Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
kejujuran sahabat


__ADS_3

Karena nikah. yang di tanya bukan kekayaannya, tapi keturunannya. Dan itu membuatku jadi wanita yang sempurna.


.


.


.


.


" Kamu hamil!!" Seru Citra, berada di rumah Dhira, selama beberapa hari mereka tidak bertemu dan merasa rindu dengan sahabatnya ia memutuskan untuk ke rumah Dhira.


Mengangguk senang dan tersenyum, menjawab perkataan Citra. Citra yang melihat Dhira pun juga ikut tersenyum menghampirinya menggeser tubuh Revan yang ada di samping Dhira dan memeluknya.


Revan yang di geser duduknya oleh Citra pun terjungkal ke bawah, membuat dua pria yang ada di hadapannya menahan tawa.


" Ahh!! selamat sayang!" Ucap Citra, memeluk erat dan menggoyangkan sedikit badan.


Melepas pelukannya dan mengusap lembut perut rata Dhira. " Hay sayang? Aku aunty kamu nich." ucap Citra tertawa lirih, karena senang mendapatkan kabar bahagia.


" Auntynya nakal Dek." Kata Dhira, membuat Citra memicingkan mata. " Lihat tu bapak kamu sampai terjatuh?" Ujarnya lagi, menatap Revan yang menggerutu akibat dorongan yang tak sengaja dari Citra.


" Eh!" Pekik Citra, sedikit terkejut melihat Revan ada di bawah. " Maaf, enggak tau." Ujarnya lagi, tersenyum kikkuk menatap Revan yang menatap tajam padanya.


" Segede gini bilang gak tau! ." Gerutu Revan, berdiri dari duduknya dan bergeser duduk di kursi tunggal. sambil masih menatap Rizal dan Dika yang tertawa pelan, sangat memalukan dan menjengkelkan.


" Ya kan aku cuma fokus ke Dhira, bahagia tau mau punya ponakan!" Jawab Citra, bibir mengembang sempurna kembali mengusap perut Dhira.


" Aku juga mau pu-" Ucap Dika, dan langsung mendapatkan pelototan dari Revan.


" Mau apa!" Ucap Revan menatap tajam Dika. " Kau berani menyentuh istriku, Hmm!" Serunya mengepalkan tangan mengarahkan ke Dika.


" Sadis!" Cibir Dika, ngeri melihat tatapan tajam Revan padahal belum sempat bicara sudah di potong ucapannya. " Aku juga mau punya ponakan, bukan mau menyentuh Dhira!" serunya, menekan kata agar Revan tak salah mengartikan ucapannya.


" Aku pikir kau akan menyentuh istriku, awas saja!" Ancamnya, masih menatap Dika untuk memperingatkannya.


" Aku juga tau, batasan teman yang sudah mempunyai suami. Tapi tetap aku akan melindungi mereka." Jawabnya. " Dan kau tenang saja mas, bukan tipeku merebut istri orang." Ujarnya lagi, dan mendapatkan senyuman dari dua sahabat wanitanya yang merasa tersentuh dan terharu ucapan Dika.


" Ahh!! Kamu memang teman sejatiku!!" Ucap Citra, merentangkan ke dua tangannya ke arah Dika dan di pukul palan oleh Rizal membuat citra mengerucutkan bibir dan semua orang menatap Rizal sama mengerutkan kening.

__ADS_1


" Jangan macam-macam!" Peringat Rizal, hingga Dika, Dhira dan Revan mulai curiga.


" Kenapa kamu melarang Citra." Tanya Dhira, Citra yang mendengar ucapan Dhira mulai gugup dan menatap Rizal dengan memelas.


" Tau tu, orang Citra sama aku sudah biasa seperti ini." Pancing Dika mulai berdiri dari duduknya dan beralih duduk di samping Citra.


" Iya kan Cit!" Seru Dika, merangkul bahu Citra sambil tersenyum goda menatapnya.


Citra mulai gugup dan sedikit takut akan tatapan tajam Rizal serta rahang yang mengeras. Mencoba melepaskan tangan Dika yang merangkul bahunya, tapi tidak bisa lantaran Dika mencengkramnya sedikit kuat dan mencoba menggeser duduknya sama sekali juga tidak bisa.


" Kau bisa menyingkir dari istriku." Ucap Rizal, yang mulai cemburu dan tak bisa mengontrol emosi.


Semua orang yan ada di sana mulai terkejut termasuk Citra yang mulai memelas dan tak berdaya. Takut, iya dirinya takut, jika dua sahabatnya akan marah karena menyembunyikan pernikahannya dan tak pernah mengabarinya. Takut, jika mereka tidak akan percaya dan pergi meninggalkan dirinya.


menundukkan kepala kala dua sahabatnya mengintimidasinya, menatapnya dengan tatapan terkejut serta semburat rasa sedikit kecewa.


Dika yang mulai melepaskan rangkulannya dan menatap dalam Citra yang menundukkan kepala.


" Kamu menyembunyikan ini dariku!" Ucap Dika


" Dariku juga!" tambah Dhira, yang sama menatap Citra.


Sedangkan Rizal memejamkan mata, memijat pelipisnya, dirinya Reflek mengungkapkannya tanpa di sengaja, karena dirinya memang cemburu saat Dika mendekati Citra, merangkulnya walaupun dirinya tau jika Dika sahabat Citra. Tidak di pungkiri lagi, memang Rizal sudah jatuh cinta pada Citra dan tak ingin siapapun mendekati istrinya, dan walaupun nanti dirinya akan mencoba untuk sedikit mengalah, tidak cemburu lagi agar persahabatan Citra dan Dika tidak putus.


Menghembuskan nafas berat, menatap satu persatu temannya yang ada di hadapannya sedang menunggu jawabannya. Dan dirinya menatap Citra yang masih menundukkan kepaa.


" Papa, mama dan orang tua Citra sudah tau. Dan mereka menjadi saksi pernikahan kita." Jawab Rizal, lagi-lagi mereka terkejut.


" Mereka tau! kenapa mereka tidak bilang dan malah menyembunyikan ini." Sungut Revan, merasa sedikit kecewa.


" Karena aku yang memintanya, untuk tidak memberitahukan pernikahan kita selama satu tahun."


" Kenapa!" Tanya Dhira, Memicingkan mata.


" Karena dulu aku belum menyukainya. " Jawab Rizal.


" Dan sekarang!" Tanya Dika menatap tajam Rizal.


" Sekarang aku mencintainya, dan tidak ingin dia pergi dariku." Tegas Rizal, membuat Citra menatapnya tak percaya. dan tiga temannya saling menatap.

__ADS_1


Sungguh, Citra sangat bahagia mendengar ucapan Rizal yang berterus terang dengan isi hatinya di hadapan sahabatnya. Dia mencintainya, dia ingin selalu bersamanya dan tidak ingin di tinggalkannya.


Sama seperti dirinya, yang juga mencintainya, tak ingin di tinggalkan dan selalu ingin bersamanya hingga akhir hayat.


" Kamu benar mencintainya?" Tanya Dhira, memastikan sahabatnya tidak akan terluka.


" Iya, aku mencintainya." Jawab Rizal, dan mereka mencari celah kebohongan di mata Rizal tapi tak menemukannya. Yang ada kejujuran dan ketegasan di dalam mata Rizal.


" Maaf!" Lirih Citra " Aku menyembunyikan semua ini dari kalian!" imbuhnya, dengan mata yang berkaca menatap Dhira dan berganti menatap Dika.


" Kenapa kamu tidak bilang pada kita?" Suara Dhira yang sedikit kecewa.


" A-ku!" Mulai menangis dan gemetar. Dhira yang melihat Citra menangis pun langsung memeluknya dan Dika mengusap punggung Citra, tidak peduli Rizal cemburu atau marah padanya.


" Maafkan aku Dhir!" Ucap Citra dalam pelukan Dhira. " Maafkan aku Dika!" Ujarnya lagi.


" Jangan menangis, kita tidak marah. hanya sedikit kecewa, tentu saja kita enggak ingin kamu terluka." Ucap Dhira, menenangkan Citra.


" Kita sahabat, tentu saja kita enggak ingin salah satu dari kita terluka dan menyembunyikan sesuatu sendiri. Kita bisa saling membantu dan menyelesaikan masalah bersama kan." Ujar Dika, membuat Dhira mengangguk dan Citra mulai melepaskan pelukannya.


" Terima kasih." Ucap Citra.


" Untuk?" Tanya Dhira.


" Kalian mengerti perasaanku dan tidak marah denganku." Jawab Citra kembali berkaca-kaca.


" Kita tetap sahabat kan?" Tanya Citra lagi.


" Kita bukan sahabat." Ucap Dhira membuat semua orang terkejut dan menatap penuh arti dengan Dhira. " Tapi kita sudah menjadi saudara." Ujarnya lagi dengan tersenyum, membuat semua yang ada di sana menjadi lega, serta ikut tersenyum.


" Terima kasih." Ucap tulus Citra dan memeluk Dhira dengan erat.


" Aku enggak di peluk nich!" Cibir Dika, membuat dua sahabatnya melepas pelukan, melihat Dika yang tersenyum jail membuat Citra dan Dhira ikut tersenyum.


" Jangan mulai!!" Peringat Revan dan Rizal bersamaan.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2