Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Jago Bela Diri


__ADS_3

"Aku mau Ma sama Naina!" Dean tiba-tiba menarik tangan Naina dan memeluk pinggangnya intens.


Naina membelalakkan matanya mendapati sikap Dean yang tak sopan. Ia langsung memegang erat tangan Dean yang melingkar di pinggangnya. Memelintir tangannya ke belakang seraya ia memutar tubuhnya ke belakang tubuh Dean. Mendorong keras punggung Dean hingga tersungkur di atas meja.


BRUAAAKKK.


"Jaga sikap Anda Tuan!" Ucap Naina tegas.


Dean yang tak siap menerima serangan, ia terkejut dan hanya bisa menahan sakit kala dada bidang dan wajahnya terbentur meja dihadapannya.


"Aaww,,"


"Hebat juga dia." Batin Dean sambil menyeringai kesakitan.


Lita terhenyak melihat pemandangan di depannya. Ia seketika berdiri dan menatap nanar pada putranya. Ia memang tahu jika Naina bisa beladiri. Tapi ia tak menyangka jika Naina akan melakukan hal itu pada putranya. Meski ia tahu, sikap Dean tadi tidak sopan pada Naina.


Seketika para pengunjung kafe menoleh pada sumber suara kegaduhan. Semua terkejut melihat pemandangan yang tak biasa. Terlebih, mereka yang mengenal sosok Dean.


Niko berlari dengan kepanikan tatkala mendengar suara gaduh. Ia sedang di kantor resto memeriksa laporan. Ia terkejut mendapati bosnya sedang dikunci satu lengannya oleh gadis yang selama ini mencuri perhatian bosnya. Ia tak berani menyentuh Naina, karena takut jika sang bos akan memarahinya jika sampai Naina terluka.


Menyadari ulahnya menjadi pusat perhatian, Naina segera melepaskan Dean. Dean pun segera bangkit dan sedikit merapikan pakaiannya. Naina segera meraih tasnya yang tadi ia letakkan di kursi.


"Maaf Ma, Naina permisi!" Naina segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Naina, Naina, Na,," Panggil Lita sedikit berteriak.


Dean menatap punggung Naina yang berjalan menjauhinya. Senyumnya tersungging penuh arti.


Naina tetap berjalan menuju keluar resto. Ia tak mengindahkan panggilan Lita. Ia lantas berjalan ke arah mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari kafenya. Ia memacu mobilnya dengan perasaan kesal.


"Berani-beraninya dia memelukku begitu saja! Dasar laki-laki brengs*k! Kalau tak mengingat dia anaknya Mama Lita, sudah aku habisi tadi." Gerutu Naina kesal.


Naina benar-benar tak suka dengan laki-laki yang dengan mudahnya menyentuh atau bahkan memeluk seorang wanita. Apa lagi, mereka baru saja berkenalan.


Sedang di resto, para pengunjung mulai kembali menikmati hidangan dan suasana resto, setelah Niko mencairkan suasana.


"Dean!" Bentak Lita.


"Jangan disini Ma! Di rumah saja, atau di kantor." Sahut Dean yang paham bentakan mamanya.


Lita pun meraih tasnya lalu melenggang meninggalkan Dean. Dean pun mengikuti langkah mamanya. Lita akhirnya pulang ke rumah bersama Dean.


"Kamu ini! Kenapa langsung memeluk Naina tadi? Hah?" Tanya Lita sedikit kesal tatkala mereka sudah tiba di rumah dan duduk di ruang tamu.


"Maaf Ma! Dean kebawa perasaan tadi." Sahut Dean.


"Kamu udah kenal sama Naina?"


"Belum Ma." Jujur Dean sembari menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Lalu?"


"Dean udah berkali-kali ngajak dia kenalan, tapi dia selalu menolak Ma. Bahkan sikapnya angkuh dan ketus." Adu Dean.


"Benarkah? Jangan-jangan, dia yang kamu maksud 'nggak mau diajak kenalan' waktu itu?"


"Iyaa Maa,,"


"Kenapa nggak minta Niko cari infonya langsung?"


"Entah Ma. Rasanya, Dean ingin dengar darinya langsung. Ternyata, dia sulit diajak kenalan."


"Kamu jatuh cinta padanya?" Selidik Lita.


"Mungkin. Tapi Ma, gimana Mama bisa kenalan sama Naina?" Tanya Dean penasaran seraya menegakkan tubuhnya menghadap mamanya.


Lita mengingat kejadian delapan bulan lalu, ketika ia bertemu dengan Naina.


Flashback On


"COPET!"


Teriak seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari Rhea Resto. Tiba-tiba, tas mewahnya dirampas oleh seorang pria yang ternyata telah mengincarnya sejak tadi. Pria itu berlari bersama seorang teman lainnya menggondol tas mewah itu.

__ADS_1


Beberapa orang berpakaian hitam yang terlihat seperti pengawal pribadi, mengejar pencopet tadi yang telah berlari cukup jauh. Mereka tertahan oleh beberapa pengunjung Zee Cafe yang baru saja keluar.


Zee Cafe, baru saja melaksanakan grand opening pagi ini. Pengunjungnya cukup ramai untuk kafe yang baru saja dibuka. Mereka silih berganti berdatangan untuk menikmati suasana kafe yang baru dibuka itu.


BRUK.


"Sialan! Siapa yang menjegalku?" Umpat salah satu pencopet setelah ia tersungkur ke tanah karena kakinya dijegal oleh seseorang.


Pencopet lain segera menoleh ke sisi kanannya. Ada seorang wanita dengan santainya menatap copet yang terjatuh dan sedang menutup mulutnya.


"Uuppss,, maaf Om!" Ucap wanita itu meringis.


"Sialan kamu!"


Copet yang tak terjatuh langsung membantu temannya berdiri dan hendak berlari. Wanita tadi menjatuhkan tas yang ia bawa begitu saja ke tanah.


"Eehh,, mau kemana Om? Itu tasnya jangan dibawa! Bukan punya Om kan?" Ucap wanita itu seraya memegangi dan menarik kuat kerah baju bagian belakang dua pencopet tadi.


Dua copet itu terhenyak hingga terjungkal ke belakang. Mereka mengerang kesakitan karena pantatnya menghantam lantai area depan sebuah toko. Kejadian itu menjadi tontonan orang-orang yang sedang lewat.


"WANITA SIALAN!" Umpat salah satu pencopet.


Dua pencopet itu bersiap menyerang sang wanita. Dan tiba-tiba sang wanita menyerang mereka lebih dulu.


BUGH.


BUGH.


Wanita itu berhasil mendaratkan kakinya yang sedang memakai sepatu flat putih tepat di wajah kedua pencopet itu bergantian. Mereka kembali terjungkal ke belakang. Wanita itu langsung merebut tas yang digondol dua pencopet tadi.


"Ini, bukan punya Om!" Bentak wanita itu.


Pencopet tadi berhasil bangkit lagi. Mereka bersiap menyerang wanita itu lagi. Tapi, tiga orang laki-laki berpakaian hitam langsung menyergap mereka.


"Terima kasih Nona." Ucap seorang laki-laki yang tidak memegangi pencopet.


"Sama-sama." Jawab Naina seraya menyerahkan tas yang ia rebut dari pencopet.


Wanita itu segera mengambil tasnya yang ia jatuhkan di lantai. Ia lalu kembali melangkahkan kakinya. Tapi tangannya dicekal.


"Iya?"


"Terima kasih banyak Nona."


"Iya sama-sama Nyonya." Sahut wanita itu sedikit canggung.


"Ini, sebagai tanda terima kasih saya." Wanita itu menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah dengan gambar dua tokoh pahlawan.


"Maaf Nyonya, saya ikhlas membantu Anda. Saya tidak bisa menerima ini!"


"Tak apa. Saya mohon terimalah!"


"Saya tidak bisa menerimanya Nyonya. Maaf!"


"Kalau begitu, apakah Anda ada waktu? Saya ingin mentraktir Anda makan siang di restoran sebelah sana." Wanita itu menunjuk ke arah ia tadi di copet.


"Sayaa,,"


"Saya mohon! Sebagai tanda terima kasih saya."


Wanita penolong tadi berfikir sejenak. "Baiklah Nyonya."


"Bagus, mari! Oh iya, siapa namamu Nona?"


"Saya Naina." Naina mengulurkan tangannya untuk menjabat wanita paruh baya itu.


"Saya Jelita. Panggil saja Lita." Ucap Lita ramah. " Dan satu lagi, tolong jangan panggil 'nyonya'!"


"Oh, baiklah Tante Lita."


Dua wanita itu pun berjalan beriringan menuju arah Rhea Resto. Kerumunan karena ada perkelahian kecil pun sudah hilang. Para copet pun sudah diamankan oleh pengawal Lita.


"Alhamdulillah, awal yang bagus." Batin Naina kala melewati Zee Cafe bersama Lita.

__ADS_1


"Dimana restorannya Tante?"


"Itu, Rhea Resto." Lita menunjuk dengan jarinya. "Ini kafe baru ya?"


"Iya Tante, sepertinya baru buka." Sahut Naina.


"Zee Cafe." Lita membaca papan nama yang ada di depan bangunan kafe.


"Bakal jadi saingan restorannya Dean ini." Gumam Lita.


"Maaf Tante?" Tanya Naina penasaran.


"Oh enggak. Ini kafe baru, kayaknya bakal jadi saingan restorannya anak Tante. Rhea Resto itu milik anak Tante."


Naina terhenyak. "Apa? Dia pemilik resto sebelah?"


"Rezeki sudah ada yang mengatur Tante, nggak perlu khawatir." Sahut Naina. Ia berusaha menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik Zee Cafe yang sudah memiliki cabang di beberapa tempat.


"Iya, kamu benar."


Dua wanita itu lantas memasuki Rhea Resto. Mereka lalu menikmati waktunya sembari mengobrol dan saling bercerita. Aahh, wanita. Kalau sudah ketemu sama yang cocok, ngobrolnya pasti seru dan betah.


Flashback Off


"Naina jago bela diri Ma?" Tanya Dean antusias.


"Iya, dia cerita sendiri sama Mama. Udah dari kecil dia belajar bela diri katanya." Jawab Lita.


"Kamu yakin suka sama Naina? Naina udah punya anak lho,,"


"Oh ya? Dia janda?"


"Iya, anaknya perempuan. Mama sih belum pernah ketemu sama anaknya, tapi dia pernah cerita ke Mama. Usianya lima tahun."


"Apalagi Ma?"


"Apanya?"


"Ya, yang Mama tahu soal Naina."


"Tadi katanya mau denger sendiri dari Naina, kenapa sekarang tanya Mama?" Cibir Lita.


"Ayolah Maaa,," Rengek Dean.


Lita terheran-heran melihat tingkah Dean. Anaknya itu tak biasanya bersikap manja seperti itu.


"Eh tapi Ma, tadi kalau nggak salah, Naina panggil Mama dengan sebutan 'mama' kan? Kenapa Ma?"


"Naina itu sifatnya mirip Rhea. Dia ternyata seumuran juga sama Rhea. Jadi, Mama minta dia panggil 'mama' aja."


Air mata Lita mulai menggenang di kelopak matanya. Meski sudah enam tahun yang lalu kepergian putrinya, tapi duka itu masih tersimpan dalam hatinya.


"Besok kamu harus minta maaf sama Naina!" Pinta Lita tegas.


"Iya Ma. Tapi, kemana Dean mau minta maaf Ma? Dean nggak tahu dimana tempat kerjanya atau rumahnya." Jujur Dean.


"Besok ke rumahnya sama Mama."


"Mama tahu rumahnya?" Wajah Dean benar-benar berbinar.


"Mama cuma tahu alamatnya, Mama belum pernah kesana." Jujur Lita.


"Oke Ma. Besok kita ke rumah Naina."


Lita hanya mengangguk. "Coba dari kemarin Mama bilang kalau Mama kenal sama Naina. Pasti Dean udah lega perasaannya."


"Kamu sendiri yang waktu itu nggak jujur sama Mama. Kamu kira Mama nggak tahu, kamu bohongin Mama waktu itu?" Ketus Lita.


"Iya Maa, maaf! Hhihi, Mama the best pokoknya!" Dean memeluk Lita erat-erat.


Lita hanya tersenyum mendapati sikap aneh putranya.


"Tapi Ma, apa Mama setuju kalau Dean sama Naina nanti menjalin hubungan?" Dean melepaskan pelukannya dan menatap serius pada Lita.

__ADS_1


Lita menatap tajam pada Dean.


__ADS_2