Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Nasehat Dua Wanita


__ADS_3

Suara-suara hewan malam mulai menyapa. Menyeru dan saling bersahutan satu sama lain. Membuat suasana malam terasa lebih nyaman.


Rumah Naina yang memang cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian ibu kota, membuat suasana rumahnya lebih tenang kala malam telah tiba. Jauh dari kebisingan deru mesin kendaraan.


Seperti kunjungan Lea dan Hera sebelumnya, mereka selalu bisa meramaikan rumah Naina dengan sangat meriah. Meski hanya mereka saja tamunya.


Malam yang ramai dengan canda telah sedikit berlalu. Kala sang putri nan cantik dan cerdas tertidur lelap di kamarnya sendiri. Ia tidur cepat malam ini. Ia kelelahan karena bermain di taman hiburan bersama Sinta, Niko dan Atun tadi. Atun pun sudah berpamitan untuk beristirahat lebih cepat karena juga merasa lelah. Tersisa Naina serta Lea, Hera dan Ben.


Mereka masih mengobrol santai di ruang tamu. Berbagi cerita dan cinta yang terpendam selama beberapa bulan karena tak bertemu secara langsung.


"Mas Ben ada urusan apa ke Jakarta?" Tanya Naina penasaran.


"Ketemu teman lama. Ia juga pebisnis properti seperti Dean, tapi belum sebesar Dean." Jujur Ben.


"Eh, tapi Na, ngomong-ngomong, gimana ceritanya kamu bisa kenal sama Dean? Kalian ada kerja sama bisnis?" Tanya Ben penasaran.


"Iya Na, gimana ceritanya? Terus, katanya kamu kenal sama mamanya Dean, kalian dikenalin sama mamanya Dean?" Imbuh Lea antusias.


"Udah berapa lama kalian kenal Na? Rissa kok bisa deket banget gitu sama Dean? Udah lama ya kalian kenal?" Imbuh Hera tak kalah antusias.


Naina menoleh pada para tamunya satu per satu. Ia kebingungan mendengat semua ucapan para tamunya.


"Ya ampun, Mas, Mbak! Naina mau jawab yang mana dulu coba?" Gerutu Naina.


Semua tertawa mendengar jawaban Naina.


"Naina tidur ajalah kalau gitu!" Celetuk Naina kesal.


"Ngambek-ngambek! Tak bilangin Dean lho!" Goda Lea.


"Bilangin aja!" Sahut Naina makin kesal.


Lea segera mengambil ponsel Naina yang tergeletak di atas meja. Naina terkejut bukan main.


"Mbak Lea mau ngapain?" Tanya Naina panik.


"Telepon Dean lah! Mau laporan, kalau pacarnya baru ngambek." Jujur Lea.


"Mbak Leaaa!" Rengek Naina.


"Makanya, jangan ngambek! Aku teleponin Dean biar kesini lho!" Goda Lea lagi.


"Iya, iya! Naina nggak ngambek! Kalian sih, nanyanya kayak gitu tadi. Naina kan bingung mau jawab yang mana." Gerutu Naina.


"Jawab ini aja Na! Kamu jatuh cinta ya sama Dean?" Sela Hera tanpa basa-basi.


Semua menoleh pada Hera yang sedang menatap Naina penuh keseriusan. Ben dan Lea pun lantas menoleh pada Naina untuk menunggu jawabannya.


"Mbak Hera ngomong apa sih?" Sahut Naina sekenanya.


"Jujurlah Na!" Pinta Hera lembut seraya memegang bahu kanan Naina.


"Aku nggak boleh Mbak jatuh cinta sama Dean." Ucap Naina getir.


"Kenapa?" Tanya Lea dan Hera bersamaan.

__ADS_1


"Karena Rissa." Jawab Naina dengan tatapan kosong.


"Rissa?"


"Belum ada yang tahu siapa ayah Rissa sebenarnya. Hanya kalian yang tahu. Kalau sampai Dean tahu siapa ayah Rissa sebenarnya, sikapnya pasti tak akan sedekat itu dengan Rissa."


"Kenapa?" Tanya Lea penasaran.


"Karena Rhea, adik Dean, meninggal enam tahun lalu karena Delvin. Dan sejak saat itu, Dean sangat membenci Delvin." Jelas Naina perih.


Tanpa terasa, air mata itu menggenang di pelupuk mata Naina. Ia bersiap meluncur tanpa izin dari sang pemilik netra.


"Aku ragu tentang hal itu Na." Ucap Ben tenang.


Tiga wanita yang duduk berjajar itu, lantas menatap satu-satunya laki-laki di rumah itu. Ia duduk santai mengamati sang wanita yang sudah ia anggap sebagai adik, layaknya kedua istrinya.


"Aku bisa melihat ketulusan di matanya. Aku yakin, ia bisa menerima kenyataan itu nantinya Na." Ucap Ben menjelaskan.


"Naina takut Mas, jika yang terjadi ternyata sebaliknya." Jawab Naina lirih.


"Dan juga, Mama Lita. Ia juga tidak menyukai Delvin sama seperti Dean." Imbuh Naina dengan hati yang makin perih.


Naina akhirnya menjatuhkan buliran bening itu dari kelopak matanya. Membiarkannya meluncur turun hingga membasahi rok yang ia kenakan.


"Ungkapkan Na! Jangan kamu tahan hatimu!" Saran Hera tulus.


"Naina takut Mbak." Jawab Naina dengan suara bergetar.


"Setidaknya, kamu sudah mengatakannya Na. Selebihnya, serahkan pada Allah."


"Masa lalu Naina sudah cukup pahit Mbak. Naina nggak mau jika harus terpuruk lagi karena urusan perasaan. Naina juga harus mengurus Rissa. Apalagi sekarang Naina sendirian di sini, nggak ada Mbak Lea, Mbak Hera, dan Ibu',,"


"Ibu',," Rintih Naina perih.


Air mata Naina mengalir begitu deras ketika mengingat ibu angkatnya. Ibu yang sampai sekarang belum ia ketahui keberadaan dan kabarnya.


Lea dan Hera segera merengkuh tubuh Naina yang bergetar karena tangisan. Mereka memeluk Naina penuh perhatian dan kasih sayang. Mereka bisa memahami bagaimana perasaan Naina kini.


"Ada kami di sini Na! Meski kami jauh, tapi kami akan berusaha selalu ada untukmu." Ucap Hera disela pelukannya.


Naina hanya menganggukkan kepalanya untuk menenangkan hati kedua wanita yang memeluknya. Ia tahu, Lea dan Hera sangat menyayanginya. Mereka juga selalu menyempatkan diri mengunjungi Naina, atau sebaliknya.


Tapi Naina juga sadar, dua wanita yang menyayanginya itu, kini sudah memiliki kehidupan keluarganya sendiri. Naina tak ingin merepotkan atau mengganggu kehidupan keluarga mereka. Meskipun sebenarnya, mereka tak merasa terganggu sama sekali.


Naina benar-benar berusaha hidup mandiri semampu yang ia bisa. Tak lagi sering berkeluh kesah pada Lea dan Hera yang dulu sering ia jadikan tempat berbagi cerita. Ia akan berusaha terlihat selalu baik di depan mereka.


Tapi kini sisi lemah Naina telah muncul. Dan bertepatan dengan kedatangan Lea dan Hera yang datang ke rumahnya. Naina memang belum menceritakan tentang Dean pada Lea dan Hera. Hingga tadi, mereka bertemu secara langsung.


"Ungkapkan Na! Setidaknya, kamu sudah mengungkapkan perasaanmu padanya." Saran Lea setelah Naina mulai tenang.


"Benar Na. Untuk masalah Rissa, nanti bisa kamu katakan pelan-pelan." Imbuh Hera.


"Aku sependapat dengan Mas Ben. Ada ketulusan di mata Dean. Dan bukankah setahu Dean, kamu adalah janda? Berarti, dia bisa menerima keadaan Rissa yang bukan putrinya." Sambung Lea.


Naina masih diam tak menjawab atau bereaksi. Hatinya masih bergelut dengan logikanya. Tak bisa dipungkiri, perhatian Dean pada Rissa terasa begitu tulus. Ia pun tak pernah menanyakan bagaimana masa lalu Naina atau siapa ayah Rissa. Dean menyayangi gadis kecil itu begitu saja, tanpa syarat.

__ADS_1


"Kenapa aku harus jatuh cinta padanya Mbak? Atau kenapa bukan Dean saja yang dulu membeliku?" Ratap Naina dengan airmata yang kembali mengalir deras.


"Naina harus bagaimana Mbak? Naina harus bagaimana?"


Naina segera merengkuh tubuh Hera dan memeluknya erat. Menumpahkan tangis dan kebimbangannya di pelukan Hera. Naina menangis tersedu-sedu tak karuan. Dadanya terasa begitu sesak dan sakit karena kebimbangannya.


Lea dan Hera bisa merasakan apa yang Naina rasakan kini. Mereka akhirnya, ikut meneteskan bulir bening itu hingga melewati pipi mulusnya. Dua wanita itu, memeluk erat Naina dan membiarkannya menumpahkan segala rasa yang sempat ia pendam sendiri selama beberapa bulan ini.


Lama Naina menumpahkan tangisnya di pelukan Lea dan Hera. Mereka dengan sabar menunggu Naina puas menumpahkan segalanya. Dan akhirnya, Naina hanya terisak dengan wajah sembabnya. Pelukannya pun mulai ia lepaskan.


"Minum dulu Na!" Ucap Lea seraya menyerahkan gelas minum Naina yang berisi air putih.


Naina menerimanya, lalu menenggaknya beberapa teguk. Ia masih terisak beberapa kali.


"Tenanglah Na!" Ucap Lea sambil mengusap lembut punggung Naina.


"Maaf Na, kami lama tak mengunjungimu. Kami tak tahu jika kamu mengalami dilema besar beberapa bulan ini." Ucap Hera tulus.


Naina hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih enggan berbicara karena dadanya masih terasa sesak dan perih.


"Dengarkan Na!" Ucap Lea seraya menangkupkan kedua tangannya ke pipi Naina yang basah.


"Apa Dean pernah menyatakan perasaannya padamu?" Tanya Hera.


Naina hanya mengangguk.


"Lalu, apa jawabanmu?"


Naina diam tak menjawab.


"Jika kamu memang mencintainya, katakan Na! Ungkapkan! Jangan kamu simpan dalam hatimu, hingga membuatmu tersakiti sendiri. Kalian saling mencintai Na."


"Benar Na. Akui perasanmu padanya! Dan untuk Rissa,," Imbuh Hera sejenak terdiam.


"Kamu bisa mengatakannya perlahan. Pahami Dean seutuhnya. Dan katakan itu pelan-pelan." Sambung Hera.


"Kamu juga harus bahagia Na!"


"Setidaknya, kamu sudah berusaha untuk jujur pada Dean tentang perasanmu dan masa lalumu. Selebihnya, biarkan tangan Allah yang akan menentukan hasilnya. Jadi, tak akan ada penyesalan di hatimu esok hari." Imbuh Lea lagi.


Naina masih diam. Ia mencoba memahami setiap kalimat yang Lea dan Hera ucapkan. Ia pun mulai berusaha menenangkan kemelut hatinya yang masih bergelut dengan logikanya.


"Yakin pada hatimu dan pada takdir Allah Na! Semua pasti akan indah pada waktunya. Allah tak akan membiarkan hamba-Nya menderita selamanya." Ucap Hera yakin.


Naina akhirnya mengangguk paham. Ia menyetujui ucapan Hera tadi. Allah tak akan membiarkan hamba-Nya menderita selamanya.


Perlahan, hati itu mulai tenang bersamaan dengan malam yang semakin larut. Dan saat Naina semakin tenang, terdengar tangisan sang bayi cantik dari kamar Naina. Lea dan Hera segera berlari menuju kamar Naina, dimana dua bayi cantik itu sudah terlelap.


Ben pun akhirnya ikut masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Dan meninggalkan Naina sendirian di ruang keluarga. Ia masih betah di sana untuk menenangkan diri.


Bayangan itu tiba-tiba muncul di benaknya. Bayangan Dean dengan segala perlakuan manisnya pada Naina. Yang akhirnya, bisa membuat Naina jatuh hati padanya.


"Iya De, aku jatuh hati padamu. Tapi, akankah kamu bisa menerima masa laluku?" Batin Naina kala mengingat setiap perlakuan Dean padanya.


Naina merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang keluarga. Ia memejamkan matanya sembari menikmati suara-suara alam yang saling bersahutan. Hingga suara Rissa menyadarkannya. Naina segera bangun dan bergegas menuju kamar Rissa.

__ADS_1


Gadis kecil itu kelelahan. Hingga tidurnya tak begitu lelap. Ia merintih kecil di sela tidurnya. Dan Naina sudah hafal tentang hal itu. Naina akhirnya mengistirahatkan tubuhnya di samping Rissa dan mulai memejamkan matanya sembari menjaga gadis kecilnya.


__ADS_2