
Kamu Untuk Aku, dan KUA sedang menunggu kedatangan kita.
.
.
.
.
" Sudah puas memandangi ku." Suara parau yang masih memejamkan mata, membuat gadis yang melihatnya sedang tertidur pulas sedikit terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, dia saja masih memejamkan mata tak berniat untuk membukanya yang membuat sedari tadi Dhira menatapnya dengan tersenyum dan mengusap pipi kekasihnya.
Ah! mengusap pipinya mungkin karena itu dia terbangun, dan membuatnya semakin suka dengan belaian Dhira di pipinya dan tidak ingin membuat Dhira berhenti mengusapnya.
Dhira yang terbangun lebih dulu, membuatnya sedikit terkejut akan keberadaan Revan yang tiba-tiba saja tidur di sampingnya. Selalu kebiasaan Revan tidur di kamar Dhira tanpa permisi.
Menatap kekasihnya begitu dalam, tersenyum getir mengingat kembali foto Revan bersama keluarga ibu barunya dan juga mantan sahabat yang berusaha ingin mendekati Revan. Dunia sungguh sangat sempit ia harus di pertemukan kembali dengan orang-orang lama, yang ingin sekali dia hindari karena tak mau lagi berurusan dengan mereka.
Bukan takut, hanya saja berurusan dengan mereka sangat menguras emosi dan bisa jadi akan mengakibatkan Dhira tak akan bisa mengontrol kemarahannya.
" Kamu kapan datang.?" Tanya Dhira, mengubah posisi ke dua tangannya sebagai bantal di kepalanya dan masih menatap kekasihnya.
" Tadi jam dua pagi.?" jawab Revan, membuka mata dan tersenyum untuk menyapa kekasihnya.
" Jam dua?" Ulang Dhira dan di anggukkan oleh Revan.
" Kamu kemana saja .. Hmm.?" Tanya Revan, mencubit gemas hidung Dhira.
" Kamu mencari ku.?" Bukannya menjawab, justru dirinya bertanya, yang membuat kekasihnya mengerutkan kening serta tersenyum.
Memberikan kecupan pagi di bibir Dhira sebelum menjawabnya, membuat si pemilik mengerucutkan bibirnya lantaran Revan seenaknya sekali menciumny tanpa bertanya dulu.
" Kebiasaan ih.!!" Seru Dhira memukul lengan Revan, hanya tertawa kecil dan mengusap lembut bibir Dhira.
" Aku mencari kamu tau gak, di telpon enggak bisa, tanya Dika katanya enggak sama samu seharian, tanya Bik Minah katanya kamu di rumah gak kemana-mana. Terus kamu pergi kemana ... hmm.?" Ucap Revan.
" Kangen ya.!!" Tebak Dhira dengan senyum cengir.
" Iya lah, tiga hari enggak ketemu kamu lho Beb pastinya kangen." jawab Revan. " Emang kamu enggak kangen sama aku.?" tanyanya.
" Enggak tu, orang tiap hari vcan terus sama kamu." cibir Dhira.
" Yakin enggak kangen.?" kata Revan.
__ADS_1
" Enggak."
" Terus kenapa ini mata bengkak." Tanya Revan, membuat Dhira terdiam.
" Semalam aku ke cafe, merekap ulang penjualan dan pemasukan tinggal beberapa minggu lagi akhir taun, Mau kasih bonus karyawan." jawab Dhira, dan mendekatkan wajahnya ke Revan . " Kamu kapan ngasih aku bonus." bisik Dhira, membuat Revan tertawa kecil dan merengkuh pinggang Dhira.
" Bonusnya aku kasih sekarang saja gimana, nunggu sah kelamaan." Kata Revan, membuat Dhira melototkan mata.
" Ih .. Astaga!! kamu ini apaan sih kak.!" Seru Dhira menampar pelan pipi kekasihnya.
" Katanya mau bonus." goda Revan. " Ya sudah ayo aku kasih bonus sekarang Beb." ujarnya lagi dengan tertawa kecil.
" Eh!!" Pekik Dhira, melihat Revan yang memonyongkan bibinya serta mencoba mendekatkannya pada Dhira tapi tertahan oleh tangan Dhira.
" Kok di tahan sih Beb?" tanya Revan mencoba merajuk.
" Nikah yuk, KUA sekarang buka kan?" kata Dhira, yang sukses membuat Revan membulatkan mata serta bibir terbuka mendengar perkataan Dhira.
" Aku serius, ayo nikah." Ajak Dhira sekali lagi, dan tersadar saat Dhira mengucapkannya kembali.
Menempelkan telapak tangannya ke dahi Dhira, membolak balikam tangannya dan menyentuh keningnya sendiri untuk memastikan suhu Dhira pada dirinya. Melihat itu Dhira langsung memukulnya.
" Apaan sih Kak.!!" seru Dhira yang berusaha menahan tawa.
" Iya."
" Enggak sakit." tanya lagi dan di gelengkan oleh Dhira.
" Enggak kesambet setan pagi kan.?"
" Enggak. Astaga!! enggak mau nich, ya sudah aku ca-."
" Mau? ayo kita nikah sekarang." kata Revan, merubah tidurnya menjadi duduk di ikuti Dhira yang juga duduk berhadapan dengan Revan. mencoba membuka ponselnya dan akan menelpon seseorang tapi di tahan oleh Dhira.
" Mau ngapain?" tanya Dhira.
" Aku mau telpon Mama Beb, ngabarin kalau mantunya mau ngajak nikah." Kata Revan yang begitu senangnya saat Dhira mau ngajaknya nikah.
" Lho, Eh.!! kok kesannya cewek dulu sih yang ngajak nikah." pekik Dhira, membuat Revan tertawa.
" Ya, kan emang tadi kamu dulu yang ngajakin nikah."
" Tu kan karna kamu dulu Beb yang mulai mancing, nyosor-nyosor segala." Jawab Dhira dengan mengerucutkan bibirnya.
" hehehehe, kalau enggak gini kan kamu enggak akan mau di ajak nikah." Ucap Revan, merengkuh tubuh Dhira membuat Dhira tak seimbang dan jatuh di atas tubuh Revan yang ada di bawah.
__ADS_1
" Tu kan mulai lagi.!!" Gerutu Dhira, menahan ke dua tangannya di dada Revan.
" Love you." Ucap Revan dengan tersenyum
" Love you too." Jawab Dhira dan juga membalas senyuman Revan.
Memberikan satu ciuman yang manis dengan mereka yang saling menikmati suasana setengah siang di dalam kamar, tanpa mempedulikan lagi kejadian semalam yang membuat dua insan begitu merasa galau.
Memberikan sentuhan nikmat yang sangat memabukkan, dan sangat di inginkan satu sama lain. Ingin sekali mereka melakukannya, menggambarkan rasa ingin memiliki seutuhnya. Tapi sayang harus berakhir kala mendengar suara ketukan pintu dari luar beberapa kali.
Mendorong tubuh Revan hingga terjatuh, dan membuatnya memekik kesakitan akibat di dorong kuat oleh Dhira.
" Maaf, maaf Kak.?" kata Dhira, membenarkan bajunya yang terbuka ke atas dan berjalan melangkahi Revan yang masih duduk di bawah.
" Damn it!." gerutu Revan, berdiri dari jatuhnya dan duduk di ranjang. Melihat Dhira yang sedang membuka pintu kamar dan berbicara dengan Bik Minah.
" Sakit kak?" tanya Dhira.
" Enggak." jawabnya dengan senyum paksa, membuat Dhira harus menahan tawa melihat kekesalan kekasihnya.
" Ada yang nyariin kakak." kata Dhira.
" Siapa?" tanya Revan.
" Sopir kakak, katanya di suruh asisten kakak untuk jemput bosnya." jawab Dhira, menghembuskan nafas berat dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan siang hari, mau tak mau dirinya harus ke kantor untuk memimpin rapat yang sudah di jadwal oleh Rizal.
" Semangat dong kak, buat modal nikah.!" semangat Dhira mengepalkan satu tangan dan tersenyum.
Berdiri dari duduknya, menghampiri Dhira mengacak rambutnya dan memberikan satu ciuman di pipi Dhira.
" Mandi bareng yuk.!" ajak Revan, yang mendapatkan pelototan horor dari Dhira.
" Bercanda.!" cengir Revan dan berjalan ke arah kamar mandi dengan dirinya yang tertawa tanpa suara melihat reaksi Kekasihnya.
" Beb.! ayo." Ajaknya, setengah menyembulkan kepalanya keluar untuk menatap Dhira. Dhira yang sudah memerah malu pun dengan cepat melempar sandal ke arah Revan membuat Revan langsung menutup pintu dan cekikikan di dalam kamar.
" Oh Tuhan ... pikiran ku sudah kotor sekali." gumam Dhira dan menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pirikan yang sudah kemana-mana akibat ajakan mandi Revan.
.
.
.
.
__ADS_1