
Pagi yang sedikit redup. Cahaya mentari pagi, terhalangi oleh beberapa gumpalan awan hitam di atas langit ibukota. Suasana pun terasa lebih sejuk karenanya.
Akhir pekan ini, digunakan oleh Rissa untuk pergi berjalan-jalan bersama Sekar. Dengan pengawalan yang cukup ketat pastinya. Mengingat, insiden pernikahan Naina satu minggu yang lalu, masih menjadi topik hangat di beberapa media. Dan Rissa pun juga menjadi sorotan karena hal itu.
Naina masih bersantai di teras belakang saat Rissa dan Sekar pergi memulai pertualangan mereka. Naina hanya akan menemui Delvin hari ini.
Naina sebenarnya masih sangat enggan keluar rumah. Karena ia pasti masih dicari oleh beberapa orang yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi tentang kehidupan pribadinya. Dan Naina tidak menyukai hal itu.
Jika tidak mengingat niat baik Delvin yang ingin meminta maaf pada Naina, Naina sungguh enggan bertemu dengannya. Apalagi untuk keluar rumah saat ini.
Jarum jam mulai menunjuk pada angka sepuluh dan dua belas. Naina pun mulai bersiap untuk menemui Delvin di kafe dekat rumahnya.
Naina sangat berhati-hati saat keluar rumah. Ia tak ingin, urusan pribadinya diikuti oleh awak media yang masih ingin tahu tentang kehidupannya.
Saat Naina sampai di kafe, Delvin ternyata sudah sampai lebih dulu. Ia datang bersama Jenita. Delvin pun melambaikan tangan pada Naina yang sedang mencari tempat duduk saat memasuki kafe.
"Rissa mana Na?" Tanya Delvin ramah, saat Naina sudah duduk di kursi yang berseberangan dengan Delvin.
"Dia pergi bersama omanya." Jawab Naina singkat.
"Begitu rupanya." Jawab Delvin dan Jenita.
Delvin dan Jenita sudah mengenal Sekar sebagai ibu angkat Naina. Jadi, mereka tak kebingungan saat Naina mengatakan Rissa pergi dengan neneknya.
"Pesanlah dulu Na! Kami sudah memesan tadi." Pinta Delvin dengan senyumnya.
Naina pun mulai memesan minuman. Ia tak memesan makanan apapun, karena memang ia sedang tidak ingin makan apapun.
"Maaf Na untuk kemarin." Ucap Delvin setelah pelayan yang mencatat pesanan Naina pergi.
"Aku sudah memaafkanmu." Jawab Naina datar.
"Benarkah? Tapi, sepertinya kamu masih marah padaku." Sahut Delvin yang sedikit paham sikap Naina.
Naina menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menghela nafasnya sedikit kesal karena ucapan Delvin tadi.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan! Aku masih ada urusan setelah ini." Bohong Naina.
"Oh, baiklah Na. Kamu sedang cukup sibuk sepertinya." Sahut Delvin sekenanya.
Tiba-tiba, dua pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Delvin, Jenita dan Naina diam beberapa saat. Mereka tak ingin pembicaraannya didengar oleh pelayan.
"Kami minta maaf Naina, atas apa yang terjadi di ballroom minggu lalu." Ucap Jenita saat mereka sudah mencicipi sedikit minuman mereka.
"Tidak apa-apa Tante." Jawab Naina singkat.
"Maaf, aku berniat memanfaatkanmu pada awalnya. Tapi sungguh, seiring waktu berjalan, aku benar-benar jatuh cinta padamu dan ingin menjadi ayah bagi Rissa. Itu yang membuatku memalsukan hasil tes DNA, agar aku bisa menikah denganmu." Bohong Delvin dengan wajah sedihnya.
"Aku tak tahu, kenapa kamu berniat memanfaatkanku. Tapi yang pasti, aku sangat kecewa dengan itu. Aku berpikir, kamu sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah apa yang kamu lakukan pada Rhea. Tapi ternyata aku salah. Kamu masih sama egoisnya dengan dulu." Jawab Naina yakin.
"Aku menyesal Na. Menyakiti kalian, wanita yang sebenarnya aku sayangi. Aku terbutakan oleh egoku." Sahut Delvin dengan wajah yang sendu.
"Baiklah. Aku memaafkanmu. Tapi mulai sekarang, tolong jauhi aku dan Rissa!" Pinta Naina tegas.
"Tapi Na,,"
"Aku sungguh tak ingin kehidupanku dan putriku terusik kembali Del! Atau aku akan melakukan apapun untuk menjauhkanmu dari kehidupan kami!" Ancam Naina setelah menenggak separuh minumannya.
"Apakah tidak ada sedikitpun perasaan sayangmu padaku Na?"
__ADS_1
"Kita hanya teman Del, tidak lebih." Jawab Naina yakin.
Delvin menghela nafasnya berat. Wajahnya nampak sangat sedih. Jenita pun mengusap lembut punggung Delvin untuk menguatkannya. Berusaha memberinya kekuatan agar bisa menerima keputusan Naina.
Naina merasakan kepalanya tiba-tiba berdenyut keras. Pandangannya sedikit kabur. Ia bahkan mengedipkan matanya beberapa kali demi menjaga kesadarannya. Tubuhnya mendadak lemas tak bertenanga. Jantungnya berdetak cepat dan tak beraturan. Keringat dingin mulai menyergapnya.
"Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba tubuhku seperti ini?" Batin Naina sembari mencoba menatap Delvin lebih seksama.
"Tidurlah Na! Aku akan membuatmu menyesal karena telah menggagalkan semua rencanaku!" Ucap Delvin lirih sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naina.
Naina membelalakkan matanya. Ia yang hampir kehilangan kesadarannya, masih bisa mendengar dengan jelas apa yang Delvin katakan.
"Apa yang kamu berikan pada minumanku?" Ucap Naina terbata sambil berusaha meraih tasnya yang ada di sebelahnya.
"Hanya sedikit obat tidur. Agar kamu bisa tidur dengan tenang selama perjalanan nanti." Jujur Delvin sambil menyeringai jahat.
"Sial!" Batin Naina.
Naina segera berdiri setelah berhasil meraih tasnya dengan sisa kesadarannya. Ia sedikit terhuyung ke arah meja saat hendak meninggalkan Delvin dan Jenita yang memasang wajah paniknya.
"Kamu kenapa Na?" Ucap Delvin perhatian, sambil mencoba meraih tubuh Naina agar tak terjatuh.
"Lepas!" Tolak Naina saat Delvin memegang lengannya.
"Kamu sepertinya sedang tidak dalam kondisi baik Na. Aku akan mengantarmu pulang!" Ucap Delvin penuh perhatian.
"Dasar baj*ngan" Umpat Naina kesal, saat menyadari dirinya telah dijebak oleh Delvin.
Naina segera melangkahkan kakinya. Tapi seketika itu, ia kehilangan kesadarannya. Dan Delvin pun dengan sigap menangkap tubuh Naina yang hampir terjatuh ke lantai.
"Kamu kenapa Na? Bangun Na!" Ucap Delvin panik.
"Kita bawa ke rumah sakit Vin!" Usul Jenita.
"Iya Ma." Jawab Delvin cepat.
"Iya Mas, bawa ke rumah sakit, cepat!" Timpal seorang pengunjung yang duduk tak jauh dari kursi Naina.
Para pengunjung kafe, ikut panik melihat Naina yang pingsan. Bahkan, pihak manajemen kafe pun ikut panik karena ada yang pingsan di kafe mereka.
Delvin segera membopong tubuh Naina keluar kafe. Jenita pun membawa tas Naina setelah meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar pesanan. Ia segera menyusul Delvin keluar kafe.
Saat sampai di dekat mobil, Jenita segera membukakan pintu untuk Delvin. Dan Delvin segera meletakkan Naina ke kursi belakang mobilnya.
"Mommy!" Teriak seorang gadis kecil dari kejauhan saat melihat Naina dibawa masuk ke mobil oleh Delvin.
Delvin dan Jenita tak mendengar teriakan itu. Mereka terlalu fokus pada sandiwara mereka untuk membawa Naina pergi dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Ya, Delvin menjebak Naina. Ia ingin membalas perbuatan Naina yang telah mempermalukannya di depan orang banyak saat acara pernikahannya kemarin.
Delvin sadar, ia tak mungkin bisa mengalahkan Naina jika beradu keahlian bela diri dengan Naina. Karena ia sangat tahu, Naina memiliki beberapa keahlian bela diri sejak masih remaja. Dan hingga kini, masih ia jaga dengan baik.
Jadi, Delvin sengaja memberikan obat bius pada minuman Naina tadi, untuk bisa sejenak melumpuhkan Naina. Agar ia bisa membawa Naina dengan tenang tanpa perkelahian.
Delvin meminta salah satu pelayan kafe itu, yang kebetulan adalah fansnya, untuk memberikan obat bius di minuman yang Naina pesan. Dan itu berjalan dengan baik.
Delvin dan Jenita segera masuk ke mobil. Delvin pun segera melajukan mobilnya pergi dari kafe. Delvin yang seorang aktor, tentu tidaklah sulit baginya untuk sejenak bersandiwara dihadapan beberapa orang demi bisa membawa Naina yang tidak sadarkan diri.
Delvin dan Jenita benar-benar terlihat sangat panik karena Naina pingsan. Mereka pun berhasil meyakinkan para pengunjung bahwa mereka akan membawa Naina ke rumah sakit.
__ADS_1
Dan tak jauh dari kafe itu, Rissa berlari menuju kafe dimana Naina tadi berada. Rissa tadi sempat melihat Naina yang sedang dibopong oleh Delvin.
"Mommy kenapa Oma?" Tanya Rissa cemas.
"Oma juga nggak tahu Sayang. Coba kamu telepon dia!" Pinta Sekar cepat.
Rissa pun segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada Naina. Berkali-kali Rissa mencobanya, tapi tidak berhasil. Nomor Naina tak bisa dihubungi. Rissa pun beralih ke nomor ponsel Sinta.
"Tante, Mommy dibawa Om Delvin!" Ucap Rissa panik setelah panggilannya ke nomor Sinta mendapat respon.
"Apa Sayang?"
Rissa menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Sinta melalui telepon. Dan tak lama, panggilan pun berakhir.
Rissa memang terbiasa menelepon Sinta saat terjadi sesuatu padanya atau Naina jika nomor Naina tak bisa dihubungi. Jadi, Rissa pun juga segera menghubungi Sinta untuk mengatakan yang terjadi pada Naina.
Sekar pun menghubungi Wiliam dan meminta bantuannya. Wiliam pun meminta para pengawalnya untuk mencari Naina sebelum ia tiba kembali ke Indonesia secepatnya.
Dan di sisi lain, Sinta mengatakan pada Niko apa yang terjadi pada Naina. Mereka pun sedikit panik karena mereka cukup tahu sifat Delvin. Ia bisa sangat nekat demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Apalagi, jika itu berurusan dengan balas dendam. Delvin bisa tak terkendali. Mengingat, Delvin baru saja dipermalukan oleh Naina di depan umum. Meskipun, itu atas kesalahan Delvin sendiri.
"Kamu temui Rissa dan Bu Sekar! Aku akan menemui Tuan Jonathan dan Nyonya Jelita untuk meminta bantuannya!" Usul Niko setelah Sinta mengatakan yang Rissa ceritakan.
"Iya Mas." Jawab Sinta patuh.
Sinta dan Niko yang sedang menghabiskan waktu bersantai di rumah, segera bersiap dengan tujuan mereka masing-masing. Mereka takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Naina, karena nomor ponsel Naina yang tidak bisa dihubungi.
Setelah berkendara dengan cukup kencang, Niko sampai di kediaman Diedrich. Siang itu, Jonathan dan Jelita sedang bersiap untuk kembali ke Jerman.
"Ada apa Nik?" Tanya Jelita yang lebih dulu menemui Niko di ruang tamunya.
"Maaf Nyonya, saya ingin meminta bantuan Anda!" Ucap Niko tanpa basa-basi.
"Bantuan apa Nik? Apa ada masalah?" Tanya Jonathan yang baru tiba dari kamarnya.
"Saya ingin meminta izin untuk menggunakan pengawal Tuan dan Nyonya, untuk mencari keberadaan Nona Naina. Nona Naina dibawa pergi oleh Tuan Delvin." Jujur Niko.
"Apa katamu? Naina dibawa Delvin?" Tanya Jelita panik.
"Benar Nyonya. Nona Rissa sempat melihat Nona Naina yang pingsan, sedang digendong oleh Tuan Delvin dan dibawa masuk ke mobilnya tadi. Dan sekarang, nomor ponsel Nona Naina tidak bisa dihubungi." Jelas Niko.
"Bawa pengawal yang kamu butuhkan!" Sahut Jonathan tegas.
"Tapi jangan sampai Dean mengetahui hal ini!" Imbuh Jelita.
"Mama kenapa bersikap seperti itu pada putra Mama sendiri?" Bentak Jonathan tak setuju.
"Itu biar Mama yang urus Pa!" Sahut Jelita sekenanya.
"Cepat, cari Naina!" Imbuh Jelita panik sambil menatap Niko kesal.
"Baik Tuan, Nyonya! Terima kasih." Sahut Niko sedikit terkejut.
Niko segera memanggil anak buahnya untuk melacak keberadaan Naina. Mereka bergerak cepat agar tidak terjadi hal buruk pada Naina.
Anak buah Wiliam pun segera mencari keberadaan Naina sesuai petunjuk terakhir dari Rissa. Mereka juga tak ingin terlambat menemukan putri angkat dari istri atasan mereka.
Rasa sayang yang tulus pada seseorang, bisa mengalahkan segala keegoisan hati yang mungkin terkadang menjadi raja dalam singgasana hati. Mengalahkan sejenak segala rasa kesal dan kecewa yang mungkin sempat tercipta.
__ADS_1