
Sore yang tenang. Langit terbentang begitu luas dengan semburat warna putih keabu-abuannya. Birunya sang langit, tertutupi oleh gumpalan-gumpalan awan yang seperti tak ingin berbagi indahnya cahaya senja.
Seperti hati Naina saat ini, yang sedang dilanda resah dan gelisah. Dua hari lagi, Naina akan melepas status lajangnya. Karena dua hari lagi, Naina akan menikah dengan Delvin. Semua hal telah dipersiapkan dengan sangat baik oleh Delvin. Ia benar-benar mempersiapkan semuanya.
Naina menatap langit sore di taman belakang rumahnya. Ia mengingat beberapa kenangannya bersama sosok laki-laki yang ia rindukan beberapa waktu terakhir.
"Apa kabarmu De? Apa kau masih ingat padaku? Aku rindu padamu Dean Pratama."
Naina teringat pertemuan pertamanya dengan Dean saat di kafe. Betapa ia sangat ketus pada Dean saat itu. Dan kini, ia malah tak bisa lepas dari bayangannya. Meski ia sudah berusaha menghilangkannya sekuat yang ia mampu.
Lalu, bagaimana kabar Dean sekarang?
"Mama dan Papa akan ke Indonesia beberapa hari!" Ucap Jelita saat ia menyambangi kantor sang putra untuk makan siang bersama.
"Iya Ma." Jawab Dean singkat.
Dean sudah mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya di perusahaan. Ia berusaha menutupi gejolak hatinya yang belum mereda karena harus berpisah dengan wanita yang berhasil merebut hatinya.
Dean pun tak begitu memikirkan lagi, apa yang akan mamanya lakukan. Ia masih cukup kecewa dengan sikap mamanya, yang langsung menolak Naina tanpa memikirkan perasaannya. Bukan berarti Dean tidak menyayangi mamanya lagi, hanya saja, ia belum bisa menerima sikap mamanya beberapa waktu yang lalu.
"Kamu tak ingin tahu, apa tujuan Mama dan Papa ke Indonesia beberapa hari?" Cibir Jelita.
"Mama dan Papa pasti ada urusan di sana bukan?" Jawab Dean sekenanya sambil sibuk menatap beberapa kertas yang ada di meja kerjanya.
"Delvin akan menikah dengan Naina lusa." Ucap Jelita tanpa ragu.
Dean sedikit terpaku. Ia sejenak menghentikan aktivitasnya. Tapi, ia segera kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tak bisa ia pungkiri, nama Naina masih menjadi penghuni tunggal sudut hati terdalamnya. Dean tak mengira, Naina benar-benar menikah dengan Delvin dan dalam waktu yang cukup cepat.
Jelita dan Jonathan menyadari perubahan sikap Dean, meski hanya sejenak. Mereka tahu, putranya itu belum bisa melepaskan Naina sepenuhnya. Meski mereka telah terpisah oleh jarak bermil-mil jauhnya. Dan juga, ada sebuah penghalang besar diantara perasaan keduanya.
Dean tak bisa mendapatkan kembali fokusnya karena mendengar nama Naina tadi. Ia segera berdiri dari kursinya dan meraih jas dan kunci mobilnya.
"Maaf Ma, Pa! Dean tidak jadi makan siang bersama Mama dan Papa. Dean harus pergi bertemu seseorang." Ucap Dean setelah berdiri di depan kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa.
"Kok mendadak?" Tanya Jelita polos.
Jelita tahu, Dean sedang berusaha menutupi perasaannya yang sedang tak bisa ia ekspresikan. Ia tahu, sang putra pasti sedih mendengar kabar yang tadi ia katakan.
Jelita yakin, Dean sekarang sedang ingin menetralkan perasaannya sendiri. Mengatur gejolak hatinya yang mungkin terasa begitu menyakitkan baginya.
"Dean harus pergi sekarang Ma! Assalamu'alaikum."
Dean pergi berlalu begitu saja. Ia segera keluar dari ruangannya sendiri tanpa menjawab pertanyaan ibunya. Dean bahkan tak menghiraukan sapaan dari para karyawan yang bertemu dengannya.
"Mama kenapa bilang sama Dean tentang Naina?" Bentak Jonathan setelah Dean keluar dari ruangannya.
"Mama ingin dia bisa melupakan Naina sepenuhnya Pa. Mama ingin dia tahu, bahwa Naina tak bisa menjadi miliknya." Jelas Jelita.
"Tapi haruskah dengan cara seperti ini Ma? Mama nggak kasihan sama anak Mama sendiri?"
"Lalu Mama harus gimana lagi Pa? Mama hanya ingin putra kita hidup kembali. Bukan seperti sekarang. Dean sekarang lebih mirip robot dari pada manusia Pa."
"Dia butuh waktu Ma."
"Sampai kapan Pa? Papa nggak lupa kan bagaimana Dean dulu berubah karena mantan kekasihnya? Mama nggak ingin itu terjadi lagi Pa."
__ADS_1
"Dean nggak mungkin seperti dulu. Papa yakin itu. Dia hanya butuh lebih banyak waktu Ma. Jangan paksa dia!"
Ya, Dean bagaikan robot sekarang. Ia akan bangun pagi, lalu berolagraga sejenak. Setelah itu, makan pagi bersama kedua orang tuanya, lalu berangkat ke kantor untuk bekerja. Sepulang dari kantor, ia pun langsung mengurung diri di kamarnya. Ia hanya keluar kamar untuk makan atau sekedar menemui asisten pribadi barunya yang datang mencarinya untuk membahas sesuatu.
Tak ada lagi obrolan. Tak ada lagi canda tawa. Tak ada lagi sapaan ramah dan manja dari Dean untuk kedua orang tuanya.
Bahkan, Dean sering mengabaikan sapaan para karyawan di kantornya yang sengaja menyapanya ramah jika berpapasan dengannya. Lesung pipi itu jarang sekali terlihat di pipi sang mantan cassanova.
Padahal, Dean dulu amatlah ramah pada banyak orang. Ia bisa dengan mudahnya membalas sapaan para karyawan di kantornya. Dan karena keramahan dan senyum tampan yang dilengkapi dengan dua lesung pipi itulah, yang membuat banyak wanita rela melakukan apapun demi bisa dekat dengannya.
Tapi kini, semua telah berubah. Semua karena sang hati. Sang hati yang menyimpan berbagai macam rasa dan asa dalam kehidupan setiap raga. Sang hati, yang kini telah terluka terlalu dalam.
Dean pergi keluar kantor dengan mobilnya. Ia hanya mengabari asistennya melalui telepon bahwa ia akan keluar kantor dan meminta sang asisten untuk membatalkan semua janji temu yang hari ini akan ia lakukan.
Dean menyusuri jalanan Kota Munich dengan perasaan yang tak tentu. Kabar yang diberikan mamanya sungguh berhasil membawa awan hitam di hatinya. Membuat hatinya ditutupi dengan pekatnya awan kepedihan yang makin mendalam.
Dean melajukan mobilnya menuju danau di sebelah selatan Kota Munich, Danau Walchensee. Danau dengan airnya yang berwarma biru-torquise ini, merupakan danau alpen terbesar di Jerman.
Dean berjalan sendirian di tepi danau. Menatap kosong ke segala arah. Dan tak menghiraukan para pengunjung lain yang berlalu lalang di dekatnya. Bahkan, ia yang biasanya teliti dan bisa merasakan jika diikuti, tidak menyadari jika sang asisten sudah membuntutinya sejak keluar kantor.
Asisten pribadi baru Dean, Leon, diminta oleh Jonathan untuk mengikuti kemanapun Dean pergi selama ia tidak ada di Jerman. Leon pun segera mengikuti Dean pergi keluar kantor setelah menerima tugas itu.
"Benarkah itu Na? Kamu akan menikah dengan Delvin secepat itu? Kenapa kamu kejam padaku Na?"
Batin Dean menjerit tertahan. Ingin rasanya ia berteriak sekencangnya untuk meluapkan segala rasa di dalam hatinya. Ingin rasanya ia pergi ke Indonesia untuk menemui Naina dan bertanya langsung padanya. Atau bahkan, membawa Naina pergi ke belahan bumi yang lainnya, dan mengorbankan segala yang ia miliki sekarang demi bisa hidup bersama Naina dan Rissa.
"Rissa! I miss you My Princess."
Tanpa Dean sadari, butiran bening itu berhasil lepas dari kelopak matanya dan meluncur membasahi pipinya. Hatinya kini terasa begitu pedih.
"Apakah aku harus melepaskan kalian sekarang?"
Dean menarik nafas panjangnya, lalu menghelanya perlahan sambil terus menatap dan mengusap foto Naina dan Rissa yang ada di ponselnya.
Lama Dean duduk sendirian di sana. Hanya duduk diam. Sesekali ia melihat birunya air danau dan lalu lalang para pengunjung lain. Hingga Leon menghampirinya dan memintanya untuk kembali ke kediaman karena hari mulai senja. Dean pun akhirnya menuruti permintaan Leon.
...****************...
Pagi yang basah. Ibukota sedang dilimpahi kebaikan oleh Sang Kuasa dengan hujan yang membawa kebaikan bagi semuanya. Rintik hujan sudah membasahi tanah ibukota sejak semalam secara bergantian di beberapa wilayah.
Dan kini, di salah satu ballroom hotel ternama di ibukota, tengah digelar beberapa persiapan untuk sebuah perhelatan sakral. Dimana Delvin dan Naina akan melangsungkan pernikahan mereka pagi ini.
Dan ternyata, Delvin sedikit melanggar janjinya. Ia mengundang beberapa reporter atau pencari berita dari dua stasiun tv swasta dan beberapa vlogger untuk meliput acara pernikahannya hari ini. Dan Naina tidak tahu itu.
Di ruang rias pengantin wanita, Naina sedang ditemani oleh Lea dan Hera.
"Kamu yakin Na ngelakuin ini?" Tanya Lea meyakinkan hati Naina.
"Naina harus gimana lagi Mbak? Pihak rumah sakit belum memberi kabar sampai kemarin." Jawab Naina pasrah.
"Kamu nggak mau nunda dulu gitu?" Tanya Hera mencoba memberi solusi.
"Aku harus kasih alasan apa sama Delvin supaya ia tak curiga?" Jawab Naina makin pasrah.
"Iya juga. Dia kan cukup licik. Pasti dia bisa tahu kalau ada maksud lain dari alasanmu yang mungkin kurang masuk akal." Timpal Hera.
"Ibu sama Rissa kenapa belum dateng sih?" Gumam Naina cemas.
__ADS_1
"Sabar Na! Rissa bilang kan ada yang ketinggalan." Ucap Lea mencoba menenangkan Naina.
Naina akhirnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia pun mengobrol kembali bersama Lea dan Hera sembari menunggu pihak WO memanggilnya.
Sedang di ruang rias pengantin laki-laki, Delvin sedang tersenyum bahagia di depan cermin ditemani sang mama.
"Kita semakin dekat dengan tujuan kita Ma." Ucap Delvin bangga.
"Iya Vin. Sebentar lagi, kita bisa membuat Papamu tersenyum bahagia di atas sana." Sahut Jenita sedikit haru.
"Iya Ma. Sebentar lagi." Imbuh Delvin.
Jenita dan Delvin pun saling mengobrol banyak hal sambil menunggu pihak WO memulai acara.
Hingga, kedua mempelai dipanggil oleh pihak WO untuk hadir ke ballroom karena acara akan dimulai.
Naina pun terkejut saat memasuki ballroom bersama Lea dan Hera. Ia mulai disorot kamera yang tak pernah ia harapkan. Hatinya mulai kesal pada Delvin yang telah ingkar janji. Tapi, ia tak mungkin membuat kegaduhan saat ini. Jadi, ia memilih diam dan berjalan menuju meja pengantin ditemani oleh Lea dan Hera.
Naina dan Delvin lantas dipersilahkan duduk berdampingan berhadapan dengan penghulu di sebuah meja sederhana yang telah dihiasi beberapa bunga dan pernak-pernik nan cantik.
"Dimana Rissa?" Tanya Delvin setelah tak melihat malaikat kecil Naina.
"Dia belum tiba. Ada yang tertinggal di rumah tadi. Jadi dia mengambilnya bersama Ibu." Jujur Naina.
"Oow, begitu." Jawab Delvin singkat.
"Bisa kita mulai sekarang?" Tanya penghulu.
"Maaf Pak, bisa kita menunggu ibu dan putri saya sebentar? Mereka akan segera tiba." Jawab Naina berusaha menunda demi dua orang tersayangnya.
"Baiklah. Kita tunggu mereka dulu." Jawab penghulu ramah.
"Terima kasih Pak." Sahut Naina ramah.
Naina segera menoleh pada Delvin.
"Kamu ingkar janji." Ucap Naina singkat dan sedikit berbisik di dekat telinga Delvin.
Delvin pun menoleh pada Naina.
"Aku bisa jelaskan Na!" Ucap Delvin mencoba membela diri.
"Aku tak butuh penjelasanmu!" Ketus Naina seraya membuang muka dari Delvin.
Delvin akhirnya tak menanggapi kekesalan Naina. Ia hanya ingin fokus pada pernikahannya hari ini.
Sepuluh menit berlalu. Naina mulai gelisah karena Sekar dan Rissa tak kunjung tiba. Ia tak enak hati jika harus membuat sang penghulu dan para tamu menunggu lama. Hingga,,
"Mommy!"
Teriakan itu menggema di telinga para hadirin. Seorang gadis kecil dengan balutan dress berwarna putih selutut, berlari menuju meja pengantin.
Naina pun tersenyum lega melihat putrinya telah tiba. Sedikit jauh dibelakangnya, Sekar berusaha berlari mengejar gadis kecil itu yang berlari begitu kencang demi menghampiri ibunya.
Delvin dan penghulu yang menyadari kehadiran Rissa dan Sekar, mulai bersiap memulai acara.
"Mari kita mulai acara ijab qobulnya!" Ucap penghulu yakin.
__ADS_1