian." jawab Revan. " Jangan nakal, tetap selalu hubungi aku." pinta Revan seakan dirinya enggan sekali untuk pergi keluar kota takut bila Dhira di dekatin lagi dengan cowok ingusan, Dhira hanya tersenyum dan mengangguk.
Berjalan keluar mengikuti kekasihnya yang akan berangkat kerja dan membawakan kotak bekal makan siang Revan.
Berhadapan dengan kekasihnya dengan dirinya yang memberikan kota makan.
__ADS_1
" Jangan dekat-dekat cowok, kalau ada yang datang ke rumah malam-malam suruh pulang saja." ujar Revan.
" Idihh.. cemburu sekali sih.!!" goda Dhira.
" Iya lah, mana ada pacar yang gak cemburu melihat cowok lain ingin mencoba mendekati pasangannya." sebal Revan. " Takut nanti pacarku tersangkut di hati orang lain." imbuhnya.
" Enggak akan, kan hati ku sudah di kunci sama satu orang." gombal Dhira.
" Siapa.!" dengan mengerutkan kening
" Kamu?" jawab Dhira dengan mengerlingkan matanya, Revan yang melihat pun tertawa kecil dan mengacak rambut kekasihnya.
" Hati-hati ya? istirahat jika lelah, jangan terlalu capek." kata Dhira.
" Iya." jawab Revan, mencium kening Dhira sebelum berangkat dan mengusap pipinya dengan lembut.
Hati siapa sih, yang tidak menghangat jika di perlakukan kekasihnya dengan lembut dan sayang. Sentuhan jemari Revan sangat membuat hati Dhira luluh.
Memasuki mobil dengan dia yang membuka kaca, melambaikan tangan pada kekasihnya yang juga ikut melambaikan tangan, menginjak pedal gas bergegas menuju kantor.
***
Dua hari tidak mengunjungi cafe rasanya ia rindu akan kegiatan bersama karyawannya.
" Udah sehat Dhir.?" tanya Dika yang sedang meracik kopi.
" Sudah.?" jawab Dhira dan mulai ikut membantu temannya. " Cafe gimana ramai.?" tanya Dhira.
" Hhmm lumayan." jawab Dika.
" Dik, aku ingin keluar dari club." kata Dhira dengan sedikit serius, memberhentikan gerak tangannya menatap Dhira dengan memgerutkan kening.
" Keluar, kenapa.? tanya Dika.
" Aku ingin fokus dengan cafe." alasan Dhira yang menggunakan cafe, agar mereka tidak salah paham terlebih dulu.
" Karena cafe apa karena cowok.?" selidik Dhika yang tersenyum, membulatkan mata dan menatap Dika yang tersenyum seperti sudah mengetahui sesuatu tentang dirinya.
" Kamu tidak bisa bohong, aku tau semuanya." ujar Dika.
" Kau tau?" tanya Dhira dan di anggukkan oleh Dika.
" Dia menyuruh aku, untuk menjaga kamu." kata Dika yang membuat Dhira mengerutkan keningnya, belum mengerti siapa yang di bicarakan Dika.
__ADS_1
" Enggak usah sok gak tau." ucap Dika dengan melempar kain lap ke muka Dhira, yang membuat Dhira langsung menangkapnya dan mengerucutkan bibir.
" Pacar kamu, Revan." ujarnya lagi, yang langsung membulatkan mata dan sedikit terkejut saat Dika tau nama kekasihnya.
" Ka.. mu tau dik.?" gugup Dhira.
" Baru tau dua hari yang lalu, pacar kamu kirim pesan ke aku." jawab Dhira, mengingat dua hari yang lalu dimana malam itu Dhira sedang bersama Revan yang mengetahui dirinya terluka akibat menolong sepasang suami istri saat akan di begal.
Dan dirinya juga melihat Revan pernah memegang ponsel dengan serius dan baru berhenti saat menatap punggung mulusnya.
Malam itu ternyata diam-diam Revan mencuri nomer Dika di ponselnya, dan bodohnya Dhira tidak pernah mengunci ponselnya dengan pasword hingga begitu gampangnya ia mengambil nomer temannya.
" Kamu marah dengan ku Dik."tanya Dhira.
" Bukan marah saja, kecewa juga." jawab Dika. " Kamu menyembunyikannya dari ku! kenapa, takut.!!" imbuhnya
" Maaf."lirih Dhira " Aku enggak takut, hanya saja itu privasi dan aku tidak mau nanti ketika aku ada masalah sama dia kalian ikut-ikutan." kata dengan jujur, memang ada benarnya juga, setiap teman pasti ada yang mendukung dan ada pula yang tidak mendukung, ada lagi yang selalu megompor-ngompori kejelekan kekasih atau dirinya agar mereka putus.
Menghembuskan nafas panjang dan menatap Dhira. " Sudah berapa lama kalian pacaran.?" tanya Dika.
" jalan lima bulan." kata Dhira.
" Lima bulan kamu menyembunyikan dariku Dhir tentang kamu sudah punya pacar." ucapnya. " Apa aku harus menjaga jarak dari mu Dhir." tanyanya lagi, dan langsung terkena semburan air dari mulut Dhira yang sedang meneguk minuman.
" Dhira.!!" pekik Dika dan mengusap wajahnya dengan aprond
" Sory.!" ucapnya. " Lagian omongan kamu ngaco sekali, kenapa kamu harus menjaga jarak dengan ku. Orang aku dan kamu sudah seperti saudara." seru Dhira.
" Aku dan kamu memang menganggapnya seperti itu, tapi belum tentu pacar kamu menganggap aku seperti saudara kamu! malah dia pasti akan curiga, jika aku dekat denganmu karena menyukai kamu." tutur Dika.
" Dia tau kamu Dik, dan dia sudah mempercayai kamu! buktinya sekarang dia sedang menyuruh kamu untuk menjaga ku." kata Dhira ." Jadi kamu tidak perlu untuk menjaga jarak dariku, cukup seperti yang duku-dulu kita lalui." ujarnya lagi meninju bahu Dika dengan tersenyum, membuat Dhika pun juga ikut tersenyum dan mengangguk.
" Aku perlu ngumumin gak." ucap Dhika.
" Ember loe Dik.!!" seru Dhira dan membuat mereka berdua tertawa.
.
.
.
.🍃🍃🍃
__ADS_1