Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
Empat preman


__ADS_3

Saat aku baru mengerti rasanya cinta, di situlah aku tau apa artinya galau karena di diamkan pacar.


.


.


.


.


Suara dering ponsel yang ada di tasnya saat ia sedang berkendara membuat sang pemilik menepikan motornya dan mengambil ponselnya yang ada di tasnya.


Mengerutkan kening melihat nomer yang ada di layarnya sedangkan ia sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan pria yang menelponnya, cukup sekali saja rasanya ia bertemu dengan pria ini.


tidak ingin menjawab dan akan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, tapi ia urungkan saat melihat ponsel itu berbunyi kembali.


Menghembuskan nafas berat dan mulai mengangkat telpon itu dengan suara yang ketus.


" Ada apa.!" ucap Citra.


" Mama aku mencari kamu, kamu dimana." tanyanya dari sebrang telpon, membuat Citra mengerutkan keningnya dan menatap kembali ponselnya karena Citra pikir mungkin yang menelpon ini salah nomer.


" Hallo.!" ucapnya lagi dari sebrang telpon.


" Kau salah sambung, aku bukan adik kamu." jawab Citra dan mematikan ponselnya.


" Pria gila, kau pikir aku adik kamu apa. Pakek di cariin mama segala." gerutunya, dan menyebalkan sekali saat melihat ponselnya berbunyi lagi dengan dia yang masih menelponnya.


" Aku bukan ad-." Belum sempat berbicara panjang lebar Citra mulai terdiam saat mendengar suara perempuan.


" Citra sayang! ini Mama, calon mertua kamu." sahut cepat dari sebrang sana, membuat Citra membulatkan mata dan kembali menatap ponselnya.


" Calon mertua! aku bukan kekasih anak ibu.!" gumamnya dengan wajah yang memelas.


" Halo Citra.! hallo, hallo.!!" sapanya lagi dengan sedikit keras membuat Citra tersentak kecil dan langsung kembali menempelkan ponselnya di telinganya.


" I-ya Ma." jawab Citra dengan gegup.


" Kamu ada di mana sayang." tanyanya di sebrang sana.


" Citra lagi di jalan, ada apa tan- ma." ucapnya yang tidak terbiasa memanggil mama orang, apa lagi baru kenal.


" Mama kangen sama kamu, Besok datang ke rumah ya Biar pulang kerja di jemput sama Rizal." pinta Mama Rizal membuat Citra menggarukkan kepala, bingung harus menjawab apa.


Jika ia menolak ia akan menyakiti seorang ibu, jika di terima ia malas bertemu dengan pria gila.


" Mau ya sayang.!!" pintanya lagi dari sebrang telpon dengan suara memelas, membuat Citra menjadi lemas dan tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


" Iya Ma, besok Citra akan datang ke rumah mama. Mama berikan alamatnya ya." ucap Citra, membuat di sebrang sana tersenyum senang.


" Biar nanti pulang kerja di jemput sama Rizal saja sayang." kata Mama Rizal, membuat Citra mengerucutkan bibirnya.


" Iya ma." jawabnya dengan lemas.


" Ya sudah sayang, hati-hati di jalan jangan ngebut kalau berkendara." kata Mama Rizal dengan sangat perhatian pada calon menantunya.


" Iya ma." jawab Citra " Selamat malam Ma." ujarnya lagi.


" Selamat malam sayang." jawabnya dari sebrang sana sebelum mengakhiri panggilannya.


Menghembuskan nafas berat saat panggilan itu berakhir, dan sedikit tersenyum saat mama orang lain begitu perhatian padanya. Terdengar bunyi notif pesan dan ia membukanya sebelum ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.


" Berikan alamat tempat kerja kamu, besok sore aku akan menjemputmu." tulis Chat dari Rizal, membuat Citra mau tidak mau memberikan alamat tempat kerjanya, Membalas chat Rizal hingga terkirim dan memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mulai kembali menjalankan motornya untuk segera pulang ke rumah.


Sedangkan yang di sebrang sana, hanya bisa pasrah melihat mamanya yang begitu senang karena Citra tidak menolak permintaannya untuk besok datang ke rumahnya.


Lagi-lagi ia harus bersandiwara di depan ke dua orang tuanya dan harus melakukannya agar mamanya merasa senang.


****


" Kenapa kau datang ke rumah ku." tanya Dhira yang menatap tajam Dava.


" Kenapa? apa aku tidak boleh main ke rumah kamu." tanya Dava.


" Tidak boleh." jawabnya dengan ketus.


" Dia baik." jawab Dhira, berdiri dari duduknya dan akan pergi dari hadapan Dava sebelum akhirnya dia menatap kembali ke arah Dava.


" Apa aku boleh menemui Alex." ucap Dava, lama menatap Dava hingga Dhira hanya membalasnya dengan tersenyum dan kembali lagi berjalan meninggalkan Dava yang menatap kepergiannya.


" Jika kau tersenyum itu bararti kau mengijinkan ku." gumam Dava tersenyum, menyesap kembali minumannya sebelum ia kembali ke perkumpulan balap.


Kembali berkumpul dengan teman clubnya dan melangsungkan balapan dengan Dhira yang sekarang sudah fokus kembali.


Jalanan yang sepi di lingkar timur selalu penuh dengan anak muda untuk ajang balapan liar dan terkadang banyak juga aksi begal di sana.


lagi dan lagi seperti dulu Dhira melihat Mobil yang di hadang oleh dua motor begal dengan berjumlah empat orang.


Dhira tidak mungkin bisa melawan begitu banyaknya begal hingga ia sedikit menjauh menghubungi Dika, menyuruhnya untuk datang ke lokasi secepat mungkin sebelum para begal itu menyerang orang yang ada di dalam mobil.


Dhira melihat Pria tua yang mulai turun dari mobil dengan membawa tongkat baseball dan akan melawan empat begal yang membawa senjata tajam.


Empat lawan satu dan pria tua itu mulai terjatuh saat satu preman memukul punggungnya, terkejut saat melihat ada wanita tua yang keluar dari mobil dan akan menolong suaminya tapi di hadang oleh dua preman yang menatapnya seperti kehausan.


Melajukan motornya dengan kencang dan berhenti tepat di belakang Mobil.

__ADS_1


Melepaskan helm, memukul kepala preman yang akan menghajar pria tua itu dengan helmnya dan preman itu terjatuh dengan kepala belakang yang berdarah karena pukulan helm Dhira yang keras.


Melihat rekannya di pukul seorang gadis hingga terjatuh membuat tiga preman itu geram dan mereka mulai melangkah menghampiri Dhira.


" Pinjam tongkatnya om." ucap Dhira dan mengambil tongkat baseball di sebelah pria tua yang meringis kesakitan, hanya tersenyum dan mengangguk saat Dhira meminta ijin padanya.


" Pa.!!" isak tangis istrinya saat menghampiri suaminya yang duduk di bawah dengan bersandar di mobil.


" Papa tidak papa Ma." ucapnya dengan tersenyum.


Tiga lawan satu dengan Dhira yang belum menyerang saat preman itu sedang mengancang-ancang mencari sela untuk memukul Dhira.


Memperhatikan gerak gerik ketiga preman dan melirik sekilas saat satu preman akan menyerangnya hingga Dhira mulai memukul preman itu dengan tongkat di bagian tangan yang membawa senjata tajam hingga senjata tajam itu terjatuh.


Kembali lagi memukul preman lainnya saat preman itu akan menyerang.


" Awas!!" teriak sepasang suami istri itu untuk memperingati Dhira.


Dhira yang terlalu fokus menyerah dua preman melupakan satu preman yang ada di belakangnya dan memukulnya dengan tongkat hingga membuat Dhira jatuh tersungkur.


Beruntung tiga preman itu tidak jadi mengeroyok Dhira dan berlari cepat saat melihat segerombolan motor sport akan menghampiri mereka.


Teman club Dhira Berlari cepat menghampiri Dhira yang duduk tersungkur dan membantunya untuk berdiri.


" kamu tidak papa Dhir.?" tanya Kenzi.


" Aku tidak papa." jawab Dhira dengan menggerakkan punggungnya.


" Kau ini sudah di bilang jangan melawan dulu, tunggu kami datang bisa kan." ucap Dika yang khawatir dengan keadaan Dhira.


" Kau lama sekali bodoh.!!" seru Dhira, dan mulai berjalan menghampiri sepasang suami istri yang sedang menatap mereka.


" Apa kalian tidak papa." tanya Dhira dengan berjongkok.


" Kami tidak papa." ucap pria tua. " terima kasih nak." ujarnya lagi.


" Sama-sama." jawab Dhira dengan tersenyum.


" Bima, tolong antarkan mereka pulangnya." pinta Dhira pada salah satu teman clubnya dan di anggukkan Bima serta membawa dua temannya untuk mengikutinya dari belakang.


Menyuruh pasangan suami istri untuk duduk di kursi penumpang dengan Bima yang menjadi sopir.


Menatap jendela kaca, memperhatikan gadis yang sudah menolong dirinya dan suaminya dan sudah membuatnya sadar saat pernah bertemu dengannya di moll. Tersenyum saat wanita tua itu mulai menyukai gadis tomboy dan pemberani.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃


__ADS_2