
Waktu terus bergulir. Siang pun berganti malam. Bulan dan bintang kini mulai menunjukkan sinarnya sebagai teman sang malam yang telah menyapa sebagian belahan bumi.
Naina kesulitan mengistirahatkan tubuhnya. Tubuhnya merasa lelah beberapa hari ini, karena harus menemani syuting Rissa dan bekerja pastinya. Tapi ia kesulitan untuk mengistirahatkan tubuhnya karena ada yang mengganjal dalam hati dan fikirannya. Sebuah kalimat yang belumlah bisa ia temukan jawabannya.
".. Bagaimana bisa, wajahnya sangat mirip dengan Rhea dan juga denganku? .."
Sebuah kalimat yang Dean lontarkan yang membuatnya membisu dan mematung. Kalimat yang sungguh menyita fikirannya dalam tiga hari terakhir.
Naina pergi ke teras belakang rumah malam ini. Ia menatap jauh bintang-bintang yang saling berkelip satu sama lain untuk menghiasi langit malam. Ia duduk di lantai teras sembari menyandarkan tubuhnya ke samping pada tiang besar yang menjadi pelengkap teras belakangnya.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kenapa aku tak bisa menemukan jawabannya?" Gerutu Naina.
"Rissa pun, terlihat memiliki ikatan tersendiri pada Dean. Tapi kenapa tidak dengan Delvin yang merupakan ayahnya sendiri?"
Naina sibuk dengan fikirannya. Ia juga teringat pertanyaan Rissa pagi itu. Pertanyaan yang membuatnya gugup tak bisa berkata-kata.
"Apa aku perlu mendekatkan Rissa dengan Delvin? Agar Rissa bisa lebih mengenal ayahnya dan merasakan kasih sayang ayahnya."
Hati Naina berkecamuk. Ia sebenarnya tak ingin begitu dekat dengan Delvin atau lelaki manapun. Karena ia takut akan jatuh cinta pada mereka nantinya.
Tapi, Naina juga ingin agar Rissa sedikit mengenal dan merasakan kasih sayang ayahnya yang mungkin tak ia dapatkan selama ini. Tanpa harus memisahkan Rissa dari Naina pastinya. Ia kini sangat takut jika Rissa akan di ambil oleh ayah biologisnya hingga membuatnya jauh dari Rissa.
Pagi yang indah kembali menyapa. Suara-suara alam saling bersahutan sebagai penanda bahwa sang mentari siap menjalankan tugasnya.
Pagi ini akhir pekan, Rissa akan kembali menjalani syuting seperti hari sebelumnya. Naina pun masih setia menemaninya bersama Atun.
"Sayang, besok kita ke rumah Tante Sinta ya! Kamu kan besok nggak ada syuting." Ajak Naina setelah mereka selesai sarapan.
"Kenapa Mom?"
"Tante Sinta mau dilamar sama Om Niko. Besok kita diundang Tante Sinta ke rumahnya." Jelas Naina.
"Apa Om Dean juga ikut?"
"Om Dean?" Rissa mengangguk.
"Tidak sayang, kita berangkat bertiga dengan Mbak Atun. Ya Mbak?" Atun hanya mengangguk.
Nampak jelas raut wajah kekecewaan di wajah cantik gadis kecil itu. Naina hanya menghela nafas panjang melihat ekspresi Rissa. Entah sejak kapan, putri kecilnya itu sangat dekat dengan Dean. Padahal, mereka baru satu minggu berkenalan.
Setelah selesai sarapan, Naina pun berangkat ke lokasi syuting. Hari ini, Naina memiliki sebuah misi sederhana. Ia sebenarnya tak yakin dengan keputusannya, tapi ia akan mencobanya sedikit demi sedikit, untuk Rissa.
"Hai Del!" Sapa Naina kala ia tak sengaja berpapasan dengan Delvin saat di tempat parkir.
"Oh, hai Na!" Sahut Delvin gelagapan.
"Naina menyapaku? Sepertinya ada yang lain darinya hari ini." Batin Delvin.
Naina mengulas senyum di wajahnya, ia lupa belum mengenakan maskernya seperti biasa. Ia baru saja keluar dari mobil, hendak mengambil perlengkapan Rissa. Dan kebetulan, ia berpapasan dengan Delvin ketika berada di belakang mobilnya. Delvin pun membalas senyuman Naina.
"Oh sungguh, dia begitu menawan. Aku harus mendapatkannya dan memanfaatkannya segera."
"Bagaimana kabarmu Na?" Tanya Delvin basa-basi.
"Baik." Sahut Naina sekenanya.
Hati Naina sebenarnya enggan dan mungkin sangat enggan hanya untuk menyapa Delvin. Tapi itu ia lakukan demi Rissa. Naina pun segera mengambil perlengkapan Rissa dari bagasi.
"Na,,"
"Iya?"
"Apa aku boleh minta nomor ponselmu?"
"Untuk apa?"
"Aku menyukaimu."
Deg. Naina terkejut mendengar ucapan Delvin. Ia tak menyangka Delvin akan mengucapkan hal itu. Ia menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Delvin.
__ADS_1
"Mungkin terdengar aneh dan terlalu cepat. Tapi aku tertarik padamu sejak aku melihatmu pertama kali di puncak." Jujur Delvin.
Ya, Delvin memang tertarik dengan Naina. Dengan tubuh yang tinggi dan proporsional di segala sisi serta wajah yang cantik, hampir tak ada laki-laki yang dapat menolak pesona Naina, termasuk Delvin. Tapi dibalik itu, ada niat lain yang terselubung di hati Delvin untuk mendekati Naina.
"Kamu tak perlu menjawab apapun. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, karena aku tertarik padamu." Jelas Delvin halus.
"Apa ini jalan yang Allah berikan agar Rissa lebih dekat dengan Delvin?" Batin Naina.
Naina berfikir sejenak. "Silahkan!"
Naina menyerahkan ponselnya pada Delvin. Delvin pun tersenyum dan mulai mengetik angka-angka di ponsel Naina. Setelah selesai, ia lalu mengembalikannya.
"Sepertinya, dia juga mulai tertarik padaku. Jika seperti ini, akan sangat mudah mendapatkannya secepatnya." Batin Delvin dibalik senyum manisnya pada Naina.
"Terima kasih. Itu nomorku, tolong disimpan ya! Aku akan menghubungimu nanti!"
"Baiklah." Sahut Naina singkat.
"Aku duluan, Rissa sudah menungguku!" Pamit Naina.
"Tentu, silahkan!"
Naina pun pergi meninggalkan delvin untuk segera menyusul Rissa. Rissa sudah lebih dulu masuk bersama Atun.
Delvin menyeringai lebar setelah kepergian Naina. "Tak kusangka, banyak untungnya juga punya wajah tampan. Wanita secantik Naina pun, dengan mudah terpikat padaku." Gumam Delvin.
Delvin lalu berjalan menyusul Naina memasuki lokasi syuting. Delvin dan Naina sibuk dengan fikirannya masing-masing.
"Semoga, keputusanku tak salah." Batin Naina.
...****************...
Keesokan paginya, Naina dan Rissa tengah bersiap untuk pergi ke rumah orang tua Sinta. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, mereka pun bergegas karena tak ingin terlambat.
Rumah orang tua Sinta berada di luar ibukota. Butuh waktu lebih dari dua jam berkendara untuk sampai di sana. Jadi, Naina berusaha berangkat lebih pagi agar tak mengecewakan Sinta dan keluarganya.
Saat semua sudah siap, ponsel Naina berdering. Ia mengerutkan dahinya membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"... ..."
"Hai Del. Ada apa?"
"... ..."
"Maaf Del, aku ada acra hari ini. Aku harus menghadiri acara lamaran temanku."
"... ..."
"Aku harus pergi sekarang, aku akan matikan telfonnya."
Panggilan langsung terputus. Naina benar-benar enggan meladeni Delvin. Kalau bukan karena Rissa, ia tak akan memberikan nomornya pada Delvin kemarin.
Naina akhirnya segera masuk ke mobil bersama Rissa. Atun hari ini tak jadi ikut karena merasa lelah dan ingin beristirahat di rumah saja. Naina pun mengizinkannya.
Setelah hampir tiga jam, Naina sampai di rumah orang tua Sinta. Ia disambut hangat oleh keluarganya. Semua keluarga Sinta mengenalnya dengan baik sebagai atasan Sinta. Tak lupa, Naina menyerahkan sedikit oleh-oleh yang ia bawa untuk orang tua Sinta.
"Makasih Bu', sudah mau datang." Ucap Sinta tulus saat ia duduk berdua dengan Naina di bangku kayu yang ada di depan rumah Sinta.
"Kamu ini bicara apa Sin? Jelas aku datanglah." Sahut Naina santai.
"Mbak Atun?"
"Oh, dia kelelahan beberapa hari aku ajak ke lokasi syuting. Dia nggak jadi ikut deh, maaf ya!"
"Nggak papa Bu'."
"Sin,," Raut wajah Naina berubah sedikit serius.
"Iya Bu',,"
__ADS_1
"Besok kalau kamu udah nikah, kamu harus turuti semua permintaan suamimu. Jadi istri yang baik ya!" Ucap Naina tulus.
"Iya Bu'. Do'akan saya bisa jadi istri yang baik buat Mas Niko!"
"Tentu. Termasuk, kalau dia minta kamu berhenti bekerja, kamu harus berhenti. Oke?"
"Tapi Bu',,"
"Kenapa?" Sahut Naina santai.
"Gimana dengan Ibu'?"
Sinta tahu betul, banyak sekali pekerjaan Naina jika sampai ia berhenti bekerja. Apalagi, kini Naina punya kesibukan baru, menemani Rissa syuting. Belum lagi, kebiasaan buruk Naina yang sering melewatkan waktu makannya karena kesibukan. Sungguh, semua itu bisa memperburuk penyakit maag Naina, dan Sinta tak mau jika itu terjadi.
Sinta sangat menyayangi atasannya itu seperti keluarganya sendiri. Meski baru tiga tahun ia bekerja pada Naina, Naina sudah membantunya banyak hal. Termasuk membantu biaya pengobatan ibu Sinta yang menderita diabetes dan lemah jantung.
"Kenapa denganku? Aku bisa menghandle pekerjaanku, tenang saja. Atau mungkin, aku akan cari asisten baru nanti. Tapi pasti akan sangat sulit mendapatkan yang sepertimu." Naina tersenyum getir.
"Kamu teman terbaikku Sin." Puji Naina tulus.
"Kalau begitu, saya tak akan berhenti bekerja. Saya akan berunding dengan Mas Niko nanti." Jawab Sinta mantap.
"No Sinta! Jangan lakukan itu! Kamu harus menuruti permintaan suamimu, dia laki-laki yang baik Sin. Akan sangat sulit menemukan laki-laki sepertinya." Puji naina lagi.
Meski Naina baru satu minggu berkenalan dengan Niko, tapi dia bisa melihat kebaikan dalam diri Niko. Niko juga sangat perhatian pada Sinta.
"Bu',,"
"Iya,," Naina menatap Sinta lembut.
"Apa Ibu tak ingin menikah lagi?"
Deg. Ekspresi Naina langsung berubah. Ia mendadak diam. Ia tak tahu harus berkata apa. 'Menikah', adalah sebuah kata yang selama beberapa tahun terakhir menjadi momok menyeramkan dalam benak Naina.
Ketakutan akan penolakan keluarga sang calon suami jika sampai tahu masa lalu Naina, menjadi momok paling menyeramkan dalam hidupnya. Dicibir, dihina, dicemooh. Ia tak ingin menerima itu semua lagi. Baginya, cukup saat itu saja ia merasakan kepahitan itu.
Belum sempat Naina menjawab, suara ibu Sinta membuyarkan keterpakuannya.
"Itu sudah datang ya?"
Terlihat tiga buah mobil terparkir rapi, berjajar di depan rumah Sinta. Sinta dan Naina pun menoleh ke arah mobil-mobil yang mulai mematikan mesinnya.
Ada sebuah mobil yang familiar bagi Naina. Ia mengerutkan keningnya. Belum sempat ia mengingat pemilik mobil, seorang laki-laki turun dari mobil itu dan menjadi pusat perhatian semua oranf yang sudah hadir. Tak terkecuali Rissa yang sedari tadi asik bermain dengan keponakan Sinta yang seumuran dengannya.
"Om Dean,,"
"Rissa,," Teriak Naina kala melihat sikap Rissa, mencoba menghentikannya.
Rissa berlari sekencangnya menghampiri Dean. Ia tak menghiraukan panggilan ibunya. Dean yang melihat si kecil yang beberapa hari menyita fikirannya pun, langsung berjongkok dan merentangkan tangannya untuk menangkap Rissa. Tak lupa, sebuah senyuman yang sempurna terulas di wajahnya.
Dan kejadian itu, berhasil menyita perhatian semua orang disana. Tak terkecuali kedua orang tua Sinta dan Niko.
Orang tua Niko tahu, jika Dean tidaklah suka dekat-dekat dengan anak-anak. Begitupun orang tua Sinta. Mereka tahu, jika Rissa sangat sulit untuk dekat dengan orang dewasa asing.
Tapi, pemandangan apa ini? Sungguh sangat diluar dugaan dan tak biasa. Kedua orang tua Niko dan Sinta, memandang putra-putri mereka masing-masing dengan penuh tanya.
Dua orang yang menjadi pusat perhatian, tak menyadari hal itu. Mereka asik dengan obrolan kecilnya.
"Kalau Om tahu kamu akan kesini, tadi Om jemput dulu saja." Ucap Dean gemas sambil menggendong Rissa.
"Mommy bilang, Om Dean nggak ikut." Jujur Rissa.
"Mommy nggak tahu sayang."
Rissa hanya ber-oh ria. Dean langsung tersadar, ia menjadi pusat perhatian karena ulah Rissa. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum pada orang-orang yang menatapnya.
Keluarga Niko pun dipersilahkan masuk oleh keluarga Sinta. Akhirnya acara lamaran Niko dan Sinta pun dimulai. Rissa masih setia dengan om barunya. Naina hanya diam. Ia masih sedikit canggung pada Dean, mengingat pertemuan terakhir mereka.
Dean yang memang merindukan Naina, ia sesekali melirik Naina yang duduk tepat bersebrangan dengannya. Naina yang merasa diperhatikan, ia sedikit risih dan jadi salah tingkah. Dan itu berhasil membuat Dean tersenyum kecil dan bahagia.
__ADS_1