Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Gara-Gara Serangga


__ADS_3

"Ma, Dean ke rumah Naina dulu ya!" Pamit Dean pagi ini setelah ia menghabiskan sarapannya.


"Kemarin belum ketemu emangnya?" Cibir Lita santai sembari merapikan piring makannya.


"Udah Ma."


"Terus? Kamu kan juga baru pulang kemarin sayang, Mama juga kangen sama kamu. Masak ketemu sama Naina terus?"


"Cemburu ni ceritanya?" Sindir Dean.


"Lha kemarin aja kamu langsung ke sekolah Rissa jemput dia, terus ke kantor Naina. Mama belum sempet ngobrol sama kamu."


"Iya Mama sayang! Nanti malam yaa!" Ucap Dean seraya memeluk hangat tubuh Lita yang berada di sampingnya.


"Naina marah sama Dean Ma." Ucap Dean lirih seraya melepaskan pelukannya.


Lita menghembuskan nafasnya pelan. "Kamu juga yang aneh-aneh! Pakai acara nggak ngabarin Naina segala."


"Dean nggak kepikiran kalau Naina bakal tahu semuanya Ma. Naina bahkan tahu kalau Mama sama Papa nemuin Naina hari itu juga karena Dean."


"Naina tahu?" Lita terkejut bukan main.


"Iya Ma. Dean juga nggak tahu Naina bisa tahu dari mana."


"Yaudah, kamu yang sabar ngerayu Naina. Sifat Naina itu mirip sama kamu, keras." Cibir Lita.


"Iya Ma."


"Perlu Mama bantuin?" Tawar Lita ramah. Ia tahu, Dean akan kesulitan merayu wanita pujaan hatinya itu.


"Nggak usah Ma. Biar Dean yang jelasin semuanya ke Naina." Tolak Dean pelan.


"Yakin?"


Dean menggelengkan kepalanya. Ya, dalam hati Dean, ia pun tak yakin, apakan bisa mendapatkan maaf dari Naina. Ia masih ingat betul, kemarahan Naina kemarin di kantor. Dan itu semua, adalah kesalahannya.


"Sabar ya! Mama yakin, kamu bisa baikan lagi sama Naina." Ucap Lita menyemangati.


"Makasih Ma." Sahut Dean singkat.


"Yaudah Ma, Dean ke rumah Naina dulu ya!" Pamit Dean.


"Iya, hati-hati ya!"


Dean pun menyalami tangan Lita. Ia lalu keluar rumah menuju mobil sport pribadinya yang lama tak ia pakai. Mobil sport berwarna hitam dengan segala kecanggihannya. Ia lalu mulai melajukan mobilnya membelah lalu lintas ibukota.


Lalu lintas ibukota yang cukup lengang di akhir pekan, membuat Dean memacu mobilnya lebih kencang. Ia pun bisa cepat sampai di rumah Naina.


Tok, tok, tok.


"Aaaaaaa, Mbak Atun, tolooonnggg!"


Teriakan Naina menggema hingga pintu depan. Tepat sesaat setelah Atun membukakan pintu untuk Dean. Dean langsung berlari masuk ke dalam rumah menyingkirkan Atun. Ia sepintas melihat Naina di taman. Dan di saat bersamaan, Sinta dan Niko pun datang berkunjung ke rumah Naina. Atun dan Rissa masih di depan membuka pintu untuk mereka.


"Bu Naina kenapa?" Tanya Sinta panik.


"Nggak tahu Mbak Sinta. Mungkin ada serangga." Sahut Atun yang cukup paham sifat Naina.


Sinta hendak berlari, tapi tangannya ditahan oleh Niko. Atun pun dihentikan oleh Niko. Rissa yang sedang menggandeng tangan Atun pun refleks tak jadi berlari.


"Kasihan Bu Naina, dia itu fobia serangga." Jelas Sinta dengan wajah panik.


"Tenanglah, ada Tuan Dean bukan!" Ucap Niko santai.


Sinta berfikir sejenak. Ia akhirnya paham maksud Niko.

__ADS_1


"Bu', gimana?" Tanya Atun panik.


"Kita kebelakang, tapi pelan-pelan aja!"


"Mommy,,"


"Nggak papa sayang! Sini Tante gendong! Mommy kan udah ditolongin Om Dean." Ucap Sinta pelan. Ia langsung menggendong Rissa.


Sedang di belakang, Naina sedang berdiri di atas kursi kayu yang ada di taman belakang. Wajahnya sangat panik dan ketakutan. Jantungnya berdegup sangat cepat.


"Hus! Hus! Pergi sana!" Ucap Naina sekenanya.


"Kamu kenapa Na?" Ucap Dean bingung mendapati Naina yang tengah berdiri di atas kursi sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


"Itu! Itu! Ada ulat sama belalang!" Ucap Naina penuh ketakutan sambil dengan tubuh gemetar.


"Hah?"


Dean tak tahu, jika Naina fobia serangga. Ia kebingungan memahami maksud ucapan Naina.


"Itu! Tolong buangin ulat sama belalangnya jauh-jauh! Hus! Hus!" Ucap Naina penuh harap.


Dean mulai mencerna ucapan Naina. Ia mencari keberadaan ulat dan belalang yang di masksud Naina. Ia tajamkan penglihatannya.


Ada dua ekor ulat kecil berwarna hijau tanpa bulu, pada sebuah daun yang kebetulan menempel pada ujung kursi yang Naina duduki. Naina tak menyadarinya saat tadi berlama-lama duduk di sana.


Sedang si belalang, berada di depan kursi, tepat berada di atas rumput di bawah kursi. Belalang berwarna hijau yang serupa dengan rumputnya. Ia mulai terbang tak tentu arah.


"Aaaaaaa,," Naina berteriak lebih kencang.


"Lompat sini Na!" Ucap Dean semangat sembari merentangkan kedua tangannya bersiap menangkap tubuh Naina.


Tanpa pikir panjang, Naina pun langsung melompat turun dan refleks memeluk Dean tanpa sadar. Dean pun dengan sigap membalas pelukan itu. Dean bisa merasakan detak jantung Naina yang bertalu begitu keras. Badannya pun gemetar.


"Na, belalangnya hinggap di punggungmu!" Ucap Dean tiba-tiba.


Padahal si belalang udah terbang ke atas pohon. "Sialan kamu, aku dijadiin kambing hitam!" Umpat si belalang, kalau si belalang bisa bicara.


"Aaaaaaaaa,," Naina semakin erat memeluk Dean dengan kaki yang menghentak-hentak ke tanah.


"Buangin! Buangin belalangnya De! Cepat!" Ucap Naina panik.


"Tapi maafin aku dulu!"


"Dean! Buangin belalangnya cepat! Aaaaa,," Suara Naina semakin panik.


"Tapi kamu maafin aku dulu!"


"Eh,,"


"Na, belalangnya malah jalan-jalan dipunggungmu."


"Aaaa,,, iya, iya ,aku maafin kamu. Tolong buangin cepat!"


Dean pun tersenyum puas. Ia mengibaskan tangannya di punggung Naina, seolah sedang mengusir belalang, yang padahal belalang itu sudah terbang entah kemana.


"Sudah." Ucap Dean singkat.


Kaki Naina mendadak lemas, tubuhnya pun langsung merosot. Tapi bisa ditahan oleh Dean. Perlahan Dean mendudukkan Naina di atas rumput.


"Kamu nggak papa Na?" Ucap Dean setelah ia berjongkok di depan Naina.


Wajah Naina sangat pucat. Keringat membasahi kening mulusnya. Wajahnya masih terlihat sangat panik. Badannya gemetar dan lemas. Nafasnya tak beraturan.


"Minum dulu Bu'!" Ucap Atun sembari menyerahkan segelas air putih pada Naina.

__ADS_1


Dean pun menerima gelas itu untuk membantu Naina meminumnya.


"Minum dulu Na!" Ucap Dean seraya menyodorkan gelasnya ke mulut Naina.


Bukannya meminumnya, tubuh Naina malah ambruk ke atas rumput. Matanya terpejam begitu saja. Dean dan Atun auto panik.


"Na! Na! Bangun Na!" Dean menepuk pelan pipi Naina yang tersorot sempurna oleh sinar matahari.


"Bu'! Bu'!" Atun ikut mamanggil Naina agar Naina membuka matanya.


Sinta dan Niko yang melihat itu, langsung berlari menghampiri Naina.


"Bu'! Bu Naina!" Sinta pun ikut panik.


"Na! Bangun Na!" Dean masih menepuk pipi Naina.


"Udah De! Pipiku sakit kamu pukul terus!" Celetuk Naina santai dengan mata terpejam.


Empat orang yang mengerubungi Naina terkejut.


"Kamu nggak pingsan?" Tanya Dean penasaran.


"Kamu nyumpahin aku?" Ucap Naina ketus seraya membuka matanya


Nafas Naina mulai teratur. Jantungnya pun mulai berdetak dengan lebih pelan. Perasaannya lebih tenang.


Naina berusaha bangun. Dean dan Sinta yang tepat berada disampingnya, langsung refleks membantunya.


"Minum dulu!" Dean kembali menyodorkan gelas yang tadi sudah ia letakkan.


Naina menerimanya lalu meminumnya. Naina kembali mencari keberadaan musuh kecilnya, yang sudah membuatnya panik tak karuan.


"Mbak Atun, tolong di buang itu ulatnya! Dan belalangnya, juga dibuang jauh dari sini!" Pinta Naina.


"Iya Bu'! Maaf!" Ucap Atun merasa bersalah karena tak memeriksa taman dengan benar.


"Nggak papa Mbak." Jawab Naina lemas.


Naina berusaha berdiri. Dean pun berusaha membantunya, tapi tangannya dikibaskan oleh Naina. Dan saat itu juga, tubuh Naina oleng, karena kakinya masih lemas saking panik dan takutnya.


Ah, sinetron. Naina pun jatuh ke pelukan Dean. Dean tersenyum kecil mendapatkan kesempatan memeluk Naina lagi.


"Lepasin!" Ucap Naina tegas seraya mendorong tubuh Dean.


Dean yang tak siap didorong, pelukannya pun terlepas. Naina pun kembali sedikit oleng. Tapi karena sudah lebih stabil, ia sudah bisa menguasai dirinya agar tak terjatuh. Ia segera berjalan masuk ke rumahnya.


"Na! Kamu udah nggak marah lho sama aku." Teriak Dean bangga.


Naina tak menggubris ucapan Dean. Ia berjalan masuk begitu saja ke rumahnya meninggalkan yang lainnya.


"Naina tadi kenapa Sin?" Tanya Dean penasaran.


"Ibu itu fobia serangga."


"Wanita sehebat itu takut serangga?" Ucap Dean tak percaya.


"Iya Tuan."


Dean tersenyum kecil. Ia jadi teringat wajah panik Naina tadi saat ketakutan hanya karena dua ekor ulat kecil dan seekor belalang.


Sedang di dalam kamar, Naina tengah kesal sendiri. Ia kesal karena Dean memanfaatkan keadaannya tadi yang sedang ketakutan agar memaafkannya.


Tapi, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Pipinya terasa panas. Hatinya pun seakan diterpa angin musim semi yang membawa kebahagiaan dan membuat jutaan bunga bermekaran.


"Makasih De." Gumam Naina dengan senyum kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2