
"Bu Naina, awas!"
Para karyawan Naina histeris saat pisau itu mulai terlempar ke arah Naina. Naina yang sedang berbincang dengan Jenita, segera menoleh ka arah para laki-laki yang tadi ia kalahkan.
Dan benar, sebuah pisau kecil melayang kearahnya tanpa ia sadari. Ia tak bisa menghindar, karena perutnya semakin terasa sakit. Ia pun tak bisa fokus pada pisau yang melayang ke arahnya. Ia bahkan sedikit oleng.
Klothak.
Pisau itu jatuh tepat di hadapan Naina. Pisau itu jatuh karena lajunya terpotong oleh sebuah pisau makan yang yang melayang dari arah pintu keluar. Fandi beserta para pengawal Dean, segera mengamankan keempat laki-laki itu.
Naina dan semua orang yang menyaksikan itu, lantas menoleh ke arah pintu. Dan bertepatan dengan itu, Dean berlari mendekati Naina. Tubuh Naina tiba-tiba terhuyung ke arah Dean. Dean pun segera menangkapnya.
"Kamu kenapa Na? Apa kamu terluka?" Tanya Dean panik.
"Dean?" Batin Jenita terkejut.
"Aku tak apa. Terima kasih." Jawab Naina datar sambil berusaha menegakkan tubuhnya lagi.
Naina berusaha sekuat tenaga mendatarkan ekspresinya di depan semua orang, agar tak ada yang tahu jika ia sedang menahan sakitnya yang kembali kambuh.
"Wajahmu pucat Na. Apa kamu sakit? Maagmu kambuh lagi?" Tanya Dean khawatir.
"Aku tidak apa-apa De." Tegas Naina sekuat mungkin.
Naina lantas berusaha melepaskan diri dari Dean. Ia berjalan ke arah meja kasir untuk mengambil tas dan memakai sepatunya.
"Johan!" Panggil Naina tegas.
"Iya Bu'." Sahut sang manager kafe.
"Tutup kafe untuk besok. Minta semua karyawan masuk siang besok. Bereskan ini besok bersama yang lain!" Pinta Naina tanpa basa-basi.
"Baik Bu'." Jawab Johan patuh.
Naina mengalihkan pandangannya pada Jenita.
"Tante, saya harus segera pergi. Tante tidak apa-apa bukan?" Tanya Naina perhatian.
"Iya, saya baik-baik saja. Terima kasih." Jawab Jenita sungkan.
"Kalau begitu, saya permisi Tante!' Pamit Naina.
"Iya. Hati-hati ya!" Jawab Jenita ramah.
"Kamu mau kemana Na?" Cegah Dean seraya menahan pergelangan tangan Naina.
"Aku harus segera menjemput Rissa De. Dia pasti sudah menungguku bersama Mbak Atun." Jawab Naina tanpa menatap Dean sembari sedikit meronta.
Hati Naina masih belum bisa menghapus nama Dean dari tempatnya. Ia hanya bisa berusaha menghindar untuk sekarang.
"Aku antar!" Tegas Dean.
"Tak perlu! Kamu tolong Tante Jenita saja. Antar dia pulang!" Jawab Naina cepat. Ia pun juga berhasil melepaskan tangan Dean dari pergelangan tangannya.
Dean refleks menoleh pada Jenita. Dan itu memberikan kesempatan bagi Naina untuk segera pergi dari kafenya.
"Anda tidak apa-apa Tante?" Tanya Dean perhatian.
__ADS_1
Dean tetaplah seorang manusia yang memiliki hati. Meski ia sempat bersitegang dengan Delvin, tapi ia tak bisa membiarkan tantenya sendiri begitu saja setelah apa yang ia alami tadi.
"Iya. Tante tidak apa-apa." Jujur Jenita.
"Galang! Antar Tante Jenita pulang ke rumahnya. Pastikan ia selamat sampai rumah!" Pinta Dean tegas pada salah satu pengawalnya.
"Baik Tuan." Jawab sang pengawal patuh.
"Dean pergi dulu Tante!" Pamit Dean segera, setelah menyadari Naina telah keluar dari kafe.
"Iya. Terima kasih." Jawab Jenita singkat.
Dean segera berlari keluar kafe. Saat ia sampai diluar, Naina sudah mulai melajukan mobilnya untuk membelah lalu lintas ibukota malam ini. Ia bergegas menjemput putri kesayangannya.
Tanpa pikir panjang, Dean segera berlari ke arah mobilnya. Ia pun mengikuti mobil Naina secepatnya. Perasaannya benar-benar tidak tenang mengingat kondisi Naina tadi.
Dan benar, mobil Naina sedikit berjalan tak beraturan. Naina yang menyetir sembari menahan sakit di perutnya yang semakin menjadi, tak terlalu fokus mengemudikan kemudi mobilnya.
Saat berhenti di lampu merah, Naina berusaha mencari obatnya yang biasa ia bawa. Tapi ternyata, tida ia temukan. Naina teringat, ia telah meninggalkannya di meja kantornya dua hari yang lalu.
Naina berusaha sekuat tenaga tetap tersadar sambil menahan sakitnya sembari mengemudi. Terpaut beberapa mobil di belakangnya, Dean berusaha menghubungi ponsel Naina, tapi tak ada jawaban. Naina terlalu fokus pada jalanan agar tak terjadi kecelakaan karena kondisinya kini.
Naina tanpa Sinta, benar-benar bagaikan tidur di malam yang dingin, tanpa selimut ataupun penghangat ruangan. Naina benar-benar kesulitan melakukan semuanya seorang diri tanpa teman.
Dean yang tak sabar dan gelisah, ia mencoba mengejar mobil Naina lebih cepat. Tapi Naina pun juga memacu mobilnya lebih cepat, agar segera sampai ke stasiun tv, dimana putrinya sedang menunggunya.
Di stasiun tv.
"Mommy belum datang Mbak?" Tanya Rissa bosan karena ibunya tak kunjung datang. Padahal, ia baru menunggu sepuluh menit yang lalu.
"Belum Mbak Rissa. Mungkin jalanan sedang macet." Ucap Atun menenangkan.
"Belum Om. Baru nunggu Mommy datang." Jujur Rissa.
"Mau Om antar?" Tawar Delvin ramah.
"Enggak Om. Mommy sudah OTW kesini." Tolak Rissa halus.
Delvin melirik arloji ditangannya. Ia lalu ikut duduk di kursi bersama Rissa dan Atun.
"Vin!" Panggil Ivan bingung.
"Kenapa?" Sahut Delvin santai.
"Kamu nggak pulang?"
"Sebentar lagi. Aku mau ngobrol dulu sama Rissa."
Ivan mengerutkan keningnya. Ia sejenak lupa, jika Delvin mulai tertarik dengan Naina.
"Udah, duduk sini dulu! Aku mau nemenin Rissa ngobrol sambil nunggu ibunya." Pinta Delvin santai yang menyadari tatapan Ivan.
Ivan yang mulai paham, ia menganggukkan kepalanya.
"Aku masukin barang ke mobil dulu!" Usul Ivan.
"Oke!"
__ADS_1
Ivan segera meninggalkan Delvin beserta Rissa dan Atun di lobi. Ia memasukkan beberapa keperluan Delvin ke mobil sebelum pulang.
Saat Ivan selesai, mobil Naina pun mulai memasuki area pelataran gedung stasiun tv. Naina memarkirkan mobilnya, tepat di belakang mobil Delvin. Naina lantas menelepon Rissa untuk mengabarinya, jika ia sudah sampai.
Tak berapa lama, Rissa keluar dari pintu lobi bersama Atun dan Delvin. Naina segera keluar dari mobil dan menghampirinya. Ia pun membantu Atun memasukkan perlengkapan Rissa ke mobil.
"Mommy sakit?" Tanya Rissa perhatian.
"Kenapa Sayang?" Tanya Naina berusaha menutupi sakitnya dari Rissa.
"Mommy sakit ya? Wajah Mommy pucat." Jujur Rissa.
"Sedikit. Udah, ayo pulang! Jadi, Mommy bisa segera istirahat." Ajak Naina berusaha mengalihkan perhatian.
"Oke Mom!" Jawab Rissa patuh.
"Kamu yakin bisa menyetir sendiri Na? Kondisimu sepertinya tidak baik?" Sapa Delvin ramah.
"Aku tak apa Del." Jawab Naina datar.
Naina segera membukakan pintu kursi belakang untuk Rissa. Rissa dan Atun pun segera masuk ke mobil. Naina segera memutari mobil bagian belakangnya untuk kembali ke kursi kemudinya.
Dan bertepatan dengan itu, mobil Dean juga terparkir tepat di belakang mobil Naina. Dean pun segera keluar dari mobil.
Naina sampai di samping pintu mobilnya. Ia merasakan pandangannya makin tak jelas. Kepalanya mendadak berdenyut keras. Perutnya pun semakin sakit tak tertahan. Tubuhnya sedikit oleng dan menubruk mobilnya sendiri.
BRUK.
"Mommy!" Rissa berteriak histeris karena Naina pingsan tepat disamping mobilnya.
Dean segera berlari menghampiri tubuh Naina yang tergeletak di pelataran gedung tepat di samping mobilnya.
"Na! Sadarlah Na!" Ucap Dean setelah memangku tubuh bagian atas Naina.
Rissa mengurungkan niatnya membuka pintu mobil, karena Dean berjongkok tepat di depan pintu. Atun segera keluar melalui pintu di sisi lain mobil dan diikiti oleh Rissa.
"Mommy!" Rissa berteriak histeris sambil berlari menghampiri Naina.
Delvin yang melihat Rissa berlari histeris, mengikuti langkah Rissa ke samping mobil Naina.
"Tenang ya Sayang! Kita bawa Mommy ke rumah sakit." Ucap Dean pelan untuk menenangkan Rissa.
"Mommy!" Rissa mulai menangis keras.
"Naina!" Ucap Delvin yang tiba-tiba muncul dari belakang mobil Naina.
Dean mendongakkan wajahnya karena mendengar suara Delvin. Ia menatap datar pada Delvin. Ia memilih mengangkat tubuh Naina dengan kedua tangannya.
"Mbak Atun, buka pintunya!" Pinta Dean cepat.
Atun segera membukakan pintu mobil Naina. Dean pun segera membaringkan Naina di kursi belakang.
"Rissa duduk di depan sama Om! Biar Mommy di belakang sama Mbak Atun." Ucap Dean setelah selesai membaringkan Naina di mobil.
Rissa mengangguk patuh. Dean segera menggendong Rissa dan membantunya masuk ke mobil. Atun pun segera memutari bagian belakang mobil untuk masuk melalui pintu dimana ia tadi keluar. Atun juga segera memangku kepala Naina di kursi belakang.
Dean segera melajukan mobil Naina menuju rumah sakit. Meninggalkan Delvin dan Ivan yang menatap penuh kebingungan.
__ADS_1
Rissa pun belum berhenti menangis selama diperjalanan. Ia mengkhawatirkan kondisi ibunya yang tiba-tiba pingsan. Atun juga berusaha mendekatkan botol minyak angin pada hidung Naina, supaya lekas sadar.