Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Kecelakaan


__ADS_3

"Good evening Mrs. Naindini."


Sebuah suara yang Naina kenali menggema indah di indra pendengarannya. Apalagi, tempatnya kini berada tidaklah begitu riuh dengan suasana pesta.


Tubuh Naina membeku seketika. Tenggorokannya tercekat. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, hingga membuat darahnya mengalir lebih deras. Membuat hatinya pun berdesir tak bisa dijelaskan.


Naina perlahan memutar tubuhnya. Ia masih ingat betul, suara itu. Dan pastinya, nama itu, yang hanya diketahui olehnya, Sekar dan Wiliam. Dan tentunya, laki-laki itu. Karena Naina pernah menceritakan tentang hal itu pada Sekar dan Wiliam beberapa waktu yang lalu.


Naina memutar tubuhnya perlahan.


"Good evening Mrs. Nandini. Ataukah aku harus memanggilmu Nona Naina Andini?" Ucap laki-laki itu lagi setelah Naina memutar tubuhnya dan menyadari kehadirannya.


Mata Naina membola sempurna. Ia sangat mengenali sosok yang tadi menyapanya dengan begitu lembut. Laki-laki itu bahkan kini tersenyum hangat pada Naina.


Tubuh Naina sedikit oleng karena melihat sosok laki-laki di dihadapannya. Ia hampir terjatuh jika tidak refleks berpegangan pada teralis yang ada di dekatnya.


"Kamu tak apa Na?" Tanya laki-laki itu cemas dan berniat menolong Naina.


"Stop right there!" Tolak Naina cepat.


Laki-laki itu tergelak mendengar penolakan Naina.


"Bagaimana kamu tahu nama itu? Darimana kamu mengetahuinya?" Tanya Naina cepat setelah menstabilkan posisinya.


"Don't you remember me? It's me, Mr. D." Jawab laki-laki itu sambil mengambil langkah mendekati Naina.


"Jangan mendekat!" Cegah Naina sambil meluruskan tangannya ke depan.


Laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya.


"Bagaimana kamu tahu nama itu?" Ucap Naina sedikit keras.


"Karena aku orang yang kamu cari selama ini Na. Maafkan aku terlambat menyadarinya! Aku bisa menjelaskan semuanya." Jawab laki-laki itu mencoba menjelaskan pada Naina.


"Tidak. Tidak mungkin itu kamu! Saat pertemuan kita di kafe, kamu tak mengenaliku saat aku mengenakan kacamata lamaku. Kamu bahkan juga tak mengenaliku saat melihat foto lamaku yang aku pajang di atas meja kamar. Jadi itu pasti bukan kamu!" Jelas Naina yakin.


"Maafkan aku untuk hal itu Na! Aku bisa menjelaskan semuanya padamu." Sanggah laki-laki itu lagi.


"Tidak. Kamu memiliki ingatan yang sangat bagus bukan? Bahkan, Mama pernah berkat padaku, jika kamu bisa mengingat dengan jelas, siapa saja wanita yang pernah kamu bayar untuk memuaskan hasratmu di masa lalu." Imbuh Naina yang semakin tak bisa menerima kenyataan itu.


"Maafkan aku Na! Biarkan aku menjelaskan semuanya padamu. Beri aku waktu!" Pinta laki-laki itu sedikit memohon.


"Bukan! Itu bukan kamu." Ucap Naina sambil menggelengkan kepalanya untuk menyanggah ucapan laki-laki itu.


Laki-laki itu berusaha mendekat pada Naina. Sungguh, ia ingin merengkuh tubuh Naina dan memeluknya erat untuk menenangkan Naina.


"Jangan mendekat! Bukan, itu bukan kamu!" Ucap Naina yang berusaha meyakinkan hatinya yang bimbang.


Naina tak bisa berpikir jernih. Kenyataan di depan matanya, membuatnya kalut saat ini. Ia berlari begitu saja memasuki ruang acara dan meninggalkan laki-laki itu tanpa permisi.


"Naina! Tunggu Na!" Panggil laki-laki itu berusaha mencegah Naina agar tak pergi.


Naina tetap berlari di antara kerumunan para tamu undangan. Ia tak menghiraukan beberapa pasang mata yang menatapnya penuh tanda tanya karena ulahnya yang berlari ketakutan di tengah pesta.


"Naina mana De?" Sapa Jelita pada laki-laki itu yang masih berusaha mengejar Naina.


"Pergi Ma. Dia syok mengetahui bahwa Dean adalah orang yang ia cari selama ini Ma." Jelas laki-laki itu yang tak lain adalah Dean Pratama.


"Kamu pasti mengejutkannya bukan?" Terka Jelita.


Dean hanya tersenyum kecil untuk mengakui ulahnya.


"Cepat kejar Naina! Ia sendirian datang ke sini." Pinta Jelita cepat.


"Iya Ma." Jawab Dean yakin.


Dean segera melangkahkan kakinya. Ia berlari mengejar Naina menuju tempat parkir mobilnya. Dean pun segera mengambil mobilnya karena melihat Naina keluar dengan mobilnya.


"Tidak! Aku pasti salah dengar tadi. Itu tak mungkin dia." Gumam Naina sambil menyetir.


"Bukan! Itu tak boleh dia." Imbuh Naina sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

__ADS_1


Hati Naina benar-benar terkejut mendengar ucapan Dean tadi. Ia sungguh tak mengira, dugaan yang telah ia kubur selama dua tahun ini, malah menjadi sebuah kenyataan.


Hati Naina sungguh tak rela jika orang yang merenggut keperawanan dan membayarnya hampir sembilan tahun yang lalu adalah Dean. Dia benar-benar tak rela jika itu kenyataannya.


Karena ia tak akan bisa mengatakan kenyataan itu pada Rissa. Ia tak akan bisa menyatukan sepasang ayah dan anak itu. Karena ia masih ingat betul bagaimana penolakan Jelita dua tahun lalu. Hingga membuatnya harus berpisah dengan Dean dengan sangat cepat.


"Itu terlalu menyakitkan, sangat menyakitkan." Ratap Naina dengan ditemani beberapa bulir airmata yang telah membasahi pipinya.


"Aku bisa berpisah dengannya dan menerima jika ia bukan ayah Rissa. Tapi jika ia adalah ayah Rissa, aku harus bagaimana?"


Selama dua tahun ini, Naina benar-benar berusaha melepaskan Dean seutuhnya, meski belum berhasil hingga kini. Nama Dean masih tetap menjadi pemilik singgasana hati Naina.


Begitu pun dengan Rissa. Gadis kecil itu, berusaha keras menepati janjinya pada Naina, untuk tidak menanyakan lagi siapa ayah kandungnya. Meski dalam hatinya, ia sangat ingin tahu siapa sosok ayah kandungnya itu. Yang ia juga tahu, bahwa ibunya pun tidak mengetahuinya juga.


BRAAKK.


Naina yang tidak fokus mengemudi, tidak memperhatikan lampu lalu lintas yang mulai berubah warna menjadi merah. Dan ternyata dari sisi kanannya, ada sebuah mobil yang juga menerobos lampu lalu lintas yang menyala merah. Hingga tabrakan pun tak bisa dihindari.


Mobil bagian depan Naina, dihantam keras oleh mobil yang datang dari sisi kanannya. Hingga membuat mobil Naina berputar dan berhenti saat menabrak tiang lampu lalu lintas. Mobil Naina terpental cukup jauh dari tempat semula.


"Naina!"


Dean berlari keluar dari mobilnya begitu saja saat melihat mobil Naina menabrak tiang lampu lalu lintas dengan cukup keras. Bahkan, mobilnya sudah langsung mengalami kerusakan fisik cukup parah.


Beberapa orang langsung mengerumuni mobil Naina. Beberapa lagi, mencoba menghentikan pengemudi mobil yang menabrak mobil Naina yang hendak melarikan diri.


Beruntung ada beberapa petugas polisi yang berjaga di pos polisi yang ada di salah satu sudut perempatan. Mereka pun segera membantu.


Posisi tubuh Naina sedikit terjepit oleh body mobilnya yang rusak. Ia sudah tidak sadarkan diri sesaat setelah mobilnya menabrak tiang.


Sistem keselamatan mobil Naina tidak bekerja dengan baik. Airbag mobilnya tidak mengembang sempurna. Membuat tubuh Naina terjepit pintu dan kemudi, hingga sulit untuk dievakuasi.


"Astaghfirullah Na!"


Dean menatap nanar Naina yang mengalami luka pada beberapa bagian tubuh dan kepalanya. Wajah bagian kanannya bahkan sudah basah karena darah yang mengalir dari bagian keningnya.


Dean dan beberapa orang lain segera membantu evakuasi Naina agar bisa segera keluar dari mobilnya. Salah satu anggota polisi pun sudah memanggil ambulan dari rumah sakit terdekat.


Para petugas polisi segera mengamankan lokasi dan mengatur lalu lintas yang sempat macet karena kecelakaan. Pengemudi mobil yang menabrak mobil Naina pun dimintai keterangannya.


"Bertahanlah Na!" Ucap Dean cemas saat menemani Naina di dalam mobil ambulan.


Tak butuh waktu lama bagi ambulan untuk kembali ke rumah sakit. Naina pun segera mendapatkan pertolongan dari para pihak medis setelah ia masuk ke ruang IGD.


Dean segera mengambil ponselnya.


" Assalamu'alaikum Ma. Ma,," Ucap Dean saat panggilan teleponnya pada Jelita tersambung.


"Wa'alaikumussalam. Gimana Naina? Ketemu kan?"


"Naina kecelakaan. Dia sedang ditangani pihak medis sekarang."


"Apa? Kamu di rumah sakit mana sekarang?"


"Ibrahim Medical Center Ma. Ini rumah sakit terdekat dari lokasi kecelakaan Naina tadi."


"Oke. Mama sama Papa ke sana!"


"Mama bisa tolong ke rumah Naina terlebih dahulu? Kabari Rissa dan ajaklah dia kemari jika mau." Pinta Dean dengan nada yang cemas.


"Baiklah, Mama akan jemput Rissa terlebih dahulu. Tapi, bagaimana kondisi Naina?"


"Dean belum tahu Ma. Kami baru saja tiba dan para petugas medis pun juga belum selesai menangani Naina."


"Baiklah. Mama segera ke sana setelah dari rumah Naina."


"Iya Ma."


Panggilan pun langsung terputus. Dean menunggu Naina dengan cemas di salah satu sudut ruang IGD. Ia duduk sambil terus mendo'akan Naina agar tak terjadi hal yang lebih buruk padanya.


Sedang di rumah Naina, Rissa sedang menunggu kepulangan ibu tersayangnya. Ia masih menonton tv ditemani Atun. Ia sudah merasa gelisah sejak tadi.

__ADS_1


Rissa segera berlari menuju pintu depan, saat mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Ia ingin membukakan pintu untuk Naina.


"Mommy!" Ucap Rissa bahagia saat membuka pintu.


Tapi seketika itu, ekspresi wajahnya sedikit berubah.


"Oma Lita?" Sapa Rissa untuk memastikan dengan sedikit mengerutkan keningnya.


"Assalamu'alaikum cantik." Sapa Jelita dengan senyum ramahnya sambil berjalan menghampiri Rissa di pintu.


"Wa'alaikumussalam Oma." Jawab Rissa seraya menyalami dan mencium tangan Jelita dan Jonathan bergantian.


"Mari masuk Oma, Opa!" Ajak Rissa ramah.


Rissa sudah terbiasa dengan kedatangan Jonathan dan Jelita ke rumahnya. Ia selalu menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Meski ia tahu, ia tak bisa lagi bertemu dengan om kesayangannya, Dean, karena Jelita.


Rissa memang sempat marah, kesal dan kecewa pada Jelita karena hal itu. Tapi Naina sudah menjelaskan dan memberikan pengertian pada Rissa tentang itu. Dan Rissa sudah bisa menerimanya kini.


Jonathan dan Jelita pun selalu menyempatkan diri mengunjungi rumah Naina saat mereka berada di Indonesia. Naina dan Rissa pun akan menyambut kedatangan mereka dengan senang hati.


Dan selama itu pula, Naina ataupun Rissa, tak pernah sekalipun menanyakan tentang Dean pada Jonathan dan Jelita. Itu menjadi bentuk dari sebuah usaha dari Naina untuk benar-benar melepaskan Dean dari kehidupannya.


Jelita mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Rissa.


"Sebentar Sayang!" Cegah Jelita saat Rissa hendak masuk kembali.


"Iya Oma? Oma mau ketemu sama Mommy? Mommy sedang pergi menghadiri undangan." Jawab Rissa polos.


"Iya Sayang, Oma tahu. Oma tadi juga ketemu sama Mommy di sana." Jujur Jelita.


"Lalu, ada apa Oma?"


"Rissa ikut Oma sama Opa ya ke tempat Mommy!" Ajak Jelita perlahan.


"Mommy dimana Oma sekarang?"


Jelita menoleh pada Jonathan untuk meminta saran. Jonathan yang paham akan tatapan Jelita, hanya mengangguk untuk menyetujuinya.


"Mommy mengalami kecelakaan Sayang. Sekarang dia di rumah sakit." Ucap Jelita perlahan agar tak mengejutkan Rissa. Karena ia tahu, Rissa sudah bisa dengan mudah memahami banyak hal diusianya sekarang.


"Mommy!"


Rissa berteriak histeris. Ia pun langsung menangis setelah mendengar ucapan Jelita.


Atun yang tadi masih di dalam rumah, segera berlari menghampiri Rissa yang berteriak histeris. Atun pun sejenak menyapa Jonathan dan Jelita.


"Ayo Oma, kita ke rumah sakit!" Rengek Rissa khawatir.


"Kenapa ke rumah sakit Mbak Rissa?" Tanya Atun bingung.


"Mommy kecelakaan Mbak Atun. Kata Oma, sekarang dia di rumah sakit." Jelas Rissa.


"Innalillahi. Lalu, bagaimana keadaan Ibu sekarang?" Tanya Atun cemas.


"Kami juga belum tahu. Kami baru akan kesana sekarang setelah menjemput Rissa." Jawab Jelita.


"Ayo Oma, cepat!"


Rissa menarik tangan Jelita segera. Ia sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui keadaan ibunya.


"Atun! Kamu di rumah saja! Rissa biar aku yang jaga, kamu tak usah khawatir!" Pinta Jelita.


"Baik Bu." Jawab Atun patuh.


"Rissa pergi dulu ya Mbak Atun!" Pamit Rissa.


"Iya Mbak Rissa. Nanti tolong kabari Mbak Atun ya tentang kondisi Ibu!" Pinta Atun khawatir.


Rissa mengangguk pasti. Ia pun kembali menarik tangan Jelita dengan kuat. Jonathan, Jelita dan Rissa akhirnya berangkat ke rumah sakit. Mereka semua mengkhawatirkan keadaan Naina yang masih belum mereka ketahui keadaannya setelah mengalami kecelakaan.


Setiap yang datang pada diri kita, akan selalu bisa untuk kita melewatinya. Akan selalu ada campur tangan Allah dalam setiap urusan kita.

__ADS_1


__ADS_2