
Satu kata yang aku tunggu dari penghulu, SAH.!
.
.
.
.
" Saya terima nikahnya Anandhira binti Adi wijaya dengan seperangkat alat sholat dan emas cincin tiga gram di bayar tunai." Tegas Revan dengan sekali ucapan dan menggenggam tangan penghulu sedikit basah dan gemetar saat saat mengucapkan sakral.
" Bagaimana para saksi." Tanya Penghulu dengan para saksi.
" Sah, sah, sah." Ucap para keluarga Revan dan Dhira.
" Sah.!" Ucap Penghulu, membuat Revan merasa lega dan mengucap syukur.
" Alhamdulillah." Kata Revan dan mengusap jawahnya dengan ke dua tangan, serta mata yang berkaca-kaca saat dirinya sudah tidak lagi sendirian di rumah, mempunyai pendamping hidup untuk selama-lamanya.
Nyonya Vani dan Tuan Gio pun juga terharu, serta bahagia merasakan bagaimana putranya itu sudah mengucapkan kata sakral dalam sekali seumur hidup.
Nyonya Vani sama seperti dulu, saat melihat putra pertamanya yang mengucapkan kata sakral hingga menangis bahagia, bagaimana kehidupan kedua anaknya nanti akan memenuhi tanggung jawab untuk putri orang dan harus bisa membahagiakannya kelak hingga sampai tua.
Anak yang dia besarkan dari kulit yang masih merah hingga menjadi putih dan tinggi, serta penuh kasih sayang dan manja. Kini berubah menjadi dewasa dan penuh bertanggung jawab.
Putranya sudah menikah, putra manjanya sudah tidak akan lagi bersamanya, putranya yang begitu menyayanginya kini akan membagi sayangnya dengan istri tercintanya. Sungguh rasanya ini seperti mimpi, hampir dua puluh enam tahun dirinya merawat putranya dan kini berpisah serta tak akan lagi manja dari putranya dan seorang ibu akan merindukan semua itu.
" Ma.?" Sapa Arzan untuk menenangkan ibu angkatnya yang sedang meneteskan air mata.
" Putra-putra mama sudah menikah semua, mama senang kalian menemukan pendamping yang baik dan cantik." Ucap Nyonya Vani dengan tersenyum menatap Arzan.
" Karena ini semua doa dari mama?" Jawab Arzan dan menyentuh tangan Nyonya Vani mengusapnya dengan lembut serta tersenyum menenangkan, membuat Nyonya Vani ikut tersenyum.
Saat kata sah sudah terdengar, membuat seorang wanita cantik berpakaian kebaya sedang menunggu di ruang keluarga dengan harap-harap cemas lantaran takut kelasihnya tidak bisa lancar untuk mengucapkan kata sakral itu.
Tapi nyatanya kecemasan itu hanya sesaat dan merasa lega serta bahagia mendengar suara kekasihnya melantunkan kalimat akad nikah begitu tegas dan sekali percobaan hingga penggulu mengucapkan kata sah.
__ADS_1
Tak terasa air mata pun jatuh di pipinya, dan kini status Dhira sudah tidak lagi bujang. dirinya sah menjadi istri kekasihnya dan akan menempuh kehidupan yang baru bersama Revan hingga maut memisahkan mereka.
Citra yang berada di sisi Dhira pun juga merasa terharu dan bahagia, bagaimana kini sahabatnya sudah tidak lagi sendiri dan mempunyai pasangan hidup yang mencintai dan menyayanginya.
Nyonya Devi juga sama, menangis bahagia karena Dhira mendapatkan pria yang sayang dengannya serta mampu melindunginya, dan mendapatkan mertua yang baik menganggapnya seperti anaknya sendiri tak akan ada kekurangan kasih sayang dari mertuanya kelak walaupun itu bukan dari dirinya.
Menatap ke arah putri satu-satunya putri yang masih marah dengannya itu dengan tersenyum dan menitikan air mata.
" Jangan menangis Buk." Ucap Bik Minah dengan mengusap punggung Nyonya Devi, membuat Devi menatapnya.
" Putriku sudah besar Bik, sudah menikah sekarang dan sudah menjadi milik orang lain." Ucapnya lirih sambil menatap anaknya yang menundukkan kepala.
" Andai ayahnya masih ada mungkin dia tidak akan semarah dan sebenci ini denganku, mungkin ayahnya akan menjadi walinya sekarang." Ujarnya lagi.
" Itu sudah takdir buk, Non Dhira tidak membenci ibunya. Dia hanya marah saja Buk." Ucap Bik Minah.
" Semoga putriku bahagia selalu dengan Revan Bik."
" Amin." Jawab Bik Minah.
" Terima kasih sudah mau merawat putra dan putri aku Bik, terima kasih." Kata tulus dari Nyonya Devi sambil menatap bik Minah daj menyentuh tangannya.
MUA yang sudah ada di hadapan Dhira, kini menyuruhnya untuk keluar menghampiri Revan yang sedang ada di hadapan penghulu.
Berjalan beriringan dengan di dampingi Citra serta Nyonya Devi dengan saling bergandengan tangan dan ini pertama kalinya ibu dan anak itu saling menggenggam tangan dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tatapan semua orang saat Dhira berjalan menghampiri Revan dengan di ikuti Revan yang menatapnya, tersenyum serta tak percaya akan penampilan Dhira yang cantik dan anggun memakai kebaya, seperti bukan kekasihnya di hadapannya sekarang.
Serta satu keluarga yang terkejut dengan adanya Citra di rumah istri Revan. Hingga seorang ibu tersenyum saat melihat Citra berpenampilan cantik serta anggun sama seperti istri Bos anaknya.
Duduk bersebelahan dengan Revan, seperti kasmaran, malu malu kucing menahan senyum saat Revan masih menatapnya.
" Tanda tangan di sini." Ucap penghulu, hingga membuyarkan tatapannya ke arah Dhira dan melihat penghulu yang menggelengkan kepala kepadanya dan membuat dirinya meringis malu.
tanda tangan di buku warna merah dan hijau serta memperlihatkan buktinya pada semua orang jika mereka sudah mempunyai buku akta nikah dan sudah sah menjadi suami istri. Sungguh sangat membahagiakan bagi kedua pihak.
Menghampiri ke dua orang tua Revan, duduk di hadapannya mencium ke dua tangannya meminta restu pada ke duanya.
__ADS_1
" Semoga sakinah mawadah warohma putri mama? Revan, putra mama yang manja, Jadi yang sabar ya hadapin tingkah laku putra mama." Kata Nyonya Vani pada Dhira.
" Jangan tinggalin Revan, hadapi masalah dengan kepala dingin dan saling terbuka satu sama lain." Tuturnya lagi dengan mata yang berkaca
" Iya ma, Dhira akan mengingat pesan mama." Jawab Dhira dengan tersenyum.
Saling bergantian, kini Dhira menghadap ayah Revan.
" Semoga bahagia ya nak, sampai tua dan maut memisahkan kalian." Ucap Tuan Gio dengan menyentuh lembut kepala Dhira.
" Amin, terima kasih pa doanya." Jawab Dhira.
Dan kini giliran Revan menghadap ke dua orang tua Dhira, sama seperti yang di lakukan pada ke dua orang tua Revan.
" Tolong jaga putri saya, sudah sukup dia menderita dan tolong buat dia bahagia. Jika bertengkar jangan pernah bentak Dhira ya, dia kalau marah orangnya pendiam, kalau sudah tidak tahan pasti dia marahnya keluar semua." Ucap Nyonya Devi.
" Semoga keluarga kecil kalian bahagia selalu." ujarnya lagi dan menitikan air mata saat ia mulai melepaskan putrinya untuk orang lain.
" Kini kamu sudah menjadi sebagian keluarga saya, tolong jaga putri angkat saya jangan buat dia menderita dan bahagiakan dia." Ucap Tuan Hasan saat Revan sungkam ke hadapannya menepuk halus pundak Revan dan membuat Revan mengangguk serta tersenyum.
Berdiri bersama dan saling meyalimi para kerabat yang mengucapkan selamat pada Dhira dan Revan, hingga mereka mulai menyantap makanan yang sudah di sajikan tuan rumah.
" Citra?" Sapa wanita paruh baya yang melihat Citra sedang mengobrol dengan Dika dan Dhira.
Menatap ke arah sumber suara dan membulatkan mata saat melihat wanita tua itu.
" Tante Rani!" Pekik Citra, yang melihat Mama Rizal ada di rumah Dhira.
.
.
.
.🍃🍃🍃
Minal Aizin walfaizin, mohon maaf lahir batin ya.🙏🙏
__ADS_1
Dan maaf atas keterlambatannya.