
Hati. Terkadang sulit mengikuti apa yang diinginkannya. Apa yang dikatakan hati, terkadang menjadi sesuatu yang terasa mustahil tapi mungkin bisa jika sedikit dipaksakan.
Naina terdiam.
"Apa dia tak berpamitan padaku? Aku bahkan belum mengatakan apapun padanya." Batin Naina pedih.
Sungguh Naina tak bisa menahan airmatanya. Ia sedikit terisak karena tak bisa bertemu dengan Dean sebelum ia berangkat.
"Kenapa aku harus bangun kesiangan hari ini? Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih padanya. Aku juga belum mengungkapkan perasaanku padanya. Aku belum membalas semua yang ia lakukan dua hari ini. Kenapa ia tak berpamitan padaku?"
Batin Naina terasa begitu pedih. Ia menyesali sikap acuhnya pada Dean dua hari ini. Ia tak mengira, jika Dean akan pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.
"Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Sinta khawatir karena Naina tiba-tiba terisak dan tertunduk dalam.
Naina menggelengkan kepalanya. Sinta pun mendekati ranjang Naina.
"Saya panggilkan perawat sebentar!" Usul Sinta.
Sinta bergegas ingin memanggil perawat. Tapi tangannya dicegah oleh Naina. Naina pun menggelengkan kepalanya lagi.
Ide yang cukup gila muncul di kepala Naina. Ia segera menghapus airmatanya yang sudah membasahi wajahnya yang masih sedikit pucat. Ia sejenak melirik ke arah meja makannya yang sudah ada menu sarapan paginya yang belum tersentuh olehnya.
Tapi, ia segera mengacuhkannya. Ia mengedarkan pandangannya. Menuju ke arah meja tamu yang ada di depan Niko yang sedang memeriksa laporan melalui ponselnya.
Ada sesuatu di atas meja itu yang berhasil menarik perhatian Naina. Yang juga ia cari beberapa saat tadi.
"Ibu butuh sesuatu?" Tanya Sinta perhatian.
"Iya." Jawab Naina singkat.
Naina perlahan turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke arah Niko. Ia berjalan sambil berpegangan pada tiang infus yang infusnya masih tersambung ke tubuhnya.
"Anda butuh sesuatu Nona?" Tanya Niko perhatian setelah Naina sampai di dekatnya.
"Jam berapa pesawatnya berangkat?" Tanya Naina pelan.
"Pukul sepuluh Nona." Jujur Niko.
Naina melirik arloji Niko. Ia melihat waktu yang ditunjukkan oleh arloji Niko.
Tiba-tiba, Naina mencabut paksa jarum infus yang tertancap di tangan kirinya.
"Ish!" Naina meringis kesakitan.
"Nona!"
"Bu Naina!"
Niko dan Sinta panik bukan main. Niko segera berdiri dan hendak membantu Naina. Sinta pun segera menghampiri Naina.
"Panggil perawat Sayang!" Pinta Niko cepat pada Sinta.
Sinta pun segera memanggil perawat. Sedang Niko, segera mengambilkan tisu untuk Naina, untuk membersihkan darah yang keluar dari bekas jarum infus di tangan Naina.
Dan saat sepasang suami istri itu panik, Naina menyambar kunci mobil Niko yang tadi mencuri perhatiannya karena tergeletak di atas meja. Naina segera berlari keluar ruangan begitu saja.
Niko dan Sinta terkejut bukan main. Mereka kebingungan karena melihat Naina berlari keluar ruang rawat begitu saja, padahal kondisinya belumlah pulih. Dan bahkan, ia belum memakan apapun pagi ini.
"Nona! Anda mau kemana?" Panggil Niko cepat.
Naina cukup cepat berlari. Ia bisa segera keluar ruangan tanpa terkejar oleh Niko yang lebih cepat menyadari kepergian Naina dibanding Sinta. Sinta pun ikut mengejar Naina. Dan mereka tak menyadari, bahwa Naina membawa kunci mobil mereka.
Naina tak menjawab panggilan Niko. Ia berlari begitu saja tanpa menghiraukan tangannya yang sedikit mengeluarkan darah. Ia pun berhasil berbelok berlainan arah sebelum Niko dan Sinta keluar ruang rawat.
Naina berpikir, jika Niko dan Sinta berhasil mengejarnya, mereka tidak akan mengizinkannya keluar dari rumah sakit saat ini. Untuk apa? Untuk menemui Dean sebelum berangkat ke Jerman, yang ia tak tahu kapan Dean akan kembali lagi ke Indonesia.
Ya, Naina nekat akan menyusul Dean ke bandara. Ia tak menghiraukan kondisinya yang belum pulih dari kecelakaannya. Ia hanya ingin menemui Dean dan mengungkapkan apa yang belum sempat ia sampaikan pada Dean. Sebelum semuanya terlambat.
__ADS_1
"Kemana Nona Naina pergi?" Gumam Niko saat tak mendapati sosok Naina di sepanjang lorong yang ada di depan ruang rawat Naina.
"Kita berpencar Mas!" Usul Sinta.
"Oke." Jawab Niko singkat.
Niko dan Sinta pun segera berjalan ke arah yang berbeda. Mereka berpencar mencari Naina. Mereka sangat khawatir pada Naina, karena mengingat kondisi Naina yang masih cukup lemah.
Naina sedikit mudah berjalan keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir mobil. Mengingat, ia sudah tak lagi mengenakan baju pasien rumah sakit itu. Jadi, ia tak dicurigai sebagai pasien di rumah sakit itu.
Saat Naina sampai di tempat parkir, ia segera mencari lokasi parkir mobil Niko. Dan dengan kunci mobil di tangannya, ia bisa dengan mudah menemukan lokasi mobil Niko.
Naina segera memacu mobil Niko keluar dari parkiran. Dan saat itu terjadi, Niko melihatnya. Niko melihat Naina mengendarai mobilnya keluar dari pelataran rumah sakit.
"Bagaimana Nona Naina bisa mendapatkan kunci mobilku?" Gumam Niko bingung.
Niko segera menelepon Sinta.
"Sayang! Apa Nona Naina sudah ketemu?" Tanya Niko cepat.
"Belum Mas."
"Apa kamu memberikan kunci mobilku pada Nona?"
"Kunci mobil? Buat apa Mas?"
"Nona keluar rumah sakit sendirian dengan mobilku.
"Apa Mas? Bagaimana Nona bisa dapat kunci mobilmu Mas?"
"Kita lengah saat Nona mencabut jarum infusnya tadi." Ucap Niko berusaha mengingat rentetan kejadian mengejutkan yang Naina lakukan tadi.
"Apa saat itu beliau mengambilnya?"
"Mungkin. Kita harus segera menyusulnya. Nona pasti ke bandara." Terka Niko yakin.
"Iya Mas. Aku kedepan sekarang."
Di jalan, saat mobil yang Naina kendarai berhenti karena lampu merah, ia membuka dashboard mobil Niko untuk mencari sesuatu. Dan entah karena keberuntungan atau memang takdir yang sedang berpihak padanya. Ia menemukan apa yang ia cari. Ponsel.
Naina menemukan sebuah ponsel di dashboard mobil Niko. Ia segera menyalakannnya. Dan ternyata berfungsi sempurna. Bahkan ada kartu sim yang terpasang di sana.
Naina segera mengetikkan beberapa nomor. Ia hafal betul nomor itu. Ia lalu melakukan panggilan suara pada seseorang sambil mengemudi.
"Assalamu'alaikum Bu'." Ucap Naina saat panggilan sudah tersambung.
"Wa'alaikumussalam. Ini kamu Na?"
"Iya Bu', ini Naina. Naina memakai ponsel Niko."
"Oh begitu. Ibu tadi ke rumah sakit, tapi kamu masih tidur, jadi Ibu pulang lebih dulu. Ibu akan ke sana sebentar lagi."
"Iya Bu'. Bu', apa benar yang dikatakan Dean? Ibu tahu kalau Dean adalah ayah biologis Rissa?"
"Iya Na, dia ayah Rissa. Ibu sudah melakukan tes DNA di LA kemarin."
Cciitt. Naina menghentikan mobilnya mendadak. Beruntung, jalanan pagi ini cukup lengang. Hingga tak ada kendaraan lain yang mengalami benturan dengan mobil yang dikendarai Naina.
"Kenapa Ibu melakukan itu pada Naina Bu'?" Ucap Naina putus asa.
"Kamu dimana Na? Kenapa ada suara kendaraan di sekitarmu?"
Klek. Panggilan langsung diakhiri oleh Naina. Naina pun kembali melajukan mobilnya setelah meletakkan ponselnya di sampingnya mengemudi.
"Kenapa kalian melakukan ini padaku?" Geram Naina.
Ponsel itu berdering tiba-tiba. Naina sedikit melirik ke arah ponsel untuk meraihnya. Ia bisa melihat, nomor yang baru saja ia hubungi yang tertera pada layar ponselnya. Naina kembali meletakkan ponselnya. Ia memilih fokus pada jalanan.
__ADS_1
Di tempat lain, Sekar langsung merasa panik, karena Naina tidak mau menjawab teleponnya. Ia lalu menghubungi Sinta.
"Naina dimana Sin?" Tanya Sekar cepat setelah panggilannya tersambung.
"Maaf Bu', Ibu Naina kabur membawa mobil Mas Niko."
"Apa? Bagaimana kalian menjaganya? Kalian bahkan berdua dan Naina saja sedang dalam kondisi tidak baik. Bagaimana bisa kalian tidak bisa menghentikannya?"
"Maaf Bu'. Kami sedang berusaha menyusul Ibu. Ibu sepertinya akan ke bandara untuk menyusul Pak Dean dan Rissa."
"Oke."
Sekar memutus panggilan itu dengan kesal. Ia cukup kecewa pada Sinta dan Niko yang gagal menjaga Naina yang sedang dalam masa perawatan pasca kecelakaan.
Sekar yang baru saja tiba di rumah, langsung meminta sopirnya kembali mengantarnya ke bandara sesuai informasi dari Sinta tadi. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Naina sekarang.
Di bandara.
Naina segera mencari tempat parkir kosong untuk memarkirkan mobil yang ia kendarai. Tubuhnya semakin lemah karena belum pulih sempurna dan juga belum memakan apapun tadi di rumah sakit. Ia mengumpulkan sisa tenaganya sebelum keluar dari mobil.
Naina mengatur nafasnya sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan mobil.
"Aku harus bergegas." Gumam Naina.
Naina lalu mulai melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari. Ia segera menuju pintu masuk.
Langkahnya kembali terhenti saat sampai di pintu masuk. Ia berpegangan pada pintu dan kembali mengatur nafasnya yang mulai sangat tidak beraturan sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Ibu tidak apa-apa?" Tanya seorang laki-laki dengan seragam keamanan yang baru saja menghampiri Naina.
Naina menoleh ke arah laki-laki itu. Ia tersenyum kecil padanya.
"Iya Pak, saya baik-baik saja." Jawab Naina lirih.
"Tapi kondisi Ibu sepertinya sedang tidak baik. Saya panggilkan bantuan ya Bu'!" Usul laki-laki itu.
"Tidak apa-apa Pak, terima kasih." Jawab Naina pelan-pelan.
"Maaf Pak, apa pesawat ke Jerman sudah berangkat?" Imbuh Naina.
"Belum sepertinya Bu'." Jawab petugas itu yakin.
"Terima kasih Pak."
"Baik Bu', sama-sama."
Naina lalu kembali menegakkan tubuhnya. Ia mulai memasuki lobi bandara dan mengedarkan pandangannya dengan segera. Ia berjalan ke sembarang arah. Ia bahkan sesekali menabrak beberapa orang karena tak memperhatikan jalannya.
"Kamu dimana De?" Batin Naina sambil terus berjalan dan mencari keberadaan Dean.
...****************...
Assalamu'alaikum readers 🤗🤗
Makasih ya masih setia sama Naina dan Dean 😍😘😘
Othor terharu deh 🥲🥲
Emh, gimana nih enaknya si Naina? Ditemuin nggak sama Dean? 😅 Othornya mulai ikut galau gara-gara Nainanya plin-plan 😁😁
Makasih juga buat semua kritik, saran, like, vote, komen, rate dan gift dari readers semua 🙏👍
kalian the best deh pokoknyah 👍👍😘😘
Maap juga kalau penulisan ceritanya jauh dari sempurna 🙏 ini semua karena othor masih banyak belajar. Tapi, terima kasih kalian masih mau baca kisahnya sampai sini 🥰😍
Oke guys, see you next episode ya 😉
__ADS_1
Makasih sebanyak-banyaknyah pokok'eh buat semua 😘
Wassalamu'alaikum 🤗🤗