Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
batal di jodohkan


__ADS_3

Karena aku seorang pelindung untuk dirinya, dan akan tetap begitu hingga akhir hayat.


.


.


.


.


Berjalan keluar moll untuk menuju parkiran dengan mereka yang saling menggenggam erat dan tidak ingin di pisahkan dari satu sama lain, seorang pelindung untuk sang kakak yang begitu takut akan kejadian di dalam moll.


Berada di parkiran Dhira melepaskan genggaman tangan kakaknya dan menatap kakaknya dengan tersenyum untuk membuatnya tidak takut lagi.


Mengusap lembut kedua mata kakaknya yang akan menangis dan mengangkat kepala kakaknya untuk melihat ke wajahnya.


" Jangan takut dan menangis, Dhira akan selalu melindungi kakak." ucap lembut Dhira dengan tersenyum, membuat Alex tersenyum dan mengangguk.


" Kita pulang atau ke rumah ayah." kata Dhira lagi.


" Ke lumah Ayah." jawab Alex, hanya mengangguk dan tersenyum.


Memasang helm pada kakaknya, menyuruhnya untuk naik di atas motor saat Dhira sudah lebih dulu menaiki motornya.


Keluar dari moll untuk menuju ke makam ayahnya dengan Dhira yang berkendara tidak terlalu kencang. Mampir sebentar ke tempat toko bunga, membeli bunga tabur dan bunga mawar putih untuk ayahnya di saat dirinya teringat akan ayahnya yang selalu memberikan mawah pink untuknya sebagai tanda kasih sayang padanya.


Mawah putih adalah lambang kesucian dan kedamaian juga lambang suka cita saat mereka akan bertabur di pemakaman, hingga itulah Dhira memilih bunga mawar putih sebagai kedamaian untuk ayahnya dan sebagai rasa rindunya pada sosok ayah.


Sampai di pemakaman yang cukup elit saat Dhira memilih tempat peristirahatan terakhir untuk ayahnya. Berjalan menelusuri pemakaman yang berwarna hijau dan selalu terawat hingga tepat mereka sampai di batu nisan yang tertulis nama ayahnya.


Rasanya Dhira tidak ingin menangis, sama sekali tidak ingin menangis saat ia bersama Alex. Tapi entah kenapa air matanya begitu saja turun dan membasahi pipinya kala ia sudah ada di depan liang lahat ayahnya.


Menaruh dua tangkai mawar putih di atas rumput hijau dan menabur kan bunga yang sudah ia bawa dengan Alex yang juga ikut menaburkan bunga untuk ayahnya.


Sungguh mata ini tidak bisa di ajak bekerja sama, kala air matanyanya turun dengan deras hingga Alex juga ikut menangis.


" Dhira dan kak Alex datang yah. kami rindu dengan Ayah." ucap Dhira dengan mengusap batu nisan dan kembali menangis.


" Bagaimana kabar ayah, apa ayah bahagia di sana, apa ayah melihat aku di sini yang sudah bahagia bersama kak Alex." tanyanya " Dhira sekarang sudah mempunyai cafe yah sudah mulai berkembang dan mempunyai cabang baru, doakan Dhira semoga usahanya lancar." ujarnya lagi dengan tersenyum.

__ADS_1


Ingin sekali Dhira bercerita tentang ibunya yang datang ke rumahnya, tapi Dhira urungkan karena di sisinya masih ada Alex dan tidak mungkin untuk dia ceritakan pasti kakaknya kan sedih dan tertekan mengingat kembali perlakuan ibunya.


Dhira tau jika Alex sangat benci pada ibunya dan sangat ketakutan ketika melihatnya. Ibunya sedari dulu tidak pernah memperlakukan baik pada Alex, hanya membentak dan membentak tidak ada kata sabar dan perhatian pada putranya.


Bukan cuma putranya saja, putrinya juga sama seperti Alex hanya saja ibunya masih sedikit perhatian dan bersikap baik karena putrinya adalah anak yang sempurna.


Mendapatkan pengertian dan didikan dari ayahnya dulu, untuk selalu menjaga, merawat dan menyayangi kakaknya walaupun dia tidak sempurna seperti dirinya. dan sampai sekarang didikan ayahnya pun sudah ia tanam di kepalanya dan akan selalu menjaga merawat dan menyayangi kakaknya walau kadang sebagian orang menatapnya dengan tatapan kasihan atau cemooh.


cukup lama Dhira dan Alex berkunjung ke makam ayahnya berbagi cerita dengan kegiaatan mereka masing-masing dan memutuskan pulang karena matahari sudah berada tepat di atas kepalanya.


****


" Kenapa mama tiba-tiba minta pulang, emang enggak jadi bertemu dengan teman mama." tanya Revan saat berada di dalam mobil dengan dia yang menyetir dan Nyonya Vani yang duduk di sebelah kemudi.


" Mama hanya ingin pulang saja." jawabnya dengan memandang putranya, merasa bersalah saat dirinya mau menjodohkan kembali putranya dengan anak teman arisannya. Dengan beruntungnya perkenalan itu belum sempat terjadi karena Revan saat itu berada di toilet dan belum bertemu dengan Tasya.


Seandainya itu terjadi mungkin saja Nyonya Vani akan mengulanginya kembali kejadian waktu dulu, mencari calon mantu yang hanya baik di awalnya saja dan akan ketahuan busuknya saat sudah menikah dengan putranya.


Menatap ke arah Mamanya dan melihat wajah mamanya yang sedikit berubah saat keluar dari moll, tidak seperti awal Revan menjemput mamanya yang merasa senang dan selalu tersenyum.


" Ma.?" tanya Revan, membuat Noynya Vani menatap putranya.


" Ada apa.?" tanyanya lagi.


" Mama sudah bertemu dengan kak Arzan.?" tanya Revan untuk mengalihkan pembicaraan. Menghadap ke arah putranya dan tersenyum lebar saat ia ingin bercerita.


" Sudah, mantu mama dua bulan lagi mau lahiran dan mama akan mempunyai cucu." jawabnya dengan tersenyum, membuat Revan ikut tersenyum. " Dapat salam dari kakak kamu." imbuhnya.


" Nanti aku akan hubungi kakak." jawab Revan dan di anggukkan oleh Nyonya Vani.


" Kapan kamu mau buatin cucu untuk mama." tanya Nyonya Vani membuat Revan menatapnya dengan sedikit terjekut.


" Kan sudah di buatkan cucu sama kak Arzan ma.!" jawab Revan dengan kembali fokus ke jalan.


" Mama kan ingin punya cucu banyak Van! biar rumah ramai, biar Mama dan Papa tidak kesepian di rumah." ucapnya,


" Apa kamu sudah mempunyai calon istri Van?" tanyanya lagi dengan lirih, sebenarnya Nyonya Vani berharap Revan sudah mendapatkan calon istri.


Menatap ke mamanya dengan tersenyum. " Kalau sudah siap Revan akan mengajak ke rumah mama." jawabnya, membuat Nyonya Vani mengerutkan kening karena perkataan putranya dan melebarkan mata saat dirinya mulai mengerti apa yang di ucapkan anaknya.

__ADS_1


" Kamu sudah mempunyai kekasih Van.?" tanya Nyonya Vani, hanya mengangguk dan tersenyum kecil untuk menjawab mamanya.


Memukul lengan Anaknya dengan tas beberapa kali membuat Revan kesakitan dan beruntungnya mobil yang di kendarai Revan sudah sampai di depan rumah mamanya.


" Sakit ma.! astaga.!!" pekiknya dengan mengusap lengannya dan mulai masuk ke dalam rumah saat gerbangnya sudah terbuka.


" Kenapa kamu tidak bilang pada mama jika sudah punya pacar, hah.!!" gerutunya " tau gitu mama tidak akan menjodohkan mu lagi, dan susah-susah bertemu dengan anak itu yang mata duitan dan sombong sekali." ujarnya lagi dan turun dari mobil anaknya, untuk segera masuk ke dalam rumah.


Revan yang mendengar ucapan mamanya pun terkejut, lagi-lagi mamanya mau menjodohkannya dengan anak teman arisannya. Keluar dari mobil dan berjalan menyusul mamanya dengan cepat untuk meminta jawaban.


Melihat mama dan papanya yang sudah duduk di ruang tamu, dengan mama yang merasa sebal dan papa yang menatap istrinya dengan mengerutkan keningnya.


" Mama mau jodoh-jodohin Revan lagi sama anak teman arisan mama." tanya Revan saat sudah duduk di sofa berhadapan dengan dua orang tuanya, Tuan Gio yang mendengar ucapan putranya sedikit terkejut dan menatap istrinya.


" Apa benar itu ma.?" tanya Tuan Gio.


" Iya, tapi enggak jadi." kata Nyonya Vani dengan jujur.


" Kenapa." kata Tuan Gio, dan Revan pun juga mulai penasaran.


" Karena wanita itu tidak pantas untuk putra ku, dia angkuh dan mata duitan." jawabnya dengan acuh, hingga membuat dua pria yang ada di hadapannya tersenyum.


" Kan sudah papa bilang, jangan pernah lagi jodoh-jodohkan Revan. Biarkan dia memilih pilihannya sendiri ma."


" Mulai sekarang mama tidak akan menjodohkan Revan lagi pa, dia sudah mempunyai kekasih." jawab Nyonya Vani dengan tersenyum menatap anaknya.


" Benar itu Van.?" tanya Tuan Gio pada Revan.


" Iya pa." jawab Revan.


" Kalau begitu bawalah dia ke rumah." kata Tuan Gio.


" Secepatnya akan Revan bawa ke rumah." jawab Revan denga tersenyum, bersyukur papa dan mamanya bisa menerima keputusan Revan dan tidak akan lagi di jodoh-jodohkan kembali.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


Mulai fokus ke babang kadal nich.


__ADS_2