
Aku siap, jika kamu sudah memintanya. Tapi satu yang aku inginkan, Kebahagian.
.
.
.
.
Malam yang larut membuat suasana di dalam rumah terasa sepi. Entah penghuni rumah sudah tidur atau mereka pergi dari rumah. Tapi yang terpenting, dirinya kini tidak merasa pusing lagi untuk menghadapi Ibu tiri tidak tau malu itu.
Berjalan menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Terasa lama ia tidak merasakan tidur di ranjang yang sederhana kamar penuh kenangan akan kasih sayang dari seorang ibu.
Kamar yang lama ia tinggalkan, tidak pernah ia tidur di kamarnya selama beberapa bulan. Karena dirinya lebih memilih tidur di kontrakan.
Bukan tidak nyaman, sangat nyaman dirinya tidur di kamar masa kecilnya. Tapi seiringnya waktu, kamar itu sedikit tidak ada ketenangan kala kedatangan tamu yang tidak pernah di undang dan mengaku-ngaku sebagai ibunya.
Ibu tiri yang selalu mengganggu ketenangannya di dalam kamar, ibu tiri yang selalu mengganggu tidurnya dan selalu membuat masalah dalam hidupnya.
Malam ini, dirinya merasa seperti dulu. Tenang dalam kamar dan tertidur dengan damai untuk mimpi yang indah, berharap dirinya bisa melihat ibunya dalam mimpinya.
" Citra, Cit? Ayo cepat bangun." Suara terdengar lembut, membangunkan Citra di pagi hari.
" Hmm, Citra masih ngantuk Yah.?" Gumamnya, memiringkan badan memunggungi ayahnya.
" Bangun, sudah pagi. Katanya calon mertua kamu mau datang ke rumah?" Ujarnya, dan tersadar dari tidurnya. Membuka mata lebar-lebar duduk dari tidurnya dengan cepat serta menatap orang yang ada di hadapannya sekarang.
Ayah? Ya, dirinya melihat ayahnya. Tepat di hadapannya, di kamarnya, membangunkannya dan tersenyun ke arahnya.
Apa ini mimpi? mencoba menutup mata kembali dan membukanya secara perlahan. Kenyataan, kenyataan jika memang benar yang ada di hadapanya adalag Ayahnya. Ayahnya yang selama ini tak pernah membangunkannya, ayahnya yang tidak pernah datang ke kamarnya lagi. Kini dihadapannya langsung ia melihat ayahnya, tersenyum mengembang serta membelai rambutnya.
" Cepat bangun dan mandi. Ayah tunggu di depan." Ucapnya, beranjak dari duduknya meninggalkan anaknya yang masih tak percaya akan kehadiran dirinya yang selama ini tak pernah masuk ke kamar putri semata wayangnya.
Ayah! apa itu ayahku Tuhan. Apa dia kembali dengan ku selamanya, atau hanya sementara. Tuhan tolong jangan buat aku kecewa." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Berjalan ke arah ruang tamu setelah selesai mandi dan berpakaian rapi. Melihat ayahnya duduk tenang sambil menonton tv tentang berita di pagi hari. Memberanikan diri untuk duduk tidak jauh dari ayahnya.
Tenang, dan damai. Tunggu, ada sesuatu yang mengganjal. Mata mencari-cari sesuatu tidak menemukan batang hidung dan suara pagi hari yang mengganggu mata dan telinganya.
" Dia sudh ayah usir dari sini." Jawab Ayahnya, mengerti akan apa yang sedang di cari Citra.
Tersentak kecil, menatap langsung ke arah ayahnya. Mencari celah kebohongan, tidak menemukannya di sana. Justru kejujuran dan rasa bersalah ada di mata ayahnya.
" Berkat benda kecil ini ayah jadi tau siapa sebenarnya wanuta itu." Ucapnya lagi, mengembalikan flashdisk Citra yang pernah dia kasihkan padanya.
Menatap Ayahnha dengan dia merasa bersalah akibat terlalu percaya dengan wanita yang di cintainya dan membuatnya selalu bertengkar dengan putrinya.
" Maafkan Ayah, selama ini ayah mengabaikan kamu dan ibu kamu. Maafkan ayah yang selalu membuat Citra menangis, menderita dan maafkan ayah Cit yang pernah memukul kamu." Ucap ayahnya yang terasa pilu mendengarnya.
Permintaan maaf padanya sungguhlah dari hati yang paling dalam, menyesal seumur hidup karena sudah berbuat kesalahan paling dalam pada keluarga kecilnya.
" Ayah!" Lirih Citra suara parau menyekat di tenggorokan susah untuk di kendalikan.
" Maafkan Ayah Cit, maafkan ayah!" Ujarnya, menundukkan kepala, tidak kuasa menahan air mata serta menatap putri semata wayangnya.
Beranjak duduk di samping ayahnya menyentuh tangannya dengan lembut " Ayah!" Sapanya, membuat ayahnya mendongakkan kepala menatap putrinya yang bergelinang air mata.
Tapi karena memang seorang anak yang sudah tidak bisa menahan amarah dan memendamnya sendiri hingga dia berani untuk melawan dan memberontak, walaupun pada akhirnya dirinya merasa bersalah.
Memeluk putri semata wayangnya, membelai lembut rambutnya mengucapkan beribu-ribu maaf pada putrinya yang menangis terharu karena sudah kembali ke jalan yang semestinya.
" Sudah jangan menangis lagi, nanti putri Ayah tidak cantik lagi?" Ucapnya, selepas memeluk anaknya. Mengusap lembut pipi anaknya yang basah dan tersenyum bersama.
" Asalamualaikum." Ucap salam dari luar hingga membuat ayah dan putrinya beralih melihat ke sumber suara.
***
" Pagi sayang?" Sapa hangat di balik selimut.
" Hmm, pagi?" Balasnya, merasakan sentuhan hangat di punggung telanjang. Menggeliat dan berbalik belakang menghadap orang yang sudah mengganggu tidur hanya beberapa jam saja.
__ADS_1
Kis morning pagi hari, dengan dia yang memulai terlebih dulu. Ciuman menjadi hangat untuk beberapa menit saling menikmati dan saling memberikan cinta.
" Kamu, ihh!!" Seru Dhira, menepuk pelan dada suaminya.
" Candu?" Jawab manja Revan, mengusap lembut bibir istrinya yang basah.
" Ya tapi jangan sampai nambah-nambah terus kak! badanku remuk ini!!" Gerutu Dhira, mengerucutkan bibir menatap sebal Revan tersenyum manis melihatnya.
Setiap malam, Revan selalu meminta jatah bukan hanya sekali, tapi bisa sampai dua dan tiga kali di pagi hari untuk semangatnya bekerja.
Menyebalkan jika tidak sengaja menyenggolnya sedikit saja ular Revan sudah kembali bangun, dan sulit untuk di tidurkan jika tidak mencari sarang yang nyaman untuk ia singgahi.
" Ini liat!" sambil memperlihatkan bekas merah yang ada di dadanya. " Ini kemarin belum hilang, sekarang di tambah lagi di sebelahnya." Ujarnya yang akan mempunyai bekas lagi keungungan di sebelah dadanya.
" Bagus kan gambar alamiku Beb." Sanjung dirinya sendiri, menyentuh bekas keunguan di dada istrinya.
" Bagus apanya!" Serunya, sambil menyingkirkan tangan Revan yang mulai menggerilya di mana tempat kesukaannya.
Tempat dimana tangan tidak bisa berhenti dan akan menjadi desahan ringan kala ia merasakan geli dan terbuai.
" Sudah pagi, jangan mulai ya kak! Nanti telat kerjanya." Peringat Dhira.
" Hmm, enggak akan telat. Akan ku buat secepat kilat." Rayunya, yang langsung mendapatkan tatapan horor dari istrinya.
Tidak mempedulikan tatapan horor Dhira. Tetap melayaninya walaupun setengah menggerundel nanti, setelah selesai olahraga pagi.
Membuktikan ucapannya, tidak lama dan tidak terlalu cepat. Tidak membuat sakit dan merasakan pelepasan bersama dengan saling memeluk dan berakhir dengan saling memberikan ciuman.
Sarapan, semangat di pagi hari, setiap hari dan akan menjadi aktivitasnya sebelum melakukan pekerjaan yang berat menguras otak dan tenaga.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃
Maaf jika telat 🙏🙏