Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
part Citra


__ADS_3

Ini bukan mau ku, dan kita hanya terpaksa melakukannya karena situasi yang sudah semakin runyam.


.


.


.


.


Hari semakin sore dengan gadis sedang menunggu seseorang tidak jauh dari tempat kerjanya, dengan menggerutu sendiri karena sudah terjebak akibat ulah pria yang begitu menyebalkan dan harus berdiri lama saat pria itu menyuruhnya untuk menunggu di jalan raya.


Sungguh ia saat ini sudah mengumpat kesal karena pria itu begitu lama sekali menjemputnya. Menghembuskan nafas kesal dan ia pun mulai berjalan kembali ke arah cafe sebelum akhirnya ia mendengar suara klakson dari belakang dan berhenti tepat di samping Citra.


" Hey, pesek.!" sapa Rizal dari dalam mobil saat membukanya kaca penumpang depan.


Mendengar sapaan seseorang dari mobil yang memanggilnya pesek membuatnya membulatkan mata dan mengerucutkan bibirnya saat ia tahu itu adalah pria yang menyebalkan.


" Aku tidak pesek.!!" seru Citra dengan berkacak pinggang.


" Ayo cepat masuk." perintah Rizal.


" Ogah." jawab Citra dan berjalan begitu saja untuk kembali ke cafe, Rizal yang melihat Citra berjalan segera turun berjalan cepat dengan dia yang berhasil memegang tangan Citra dan membuat Citra berhenti.


" Mama aku sudah nungguin kamu di rumah, ayo cepat masuk mobil." perintah Rizal dengan masih memegang tangan Citra.


" Lepasin gak." ucap Citra dengan mata yang tajam dan Rizal pun melepaskannya.


" Maaf." kata Rizal.


" Lain kali jangan menyuruhku untuk menunggumu di jalan jika lama seperti ini." ucap Citra dengan kesal.


" Maaf, macet." kata Rizal. " Ayo cepat masuk sebelum nanti aku kena tilang." perintah Rizal membuat Citra menatap sekelilingnya dan memang benar jalanan mulai padat karena jam pulang kerja hingga dia pun melangkah lemah untuk mAsuk ke dalam mobil Rizal di ikuti Rizal dari belakang dan masuk ke dalam mobilnya.


Duduk di samping Rizal dengan dia yang mengemudi, sedangkan Citra memilih menghadap luar jendela malas sekali untuk berbicara pada Rizal karena dirinya menunggu di jalan begitu lama apa lagi mendengar dia yang memanggilnya pesek.


Jika di liat hidung Citra tidak begitu melebar hanya saja hidungnya sedikit pendek dan ujung hidungnya bulat. Rizal memang menyebalkan mentang-mentang hidung dia mancung bisa seenaknya sendiri memanggil Citra dengan sebutan pesek.


" Pesek kau marah dengan ku." kata Rizal membuat Citra menatapnya.


" Sudah aku bilang, aku tidak pesek." geram Citra dengan mengerucutkan bibirnya.


" Kau itu pesek, di lihat dari samping saja hidung mu tidak begitu mancung." ucap Rizal.

__ADS_1


" Kau, hiii..!!" gemas Citra dan lebih memilih menatap kembali ke luar jendela, sedangkan Rizal menahan senyum dan tertawa saat melihat wajah Citra yang merah merasa sebal karena dirinya.


Jalanan yang macet akan sore hari membuat mereka tiba di rumah orang tua Rizal setelah adzan magrib.


Citra menatap rumah Rizal yang begitu megah yang bernuansa klasik modern saat mereka sudah turun dari mobil.


" Ayo masuk." ajak Rizal dan di anggukkan oleh Citra


Tersentak kecil saat Rizal menggenggam tangannya membuatnya berhenti dan menatap Rizal.


" Biar keliatan romantis." kata Rizal.


" Modus." cicit Citra dan mencoba melepaskan tangan Rizal membuat Rizal semakin menggenggam tangannya dan berjalan ke dalam rumah tanpa mempedulikan Citra yang menggerutu dan mencoba lagi melepaskan tangannya.


Mereka yang sudah berada dalam rumah di sambut hangat oleh ke dua orang tua Rizal yang menatapnya dengan senyum apa lagi mama Rizal begitu antusias menghampiri Citra dan memeluknya.


" Mama kangen kamu sayang." ucap mama Rizal dengan tersenyum setelah melepaskan pelukannya.


" Citra juga kangen mama, apa lagi masakan mama." kata Citra, dan memulai sandiwaranya untuk menyenangkan hati seorang ibu.


" Oh ya!." jawab mama Rizal dengan antusias dan di anggukkan oleh Citra. " Ayo masuk sayang mama sudah masakin banyak untuk kamu." ajaknya dengan tersenyum.


" Iya, besentar Ma." ucap Citra dengan lembut.


" Kok Om.?" kata Papa Rizal, membuat Citra mengerutkan keningnya sedangkan Mama Rizal tersenyum.


" Harusnya panggil papa sayang! seperti kamu memanggil mama" ucap Mama Rizal.


" Hmm, papa?" ulang Citra dengan canggung dan di anggukkan oleh sepasang suami istri itu.


" Rizal mau ke kamar dulu Ma." ucap Rizal yang mulai berbicara karena orang tuanya lebih sibuk dengan pacar bohongannya.


Mengalihkan perhatian mereka pada Putranya yang luka akan keberadaannya hingga mereka pun tertawa kecil.


" Mama jadi melupakan putra kita Pa." ucapnya dengan tertawa " Ya sudah sana cepat mandi." perintahnya, dan di anggukkan oleh Rizal.


Menatap ke arah Citra, sedangkan Citra memelaskan wajahnya pada Rizal untuk tidak di tinggalkan karena dirinya masih merasa canggung bersama orang tua Rizal meskipun ia pernah bertemu satu kali.


Hanya mengangguk dan tersenyum untuk memenangkan Citra agar ia tidak merasa gugup dan canggung pada orang tuanya. Hanya menghembuskan nafas berat saat Rizal berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya di lantai atas.


" Citra?" sapa Mama Rizal.


" Iya Ma?" jawab Citra.

__ADS_1


" Mau bantuin mama ke dapur gak, menata makanan di meja." ucapnya membuat Citra tersenyum.


" Citra boleh bantu Ma."


" Boleh dong sayang!" ucap Mama Rizal dengan tersenyum dan menggandeng tangan Citra meninggalkan suaminya yang sedang menatapnya dengan tersenyum dan memilih pergi ke ruang kerjanya sebelum sang istri memanggilnya untuk makan malam bersama.


Begitu semangatnya Mama Rizal dan Citra menyiapkan makan malam serta hidangan penutup, serta dengan mereka yang juga mengobrol. Citra yang sudah tidak canggung lagi pada Mama Rizal membuatnya merasa nyaman seperti dia sedang mengobrol dengan Almarhum ibunya sendiri, hingga tanpa terasa ia menemukan sosok ibu yang ada di dalam hati Mama Rizal.


Menitikan Air mata kala ia mengingat kembali ibunya yang meninggal empat tahun yang lalu karena terserang sakit demam berdarah dan penyakit itu lama di biarkan hingga meregang nyawa.


Sungguh jika ia mengingat bagaimana ayahnya menelantarkan istri dan anaknya karena selingkuhannya ia begitu marah. Baru tiga bulan ibunya tiada, Ayahnya terang-terangan membawa silingkuhannya ke dalam rumah dan menikahinya hingga sekarang.


Ibu tiri Citra begitu jahat, suka menyuruh-nyuruh dia dan adiknya bila tidak ada ayahnya dan suka memfitnah Citra pada ayahnya hingga Citra sering kali di pukul. Citra menerimanya jika di pukul ayah tapi jika ayahnya berani memukul adiknya, ia tidak akan teriman dan akan melindungi adiknya walaupun Citra lagi yang terkena pukulan.


Di usir oleh ibu tiri membuat Citra tidak masalah ia sangat berterima kasih dan ia bisa hidup tenang dengan adiknya walaupun ia tidak tau tujuannya dulu kemana. Hingga akhirnya Citra bertemu dengan Dhira dan merintis usaha Dhira dari nol bersamanya sebagai karyawan pertama.


Menghembuskan nafas berat dan menghapus air mata saat ada usapan lembut di tangannya.


" Ada apa nak Citra." ucap lembut Mama Rizal.


" Tidak apa-apa Ma.? Hanya merindukan ibu Citra saja" jawabnya dengan terseyum.


" Kalau Mama boleh tau Citra ke mana." tanyanya.


" Ibu sudah meninggal empat tahun yang lalu." jawabnya, membuat Mama Rizal merasa iba dan menggenggam tangan Citra dengan lembut.


" Anggap Mama ini seperti ibu kamu sendiri ya sayang, jangan sungkan karena Mama sudah menganggap kamu sebagai Putri Mama juga saat pertama kali mama bertemu dengan kamu." ucapnya dengan lembut dan tersenyum hangat.


Citra yang merasakan tulusnya ucapan Mama Rizal membuatnya terharu dan menitikan air mata hingga Mama Rizal menghapus air mata Citra di pipinya.


" Terima kasih Ma?" kata Citra dengan tulus dan memeluk Mama Rizal, Membalas pelukan Citra dan mengusap lembut kepalanya.


Mama Rizal begitu senang dengan Citra, dia dulu menginginkan anak perempuan tapi dia tidak bisa hamil lagi karena pernah keguguran dan mempunyai gangguan infertilitas sekunder yang resikonya sulit untuk mempunyai anak lagi.


.


.


.


.🍃🍃🍃


Part Rizal.😁😁 Bang kadal nanti ya😅

__ADS_1


__ADS_2