Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Pesta Pernikahan Part 1


__ADS_3

"Delvin?" Ucap Naina terkejut kala melihat tamunya.


Tiga orang itu masih sibuk dengan keterkejutannya masing-masing. Mereka saling terkejut dengan sosok yang tak mereka kira satu sama lain.


Delvin sangat terkejut, melihat Dean membukakan pintu rumah Naina. Dean pun terkejut karena melihat tamu Naina yang tak lain adalah orang yang tak ia harapkan kehadirannya.


Lalu Naina? Ia terkejut karena Delvin datang di saat ada Dean di rumahnya. Ia merasa tak enak hati dengan Dean. Bagaimana tidak? Ada laki-laki lain yang datang ke rumahnya, padahal sang laki-laki penakluk hatinya sedang berada di rumahnya. Meski, ia juga tak mengundang tamu itu datang.


"Ada apa Del kemari?" Tanya Naina setelah bisa menguasai keterkejutannya.


"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat hari ini. Apa kamu ada waktu?" Jujur Delvin.


Iya, Delvin ingin mengajak Naina ke rumahnya hari ini. Ia ingin memperkenalkan Naina pada mamanya, Jenita. Mereka akan memulai rencana yang sudah mereka susun dengan baik selama beberapa minggu ini.


"Maaf Del, aku ada acara hari ini. Jawab Naina jujur.


Delvin mengerutkan dahinya. Wajahnya berubah sedikit kesal.


"Apa dengan dia?" Tanya Delvin sambil melirik ke arah Dean.


"Iya. Naina akan pergi denganku. Apa ada masalah?" Ucap Dean sedikit sombong.


Naina yang menyadari suasana mulai sedikit tegang, berusaha untuk menengahi.


"Aku akan pergi ke pernikahan teman dekatku. Kebetulan, dia menikah dengan Niko, asisten pribadi Dean. Jadi kami pergi bersama hari ini." Jujur Naina.


"Oh, baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu Na!" Ucap Delvin seramah mungkin.


Hati Delvin sebenarnya sangat kesal. Ia ternyata kalah cepat dengan Dean hari ini. Ingin rasanya, ia mendaratkan kepalan tangannya di wajah Dean yang nampak sombong karena akan pergi dengan Naina hari ini.


Delvin juga kesal kenapa teman Naina harus menikah dengan asisten Dean. Dean jadi bisa mengambil banyak keuntungan dari itu. Tapi, ia menahan kekesalannya itu di hadapan Naina.


"Baiklah." Sahut Naina singkat.


Tanpa berkata apapun atau bahkan sekedar mengucap salam, Delvin segera memutar tubuhnya untuk meninggalkan rumah Naina. Ia langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya segera menjauh dari rumah Naina untuk melampiaskan kekesalannya.


"Kamu tidak mengatakan padanya bahwa akan pergi denganku hari ini?" Tanya Dean setelah mobil Delvin meninggalkan rumah Naina.


"Untuk apa aku bilang padanya?" Ketus Naina karena ditanya tentang hal pribadi dengan Delvin. Yang sungguh, tak ia harapkan datang saat ini.


Dean menyunggingkan senyumnya. Hatinya berbunga-bunga karena jawaban ketus Naina. Ia semakin yakin, Naina tak memiliki perasaan apapun pada Delvin.


Naina segera kembali ke meja makan. Mereka pun kembali menikmati sarapan setelah menjawab pertanyaan Rissa yang menanyakan siapa tamunya tadi. Rissa pun hanya menanggapinya dengan ber-oh ria. Tak ada respon yang berarti.


Hati Dean makin bahagia. Ternyata, gadis kecil Naina pun juga tak begitu merespon baik pada Delvin.


"Semesta mendukungku." Batin Dean bahagia.


Tanpa Dean sadari, bibirnya mengulas senyum yang cukup lebar di wajah tampannya. Dan tak sengaja, itu terlihat oleh Naina. Naina melihat Dean dengan tatapan aneh.


"Kamu kesambet De?" Tanya Naina tanpa ragu. Rissa dan Atun pun menoleh pada Dean.


"Enggak. Kenapa?" Jawab Dean santai.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"


"Ah, benar kah? Mungkin karena hatiku sedang sangat bahagia hari ini, jadi tanpa terasa bibirku tersenyum dengan sendirinya." Kilah Dean.


"Emang bisa ya Om kayak gitu?" Tanya Rissa penasaran.


"Bisa dong Sayang!" Jawab Dean membela diri.


Naina merasa aneh dengan jawaban Dean. Ia bahkan tak pernah tahu ada hal seperti itu. Tapi ia memilih diam, tak menanggapi obrolan Dean dan putrinya.


Setelah selesai makan, semua bersiap untuk berangkat ke rumah Sinta. Sinta mengadakan acara pernikahannya di aula serba guna yang ada di kampung halamannya. Cukup luas untuk digunakan sebuah acara pesta pernikahan.


Dean dan seisi penghuni rumah Naina, berangkat dengan mobil milik Dean. Mereka berkendara lebih dari dua jam. Jalanan cukup padat pagi ini, meski ini akhir pekan.

__ADS_1


Banyak hal yang mereka obrolkan saat di mobil. Itu hanya antara Dean, Rissa dan Atun. Naina? Ia lebih banyak diam untuk menutupi kegugupan hatinya yang tengah duduk di samping Dean yang sibuk mengemudi.


Tak bisa Naina hindari. Gemuruh hatinya yang bergejolak tak menentu karena kehadiran Dean di sampingnya. Rasa yang berusaha keras ia bunuh, ternyata malah tumbuh dengan baik meski perlahan. Ia hanya bisa, berusaha menutupinya dari 'dia', yang telah mengisi hari-harinya dengan kekesalan dan keromantisan yang tak pernah ia harapkan.


Saat memasuki kampung halaman Sinta, beberapa pemuda sudah bersiaga di jalan masuk menuju tempat acara. Dean pun mengikuti petunjuk arah yang sudah dipasang di tepi jalan untuk sampai ke tempat acara. Maklum, acaranya di kampung. Dan tamu Sinta dan Niko cukup banyak yang berasal dari Jakarta. Termasuk para karyawan Naina. dan Dean.


Ya, keluarga Niko sekaligus menggelar acara mereka di tempat Sinta. Mereka ikut andil dalam melaksanakan pesta hari ini.


Saat sampai, acara ijab qobul Sinta dan Niko sudah selesai. Dan kini, sedang dilangsungkan acara pestanya. Para asisten pribadi itu, kini sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Naina segera turun dari mobil, diikuti oleh Rissa dan Atun, saat Dean selesai memarkirkan mobilnya. Naina sedikit merapikan gaun dan rambutnya. Ia pun merapikan penampilan putri kecilnya yang sedang mengenakan gaun berwarna putih selutut yang berwarna senada dengan sepatu flatnya.


Mereka pun berjalan menuju aula. Kedatangan Naina dan Dean, berhasil menarik perhatian ratusan pasang mata yang ada di sana. Mereka yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing, langsung menoleh pada Dean dan Naina yang berjalan beriringan memasuki aula.


Tak lupa, gadis kecil nan cantik yang kini tengah gembira bukan main, karena sedang di gendong oleh Dean. Dean yang menyadari tatapan para hadirin, ia berhenti sejenak. Lalu segera meraih tangan Naina.


"Apaan sih De?" Tanya Naina kesal demi menutupi keterkejutan dan kegugupannya, saat jari jemari Dean meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat namun penuh kelembutan.


"Kamu ingin ribut di sini?" Sindir Dean dengan berbisik di telinga Naina.


Naina menatap tajam pada Dean. Hatinya menjerit. Ia bingung harus bagaimana menanggapi perlakuan Dean.


Ingin rasanya ia marah, karena Dean tiba-tiba menggandengnya di depan umum. Apalagi, ada para karyawannya di sana. Tapi, ia juga bahagia, kala tangan itu dengan lembut menggenggamnya dan membuatnya merasa aman dan nyaman.


"Mommy kenapa?" Celetuk Rissa saat ia melihat ekspresi Naina yang kesal.


Naina segera menoleh pada putrinya. Ia pun berpikir keras, bagaimana ia bisa lepas dari situasi ini. Tapi, ternyata hatinya tak bisa ditolak.


Tanpa ia sadari, tangannya membalas genggaman tangan Dean dengan lembut. Dan Dean merasakan itu. Ia pun tersenyum begitu hangat.


Daaaannn,,


"Ya ampun! Ganteng banget itu!"


"Ya Allah! Aku mau dong sama yang ganteng itu!"


"Itu yang perempuan cantik banget ya!"


"Itu bidadari dari kayangan ya?"


"Itukan Clarissa yang main film sama Delvin kan?"


"*Eh, i*tu istrinya Babang ganteng ya? Mau dong jadi istri keduanya! Aku rela kok jadi yang kedua!"


"Ih, cocok banget ya mereka! Anaknya juga cantik banget!"


Dan masih banyak lagi suara-suara yang entah apa namanya. Mereka semua berdecak kagum melihat Dean, Naina dan Rissa datang bersamaan. Bagaikan sebuah keluarga kecil nan bahagia. Banyak yang iri saat melihat mereka.


Dean akhirnya melangkahkan kakinya kembali sembari masih menggenggam tangan Naina. Ia seolah ingin menunjukkan, bahwa Naina adalah miliknya. Padahal, ia masih berusaha mendapatkannya.


Dean dan Naina menghentikan langkahnya, saat mereka dihampiri oleh kedua orang tua mempelai. Mereka menyapa atasan masing-masing anak mereka dengan ramah.


"Wah Bu Naina, segera menyusul Sinta nih kayaknya!" Goda ibunya Sinta.


"Menyusul kemana Bu'?" Sahut Naina berlagak polos.


"Ke pelaminan dong!"


"Iya, nanti saya ke sana kok Bu'." Naina berusaha mengalihkan pembicaraan dengan sedikit candaan.


"Oh, mau sekalian di sini? Pak penghulunya belum pulang kok Bu'."


"Eh! Ibu ada-ada saja." Sahut Naina sambil tersenyum kaku.


"Sekarang juga boleh kok Bu'." Sela Dean tiba-tiba.


Naina segera menoleh pada Dean yang masih setia menggendong Rissa.

__ADS_1


"Apaan sih De?" Ketus Naina dengan wajah yang mulai terasa panas dan jantung yang berdebar makin tak terkendali.


"Jangan dengerin dia Bu'!" Imbuh Naina.


Dean hanya tersenyum melihat tingkah Naina. Ia pun menyempatkan menyapa orang tua Sinta yang tadi menyapa Naina. Begitupun Naina. Ia juga menyapa orang tua Niko.


"Jadi ini calon istrinya Tuan Dean? Atasannya Sinta ya? Cantik ya Pak?" Ucap ibunya Niko setelah bersalaman dengan Naina.


"Eh? Iya saya atasannya Sinta. Tapi bukan calon istrinya Dean Bu'. Ibu dan Bapak salah paham." Kilah Naina malu-malu, tapi mau dalam hatinya.


"Iya juga nggak papa kok Bu'. Cocok sama Tuan Dean." Imbuh ibunya Niko bahagia.


"Ya Allah! Kenapa jadi gini ya situasinya?" Batin Naina bingung.


"Kami ke panggung pelaminan dulu ya Pak, Bu'!" Ucap Dean.


"Iya Pak, silahkan!" Jawab orang tua Sinta.


"Iya Tuan, silahkan!" Jawab orang tua Niko.


"Cepat nyusul ya Pak, Bu'!" Imbuh ibunya Sinta.


"Do'akan saja Bu'." Jawab Dean bahagia sambil meraih kembali tangan Naina.


"Tentu Pak!" Sahut ibunya Sinta sambil mengacungkan dua ibu jari tangannya.


Naina menatap aneh pada ibunya Sinta yang tiba-tiba mengerlingkan sebelah matanya padanya. Naina benar-benar kehabisan kata-kata untuk menjawab ulah jahil dua pasang besan itu. Ia akhirnya memilih diam dan mengikuti langkah Dean yang kembali menarik tangannya menuju panggung pelaminan. Dimana Niko dan Sinta sedang tersenyum bahagia.


"Tuan! Nona! Terima kasih sudah berkenan hadir." Sapa Niko sopan.


"Bu Naina! Pak Dean!" Sapa Sinta ramah.


"Selamat ya Sin! Maaf telat! Jalanan macet tadi." Ucap Naina seraya memeluk hangat sang mempelai wanita.


"Nggak papa Bu'. Ibu datang ke sini dengan Rissa, saya sudah sangat senang. Terima kasih." Jujur Sinta.


"Tentu aku datang Sin! Mana mungkin aku tak datang di hari bahagiamu?" Jawab Naina penuh perhatian.


"Terima kasih Bu'." Ucap Sinta lagi.


Naina hanya mengangguk. Rissa pun ikut memeluk sang mempelai wanita yang nampak sangat cantik dengam balutan kebaya berwarna putih. Ia tampak sangat berbeda dari hari-hari biasanya.


Dean pun tak segan memeluk Niko dan mengucapkan selamat pada asisten kesayangannya itu, setelah Rissa turun dari gendongannya.


"Selamat ya Nik!" Ucap Dean tulus.


"Terima kasih Tuan." Sahut Niko sopan.


"Oh iya, ini ada titipan dari Papa. Papa dan Mama minta maaf karena tak bisa hadir. Papa sedang tak enak badan beberapa hari." Jujur Dean seraya mengambil titipan Jonathan yang ia bawa di saku jasnya.


"Terima kasih Tuan. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku untuk Tuan dan Nyonya Besar." Jawab Niko sungkan sambil menerima kotak yang Dean berikan.


"Tentu. Dan ini, dariku!" Ucap Dean sambil kembali mengambil kotak kecil lain yang ia bawa di saku celananya.


"Kenapa repot-repot Tuan? Banyak sekali hadiahnya?" Jawab Niko sungkan.


"Ini tak seberapa. Dibanding semua kinerjamu yang luar biasa selama ini." Jawab Dean tulus.


"Terima kasih Tuan."


Dean hanya mengangguk. Naina pun tak mau kalah. Ia juga memberikan hadiah yang sudah ia siapkan untuk sang asisten. Sinta pun menerimanya dengan sangat sungkan. Karena sesungguhnya, Naina membiayai separuh biaya acara pesta pernikahan Sinta dan Niko.


Awalnya keluarga Sinta sudah menolaknya. Tapi Naina berhasil mendapatkan informasi tentang biaya sewa gedung dan katering yang Sinta butuhkan untuk acaranya tanpa sepengetahuan Sinta. Ia pun segera melunasi semua biayanya.


Tapi, Sinta segera mengembalikan separuh uang Naina kembali setelaj mengetahuinya. Naina awalnya menolak, tapi setelah kedua orang tua Sinta yang meminta, ia akhirnya menerimanya.


Naina tak pernah ragu untuk membantu apapun yang Sinta butuhkan. Sinta dan Atun sudah seperti saudara baginya di ibukota. Jadi, ia tak segan mengeluarkan uang berapapun untuk dua orang yang selalu ada untuknya itu.

__ADS_1


__ADS_2