
Ikatan antara dua hati yang tercipta dengan sendirinya karena ketulusan, terkadang lebih kuat dari sebuah batu karang yang gagah menjulang menghadap ke laut luas. Lebih nyata daripada sebuah perasaan yang terkadang semu dan membingungkan.
"Ish!" Gumam Dean tatkala jarinya tanpa sengaja tergores oleh lembaran-lembaran kertas yang sedang ia pegang.
Ya, jari Dean tergores oleh lembaran-lembaran kertas yang setiap hari sudah biasa ia pegang. Dean segera membersihkan jarinya yang sedikit mengeluarkan darah. Perasannya mendadak lebih gelisah dibandingkan tiga hari terakhir.
Dean melirik arloji di tangannya. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya yang masih berada di Indonesia. Ia tahu, sekarang belum begitu larut di Indonesia. Karena di Munich, masih pukul dua siang.
"Mama dan Papa baik-baik saja bukan?" Tanya Dean khawatir.
"Iya. Mama dan Papa baik-baik saja. Ada apa?"
"Perasaan Dean tidak tenang Ma. Tapi syukurlah kalau Mama dan Papa baik di sana."
"Kami baik."
"Ma!"
"Iya?"
"Bagaimana kabar Naina Ma?" Tanya Dean ragu-ragu.
Dean sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Naina sejak kemarin. Tapi ia tak bisa menghubunginya. Karena Jelita telah memblokir nomor Naina untuk Dean. Dan kini, tak ada respon dari Jelita saat Dean menanyakannya.
"Dia baik." Jawab Jelita datar.
"Oke Ma. Dean tutup teleponnya Ma!"
"Iya."
Dean menghela nafasnya. Hatinya masih belum tenang meski ia sudah mendengar kabar kedua orang tuanya baik-baik saja.
"Kenapa firasatku buruk pada Naina? Apa terjadi sesuatu padanya?" Gumam Dean sambil bersandar di kursinya
"Ah, dia sudah menjadi milik orang lain sekarang. Aku tak boleh memikirkannya terus menerus." Sanggah Dean bingung.
Tapi Dean tetap tidak bisa membohongi hatinya. Ia tetap mengkhawatirkan Naina. Dan itu sudah berlangsung sejak tiga hari yang lalu. Dan kini, kekhawatiran itu makin tinggi.
Meski tadi Jelita sudah mengatakan pada Dean bahwa kabar Naina baik, tapi hatinya berkata tidak. Ia tetap mengkhawatirkan keadaan Naina.
Dean menatap ponselnya dengan seksama. Ia sedang berusaha mengambil keputusan nekat yang mungkin akan membuat ibunya cukup marah nanti.
"Aku bisa beralasan hanya sekedar menyapanya pada Mama nanti." Gumam Dean ragu.
Dean memantapkan hatinya. Ia kembali meraih ponselnya yang tadi sudah ia letakkan di atas meja kerjanya bersama berkas-berkas laporan yang tadi sedang ia periksa.
Dean segera mencari nomor kontak orang yang selama beberapa tahun terakhir menjadi temannya kemanapun ia pergi. Orang yang selalu ada untuknya saat ia butuhkan. Niko.
Dean segera melakukan panggilan ke nomor Niko. Panggilan pun segera tersambung. Tapi sayang, Niko tidak kunjung menjawabnya.
"Kenapa dia tidak menjawabnya? Apa dia sedang bersama Papa dan Mama sekarang?" Gumam Dean makin gelisah.
Hati Dean pun bertambah gelisah. Ia semakin mencemaskan keadaan Naina. Ia masih berusaha menghubungi nomor Niko lagi dan lagi. Meski, belum ada respon dari Niko setelah panggilan yang kesekian kalinya dari Dean.
"Kenapa dia tidak menjawabnya?" Geram Dean.
Sedangkan di salah satu kota kecil di Indonesia, yang berbatasan langsung dengan ibukota, Niko baru saja sampai di lokasi yang tadi dikirimkan oleh anak buahnya yang berhasil membuntuti Delvin dan Jenita pergi.
Niko yang sedari tadi berkomunikasi dengan Joe dengan wireless earphone, melupakan ponselnya yang ia letakkan di samping kursi kemudi mobilnya. Ia bergegas keluar bersama Sinta untuk menghampiri Joe yang sudah sampai lebih dulu bersama Rissa, Sekar dan Wiliam.
"Apa benar, ini lokasinya?" Tanya Sekar tidak sabar.
"Iya Nyonya. Anak buah saya sudah memastikannya. Dan itu, mobil Tuan Delvin." Tunjuk Niko pada sebuah mobil mewah yang terparkir tepat di depan sebuah rumah lama yang tidak begitu terurus.
"Mommy!" Rengek Rissa tak sabar sambil menarik tangan Sekar.
"Iya Sayang, kita akan menolong Mommy!" Ucap Sekar menenangkan Rissa.
"Apa kita akan menunggu polisi datang?" Tanya Sinta bingung.
"Jangan! Lebih baik kita masuk dulu dan memastikan keselamatan Nona Naina!" Usul Niko cepat.
"Anda benar Niko." Sahut Joe menyetujui.
"Baiklah, mari!" Ajak Niko cepat.
Mereka segera berjalan menuju rumah yang berada cukup terpencil dari pemukiman warga. Rumah itu cukup besar, tapi tidak terawat. Banyak tanaman liar yang tumbuh mengitarinya.
Anak buah Niko dan Joe segera mencoba melumpuhkan penjaga yang ada di depan rumah. Perkelahian pun tak bisa dihindarkan. Tapi, mereka bisa dengan mudah melumpuhkan para penjaga, karena memang mereka menang jumlah.
Dan ternyata, masih ada beberapa penjaga lagi di dalam rumah. Mereka kembali berkelahi. Niko dan Joe segera berusaha mencari keberadaan Naina di dalam rumah itu. Mereka membuka semua pintu yang ada, satu persatu.
__ADS_1
Hingga mereka kembali bertemu dengan dua penjaga di depan sebuah pintu yang berada di ruangan paling belakang. Joe dan Niko segera menghadapi dua penjaga itu dengan mudah.
Ceklek.
"Mommy!" Rissa berteriak begitu keras saat membuka pintu ruangan yang tadi dijaga oleh dua pengawal yang sedang dilumpuhkan oleh Joe dan Niko.
Sepasang ibu dan anak yang ada di ruangan itu terkejut bukan main. Mereka sudah mendengar kegaduhan sejak tadi dan berniat untuk pergi. Tapi ternyata mereka sudah ketahuan.
"Rissa!" Ucap Delvin terkejut melihat gadis itu menemukannya.
"Om Delvin!" Teriak Rissa marah.
Rissa mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ada ember berukuran sedang di dekat pintu. Ia segera menghampiri dan segera bersiap.
DUG
Rissa menendang ember itu dan berhasil melayang sesuai perkiraan Rissa. Ember itu mendarat sempurna di dada Delvin.
Delvin terkejut karena Rissa bisa melakukan itu. Dan saat ia masih berusaha mengurai keterkejutannya karena ulah Rissa dan meredam sakit di dadanya karena terkena ember, tiba-tiba sesuatu kembali mengenainya.
BUG.
Sebuah botol air mineral berukuran sedang yang masih terisi penuh, berhasil menghantam wajah Delvin. Ia bahkan sampai tersungkur ke belakang karena tak siap.
"Delvin!" Panggil Jenita panik saat melihat putranya terjatuh.
Jenita segera berjongkok untuk melihat kondisi Delvin. Delvin sedikit mengerang kesakitan karena wajahnya yang terkena botol.
"Kamu tidak apa-apa Vin?" Tanya Jenita panik.
"Kita harus pergi Ma!" Jawab Delvin cepat.
"Itu tak akan terjadi!" Ucap Niko yakin, sambil berdiri menatap Delvin bersama tiga anak buahnya.
"Jaga mereka sampai polisi tiba!" Pinta Niko tegas pada tiga anak buahnya.
Delvin mendongakkan wajahnya. Ia terkejut, karena ia rupanya telah dikepung oleh anak buah Niko. Delvin dan Jenita akhirnya dibawa keluar ruangan oleh ketiga anak buah Niko sambil terus meronta dan memaki Naina dan Rissa tanpa henti.
"Naina!" Ucap Sekar panik setelah ia menghampiri Naina yang tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
"Mommy!"
"Bu Naina! Bangunlah Bu'!" Ucap Sinta berusaha membangunkan Naina.
Niko yang telah selesai dengan Delvin, segera menoleh pada ketiga wanita itu untuk mengetahui kondisi Naina.
"Astaga!" Gumam Niko terkejut melihat kondisi Naina.
Tanpa basa-basi atau merasa jijik dengan kondisi Naina yang basah kuyup dan bersimbah darah, Niko segera mengangkat tubuh Naina dan berlari membawanya kembali ke mobilnya. Rissa, Sekar dan Sinta pun segera mengikuti langkah Niko.
Dan bertepatan saat Niko keluar dari rumah, para polisi pun tiba. Dua orang anggota polisi akhirnya mengawal mobil Niko dan Wiliam menuju rumah sakit terdekat agar Naina bisa segera diselamatkan. Sementara yang lain, segera mengamankan lokasi dan para pelaku penyekapan Naina.
"Mommy bangun Mom! Jangan tinggalin Rissa Mom! Bangun Mom! Rissa di sini Mom!"
Rissa menangis di samping tubuh ibunya yang semakin dingin dan pucat. Ia tak menghiraukan posisinya yang tak duduk dengan benar di dalam mobil, demi bisa membangunkan ibunya.
Rissa benar-benar menyayangi ibunya. Ia benar-benar takut jika harus kehilangan ibunya. Karena, selama ini hanya ibunyalah yang selalu ada untuknya. Yang selalu mengertinya. Meski kadang ia sangat nakal pada sang ibu.
Dan kini, sang ibu sedang berusaha melawan maut yang sedang mengintainya begitu dekat.
"Tenanglah Sayang! Mommy pasti baik-baik saja." Ucap Sekar menenangkan sambil memangku kepala Naina yang penuh darah.
Perasaan Sekar sebenarnya juga sangat takut. Ia juga takut jika akan terjadi hal buruk yang menimpa Naina dengan kondisinya saat ini. Tapi, ia tak bisa melupakan Rissa yang sangat butuh ditenangkan oleh seseorang.
Karena lokasi penyekapan yang cukup terpencil, butuh lebih dari tiga puluh menit untuk sampai ke rumah sakit terdekat. Saat sampai di rumah sakit, Niko kembali membopong Naina ke ruang IGD. Naina pun segera mendapat pertolongan
Wiliam, Sekar, Rissa, Niko dan Sinta menunggu dengan cemas. Semua mengkhawatirkan keadaan Naina yang sedang ditangani oleh pihak medis. Rissa pun masih menangis karena takut kehilangan ibunya.
"Aku harus mengabari Nyonya!" Gumam Niko.
Sinta yang duduk bersebelahan dengan Niko segera menoleh. Ia menatap suaminya mencari sesuatu.
"Aku akan mengambil ponselku di mobil!" Ucap Niko.
"Biar aku yang ambil Mas!" Usul Sinta.
Sinta pun segera mengambilkan ponsel Niko di mobil. Ia membuka ponsel Niko saat berjalan kembali ke ruang IGD. Ia menemukan pemberitahuan puluhan panggilan tak terjawab dari nomor baru tapi bukan nomor Indonesia.
"Ini?" Gumam Niko saat menyadari asal negara nomor yang menghubunginya berkali-kali tadi.
"Aku akan mengabari Nyonya Jelita!" Pamit Niko.
__ADS_1
Niko pun keluar dari ruang IGD.
"Apa itu nomor Tuan Dean?" Gumam Niko sambil berjalan keluar IGD.
Niko menimang-nimang ponselnya. Ia ingin menelepon kembali nomor tadi untuk memastikan. Tapi ia juga ingat janjinya pada Jelita, untuk tidak mengatakan apapun pada Dean mengenai Naina.
Dan akhirnya, Niko menelepon balik nomor itu.
"Assalamu'alaikum. Halo Nik. Bagaimana kabarmu?"
"Wa'alaikumussalam. Saya baik Tuan. Maaf Tuan, tadi saya sedang ada urusan, dan kebetulan ponsel saya tertinggal di dalam mobil." Jujur Niko.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja."
"Iya Tuan. Bagaimana kabar Tuan di Jerman?"
"Aku baik Nik. Dan Nik, bagaimana kabar Naina dan Rissa?"
"Mereka baik Tuan." Bohong Niko sambil menoleh ke arah IGD.
"Kamu tidak bohong padaku bukan?"
"Tidak Tuan. Untuk apa saya berbohong pada Anda?" Kilah Niko cepat agar tidak terlihat mencurigakan.
"Baiklah. Aku titip Naina dan Rissa padamu Nik! Jika terjadi sesuatu pada mereka, segera kabari aku! Aku mohon padamu!"
"Saya akan berusaha menjaga mereka sebaik mungkin Tuan!" Ucap Niko miris.
"Terima kasih Nik."
"Jangan sungkan Tuan."
"Baiklah, aku akan tutup teleponnya. Jika Mama atau Papa bertanya padamu, tolong jangan katakan jika aku menanyakan Naina dan Rissa padamu!"
"Tentu Tuan."
Panggilan pun segera berakhir. Niko berusaha menepati janjinya pada Jelita sebagai rasa terima kasihnya karena diizinkan menggunakan anak buahnya untuk mencari Naina.
Niko lalu kembali mengotak-atik kontak ponselnya untuk menelepon Jelita.
"Iya Nik. Bagaimana Naina? Apa sudah ketemu?"
"Sudah Nyonya. Nona Naina sudah berhasil kami temukan." Jujur Niko.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia, dia sedang dalam perawatan pihak medis Nyonya. Nona Naina terluka Nyonya."
"Kalian dimana sekarang?"
"Kami diluar ibukota Nyonya. Tuan Delvin menyembunyikan Nona di luar ibukota."
"Kirimkan alamatmu sekarang!"
"Baik Nyonya!"
Panggilan pun langsung diakhiri oleh Jelita. Niko pun segera mengirimkan alamat rumah sakit dimana sekarang ia berada.
Sedang di kediaman Diedrich, Jelita segera mengajak Jonathan untuk menyusul Niko dan Naina. Ia sangat tidak sabar untuk melihat kondisi Naina yang masih sangat ia sayangi. Jonathan pun menuruti permintaan Jelita. Karena sebenarnya, ia juga mengkhawatirkan keadaan Naina.
Rasa tak pernah bisa membohongi sang hati. Ia selalu jujur setiap saat. Meski kadang bibir bisa berucap tak sesuai dengan kehendak hati, tapi sang hati tetaplah tak bisa dibohongi oleh sang bibir.
...****************...
Assalamu'alaikum readers semua 🤗🤗
Terima kasih untuk semua yang masih setia sampai episode ini mengikuti kisah Naina dan Dean 😘😘
Othor ucapkan banyak-banyak terima kasih pokoknyah untuk semua like 👍, vote 🤩, rate ⭐, gift 🎁 dan komen 💬 readers semua 🙏🙏😍😍
Othor nggak ada apa-apanya tanpa kalian 🥲😘🥰😍
Maaf juga yaa kalau ceritanya terlalu sederhana dan membosankan 🙏🙏 ini semua murni karena othor yang masih amatir dan perlu banyak belajar 😁😁
Semoga, readers semua masih setia sampai cerita ini othor selesaikan 🙏😁 sedikit lagi yaaa 😉🤭
Pokoknyah, maturnuwun terima kasih seakeh-akehnya untuk semuanya 😘😘🥰🥰😍😍🤩🤩
Mampir ke cerita othor yang lain juga boleh kok 😉👍 bisa cek di profil othor yaa 🤩😘
Yang mau kirim gift atau vote dan jempol banyak-banyak boleh banget kok 😁🤩 tetap ditunggu dengan setia sama othor 😄😄
__ADS_1
See you next episode guys 😘😘
Wassalamu'alaikum 🤗🤗