
Dia sudah melihat semuanya dan sudah menandaiku dengan cinta.
.
.
.
Suara kaki yang berjalan dengan cepat mamasuki rumah megah begitu nyaring dan tergesa-gesa untuk menghampiri orang yang ia sayang dan patuhi selama bertaun-taun.
Membuka pintu kamar orang tuanya dan mendapati Papa yang bersandar di dasboard ranjang dengan mamanya yang sedang menyuapi Papanya, membuat orang tuanya menatap Revan yang merasa khawatir.
" Mama." sapa Revan terlebih dulu, menaruh mangkok bubur di atas laci berjalan menghampiri Putranya dengan tersenyum.
" Mama tidak papa?" tanya Revan pada mamanya.
" Mama tidak papa sayang." ucapnya dengan lembut. " Tapi papa kamu yang kenapa-kenapa." ujarnya lagi dengan menatap suaminya yang tersenyum lemah.
Menghampiri Papanya dan duduk di hadapannya dengan melihat wajah papanya yang sedikit pucat.
" Kenapa papa semalam tidak menghubungi Revan.?" ucap Revan dengan sedikit rasa marah.
" Papa enggak kepikiran untuk menghubungi kamu." jawab Tuan Gio dengan jujur.
" Lagian jika hubungi kamu pasti lama datangnya." timpal Nyonya Vani, membuat Revan menghembuskan nafas berat.
" Apa kata dokter ma." kata Revan.
" Tidak ada yang serius hanya perutnya saja yang masih sakit karena tendangan para begal." jawab Nonya Vani dan di anggukkan oleh Revan.
" Sudah melaporkan polisi Pa." tanya Revan.
" Sudah, hanya satu begal yang tertangkap dan yang lainnya sedang di cari." jawabnya.
" Bersyukur ada anak remaja yang menolong Mama dan Papa, kalau tidak ada dia mungkin kita sudah tiada." ucap Mamanya dan itu membuat Revan menatapnya.
" Anak Remaja." dengan mengerutkan kening.
" Iya! minggir Mama mau suapin papa." usir Nyonya Vani agar Revan berdiri dari duduknya, berdiri dari duduknya berjalan ke arah sofa dan duduk tenang di sana untuk mendengar cerita lebih jelas.
Duduk di sisi suaminya dan kembali menyuapinya dengan menceritakan kejadian semalam pada putranya.
__ADS_1
" Papa kamu di pukul sama begal itu dari belakang hingga papa terjatuh dan di keroyok dua begal, sedangkan Mama di tahan oleh dua begal lainnya." ucap Nyonya Vani.
" Beruntung remaja itu memukul kepala begal tepat waktu, jika tidak suami mama sudah di bunuh dengan begal sadis." ujarnya lagi.
" Empat lawan satu, dan dia sangat pemberani sekali." timpal Tuan Gio dan di anggukkan oleh Nyonya Vani.
" Empat begal.!" pekik Revan dengan sedikit terkejut dan di anggukkan mereka berdua.
" Mama berhutang budi dengannya." ucap Nyonya Vani.
" Berikan dia uang Ma sebagai tanda terima kasih." usul Revan.
" Masalahnya Mama dan Papa tidak tau alamat rumahnya dan tidak tau nomer ponselnya." jawab Nyonya Vani.
" Terus mama dan papa pulang di antar siapa." tanya Revan.
" Sama temannya." jawab Nyonya Vani. " dan mama lupa tidak menanyakan siapa nama temannya itu yang sudah menolong mama." ujarnya lagi dengan sedikit rasa menyesal.
" Udah gakpapa ma? nanti kalau ketemu remaja itu lagi mama bisa memberikannya uang atau tanda terima kasih." ucap Revan.
Tuan Gio dan Nyonya Vani pun tersenyum serta mengangguk menerima usul putranya dan berharap suatu saat mereka akan bertemu dengan gadis yang sudah menolongnya tanpa pamrih dan mau berkorban walaupun keselamatannya juga dalam bahaya.
Mengobrol sedikit lama dengan orang tuanya di pagi hari hingga Revan mendapatkan suara ponsel yang berbunyi dengan panggilan masuk dari asistennya. Menjawabnya dan menyuruhnya untuk menyiapkan meeting setengah jam lagi saat dirinya akan kembali ke kantor.
Menghampiri Mama dan Papanya dan berpamitan untuk berangkat ke kantor dengan dirinya yang menyarankan Papa dan Mamanya untuk istirahat lebih bayak.
Keluar dari kamar orang tuanya dan mencoba membuka ponsel dengan berjalan keluar rumah dan mendapati pesan dari kekasihnya membuatnya tersenyum.
" Tidak ada yang baik-baik saja." balas pesan Ravan.
" Kenapa dan ada apa." tanya Dhira dengan membalas pesan Revan begitu cepat saat dirinya begitu terkejut melihat balasan pesan dari kekasihnya.
" Semua karena kamu Beb?" jawabnya dan memilih duduk sebemtar di ruang tamu untuk membalas pesan kekasihnya.
" Karena aku.?" balas Dhira dengan mengerutkan kening saat melihat lagi balasan dari Revan.
" Karena kamu, karena kamu yang semalam sudah membuat aku harus ke kamar mandi dua kali. " jawab Revan, membuat yang sedang membaca pesan Kekasihnya sedikit tersenyum dan malu saat mengingat kembali bagaimana semalam dirinya dengan Revan.
" Lain kali pakai itu ya Beb, meskipun aku enggak ada." kata Revan membuat Dhira mengerutkan keningnya.
" Maksudnya, Pakai apa?" tanya Dhira.
__ADS_1
" Pakai pembungkus itu kamu Beb." kata Revan, membuat Dhira semakin tidak mengerti.
" Pembungkus apa sih Beb.?" tanya Dhira dan membuat Revan frustasi jika kekasihnya itu tidak mengerti apa yang dia maksut.
" Maaf Beb, aku tidak sengaja melihat dua gunung kembar kamu, apa lagi kamu semalam tidak memakai Bra." tulis Revan dan mengirimnya ke Dhira.
Dhira yang melihat pesan Revan membulatkan mata dan sedikit terkejut saat membacanya hingga dia merasa malu sendiri karena dirinya lupa jika masih ada Revan di kamar semalam, berguling-gulingkan badannya di ranjang merasa gemas akan apa yang di katakan Revan dan merutuki kebodohannya.
" Kak Revan!!! dasar mata kranjang." pesan Dhira untuk Revan, membuat Revan tertawa saat melihat pesan Dhira.
Nyonya Vani yang keluar kamar memicingkan mata saat melihat putranya duduk di ruang tamu dengan dia yang tertawa sendiri.
" Kamu belum berangkat Van?" tegur Nyonya Vani pada putranya, dan Revan pun menatap Mamanya.
" Ini mau berangkat ma." jawab Revan dengan tersenyum dan berdiri dari duduknya menghampiri mamanya serta menyalimi tangan Mamanya.
" Revan berangkat ma." pamit Revan dan di anggukkan Nyonya Vani.
Menggelengkan kepala serta tersenyum mendapati anaknya yang merasa tertawa dan tersenyum sendiri saat melihat ponselnya.
" Dasar anak ABG ( Anak baru gede)." gumam Nyonya Vani dengan tersenyum melihat kelakuan putranya yang sedang kasmaran.
Menyalakan mobil keluar dari rumah orang tuanya untuk menuju kantor dengan dia yang tersenyum akan pagi hari saat menggoda kekasihnya.
Dan merasa senang saat semalam dia sudah memberikan stampel cinta di di tubuh kekasihnya, walaupun tidak melakukan apa-apa. Yang terpenting dirinya mempunyai kesempatan untuk bisa menikahi Dhira secepetnya, karena Dhira tidak menolak apa yang dia perbuat semalam kepadanya dan dia yakin jika Dhira juga mencintainya.
Sedangkan Dhira masih merasa malu dan mengumpat kesal karena dia begitu bodoh tidak memakai bra saat tidur di kamar Revan.
Bukan tidak mau pakai, hanya saja semalam dia merasa sakit karena luka di punggungnya berada tepat di tali bra hingga itu dia memilih untuk tidak memakainya saat sudah di olesi salep.
" Kita nikah yuk Beb." tulis pesan Dhira pada kekasihnya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
Maaf atas keterlambatannya.🙏🙏
__ADS_1