
"Aku mencintaimu, Naina Andini." Ucap Dean lembut, dengan tatapan yang tak lepas dari Naina.
Naina tak bisa membendung perasannya. Hatinya benar-benar bergemuruh. Kalimat yang Dean ucapkan, menggema sempurna di indera pendengarannya. Bahkan, menggema indah di dalam hatinya.
Naina kebingungan menanggapi kalimat Dean. Dalam hatinya, ia selalu ingin mengucapkan kalimat itu. Sebuah kalimat sederhana, namun penuh dengan makna. Kalimat yang benar-benar bisa melegakan sedikit ganjalan hatinya.
Tapi ia juga tak bisa mengubah kenyataan yang telah ia sembunyikan dari mata dunia selama enam tahun ini. Dan kenyataan itu, mungkin bisa sangat menyakiti Dean.
Tapi, sebuah suara tiba-tiba menelusup begitu saja ke dalam pikirannya.
".. kamu harus bahagia Na!"
Kalimat yang pernah Lea dan Hera ucapkan beberapa minggu yang lalu saat mereka berkunjung ke rumah Naina.
Naina dan Dean masih setia menatap lekat bayangan mereka dalam manik mata orang yang ada dihadapannya. Naina masih diam dan sibuk dengan kemelut hati dan pikirannya.
Hingga, perlahan kelopak mata Naina mulai digenangi oleh cairan bening yang hadir tanpa permisi. Dan, Naina pun menganggukkan kepalanya dengan senyuman pedih yang disertai oleh airmata yang mulai menetes di pipinya.
Dean sedikit membolakan matanya. Ia berusaha mencari maksud dari tanggapan Naina baru saja.
"Apa kamu juga mencintaiku Na?" Tanya Dean perlahan.
Naina kembali menganggukkan kepalanya.
"Aku juga mencintaimu, Dean Pratama." Jawab Naina lirih.
Dean tersenyum kecil mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Naina. Naina langsung memeluk Dean tanpa permisi. Ia pun menumpahkan tangis pedih dan bimbang hatinya di dada bidang Dean.
Dean pun segera mendekap Naina. Ia memeluknya dengan penuh perasaan dan kehangatan.
"Iya De, aku mencintaimu, aku mencintaimu." Ucap Naina dalam tangisnya yang telah pecah.
Naina memeluk erat tubuh Dean tanpa permisi. Ia hanya ingin menumpahkan sebuah rasa yang selama beberapa bulan ia pendam dan menjadi pergulatan hebat dalam dirinya. Dan kini, rasa itu telah ia sampaikan berkali-kali tanpa ragu.
"Aku tak tahu sejak kapan rasa ini hadir dan tumbuh dalam hatiku. Tapi, yang aku tahu, namamu sudah terukir dalam di hatiku saat ini. Dan aku tak bisa menahannya lagi." Imbuh Naina dalam tangisnya yang masih tetap menemani.
Dean perlahan melepaskan pelukannya. Ia lalu melepaskan dekapan erat tangan Kayla yang melingkar di pinggangnya. Ia menyadari tangan Kayla sedikit kotor karena adonan. Ia lalu membersihkannya sebentar.
Dean sedikit menyingkirkan beberapa bahan dan alat masak yang ada di meja dapur Naina. Ia lalu sedikit mengangkat Naina dan mendudukkannya di atas meja dapurnya. Naina hanya tertunduk dalam dengan airmata yang masih mengalir.
Dean mengangkat wajah Naina yang tertunduk sejak tadi. Diusapnya perlahan wajah yang basah dan sedikit sembab itu dengan penuh kelembutan. Dean pun bisa melihat, betapa merahnya bola mata itu karena menangis.
"Kenapa kamu menahannya?" Tanya Dean lembut.
"Aku tak ingin melukaimu De! Aku juga tak ingin terluka nantinya." Jujur Naina.
"Apa maksudmu?" Tanya Dean penuh perhatian.
"Ada hal yang aku rahasiakan dari semua orang. Dan jika kamu tahu rahasia itu, kamu pasti akan terluka. Dan kamu juga akan berpikir berkali-kali untuk menjaga perasanmu itu padaku. Dan itu akan sangat menyakitkan bagiku nantinya." Ucap Naina yang kembali tertunduk.
"Apa itu? Katakanlah! Aku akan menerima semua kekuranganmu. Karena aku pun tidak sesempurna itu Na." Bujuk Dean sembari kembali menarik dagu Naina agar ia kembali mengangkat wajahnya.
Naina terdiam. Hati dan pikirannya kembali bergelut hebat. Ia sungguh ingin mengatakan rahasia itu pada Dean, tapi, ia juga takut jika ia harus kehilangan Dean begitu cepat. Dalam lubuk hatinya, ia tak pernah siap untuk hal itu.
Air mata Naina mengalir Deras. Mulutnya ingin mengucapkan rahasia itu, tapi hatinya sungguh takut kehilangan laki-laki itu jika ia mengatakannya.
__ADS_1
"Jika itu terlalu berat untuk kau ucapkan saat ini, jangan ucapkan! Aku akan menunggumu siap untuk mengatakannya! Aku pasti menerima semua yang ada pada dirimu." Ucap Dean yang masih setia mengusap air mata Naina yang tetap setia menemaninya.
"Maaf,," Ucap Naina lirih.
"It's okay Baby!" Jawab Dean sambil menarik tubuh Naina dalam pelukannya.
Dean memeluk Naina dengan penuh perhatian. Ia benar-benar bahagia mendengar kalimat yang tadi Naina ucapkan. Meski ada ganjalan di hatinya akan rahasia Naina, tapi, ia berusaha mengesampingkan itu untuk saat ini. Ia tak ingin memaksa Naina mengatakannya jika itu terlalu sulit untuknya.
Naina pun membalas pelukan Dean dengan erat. Ia cukup lega, bisa mengungkapkan isi hatinya pada Dean. Meski, masih ada PR untuknya yang harus segera ia selesaikan. Sebelum semuanya berjalan terlalu jauh.
Perlahan, tangis Naina pun mereda. Dean pun melepaskan pelukannya. Ia lalu mengambilkan tisu dan minum untuk Naina. Naina masih berusaha meredam isakannya dengan tetap duduk di atas meja dapurnya.
"Minumlah dulu!" Ucap Dean sambil menyodorkan segelas air putih yang ia ambil tadi.
Naina pun lalu meminum air yang diberikan Dean. Dean lalu mengusap sisa air mata Naina yang masih ada di wajah Naina. Naina akhirnya mengambil tisu itu dari tangan Dean dan membersihkannya sendiri.
"Ucapkan lagi Na! Aku ingin mendengarnya lagi" Pinta Dean lembut seraya menyandarkan kedua tangannya ke meja dapur hingga tingginya sejajar dengan Naina dan ia pun bisa mengungkung Naina.
"Apa?" Jawab Naina malu.
"Ucapanmu tadi." Goda Dean sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Yang mana?" Jawab Naina berlagak polos.
"I love you." Ucap Dean tanpa ragu.
Naina terdiam. Ia menatap wajah Dean yang tepat dihadapannya. Jantungnya makin berdetak cepat.
"Jangan kau tahan lagi, ucapkanlah!" Pinta Dean lirih.
"I love you too." Jawab Naina lirih.
CUP.
Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Naina tanpa permisi. Dean yang dipenuhi perasaan bahagia, mengecup bibir Naina tanpa aba-aba. Naina yang tak siap, ia membelalakkan matanya karena terkejut.
"Thank you Baby." Ucap Dean santai setelah mendaratkan bibirnya di atas bibir Naina tanpa rasa bersalah.
Naina hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia sangat bahagia. Meski sempat sedikit kesal karena kejutan Dean, tapi ia tak bisa mengingkari perasannya yang sedang bahagia karena bisa mengutarakan isi hatinya.
Jiwa kelaki-lakian Dean menyeruak. Posisinya kini, sungguh menguntungkannya. Hasratnya sebagai seorang laki-laki, tiba-tiba muncul dan sedikit menggodanya. Meski ia tahu, wanita yang sedang dalam kungkungannya sekarang bukan wanita biasa, tapi, ia juga tak bisa menahan hasratnya yang mulai menggelitik dirinya sendiri.
Dean menatap kembali manik mata Naina yang sedari tadi masih setia menatapnya juga. Perlahan, Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Naina. Ia mulai menatap bibir polos tanpa riasan yang baru saja ia kecup tanpa permisi.
Dean pun kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir Naina. Ia mencoba mencium Naina dengan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi. Ia pun bersiap menerima setiap serangan yang mungkin Naina lakukan karena perlakuannya.
Lalu apa yang Naina lakukan?
Naina terkejut bukan main, saat Dean kembali mendaratkan bibirnya tanpa permisi. Apalagi, kini Dean tak hanya sekedar mengecupnya, tapi mulai berusaha menciumnya. Naina bisa merasakan bibir Dean mulai bermain indah di atas bibirnya. Tanpa Naina sadari, ia memejamkan matanya dan mulai menikmati perlakuan Dean.
Dean yang menyadari reaksi Naina bukanlah sebuah penolakan, ia pun melanjutkan aksinya. Ia lalu ******* bibir indah itu dengan lembut.
Naina pun menyambutnya dengan perlahan. Ia memang tak memiliki banyak pengalaman untuk itu, tapi ia masih ingat bagaimana cara membalas ciuman itu. Naina pun mulai membalas ciuman Dean.
Dua insan itu saling mengecap dan bermain lidah dengan penuh kelembutan. Mereka saling menikmati momen yang tak pernah mereka duga akan terjadi sebelumnya.
__ADS_1
Dean mulai menegakkan tubuhnya dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Naina. Ia mendekap hangat punggung Naina dengan satu tangan, sedang tangan lainnya memegang tengkuknya agar ia tak terlepas begitu saja.
Naina yang tak berpengalaman, hanya mencengkeram erat kemeja yang Dean kenakan. Ia mencoba menguasai dirinya agar tak terhanyut terlalu dalam oleh permainan Dean yang sudah sangat handal.
Cukup lama Dean dan Naina berciuman. Dean pun sekuat tenaga menahan dirinya agar tak melampaui batasan yang sudah ia buat sendiri.
"Cukup Na! Aku tak ingin melakukan kekhilafan yang akan kusesali nantinya!" Ucap Dean seraya mengusap bibir merah Naina karena ulahnya.
Wajah Naina berubah menjadi sangat merah merona. Ia merasa sangat malu karena menyambut ulah Dean yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Terima kasih karena telah mengatakannya. Apa sekarang kita pacaran?" Tanya Dean yang masih setia menatap Naina yang sedikit tertunduk malu.
Naina hanya diam tak menanggapi pertanyaan Dean. Ia terlalu malu karena telah terhanyut oleh perlakuan Dean yang begitu menggodanya tadi.
"It's okay Baby! Mulai sekarang, kamu milikku dan aku hanya milikmu." Imbuh Dean yang paham perasaan Naina yang sedang merasa malu.
Naina segera mengangkat wajahnya. Ia terkejut mendengar ucapan Dean. Ia terlalu bingung mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Ia hanya menatap wajah laki-laki dihadapannya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan.
"Oke Sayang. Sekarang, biarkan aku yang memasak untuk Rissa! Kamu istirahatlah! Oke?" Ucap Dean seraya menoleh ke kiri dan kanan untuk mengalihkan perhatian Naina.
"Jangan memanggilku 'Sayang'! Atau Rissa akan salah paham nanti." Pinta Naina cepat.
"Lalu, aku harus memanggilmu apa?" Tanya Dean bingung.
"Panggil saja seperti biasa. Aku tak ingin Rissa berpikiran terlalu jauh." Jelas Naina.
"Okay! Aku akan memanggilmu 'sayang', saat kita hanya berdua. Bagaimana?" Tawar Dean.
Hati Naina tak bisa menolaknya. Ia merasa sangat bahagia saat ini. Ia hanya diam tak menjawab.
"Apa yang kamu lakukan De?" Teriak Naina terkejut, saat Dean mulai membopong tubuhnya tanpa permisi.
Naina pun refleks mengalungkan tangannya ke leher Dean.
"Memindahkanmu. Kamu ingin duduk di kursi atau tiduran di kamar?" Tanya Dean santai.
"Turunin De!" Ucap Naina sedikit meronta karena menyadari ulah Dean yang sedikit nakal.
"Kita hanya berdua Sayang di rumah." Jawab Dean santai sembari melangkahkan kakinya menuju ruang makan Naina.
"Turunin De!" Bentak Naina lagi sambil meronta.
"Panggil aku 'Sayang'!" Goda Dean.
"Turunin De!"
"Enggak akan! Sebelum kamu panggil aku Sayang!"
Dean yang memang memiliki tubuh atletis, cukup santai membopong tubuh Naina meski ia meronta-ronta meminta untuk diturunkan. Bukannya menurunkannya, ia malah membawa Naina ke teras belakang.
"Bersantailah di sini, aku akan membuatkan pesanan Rissa!"
Dean menurunkan Naina di kursi teras. Tak lupa, sebuah senyuman hangat yang menampilkan dua buah lesung pipi di wajah tampan Dean, menjadi pengantar kembalinya Dean ke dalam rumah. Meninggalkan Naina yang masih sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.
"Dean memanggilku 'sayang'? Astaga! Kenapa aku jadi seperti ABG gini sih?" Batin Naina saat Dean sudah masuk ke rumah.
__ADS_1
Naina masih berusaha mempercayai apa yang baru saja terjadi. Sebuah pengakuan yang meluncur dari bibirnya, hingga sebuah ciuman yang begitu hangat telah terjadi tanpa ia kira sebelumnya.
"Kenapa aku seperti pernah berciuman dengannya sebelumnya? Rasanya sangat tidak asing bagiku.Tak mungkin bukan, jika Dean adalah Mr. D? Karena hanya dia yang pernah menciumku." Gumam Naina sembari menoleh pada Dean yang sudah mulai sibuk dengan hobinya di dapur Naina.