
Dia tomboy dan suka begaul dengan pria. Walaupun begitu dia masih bisa sopan dan menghormati yang lebih tua.
.
.
.
.
Tidak bisa menggambarkan rasa begitu senang saat bertemu dengan gadis yang sudah menolongnya dari para begal saat mobilnya memasuki area sepi.
Jika saja gadis itu tidak ada, mungkin ia dan suaminya sudah berada di rumah sakit di rawat di sana atau bisa juga menjadi jasad, yang pastinya akan meninggalkan putranya sendiri di bumi ini sebelum dirinya melihat putranya menikah dan punya anak.
Sungguh mengerikan begal sekarang, berani membunuh dan mencuri barang berharga, tidak takut undang-undang dan tidak takut pada akhirat nantinya. Yang terpenting bagi mereka dirinya bisa makan dn mencukupi keluarganya, tapi meskipun begitu, itu adalah uang haram yang tidak boleh di gunakan walaupun hanya sekedar membeli makanan.
Duduk di sisi Dhira, dengan Dhira yang mempersilahkan duduk di sebelahnya.
" Terima kasih." ucap Nyonya Vani dan di anggukkan oleh Dhira dengan tersenyum.
Ingin mengombrol bersama dua remaja yang sudah menolongnya, terutama dirinya begitu antusias untuk mengombrol dengan Dhira.
Pelayan datang dengan membawa pesanan yang begitu banyak dan memenuhi meja panjang milik Dhira dan Dika.
" Terima kasih Kak?" ucap Dhira dengan sopan.
" Sama-sama." jawab pelayan dengan membalas senyumnya sebelum pergi.
Dika yang menatap banyaknya makanan di meja ingin sekali melahapnya, tapi ia tunda karena merasa tak enak jika tidak mengajak ibu yang ada di samping Dhira untuk makan bersama
" Wahh!! keliatannya makan besar nich." ucap Nyonya Vani untuk mencegah rasa canggung.
" Mumpung ada yang traktir tante." kata Dhira tertawa pelan menghadap Diki.
" Eh.. katanya tadi fivty fivty." pekik Dika dengan expresi terkejut akan perkataan Dhira, tak bisa menahan tawa membuat dua wanita yang ada di hadapannya tertawa melihat keterkejutan Dika.
" Mari tante kita makan bersama." ajak Dhira tersenyum tulus melihatnya.
" Enggak papa nich."
__ADS_1
" Enggak papa tante? malah kita seneng." kata Dika. " Lagian jika di pikir-pikir ini makanan terlalu banyak, takut enggak habis! mubazir jika di buang.?" ujarnya lagi, yang memang benar jika di liat begitu banyaknya makanan di meja karena ulah dia sendiri yang memesan makanan begitu banyak.
" Iya tante, ayo kita makan bersama?" ajak Dhira, dan di anggukkan oleh Nyonya Vani.
Memilih masak bersama dengan Dhira yang mulai meracik shabu-shabu, sedangkan Dika sudah mencoba mencicipi takoyaki, beralih mencicipi tempura dan origani.
" Eh.. enak cuy.!!" seru Dika membuat Dhira reflek melototkan mata, sedangkan Nyonya Vani tertawa kecil.
Sungguh memalukan? gumam Dhira dalam hati, jika saja hanya dirinya mungkin Dhira tidak akan memprotes ucapan Dika apa lagi ucapan Dika yang tidak ada sopan santunnya di hadapan orang tua menyebalkan sekali.
Yang di tatap oleh Dhira hanya meringis dan menggaruk tengkuknya " Maaf.?" ucapnya.
" Tidak papa.?" kata Nyonya Vani.
" Ini ada acara apa kok pesannya banyak sekali." tanya Nyonya Vani dengan masih ikut memasak bersama Dhira.
" Biasa tante, ada yang udah gajian dan ada yang ingin meminta di traktir.!" kata Dika, yang membuat Dhira memicingkan mata tidak terima akan putar balikan fakta.
" Idiihh sok sok'an traktir pas udah ke sini minta patungan." kata Dhira.
" Eh? enggak ya kan kamu yang nawarin tadi Dhir untuk patungan." seloroh Dika yang masih ingin mengelak.
" Liat muka mu tu lho masam, pas lagi buka harga me-." tidak lagi meneruskan ucapannya saat berdebat dengan Dika dan langsung menatap Nyonya Vani yang ada di sebelahnya.
" Tidak papa malah tante senang?" jawabnya dan menuangkan makanan di mangkuk di Dhira dan dirinya juga mengambilkan shabu-shabu untuk Dika.
" Tante senang bisa bertemu dengan kalian, dan tante malah belum mengucapkan terima kasih banyak pada kalian.?" ujarnya lagi sengan sambil makan.
" Terima kasih untuk apa?" tanya Dhira.
" Terima kasih, karena kamu dan teman-teman kamu sudah mau menolonh tante dan suami tante." ucapnya dengan tulus. " Jika tidak ada kalian mungkin tante dan suami tante udah ma-,"
" Kami iklhas nolongin tante." potong Dhira dan di anggukkan oleh Dika dengan tersenyum.
" Siapa saja yang kesusahan pasti kami tolong tante, dan kebetulan kita juga ada di situ hingga bisa menolong tante." imbuh Dika dengan senyum tulus.
Betul yang di katakan Dika, clubnya akan menolong siapa saja saat ada orang yang meminta tolong atau ada yang sedang membutuhkan, meskipun mereka sendiri atau beramai-ramai. Solidaritas yang begitu tinggi dengan mereka yang tidak pernah memandang siapa pun orang yang akan di tolongnya baik maupun kaya atau miskin.
Tersenyum menatap Dika dan Dhira secara bergantian saat para remaja di depannya begitu sopan dan baik, tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban dari dua remaja.
__ADS_1
" Ayo kita makan lagi tante." ajak Dika semangat yang masih belum puas mencicipi semua makanan di meja.
Makan bersama dengan sekali-kali mereka mengobrol dan tertawa bersama, mengingatkan Nyonya Vani rindu akan putranya yang kocak dan ngeselin.
" Kalian ini adik kakak, teman, atau sepasang kekasih.?" tanya Nyonya Vani yang mulai penasaran saat makanan mereka hampir habis.
Dhira yang menatap Dika dengan mereka yang saling pandang dan beralih menatap Nyonya Vani dengan tertawa bersama.
" Adik kakak dari mana tante orang kita enggak mirip." kata Dika. " dan amit-amit aku mempunyai pacar kayak ini." cibir Dika yang langsung mendapatkan lembaran tissue ke arahnya.
" Gini-gini banyak yang suka ya! iya kalau kamu mana ada yang mau." sungut Dhira.
" Mungkin mata dia aja yang minus, mana ada yang mau pacaran sama gadis joky, tomboy, dan judes seperti kamu." kata Dika, yang langsung mendapatkan pelotottan mata dari Dhira, yang tidak terima akan perkataan Dhira, sedangkan Nyonya Vani begitu terhibur dengan dua remaja yang sedikit-dikit bertengkar dan langsung baikan.
" Aku enggak judes ya Dik." jawab Dhira " ya udah bayar amaja tuh sendiri, dan bulan ini gak ada kasbon." ujarnya lagi, dan Dhika lun langsung mendelikkan mata karena ancaman Dhira.
" Kamu suka balapan nak?" tanya lembut Nyonya Vani pada Dhira.
" Hanya sekedar hobby tan." jawabnya.
" Kalian bekerja di mana?" tanya Nyonya Vani lagi.
" Di cafe *** tante." kata Dhira
" Boleh enggak tante minta nomer kamu, tante ingin ngajak kalian untuk makan bersama di rumah tante, sekalian nanti tante kenalin ke anak tante." pinta Nyonya Vani, Dhira pun mengangguk dan tersenyum.
Memberikan nomer pada Nyonya Vani dengan Nyonya Vani memulai miscol nomer Dhara.
" Terima kasih sayang?" ucap Nyonya Vani dan di anggukkan oleh Dhira.
Memanggil pelayan untuk meminta bill dan membayarnya sebelum mereka akan pulang dengan Nyonya Vani yang terlebih dulu memberikan kartu gold. Terkejut Dhira dan Dika melihat Nyonya Vani yang memberikan katru kreditnya pada pelayan.
" Anggap saja hari ini tante yang traktir, sebagai rasa senang tante bisa bertemu dengan kalian." ucapnya, yang membuat Dhira dan Dika tersenyum.
" Terima kasih tan." ucapnya dengan senang.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃