Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
punggung yang basah


__ADS_3

Ibarat seperti bulan, sendiri tapi bercahaya, itulah yang aku lihat dari mu.


Memancarkan kebahagian pada siapa pun dan kau lupa akan diri mu sendiri.


.


.


.


.


Menikmati malam gelap dengan angin semilir di balkon lantai atas yang selalu Dhira menikmati kesendiriannya saat penghuni rumah sudah tertidur.


Tapi malam ini dia tidak sendiri, masih ada pria yang sedang bersamanya. Saat pria itu memutuskan untuk lebih lama di rumah Dhira.


Beberapa saat lalu mereka menemani makan malam serta bermain dengan Alex, sebelum akhirnya Alex lelah dan mengantuk.


duduk bersila di kursi panjang dangan di sampingnya yang juga duduk dengan tenang menikmati malam gelap serta di temani dua cangkir coklat hangat.


" Boleh aku bertanya.?" ucap Revan dengan menatap wanita manis yang ada di sebelahnya, yang masih setia menatap langit malam.


" Apa.?" jawab Dhira tanpa menatap Revan.


" Apa kau sendiri.?" tanyanya dengan hati-hati, menatap sekilas Revan saat pria itu membutuh kan jawaban.


Tersenyum miris dan kembali menghadap langit malam yang tiada bulan saat ini.


" Mungkin Tuhan lebih sayang pada ayah hingga dia mengambilnya dari ku." jawab Dhira dengan mengingat kembali saat ayahnya sudah tiada dan bagaimana hancur hatinya saat itu.


" Apa dia sakit."


" Iya, dua tahun aku merawatnya bekerja keras mencari uang berharap ayah akan sembuh." jawabnya dengan menghembuskan nafas berat.


" Mungkin dia sudah lelah dengan pengobatannya atau kasihan dengan putrinya yang terlalu lelah saat pulang bekerja." ujarnya dengan mata yang mulai berkaca.

__ADS_1


Hal sensitif bagi Dhira saat membicarakan ayahnya yang tidak pernah Dhira ceritakan pada siapa pun, tapi malam ini entah kenapa dia begitu saja menceritakannya pada pria yang baru dia kenal dan terasa nyaman saat berbagi cerita dengannya.


Menatap ke atas untuk menahan air mata yang akan jatuh dan membasahi pipinya, rasanya dia tidak ingin menunjukkan kerapuhannya pada pria yang ada di sampingnya.


Melihat wanita yang ada di sampingnya merasa rapuh dan menahan air mata untuk tidak terjatuh membuat dirinya tau jika Dhira butuh sandaran untuk dirinya berbagi cerita.


Membelakangi tubuh Dhira, bergeser ke belakang untuk sedikit dekat dengan dia.


" Jika kau butuh bersandarlah dan berbagilah cerita dengan ku." ucap Revan tanpa melihat Dhira yang sedang menatapnya.


Sedikit lama Revan menunggu Dhira untuk bersandar dan sedikit terkejut saat dia akan berbalik ke posisinya, kepala Dhira sudah menempel ke punggung Revan.


Tidak bisa di bendung air matanya saat ia rindu dengan ayah, menumpahkan semua keluh kesahnya di punggung Revan dengan menangis pilu serta membasahi baju Revan hingga menembus kulitnya.


Sungguh wanita ini benar benar pilu dan rapuh, dia mencoba kuat di hadapan siapa pun hingga tidak ada yang tau jika dia sebenarnya butuh sandaran.


" Aku kuat demi kakak ku, tapi aku rapuh saat semuanya pergi meninggalkan ku." ujar lirih Dhira dengan menangis.


" Aku benci Dia yang meninggalkan suaminya meninggalkan anak-anaknya karena dia tidak bisa hidup tanpa uang, malu karena suaminya sudah bangkrut, malu karena mempunyai anak cacat, dan malu karena suaminya lumpuh." ucap Dhira lagi dengan mengepalkan tangannya


Tidak ingin bertanya lebih karena itu akan menyakitkan buat Dhira, lebih baik dia diam dan mendengar semua keluh kesah Dhira


hati anak mana yang tidak hancur dan merasa tertekan dengan keadaan yang begitu sangat menyiksanya.


Merawat seorang ayah yang terkena stroke, merawat kakaknya yang autisme ( Anak Berkebutuhan Khusus) dan belum lagi harus bekerja hingga malam.


Dua tahun dia mengalami itu semua tanpa mengeluh, tanpa belas kasihan dan tanpa lelah.


Dia wanita yang tangguh, di saat seharusnya dia kuliah dan mengejar cita-citanya Dhira rela berhenti untuk tidak kuliah karena dia memilik tanggung jawab yang begitu besar.


Tidak peduli lagi saat dia di hina dan jauhi sahabatnya, dia tidak peduli akan apa bullyan tentang temannya waktu dia masih duduk di bangku kelas tiga. Yang dia pedulikan hanya ayah dan kakaknya, hanya mereka yang Dhira pedulikan.


Menangis cukup lama di punggung Revan hingga dia mulai duduk kembali ke dalam posisinya semula dengan menundukkan kepala serta menghapus sisa air mata.


Sama seperti yang di lakukan Dhira saat dia sudah tidak merasakan lagi kepala Dhira yang menyandar di punggungnya.

__ADS_1


Menatap dengan lekat saat dia masih setia dengan menundukkan kepala dan menghapus air mata.


" Terima kasih atas sandarannya." ucap Dhira dengan menatap Revan. " Dan maaf telah membuat baju mu basah." ujarnya lagi dengan merasa sedikit bersalah


" Tidak apa-apa." jawab Revan. "Jika kau masih membutuhkannya lagi aku akan siap." kata Revan dengan memperlihatkan punggungnya, membuat Dhira tersenyum dan sedikit mengangguk.


" Sudah malam, aku pulang ya." kata Revan di anggukkan oleh Dhira dan berdiri bersama.


turun dari lantai atas untuk mengantarkan Revan ke depan rumahnya. Menaiki motornya, memakai helm.


" Jangan tidur malam-malam." kata Revan saat akan menjalankan motornya.


" Hmm, hati-hati di jalan." ucap Dhira dan di anggukkan oleh Revan dan mengusap kepala Dhira dengan tersenyum dan membuat Dhira ikut tersenyum, menyalakan motor dan berjalan kecepatan sedang.


Menatap kepergian Revan dari rumahnya hingga tak terlihat, membuat dia tersenyum dan kembali ke dalam rumah.


Mengunci pintu pagar masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Naik ke lantai atas, untuk menuju ruangan yang telah dia tata dengan rapi dan penuh memori di ruangan sana.


Studio foto, penuh dengan bidikan foto dia bersama ayah dan Alex. Foto di mana waktu ayahnya masih sehat, gagah dan tampan. foto alex bersama sang ayah yang bermain piano dan bermain di taman sore hari saat waktu masih berada di rumah elite.


Dan dia menyimpan foto ayah terakhir kalinya di saat ayahnya duduk di kursi roda dengan tersenyum dan di apit dengan ke dua anaknya.


Mengambil satu foto ayahnya yang dia ambil dengan bidikannya sendiri dan duduk di sofa dekat jendela.


Dua tahun aku menyimpan semuanya dengan sendiri, tidak pernah berbagi pada siapa pun kecuali dengan memandang foto ayah. Tapi kali ini pria itu memberi ku sandaran untuk berbagi keluh kesah ku padanya." ucapnya lirih dengan mengusap foto ayahnya.


Kau tau yah.! aku merasa lega saat ini. Bersandar di bahu pria yang sama persis dengan bahu ayah. Bahu ayah yang selalu membuat Dhira terasa nyaman dan menghangatkan." ujarnya lagi dengan memeluk foto ayahnya dan tersenyum saat ia sudah merasa lega saat ini.


.


.


.


🐨🐨🐨

__ADS_1


Terima kasih kalian masih setia sama babang kadal.😊😊


__ADS_2