
Hari baru telah tiba. Datang dengan sejuta asa dan rasa sebagai pelengkap kehidupan. Menjadi langkah awal, bagi setiap cerita yang mungkin akan terangkai indah bersama segala cinta yang telah terpatri dalam jiwa.
Kehamilan Naina sungguh menjadi perhatian lebih bagi sang suami tercinta, Dean. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sempat ia lewatkan secara tidak sengaja dulu. Ia benar-benar berusaha menjadi suami dan ayah yang selalu siap untuk semua yang Naina dan calon anak kembar mereka.
Tak ada ngidam yang aneh-aneh lagi pada Naina. Ia melakukan semua akitivitasnya seperti biasa. Hanya saja, memang kini semua lebih banyak ia lakukan di rumah. Hanya beberapa kali saja ia berkantor. Dua asistennya, benar-benar bisa diandalkan.
Jelita dan Jonathan pun tak mau kalah dalam memperhatikan menantu mereka yang akan kembali memberi mereka cucu. Mereka juga antusias menanti kelahiran cucu kembar yang belum diketahui jenis kelaminnya itu.
Ah ya, Naina dan Dean tak mencari tahu jenis kelamin bayi kembar mereka. Mereka akan menerima dengan bahagia anak kedua dan ketiga mereka, apapun jenis kelaminnya.
Perkembangan kehamilan Naina sangat bagus. Kondisi ibu dan dua jabang bayinya terpantau selalu baik setiap bulannya.
"Ibu! Ibu!"
Naina mengigau cukup jelas dalam mimpinya. Dean pun segera terbangun setelah mendengar suara Naina.
"Sayang! Sayang! Bangunlah!"
Dean berusaha membangunkan Naina dari tidurnya. Ia menggoyangkan tubuh Naina beberapa kali untuk membangunkannya.
Akhirnya, Naina pun terbangun tengah malam dari tidurnya dengan perasaan yang kurang baik. Setelah baru saja memimpikan Sekar yang sudah beberapa bulan tidak ia kunjungi atau mengunjunginya.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Dean perlahan, setelah Naina membuka matanya.
Naina menoleh pada Dean yang sudah terduduk tepat di sebelah ia tertidur seperti biasa.
"Aku mimpi ibu, Mas." Jawab Naina cemas.
Dean melirik jam weker yang ada di nakas sebelah ranjangnya.
"Ibu pasti baik-baik saja. Kamu mau meneleponnya?" Tawar Dean setelah mengetahui jam yang menunjukkan pukul satu malam.
"Ini jam berapa, Mas?" Tanya Naina cemas.
"Ini jam satu, Sayang. Di LA sekitar pukul sebelas siang." Jelas Dean.
Naina pun mengangguk cepat.
"Kamu memangnya mimpi apa? Kenapa cemas begitu?" Tanya Dean, seraya mencoba mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.
"Aku mimpi, ibu jatuh dari tangga Mas." Jawab Naina cemas, seraya bangun dari posisinya.
"Itu hanya mimpi Sayang. Jangan khawatir! Ibu pasti baik-baik saja. Oke?"
Naina mengangguk ragu. Perasaannya benar-benar tidak tenang setelah ia bermimpi buruk tentang Sekar.
__ADS_1
Dean meletakkan ponselnya di atas pangkuan Naina, setelah menekan lambang telepon yang ada di menu aplikasi pesannya. Ia lalu meraih gelas minum yang tadi bersebelahan dengan ponselnya di atas nakas.
Naina segera meraih ponsel itu. Ia menunggu panggilan itu tersambung dengan hati yang sangat gelisah.
"Minumlah dulu!"
Dean menyerahkan gelas minumnya yang berisi air putih pada Naina. Naina pun segera menerima dan meminum beberapa teguk untuk sedikit menenangkan dirinya.
"Halo, assalamu'alaikum."
Suara dari seberang telepon terdengar jelas, bukan Sekar. Meski seorang wanita.
"Halo Mia, wa'alaikumussalam. Where's Mommy?"
"Mommy in the hospital. She slipped on the stairs earlier and was bleeding."
"Astaghfirullah. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"She is having a cesarean section now."
Naina menoleh pada Dean yang juga mendengarkan percakapannya dengan Mia, putri dari Wiliam.
"Ya Allah. Sudah berapa lama operasinya berlangsung?" Tanya Naina mulai sedikit terisak.
"Tenanglah!"
"Ten minutes ago, Sis." Sahut Mia pelan.
"Dimana Daddy?"
"He was very anxiously waiting for Mommy at the operating room door."
"Oke. Aku akan segera ke sana. Tolong kabari aku, apapun itu!"
"Of course, Sis."
"Thank you."
"You're welcome."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Naina segera mengakhiri panggilannya. Ia pun segera menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ayo Mas, kita ke tempat ibu!" Ajak Naina cepat.
"Tenanglah dulu Sayang!"
"Ibu, Mas. Ibu."
Air mata Naina akhirnya lepas dari singgasananya. Mereka mulai membasahi pipi mulus bumil yang sedang sangat gelisah hatinya itu.
"Tenanglah, Sayang! Tenang! Ingat, kamu sedang hamil sekarang."
Tangan Dean, sudah sangat sibuk mengusap pipi Naina yang basah. Ia dengan sangat sabar berusaha menenangkan hati Naina.
"Tapi ibu bagaimana Mas?" Tangis Naina semakin menjadi.
"Ibu pasti baik-baik saja. Dia sudah berada ditangan yang tepat saat ini. Kita do'akan, ibu bisa segera pulih kembali. Dan keadaan ibu dan bayinya, semua baik-baik saja."
Dean merengkuh kembali tubuh Naina yang mulai sedikit gemuk. Ia memeluk dan mendekapnya dengan penuh perhatian. Sejenak membiarkan Naina menumpahkan tangisnya karena berita kurang baik itu.
"Kita ke LA, Mas!" Ajak Naina saat masih dalam pelukan Dean.
"Perjalanan ke LA, butuh waktu dua puluh jam. Sedangkan kamu sedang hamil saat ini, Sayang." Tolak Dean halus.
"Tapi aku mau ketemu sama ibu langsung, Mas. Aku ingin merawatnya, meski hanya sejenak." Rengek Naina cepat.
"Kan sudah ada daddy, Mia dan Sean yang menjaganya, Sayang."
"Pokoknya aku mau ke LA besok! Mas terserah mau gimana."
Naina pun segera melepaskan diri dari pelukan sang suami. Ia kesal karena Dean tak menuruti permintaannya. Dean pun menghela nafasnya untuk meredam sedikit kekesalannya karena ulah Naina.
"Yasudah. Tapi, kita besok akan konsultasi pada dokter dulu sebelum berangkat! Jika dokter mengijinkan, kita akan berangkat. Tapi jika kata dokter, karena kondisimu tidak memungkinkan, kita tidak akan ke LA sebelum kamu melahirkan. Oke?"
Naina pun dengan cepat menganggukkan kepalanya. Ia pun segera memeluk tubuh kekar suaminya, yang selalu bisa menenangkannya itu. Dean pun menyambut pelukan itu dengan senyum hangat.
Dean pun segera menghubungi Niko untuk membuat janji temu dengan dokter kandungan Naina pagi ini. Dean bahkan tak memperdulikan pukul berapa sekarang.
Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, Naina sudah bangun seperti biasa. Ia pun memberitahukan kabar Sekar pada Rissa. Ia juga memberitahukan rencananya untuk ke LA pada putrinya. Dan Rissa pun menyambutnya dengan antusias.
Pukul sepuluh pagi, Dean dan Naina sudah berada di rumah sakit untuk berkonsultasi, sesuai jadwal kunjungan yang telah dikonfirmasikan oleh Niko tadi. Mereka juga sudah mendapat kabar dari LA bahwa operasi Sekar berjalan lancar.
Sekar akhirnya melahirkan seorang putra, setelah mengalami pendarahan karena terpeleset di tangga rumahnya. Ibu dan bayinya dalam keadaan yang baik saat ini.
Meski begitu, Naina tetap ingin berangkat ke LA untuk menemui Sekar dan memastikan kondisinya secara langsung. Ia juga ingin merawat ibu sambungnya itu sebagai rasa terima kasih karena telah merawatnya dengan tulus selama ini.
Dan takdir mendukung Naina. Dokter ternyata mengijinkan Naina terbang ke LA dengan beberapa persyaratan. Mengingat, kandungan Naina sudah menginjak bulan keenam.
__ADS_1
Perhatian dan pengertian. Menjadi hal yang cukup penting dalam menjalani kehidupan ini. Menjadi pondasi yang sangat diperhitungkan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Mungkin, tak semua orang bisa dengan tulus memberikannya. Tapi terkadang, hal itu datang dari orang-orang yang tak pernah kita duga sebelumnya.