
Yang ke dua, dan ini sangat nyata. Kita tidur satu ranjang sebelum kita menutup mata.
.
.
.
.
Lelah, pulang larut malam saat dirinya meminta ganti sip kerja siang hari.
Bukan menuju arah jalan rumahnya, tapi menuju arah jalan ke apartemen suaminya. Yang kini dirinya resmi pindah dan menjadi penghuni apartemen Rizal.
Membuka pintu apartemen, saat dirinya sudah tau akan pin apartemen yang baru saja Rizal katakan padanya melalui pesan.
Gelap. Menyalakan lampu ruang tamu melihat ke seluruh ruangan yang ternyata dirinya baru menyadari jika Rizal juga belum pulang.
Entah dia belum pulang atau memang dia tidak mau pulang ke apartemen. Tapi yang pasti Citra merasa sedikit kecewa.
Memutuskan berdiri dari duduknya, berjalan menuju kamar Rizal. Membersihkan diri terlebih dulu, sebelum dirinya merebahkan badan.
Keluar kamar mandi, hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. mengambil tas terdapat banyak pakaian yang belum ia keluarkan.
Di saat ingin mengganti pakaian, ia tersentak kecil kala kamar terbuka dan memperlihatkn wajah Rizal yang kaku serta mata yang membulat.
" Aaakkhh.!!" Jerit Citra, menjongkokkan tubuhnya untuk menutupi semua tubuhnya yang telanjang, akibat handuk yang sudah terlepas.
Rizal yang mendengar jeritan Citra, mengerjabkan mata dan kembali menutup pintu kamarnya.
" Sial!!" Umpat Rizal, berjalan cepat menuju kamar mandi luar.
Citra yang masih berjongkong dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, kini perlahan ia mendongakkan kepalanya. Melihat pintu yang sudah tertutup dengan cepat dirinya meraih handuk, melilitkannya di tubuh, mengambil pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi.
" Ahhh kenapa dia bisa masuk ke dalam kamar sih!!" Gerutunya. " Bodoh, bodoh, bodoh kenapa kamarnya enggak aku kunci.!!" Ujarnya lagi, mengghentakkan kakinya, merasa malu dan tidak ingin sekali dirinya keluar kamar mandi.
Membasuh muka untuk sekian kalinya, saat dirinya tidak bisa menghapus bayangan elokan tubuh Citra tanpa sehelai benang. Sungguh, tubuh istrinya sangatlah menggoda dan itu membuat junior kecilnya tiba-tiba menegang.
" Sial, bayangannya gak bisa hilang." Gerutu Rizal. " Dan ini, kenapa bisa tegang!!" ujarnya, menepuk juniornya yang tidak bisa melemas.
Sangat-sangat menyakitkan dan menyempitkan celananya yang begitu sesak akan apa yang ada di dalam tidak bisa melemas. Tidak pernah begini juniornya, bisa langsung menegang melihat pemandangan yang sangat indah di matanya.
__ADS_1
Dulu saat dia sedang berlibur di pantai, melihat para turis wanita memakai bikini saja juniornya tidak menegang sama sekali, dan justru malah membuatnya risih jika ada turis yang mencoba mengajaknya kenalan.
Tapi lihatlah, juniornya sekarang. Dia begitu tegang dan sangat memberontak hingga membuatnya kesakitan, dan mau tidak mau dirinya harus melakukan hal yang menjijikan seumur hidupnya.
Melakukan sendiri dengan membayangkan tubuh eloknya Citra. Perjaka sudah hilang, akibat ulah tangannya sendiri dan kini dirinya bisa tenang serta membersihkan tubuhnya.
Tubuh yang segar, melilitkan handuk di pinggulnya menyisakan dada yang telanjang berjalan santai menuju kamarnya hingga saling berpapasan dengan Citra yang keluar dari kamar.
Saling berhenti dan menatap beberapa detik, dengan Citra yang mulai menundukkan kepala malu akan apa yang di lihatnya sekarang. tubuh Rizal yang sixpek sedikit mempunyai roti sobek di bagian perut sangat indah dan mengagumkan.
" Apa kamu sudah makan?" Tanya Citra, dengan masih menundukkan kepala.
" Belum, kamu?"
" Sama, belum." Jawabnya.
" Aku belum sempat belanja, tapi di dapur ada mie instan. Kamu bisa memasak dan memakannya kalau mau." Kata Rizal.
" Hmm, baiklah." Jawab Citra. " Kamu mau aku masakkan juga." Tanyanya mendongakkan kepala menatap Rizal.
" Iya, jika tidak keberatan." Ujar Rizal, hanya tersenyum dan kembali menunduk serta berjalan menuju dapur dengan tangan menyentuh dadanya yang sedang berdebar tidak karuan.
Duduk berdua di meja makan saling diam dan makan dengan lahap, tidak ada yang ingin berbicara saat mereka sama-sama malu, mengingat bayangannya lagi hingga jantung mereka sama berdebarnya.
" Biar aku yang mencucinya." Ucap Citra, melihat Rizal yang sudah selesai dengan makan malamnya.
" Makasih." Hanya mengangguk dan tersenyum tipis, mengambil mangkok kotor dan mencucinya.
Masuk ke dalam kamar dengan bersamaan, lagi-lagi jantung mereka berdebar.
" Kamu mau kemana?" Tanya Citra, mengerutkan kening melihat Rizal membawa bantal.
" Kamu tidur di sini, biar aku tidur di sofa."
" Tidak perlu." Cegah Citra, membuat Rizal menatapnya.
" Tempat tidurnya luas, kita bisa berbagikan. Tapi jika kamu tidak mau biar aku saja yang tidur di sofa." Ujarnya, menaruh guling di tengah sebagai pembatas, dengan Citra yang terlebih dulu merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya hingga leher serta memunggunginya.
Menggelengkan kepala mengulum senyum saat melihat Citra yang lebih dulu tidur di ranjang tanpa menunggu jawabannya. Mengikuti kata Citra dengan dirinya yang juga mulai merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap punggung Citra terbalut selimut hingga dirinya pun sama membalikkan tubuhya untuk saling memunggungi kala jantungnya masih sedikit berdebar.
Sulit menutup mata, sulit untuk tidur, sulit untuk menghapus bayangan, serta gugup untuk mereka tidur dalam satu ranjang.
__ADS_1
Entah kenapa malam ini begitu lama sekali, seakan jam tidak ingin berputar. Ingin rasanya mereka berbicara, tapi rasa malu begitu dalam hingga mereka memilih diam dan berseteru dengan pikirannya sendiri dengan mereka yang mulai mengantuk dan tertidur.
****
Terbangun dari tidur, merasakan tidur yang kurang nyenyak saat mendengar suara alarm ponselnya yang berbunyi.
Segera mematikan, dan beralih menatap ke samping melihat pemandangan pertama dalam hidupnya. Dimana dirinya tidur satu ranjang bersama pria yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam.
Mata yang masih tertutup, wajah yang terlihat damai tidur menghadap ke arahnya dengan tangannya yang melingkar di guling.
Tersenyum memandangnya. " Ternyata dia tampan." Lirih Citra, memandangnya dengan lama dan tidak bosan.
" Astaga!! Sadar Cit, sadar.!!" Menyadarkan diri sendiri menggelengkan kepala.
Turun dari ranjang, keluar kamar menuju kamar mandi luar untuk menyegarkan diri di sana.
Terbangun dari tidur pagi, merenggangkan otot. Masih terasa mengantuk hingga dirinya baru sadar jika Citra tidak ada di tempat tidur.
" Dia sudah berangkat kerja." Ucapnya, menggelengkang kepala dan tersenyum masam.
" Kamu sudah bangun?" Suara Citra membuat lamunannya berhenti dan menatapnya yang sedang berada di ambang pintu.
" Cepat mandi, aku sudah siapkan sarapan untuk kamu." Kata Citra dengan senyum dan kembali menutup pintu kamar Rizal.
" Ternyata dia belum berangkat kerja." Ucapnya, berdiri dari ranjang dengan semangat menuju kamar mandi.
Pagi ini Citra mulai seperti seorang istri, menyiapkan sarapan untuk Rizal dan membersihkan seluruh rumahnya sebelum dirinya berangkat kerja.
Duduk berdua dalam meja makan, menikmati sarapan dengan dua roti bakar isi selai coklat dan satu teh hangat untuk Rizal.
Menyerahkan kartu atmnya ke hadapan Citra sedang menikmati roti bakar. Mengerutkan kening melihat kartu atm Rizal.
" Ini untuk kamu belanja nanti." Ucap Rizal.
.
.
.
.🍃🍃🍃
__ADS_1