
Jujur lebih baik, tapi aku takut jika semuanya tak akan seperti dulu lagi.
.
.
.
.
" Kamu yakin tidak papa Nak?" tanya Nyonya Vani sambil berjalan menuju restoran yang ada di dalam mall.
" Dhira baik-baik saja Ma." Jawabnya dengan tersenyum sambil berjalan mengikuti ibu Mertuanya yang selalu menggandeng tangannya.
" Kita cari makan dulu ya sayang, Mama lapar.?" Ajak Calon mertua
" Iya Ma." Jawabnya dengan mengangguk dan tersenyum tulus.
Memasuki restoran yang tidak cukup ramai daj memilih duduk di sebelah kaca yang memperlihatkan keramaian akan luar saat orang-orang berjalan untuk mencari kesenangan di dalam mall.
Memesan makanan dan minuman yang berbeda, dan menyerahkan menu makanan saat mereka sudah selesai memilih menu makan siangnya.
" Duduk sini sayang." Pinta Nyonya Vani pada Dhira untuk duduk di sebelahnya, menuruti kata ibu mertunya dan duduk di sebelahnya.
" Hadap ke depan." Perintahnya, dan ia pun jyga masih menurut.
Dengan perlahan Nyonya Vani melepaskan ikat rambut Dhira, membuat Dhira mengerutkan kening dan tidak memprotes hingga dirinya merasa tersentuh saat ibu mertuanya menyisir rambutnya yang berantakan serta mengikat kembali rambutnya dengan lembut dan rapi.
Tersenyum dengan mata yang mulai berkaca di perlakukan oleh ibu mertuanya seperti anaknya sendiri serta tak malu membenarkan rambutnya di muka umum seperti ini.
" Sudah." Kata Nyonya Vani mengusap lembut bahu menantunya.
Sejenak menghapus air mata yang masih menggenang agar mertuanya tidak melihat dan berbalik menghadap mertuanya dengan tersenyum.
" Terima kasih Mam.?" Ucap tulus Dhira, dan di anggukkan Nyonya Vani dengan tersenyum.
" Kamu tidak ingin cerita sama Mama?" Ujar Nyonya Vani, membuat Dhira terdiam dan menundukkan kepala.
" Mama tidak memaksa kamu sayang, tapi ingat! Mama akan selalu ada untuk Dhira dan akan selalu ada buat Dhira bersandar, jika sudah lelah dan membutuhkan teman curhat." Ucapnya dengan tersenyum hangat serta mengusap punggung menantunya.
Menatap ibu mertuanya yang tersenyum hangat serta penuh kasih sayang, membuat dirinya memeluk Nyonya Vani. Menangis dalam pelukan seorang ibu mertua dengan menahan suara isakan agar tidak memancing orang-orang yang melihatnya.
" Tidak papa, Ada Mama, Papa dan Revan yang akan menjaga Dhira dan kak Alex. Mama tidak akan meninggalkan Dhira." Ucap Nyonya Vani meyakinkan Dhira yang kini tidak sendirian lagi, dengan mata yang mulai menggenang saat merasakan bagaiman menantunya begitu rapuh dan butuh sandaran buat dirinya mengeluh.
__ADS_1
Sentuhan seorang ibu yang tak pernah Dhira dapatkan dari mamanya, hanya dari Bik Minah yang selalu menguatkan dirinya untuk tetap bertahan dengan keadaan dan Bik Minahlah yang selalu setia hingga sekarang.
Melepaskan pelukannya dan menundukkan kepala untuk menghapus sisa air matanya.
" Terima kasih Ma, sudah mau menerima Dhira sebagai menantu mama." Ucap Dhira lirih.
" Bukan menantu sayang! tapi putri ke dua mama dengan yang pertama adalah kakak ipar kamu." Jawabnya, mengusap lembut pipi Dhira, membuat Dhira tersenyum.
Tidak ingin memaksa menantunya untuk menceritakan siapa wanita yang hampir menamparnya. Biarkan Dhira sendiri yang akan bercerita nanti saat dia sudah siap untuk menceritakan padanya.
Tapi dia tau jika tatapan Dhira pada Ibu dan putrinya itu sangat mengisaratkan kebencian yang paling dalam dan tak akan dia maafkan seumur hidupnya.
Seorang pelayan datang membawa makanan, menaruh di atas meja Dhira. Mengucapkan terima kasih banyak saat pelayan akan pergi.
" Ayo kita makan sayang." Ajak Nyonya Vani, hanya mengangguk dan makan bersama dengan sekali kali mereka mengobrol dan tertawa.
" Mau di lanjut lagi gak cari baju buat para lelaki." Tanya Nyonya Vani.
" Mama Enggak capek.?" Tanya balik Dhira.
" Enggaklah mama masih kuat." Ujarnya, yang mendapatkan tawa kecil dari Dhira.
" Ayo kita lanjut Ma." Ajak Dhira dengan semangat.
Memutuskan pulang, mengantarkan menantunya langsunh ke rumah dan berhenti tepat di depan rumah Dhira.
" Enggak mau masuk ke rumah dulu Mam.?" Tanya Dhira.
" Kapan-kapan ya sayang, sudah sore. Kasian papa nyariin Mama." Jawabnya dengan tawa kecil, membuat Dhira ikut tertawa.
" Hati-hati ya Mam, dan makasih bajunya." Ucap Dhira.
" Iya sayang. masuk rumah, mandi, makan terus istirahat." Kata Nyonya Vani dengan memberikan perhatian pada menantunya.
Hanya mengangguk dan tersenyum, mencium tangan ibu mertuanya sebelum dirinya keluar dari mobil. Masuk ke dalam rumah dengan dia yang membawa paberbag banyak di tangannya dan mengerutkan kening kala melihat ibu kandungnya ada di ruang tamu, duduk tenang sambil bermain ponsel.
" Bik.!" Teriak Dhira, menatap ibu kandungnya yang sedang menatapnya.
" Dhira." Sapa Nyonya Devi.
" Bik Minah!" Teriaknya sekali lagi, tanpa mempedulikan sapaan ibunya.
Bik Minah yang mendengar teriakan Dhira pun segera berlari untuk menghampirinya.
__ADS_1
" Kak Alex mana bik." Tanya Dhira.
" Mas Alex di bawa pergi sama Mas Dika Non." jawabnya, yang membuat Dhira merasa lega.
" Bik tolong, lain kali jangan terima tamu sembarangan."
" Ini Mama kamu Dhira, bukan orang lain.!" Seru Nyonya Devi, membuat Dhira menatapnya.
" Mama!" dengan senyum sinis " Maaf Nyonya, mama saya sudah tiada, saat dia memutuskan untuk pergi dari suami serta anak-anaknya dan memilih menikah lagi dengan pria kaya." Imbuhnya dengan menatap tajam Nyonya Devi, seakan dirinya siap untuk meluapkan amarahnya di depan ibu kandungnya sekarang.
" Mama melakukan itu semua demi kalian, biar papa kamu bisa berobat, biar kamu dan Alex enggak kelaparan." Jawab Nyonya Devi.
" Demi Kami.!" sambil memicingkan mata. " Itu bukan demi kami, tapi demi anda sendiri." Ucap Dhira.
" Ibu macam apa yang ninggalin suami dan anaknya saat susah dan menderita tanpa bantuan siapapun, ibu macam apa yang meninggalkan keluarganya saat mereka membutuhkan dukungan. ibu macam apa itu, saya tanya.!" Tantang Dhira dengan menaikkan suara satu oktaf.
" Aku tidak butuh uang, aku hanya butuh dukungan dan semangat dari seorang ibu. Semangat, jika kita bisa melalui bersama itu saja, tidak lebih!. Tapi itu tidak ada dalam diri anda, yang meninggalkan anaknya begitu saja tanpa tau bagaimana hancurnya hati seorang anak." Ujarnya lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mendengar semua keluh kesah Dhira, entah kenapa naluri hatinya seorang ibu kandung juga merasa sesak, memejamkan mata meneteskan air mata saat putrinya mengadu rasa hancurnya dulu yang di tinggal olehnya.
" Non Dhira.?" Lirih Bik Minah yang berada di samping Dhira untuk mencoba menenangkannya.
Menghembuskan nafas berat, mencoba mengatur amarahnya agar tidak lagi menaikkan nada tinggi pada seorang wanita yang sudah melahirkannya.
" Sebaiknya anda pulang, saya sangat lelah." Usir Dhira dengan halus dan memberikan jalan pada ibunya.
Menatap putri kandungnya yang tidak ingin menatapnya, mengambil tas dan melangkah pergi dari rumah Dhira.
Di depan pintu Nyonya Devi bertemu dengan Revan dan membuatnya sedikit terkejut saat melihatnya.
" Tuan Revan." Lirih Nyonya Devi, hanya membalas anggukan kecil dan tersenyum sekilas sebelum dirinya masuk ke dalam rumah Dhira.
Berbalik ke belakang, saat dirinya penasaran akan apa yang di lakukan Revan di rumah anaknya dan terkejut Revan memeluk dan menenangkan Dhira yang menangis.
.
.
.
.
🍃🍃🍃
__ADS_1