
Hari demi hari berganti. Menjelma, merangkai cerita tiada habisnya. Membingkai indah di dalam hati setiap yang bernyawa.
"Harus berapa kali aku merayu dan mendekatinya? Sudah enam minggu aku berusaha berkenalan dengannya, tapi dia selalu menolakku. Apa iya harus dengan cara itu aku mengenalnya?" Gumam Dean di sela lamunannya.
Pria tampan itu tengah menatap hamparan ribuan bangunan yang menjulang tak beraturan dari jendela kantornya. Ia menghentikan sejenak kesibukannya di kantor karena bayang-bayang wanita yang selalu menolaknya, menari indah di layar laptopnya.
"Apa mungkin benar dia sudah menikah? Hingga dia selalu menolakku jika aku mendekatinya. Tapi dia selalu sendirian di kafe itu."
"Apa iya, aku harus meminta Niko mencarikan informasi tentangnya."
Dean menghela nafas panjang. Ia hampir putus asa untuk mendekati wanita yang dalam beberapa bulan terakhir mengusik hati dan pikirannya.
Awalnya, Dean sangat yakin jika akan dengan mudah menaklukkan wanita itu, seperti pengalamannya selama ini. Tapi ternyata dia salah. Pengalaman dengan banyak wanita disekitarnya, nyatanya tak membuat Dean bisa dengan mudah menaklukkan seorang wanita dingin yang nampak begitu menarik perhatiannya.
"Maaf Tuan, apakah hari ini kita akan ke Zee Cafe?" Suara Niko mengalihkan lamunan Dean.
"Iya, aku akan kesana nanti." Sahut Dean sedikit lesu.
"Apa Anda baik-baik saja Tuan?" Niko sedikit khawatir karena nada bicara Dean yang tak seperti biasanya.
"Ya, aku baik-baik saja." Dean membalikkan badannya.
"Apa kau tidak mengenal gadis itu sama sekali?" Tanya Dean dengan sedikit harapan.
"Maksud Tuan, nona yang ada di kafe itu?"
"Iya,,"
"Tidak Tuan."
"Apa kekasihmu juga tidak mengenalnya? Dia bekerja disana bukan?"
"Tidak Tuan. Saya pernah bertanya padanya."
"Ah, sudahlah! Mungkin dia memang bukan jodohku."
"Apa perlu saya carikan informasi tentangnya?" Usul Niko yang tahu perasaan sang atasan.
"Tidak perlu. Aku akan cari tahu sendiri nanti!" Sahut Dean dengan nada sedikit putus asa.
"Baiklah. Saya permisi Tuan!" Niko pun meninggalkan Dean sendirian lagi.
Dean sudah memakai berbagai cara hanya demi berkenalan dengan 'gadis kafe' itu. Ia sudah bersikap sangat manis dan lembut padanya hanya untuk menarik perhatiannya. Bahkan, ia tak pernah bersikap seperti itu pada wanita manapun sebelumnya.
"Entah kenapa, dia begitu menarik bagiku. Aku tak bisa melupakan air matanya hari itu."
Dean bergumam sendiri di kantornya. Otaknya tak bisa fokus bekerja karena gadis itu.
"Apa ini karmaku atas kelakuanku dimasa lalu?"
Dean mengingat tentang masa lalunya yang entahlah apa namanya. Masa lalu yang akhirnya juga merenggut nyawa adiknya, karena laki-laki seperti dirinya.
Flasback On
"Kamu kenapa Rhe?" Tanya Lita khawatir ketika melihat putrinya menangis di sudut kamarnya.
Kondisi Rhea benar-benar buruk. Wajahnya sembab, rambutnya acak-acakan, beberapa jarinya berdarah karena ia gigiti sendiri.
"Bilang sama Mama Rhe!"
Anak perempuan itu masih tetap diam tak menjawab. Air matanya masih terus mengalir dan mengalir tiada henti. Lita semakin panik karena Rhea tak mau bicara apapun. Lita segera menelepon Dean yang sedang di kantornya siang itu.
Dean bergegas pulang setelah mendapat telepon dari ibunya. Ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adik kesayangannya itu.
"Kamu kenapa Rhe?" Tanya Dean saat ia tiba di samping adiknya yang kini sedang tiduran di ranjangnya.
"Dia tak mau bicara apapun sejak tadi." Adu Lita. "Mama juga sudah telepon Dokter Juan tadi."
"Rhe, bicaralah pada Kakak! Kamu kenapa? Apa Delvin menyakitimu?" Ucap Dean tanpa basa-basi.
Dean sudah sangat memahami adiknya. Ia akan sangat berubah jika menyangkut tentang Delvin, sang pujaan hati.
Rhea menatap kakaknya. Airmatanya kembali mengalir deras. Bantalnya pun tak luput menjadi korban air mata Rhea yang tak mau berhenti mengalir jika mengingat nama itu.
"Apa yang Delvin lakukan? Katakan padaku!"
"Apa Delvin menyakitimu Rhe?" Tanya Lita lembut.
__ADS_1
"Katakanlah Rhe!" Rayu Dean lebih lembut. Ia berusaha menahan amarahnya demi adiknya.
"Dia, dia,," Ucapan Rhea tertahan.
"Delvin kenapa Rhe?" Tanya Lita lagi.
"Maaf Nyonya, Dokter Juan sudah tiba." Ucap salah satu asisten rumah tangga Lita.
"Oh iya. Biarkan dia masuk!" Sahut Lita.
Tak lama, seorang dokter nan tampan seusia dengan Jonathan, nampak memasuki kamar Rhea. Ia segera memeriksa kondisi Rhea.
Setelah memastikan kondisi Rhea tak ada yang membahayakan, dokter tampan itu segera pamit undur diri. Lita mengantarkan dokter itu hingga ke depan rumah.
"Rheee,,"
Dean mengusap lembut kepala adiknya yang sedang berbaring. Ia menatap sendu adiknya yang wajahnya masih sembab.
"Apa Delvin menyakitimu?" Rhea mengangguk.
"Apa yang dia lakukan padamu?"
Rhea mengambil ponselnya yang diletakkan di samping bantalnya. Ia menyerahkan ponselnya pada sang kakak.
Dean menerimanya lalu memeriksanya sendiri. Ia mencari pesan percakapan antara Rhea dan Delvin. Bersamaan dengan itu, Lita datang kembali ke kamar Rhea.
Mata Dean membelalak. Rahangnya mengeras. Tangannya mulai meremas benda pipih di tangannya. Darahnya mendidih. Dadanya bergemuruh. Dean langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar Rhea.
"De, kamu mau kemana?" Teriak Lita. Firasat Lita mulai tak tenang melihat ekspresi Dean. Bahkan Dean tak menyahut panggilan Lita.
"Kakakmu mau kemana Rhe?"
"Delvin."
"Ada apa dengan Delvin?"
"Baj*ngan!" Teriak Rhea sekencangnya.
Lita terkejut melihat reaksi Rhea. Rhea berteriak tak karuan. Lita berusaha menenangkannya. Sedangkan Dean, sudah memacu mobilnya menuju kediaman Dewangga.
Suara Dean menggelegar di kediaman Dewangga. Ia benar-benar tak bisa menahan amarahnya kali ini. Tangannya sudah sangat tak sabar untuk memukul seseorang.
Bugh. Bugh. Bugh.
Dean benar-benar menggila ketika melihat Delvin keluar dari kamarnya. Niko dan beberapa pengawalnya tak berani melerai Dean yang sedang kalap.
Delvin yang tengah berada di rumah sendirian, tak berkutik menghadapi Dean. Ia babak belur dihajar Dean. Darah Delvin sudah berceceran di lantai marmer yang begitu mengkilap dirumahnya sendiri. Delvin bahkan sudah tak bisa bangun karena pukulan demi pukulan yang diberikan Dean.
"Jangan pernah temui Rhea lagi! Dan tunggu pembalasanku!" Ancam Dean tatkala meninggalkan Delvin yang sudah terkapar tak berdaya.
Dua hari kemudian, di kediaman Diedrich. Pagi yang tenang, menjadi panik seketika.
"Rheaaaaa,,!" Teriakan Lita membahana di seluruh rumah.
Jonathan dan Dean segera berlari menghampiri Lita. Dua laki-laki itu terkejut bukan main, tatkala melihat bercak darah di lantai kamar Rhea.
"Rhea bangun sayang! Buka matamu nak!" Lita memangku separuh tubuh Rhea yang sudah memucat. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Rhea.
"Rhea! Rhea!" Dean segera mengangkat tubuh adiknya yang sudah tak bergerak sama sekali. Dari pergelangan tangannya yang terluka, sudah tidak lagi mengalirkan darah. Tapi darah itu sudah membanjiri lantai kamarnya.
Dean segera membawa Rhea ke rumah sakit. Tapi sayang, nyawa Rhea tak tertolong. Gadis berusia dua puluh tahun itu kehabisan darah bahkan sebelum ia dibawa ke rumah sakit.
Rhea diam-diam menyayat pergelangan tangannya sendiri tadi malam. Ia benar-benar putus asa hanya karena Delvin tak mau lagi bertanggung jawab atas bayi dalam kandungan Rhea. Dan Delvin pun lebih memilih menikahi kekasihnya kini dari pada menikahi Rhea yang tengah hamil anaknya.
Rhea sejenak terlupa bahwa ia memiliki keluarga yang selalu ada untuknya. Terlebih sang kakak, yang bisa melakukan apapun demi kebahagiaan adiknya.
Tapi kini semua sudah terlambat. Rhea telah benar-benar pergi karena kebodohannya sendiri. Karena ulah nekatnya menggantikan wanita malam yang dibeli Delvin dua bulan yang lalu pada seorang mucikari dengan sapaan Romo.
Keluarga Diedrich berduka selama berhari-hari. Bahkan Jelita harus dirawat di rumah sakit karena kesedihan yang berlarut-larut.
Tapi tidak untuk Dean. Dia segera bangkit demi membalaskan kematian Rhea karena sikap pengecutnya sang sepupu.
"Dasar laki-laki tak bertanggung jawab!" Umpat Dean penuh amarah.
Dean bermain sangat halus. Dia mempunyai rencananya sendiri dan sangat matang. Dean sempat memberitahukan rencananya pada kedua orang tuanya, tapi sang ayah menolak. Ia tak ingin melukai siapapun dan tak ingin ada dendam yang berlarut. Tapi ia juga tak bisa menghentikan putranya yang berwatak keras itu.
Dan Jelita, justru mendukung rencana Dean. Ia bahkan membantu sang putra melancarkan rencananya setelah sembuh. Ia ingin keluarga sang adik kembaran merasakan juga penderitaannya.
__ADS_1
Dan tak butuh waktu lama bagi Dean menyelesaikan rencananya. Hanya butuh waktu satu bulan bagi Dean, untuk merebut lebih dari 90% harta kekayaan keluarga Delvin yang menjadi kebanggaan keluarga itu. Dan semua itu, kini sudah berada di tangan Dean.
Ya, keluarga Delvin jatuh miskin hanya dalam waktu sesingkat itu. Kepiawaian bisnis Jason dan Delvin tak sebaik Dean. Jadi dengan mudah, Dean merebut harta milik Delvin dan membuatnya sengsara.
Apakah itu setimpal dengan nyawa seorang Rheandra Diedrich? Tentu tidak. Itu adalah bentuk kemurahan hati Dean karena Jelita yang bersusah payah merayu putranya agar tak menghabisi seluruh keluarga Delvin demi membalas kematian Rhea. Meski Jelita juga membantu Dean, tapi dia juga masih memiliki belas kasihan pada keluarga saudara kembarnya itu.
Flashback Off
"Kakak merindukanmu Rhe!" Gumam Dean dengan tatapan kosong keluar jendela.
Dean kembali ke meja kerjanya. Melirik arloji yang melingkar ditangan kanannya. Waktu menunjukkan hampir pukul setengah dua siang.
"Aku melewatkan makan siangku."
"Maaf Tuan, kita berangkat sekarang?" Tanya Niko setelah ia masuk keruangan Dean.
Dean yang sudah faham maksud pertanyaan Niko, lalu merapikan berkas-berkasnya yang ada di meja.
"Oke! Aku juga ingin makan siang sembari menunggunya."
Dean dan Niko pun meninggalkan gedung perusahaan yang menjulang tinggi dengan lima belas lantai itu. Mereka menuju salah satu sudut ibukota yang akhir-akhir ini rutin mereka kunjungi setiap minggu.
Butuh hampir empat puluh menit Dean berkendara untuk sampai di lokasi. Jalanan benar-benar padat dengan ribuan kendaraan manusia.
"Kenapa mobilnya tak ada? Apa dia tidak datang?" Gumam Dean kala ia keluar dari mobilnya yang berhenti tepat di depan Zee Cafe.
Dean melihat sekeliling. Ada sebuah mobil yang mirip dengan mobil yang ia cari, tapi terparkir agak jauh dari lokasinya sekarang berada.
Dean segera berjalan memasuki kafe. Ia mengedarkan pandangannya. Meja yang biasa ditempati gadis pencuri perhatian Dean masih kosong. Ia melirik arlojinya.
"Apa dia tidak datang? Ini sudah lebih dari pukul dua."
Ponsel Dean tiba-tiba berdering. Dean segera membaca nama di ponselnya. Ternyata mamanya yang menelepon. Ia segera menjawab panggilan itu.
"... ..."
"Wa'laikumusalam. Dean di dekat Rhea Cafe Ma."
"... ..."
"Udahlah Ma! Dean capek dijodohin terus. Dean belum mau menikah Ma!"
"... ..."
Dean menghela nafas panjang. "Yaudah Ma, iya. Dean kesana."
"Mungkin aku memang tak berjodoh dengannya." Batin Dean sedih.
Tut. Panggilan pun terputus. Dean melangkahkan kaki keluar dari Zee Cafe. Ia berjalan memasuki Rhea Resto yang berada tepat di samping Zee Cafe. Niko pun mengikuti langkahnya dibelakang.
Dean mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia kenali. Seorang wanita yang meski usianya sudah memasuki kepala lima masih terlihat sangat cantik, melambai padanya. Dean pun segera menghampirinya. Sedangkan Niko berjalan memasuki area rsto untuk mengecek laporan anak buahnya.
"Assalamu'alaikum Ma." Sapa Dean seraya menyalami Jelita.
"Wa'alaikumussalam. Ini, Mama mau kenalin kamu sama teman Mama yang sudah Mama anggap seperti putri sendiri. Yang sering Mama ceritain itu, dia mirip dengan Rhea." Lita masih setia menjabat tangan putranya.
Dean mendengarkan dengan seksama ucapan mamanya. Ia sebenarnya sudah sangat lelah jika harus berkenalan dengan teman mamanya atau anak dari teman mamanya. Karena hanya akan berujung pada kata 'perjodohan'. Dan Dean tak mau itu.
"Dean kenalin, ini Naina. Naina ini putra Mama, Dean." Ucap Lita semangat. Dean pun melepaskan jabatan tangannya dengan sang Mama.
Sang wanita yang tadi duduk dihadapan Lita dengan menunduk pun berdiri hendak menyalami sosok pria yang sering Lita ceritakan padanya. Wajahnya mendongak menatap pria yang berdiri di samping mejanya seraya berdiri.
Dean pun menoleh padanya. Kedua insan yang tak saling tahu itu bertemu pandang. Dean tersenyum lebar menampilkan lesung pipi yang dalam di pipi Dean. Sedang sang wanita memelototkan matanya.
"Anda?"
"Kamu?"
Ucap Dean dan wanita itu bersamaan. Iya, wanita itu Naina, Naina Andini. Mereka saling terkejut satu sama lain.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Lita ketika mendapati reaksi dua orang dihadapannya.
"Aku mau Ma sama Naina!" Dean tiba-tiba menarik tangan Naina dan memeluk pinggangnya intens.
BRUAAAKKK.
"Jaga sikap Anda Tuan!".
__ADS_1