
Kau sudah menjadi milikku, akan selamanya menjadi milikku dan tetap untuk aku.
.
.
.
.
Senja yang begitu indah dengan warna yang sangat menawan, mempesonakan mata dengan jingga yang begitu pekat.
Dua pasang mata menatap wanita yang sedang melihat warna jingga dengan bibir tersenyum tipis.
Di saat itu pula sang wanita mengingatkannya akan perjanjian pernikahan. Setelah setahun mereka akan berpisah dan tidak akan bertemu kembali.
Sungguh ini bukan yang ia inginkan, sungguh ini sangat membuat hatinya sakit. Sangat-sangat menyakitkan jika perpisahan itu terjadi.
Masih menatap lekat istri yang ada di sampingnya. Melihat wajah yang begitu manis dan sudah mengisi kekurangan hatinya selama ini.
" Apa kamu membenciku? Jika kita sudah berpisah?" Tanya ragu Rizal, membuat Iris mata indah itu menatapnya.
" Aku tidak tau." Jawab Citra menatap lekat mata suaminya. " Tapi setidaknya, aku akan berusaha untuk tidak membenci kamu." Ujarnya lagi dengan tersenyum.
Kembali terdiam merenungkan kembali kebersamaan bersama. sama-sama menatap senja dan matahari yang mulai siap untuk terbenam. pantulan cahaya matahari menghiasi lautan yang sudah mulai sedikit menggelap akibat langit mulai berubah warna.
" Sudah mau terbenam, ayo kita pulang kak." Ajak Citra, berdiri dari duduknya dan masih setia menatap matahari yang mulai bersembunyi.
Mengikuti Citra yang berdiri dari duduknya, dan mengikuti arah pandang matahari yang mulai terbenam setengah.
" Bisakah senja dan matahari ini menjadi saksi." Ucap Rizal, membuat Citra kembali menatapnya dengan mengerutkan kening.
Perlahan, Rizal memutar badannya. Menghadap Citra yang sedang menatapnya.
Menyentuh kedua bahu Citra untuk menghadapnya, berganti satu tangan menyentuh pinggang Citra hingga membuatnya merapat ke tubuh Rizal.
Tersentak kecil, membulatkan mata. Tangan yang menyentuh bidang dada Rizal, merasakan jantung yang berdetak begitu kencang. Sama seperti dirinya saat ini yang merasakan aliran listrik dan hati yang berdebar tak karuan.
Mata hitam yang terlihat sayu, menatapnya begitu lembut. Memancarkan rasa seperti cinta dan sayang padanya.
Perlahan tapi pasti, matahari yang benar menjadi saksi, awan jingga yang mulai sedikit berubah warna dan bibir yang mulai menyatu membuat suasana begitu menawan.
Entah dari mana mereka mempunyai keberanian untuk saling membalas ciuman. Memagut dengan lembut, memberikan rasa yang telah terpendam dalam hati, dan mengalirkan rasa cinta untuk mengungkapkannya dengan saling membalas dan tak ingin melepaskan ciuman.
__ADS_1
Melepaskan ciuman dengan Citra yang memejamkan mata, deru nafas yang sedikit tak beratur akan hati yang berdebar begitu kencang.
Mengusap bibir yang sudah ia cium, menatap wajah manis istrinya, saling menempelkan dahi dan hidung.
" Citra?" Panggilnya lirih begitu lembut, nafas yang menghembus hangat di wajahnya membuat tubuh Citra menegang.
Membuka mata, tepat tak ada jarak, hidung dan dahi yang saling menempel, dan bisa melihat manik mata Rizal sangat dekat dan begitu sendu.
Saling menatap, hingga begitu lama. Saling mendambakan, menginginkan tanpa paksaan, mereka melakukannya lagi.
Ciuman yang menghangatkan, saling mem*gut, *******, saling menggigit, menginginkan yang lebih hingga matahari terbenam. Menampakkan langit malam yang mulai datang.
Saling melepaskan saat oksigen telah menipis.Memeluk erat tubuh Rizal membenamkannya di bidang dada Rizal merasakan detak jantung berdebar begitu kencang dengan deru nafas tak beraturan.
Membalas pelukan Citra, memeluknya begitu dalam, menciumi puncak kepala Citra beberapa kali untuk menenangkannya kala ia merasakan tubuh Citra yang bergetar.
" Aku mulai jatuh cinta kepada mu citra?" Ucap Rizal, masih memeluk tubuh istrinya. " Aku cinta kepada mu?" Ujarnya lagi, membuat Citra mendongakkan kepala menatap mata Rizal mencari kebohongan di sana, tapi tidak menemukannya. Hanya ada mata jujur yang ia lihat.
Menutup mata kembali, kala Rizal mencium keningnya. Begitu lama, begitu menenangkan dan begitu romantis.
" Jangan pernah pergi dariku!" Pinta Rizal. " aku hanya ingin kita selamanya bersama, menua hingga akhir hayat."
" Tentang kesepatan kit-,"
" Lupakan, dan kita akan memulai hidup yang baru. Dengan keluarga kecil yang bahagia. " Sahut cepat Rizal, membuat Citra terharu. Menenteskan air mata dan tersenyum membalasnya.
" Jangan menangis, maafkan aku?" Ucap Rizal.
" Aku menangis karena bahagia, karena kamu mau menerimaku apa adanya." Jawab Citra. " Terima kasih." Ujarnya lagi, kembali memeluk Rizal.
" Terima kasih sudah mau bersamaku selama ini, terima kasih?" Kata Rizal, kembali memeluk Citra mencium puncak kepala istrinya. hingga tanpa terasa bulan telah bersinar.
****
Di dalam kamar mandi terdengar keras suara wanita yang sedang memuntahkan seluruh makanannya, terasa pait dan lemas untuk kesekian kalinya ia memuntahkan makanan di dalam perutnya.
" Kita ke dokter ya?" Ucap pria yang sangat khawatir, memijat tengkuk leher wanita yang menunduk di wastafell. Sudah beberapa kali dirinya membujuk dan menawari istrinya untuk ke rumah sakit, memeriksa keadaan istrinya yang semakin lemas dan pucat.
" Aku enggak papa kak?" Jawabnya dengan senyum paksa, membersihkan bibirnya dengan air.
" Kamu dari tadi muntah-muntah Beb! aku takut kamu kenapa-napa!!" Katanya, yang sudah mulai kehabisan kesabaran karena istrinya selalu menolak.
" Aku cuma masuk angin Kak! Ini semua gara-gara kakak!!" gerutunya.
__ADS_1
" Gara-gara aku!"
" Iya, gara-gara kakak yang gak ada habisnya kalau berada di kamar!." Jawabnya dengan cemberut.
Ya, siapa lagi jika bukan Revan. Seharian ini ia mengurung Dhira di rumah dan di kamar tidak memberikan kesempatan untuk membuat Dhira keluar kamar.
" Kan cuma satu kali Beb, gak nambah lagi!" Bantah Revan, memang dirinya hanya satu kali melakukannya dan ia melihat Dhira yang mulai mual, muntah dan sering ke kamar mandi membuatnya merasa cemas dan takut.
" Biasanya dua atau tiga kali enggak pernah seperti ini Beb?" Ujarnya lagi, yang langsung mendapatkan tabokan di lengannya.
" Kakak, iihh!!" Seru Dhira, merasa malu Revan mengucapkannya.
Mengusap keringat Istrinya dengan tertawa kecil lantaran melihat Dhira yang merasa malu. Menggendong tubuh Dhira dan membawanya menuju ranjang.
" Aku buatkan teh jahe ya, biar tidak mual lagi." Kata Revan, menyelimuti kaki Dhira yang bersandar di ranjang.
" Hmm, iya." Jawab Dhira yang sedikit lesu.
" Istirahat, jangan kemana-mana." Hanya mengangguk dan tersenyum serta mencoba memejamkan mata saat Revan sudah keluar dari kamar.
Sungguh ia tidak pernah merasakan hal yang sangat aneh dalam tubuhnya selama ini. Ia begitu lemas, mual dan muntah serta makan pun ia seakan tidak nafsu.
" Mas Revan sedang buat apa?" Tanya bik minah melihat Revan sedang berada di dapur.
" Lagi buatin Dhira teh jahe Bik." Jawabnya sambil menyalakan kompor.
" Biar bibik saja yang buatin Mas?"
" Tidak usah bik terima kasih, bibik istirahat saja." Tolaknya halus, merasa kasihan karena seharian bik Minah menemani Alex.
" Non Dhira sakit Mas." Tanya Bik Minah.
" Mungkin masuk angin Bik! dari tadi muntah-muntah terus. " Ucap Revan.
" Muntah-muntah!" Ulang bik Minah dan di anggukkan Revan yang mulai mengupas jahe.
" Jangan-jangan Non Dhira hamil?" Ucap bik Minah, membuat Revan berhenti dan menatao Bik Minah yang ada di belakang.
" Ha.. mil?"
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃