
"Menikahlah denganku Na!" Ucap Delvin penuh keyakinan sembari menyodorkan sebuah cincin emas yang sederhana namun nampak cantik dan elegan, yang masih tersimpan rapi di dalam kotaknya.
Naina terkejut mendengar itu. Ia menatap kotak perhiasan kecil yang terbuka itu dengan kerutan di keningnya. Ia tahu, hal ini mungkin terjadi suatu hari nanti setelah Delvin tahu bahwa ia adalah ayah Rissa. Tapi ia tak pernah menyangka akan secepat ini.
"Aku akan bertanggung jawab atas kalian dan menebus hari-hari yang kamu lewati untuk membesarkan Rissa seorang diri." Bujuk Delvin.
"Maaf Tante, Delvin! Saya tidak bisa memberikan jawabannya sekarang karena ini juga menyangkut Rissa. Saya tidak bisa memaksakan keputusan saya pada Rissa nantinya." Jawab Naina cepat.
"Tentu Na. Bicarakanlah dengan Rissa terlebih dahulu. Tapi aku yakin, dia pasti senang karena akan segera bersama dengan ayahnya." Jawab Delvin yakin.
Naina hanya tersenyum mendengar jawaban Delvin. Ia mengingat percakapannya dengan Rissa beberapa hari lalu, bagaimana Rissa menolak Delvin mentah-mentah sebagai ayahnya.
Mereka pun sedikit mengobrol. Jenita menanyakan banyak hal tentang kehidupan Naina selama membesarkan Rissa seorang diri. Dan bagaimana Naina merintis karirnya hingga sesukses sekarang. Ia berusaha sangat ramah pada Naina demi keberhasilan rencananya besok.
Setelah waktu semakin malam, Jenita dan Delvin pamit pulang. Mereka ingin berpamitan pada Rissa. Tapi Rissa benar-benar tak ingin menemui mereka. Naina pun beralasan bahwa Rissa sudah tidur karena kelelahan.
Akhirnya, Jenita dan Delvin pulang tanpa berpamitan pada Rissa. Mereka tak merasa curiga dengan sikap Rissa yang tak mau menemui ayahnya. Mereka terlalu fokus pada rencana yang sedang mereka laksanakan selangkah demi selangkah.
Akhir pekan. Naina mengajak Rissa mengunjungi tante dan omnya yang berada jauh di sisi tenggara negara Indonesia, Lombok. Naina mengajak Rissa ke rumah Ben di Lombok.
Selain untuk berkunjung dan melihat keadaan mereka, Naina juga ingin membicarakan tentang lamaran Delvin padanya tempo hari. Ia belum mengatakan hal itu pada Rissa. Karena ia tahu, Rissa pasti akan menolaknya.
Bukan Naina ingin menerima lamaran itu karena memiliki perasaan lebih pada Delvin. Tapi lebih kepada mendekatkan Rissa dengan ayahnya. Agar Rissa juga bisa merasakan kasih sayang seorang ayah seperti teman-temannya di sekolah.
"Naina harus gimana Mbak?" Adu Naina sambil bersantai di halaman belakang rumah Ben.
"Katakan pada Rissa dulu Na!" Saran Hera tulus.
"Rissa pasti menolaknya Mbak. Rissa bahkan tidak mau menemui Delvin saat ia datang ke rumah bersama ibunya melamarku." Jujur Naina.
"Anak itu sepertinya tidak memiliki empati sama sekali pada ayahnya." Timpal Lea.
"Iya Le. Dia malah terlihat lebih dekat dengan Dean." Imbuh Hera.
"Betul Ra. Rissa bahkan seperti memiliki sebuah ikatan hati yang lebih kuat dengan Dean dibanding dengan Delvin." Sahut Lea semangat.
"Ayolah Mbak! Jangan bilang gitu!" Rengek Naina.
"Yaudah Na, ikuti kata hatimu!" Usul Ben yang sedari tadi menjadi pendengar setia ketika Naina bercerita pada dua kakaknya.
"Aku hanya ingin Rissa bisa merasakan kasih sayang keluarga seutuhnya Mas. Tapi aku tak siap jika harus menjadi istri Delvin. Bagaimana aku akan menjalani rumah tanggaku nanti Mas?" Jujur Naina.
"Aku akan coba bicara dengan Rissa besok." Usul Ben.
Naina yang sudah tak bisa menemukan solusi apapun, akhirnya mengagguk setuju dengan usulan Ben. Lea dan Hera pun akan berusaha membantu Naina mengatakan maksud hati Naina pada Rissa.
Keesokan paginya, Ben mengajak keluarga dan dua tamunya pergi berjalan-jalan menikmati keindahan Pulau Lombok. Rissa terlihat sangat bahagia saat Ben mengajaknya berjalan-jalan bersama dua adik kecilnya.
"Rissa!" Panggil Ben santai saat mereka duduk di atas hamparan pasir pantai putih sambil menikmati semilir angin yang berhembus syahdu.
"Iya Om." Jawab Rissa bahagia.
"Apa kamu senang?"
Rissa mengangguk pasti dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
"Rissa mau nggak punya daddy?"
"Mau Om. Rissa juga ingin seperti teman-teman yang lain. Bisa main sama daddy mereka." Jujur Rissa.
"Berarti Rissa mau donk kalau Om Delvin menikah sama Mommy? Kan Om Delvin ayah Rissa." Tanya Ben hati-hati.
Rissa menatap wajah Ben dengan seksama. Ia mencoba mengungkapkan isi hatinya yang sedang dilanda kebingungan akan hal itu.
Sungguh, dalam hati kecil Rissa, ia ingin memiliki ayah seutuhnya seperti teman-temannya. Tapi, hatinya juga tak bisa berbohong jika ia tak begitu menyukai Delvin sebagai sosok ayahnya.
"Rissa nggak suka sama Om Delvin." Jujur Rissa.
"Kenapa Sayang?"
"Rissa nggak tahu Om. Om Delvin terlihat berbeda dengan Om Dean. Rissa lebih sayang sama Om Dean."
"Kenapa kamu lebih sayang Om Dean?"
"He's my dad, I can feel it."
Ben menghela nafas beratnya mendengar ucapan Rissa. Ia pun tahu, Rissa tak mungkin mengatakan sebuah kebohongan dari nada bicaranya. Apalagi, ia tahu betul, Rissa adalah anak yang cukup peka terhadap perasaannya sendiri pada orang lain.
"Kalau Om Delvin mau jadi daddy kamu dan nemenin kamu sama Mommy tiap hari, apa kamu mau?"
"I don't know Uncle. Apa Mommy akan menikah dengan Om Delvin Uncle?"
"Dia menunggu jawabanmu Sayang. Mommy hanya ingin, kamu bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuamu seutuhnya. Kasih sayang seorang ayah yang belum bisa Mommy kamu berikan selama dia merawatmu seorang diri." Jelas Ben pelan, sambil menarik Rissa ke pangkuannya.
"Jangan jadikan maksud hati Mommy sebagai paksaan. Dia hanya ingin kamu bahagia. Kamu mengerti maksud Om bukan?" Tanya Ben penuh perhatian.
Rissa mengangguk pelan sambil menatap dalam ke manik mata Ben. Ia berusaha memahami maksud dari perkataan Ben dengan baik. Gadis kecil itu lalu memeluk tubuh laki-laki yang memangkunya dengan erat. Ben pun segera membalasnya.
Rissa dan Ben sudah sangat mirip ayah dan anak. Mereka yang awalnya saling merasa asing, perlahan menjadi dekat dan semakin dekat. Rissa yang tak pernah menerima kasih sayang seorang ayah, bisa sangat manja pada Ben setelah begitu banyak usaha Ben mencoba meluluhkan hati Rissa untuk mendekatinya.
Bagi Ben, ia sudah menganggap Rissa seperti putrinya sendiri. Ia yang memang menyukai anak-anak, begitu menyayangi Rissa sejak awal. Apalagi ia tahu, bagaimana posisi Rissa sejak awal.
Ben sebenarnya sangat bahagia saat Naina dan Rissa dekat dengan Dean. Meski ia tahu, bagaimana posisi Dean terhadap ayah biologis Rissa. Ia sangat berharap, Dean dan keluarganya bisa menerima Naina dan Rissa.
Tapi sayang, itu semua tidak terjadi. Dan kini, Naina dan Rissa dihadapkan oleh keadaan yang cukup sulit untuk diputuskan. Dan Ben berusaha membantu mereka sebaik yang ia bisa.
...****************...
Mentari pagi mulai menyapa. Ditemani oleh gumpalan awan-awan hitam yang sedikit menghalangi sinarnya, ia tetap setia menemani para penduduk bumi yang mulai disibukkan dengan berbagai aktivitasnya.
Pagi ini, Naina dan Rissa sudah siap dengan kegiatan hariannya. Setelah kepulangan mereka satu minggu yang lalu dari berlibur ke Lombok, mereka sudah mulai dengan kegiatannya masing-masing. Rissa pun kembali bersemangat ke sekolah. Dan Naina, masih berusaha keras menjalani hari-harinya tanpa ada lagi sosok Dean.
"Bagaimana kabarmu De? Aku harap, kau bahagia di sana." Gumam Naina saat memandangi foto Dean yang ada di ponselnya.
Naina memiliki satu foto Dean bersama Rissa yang diam-diam ia ambil lalu ia simpan. Foto itu Naina ambil saat Dean dan Rissa asik bermain di pantai.
Tak mau terlarut dalam perasaannya sendiri, Naina kembali melanjutkan pekerjannya di kantor. Ia sedang sendirian di kantor, karena Sinta sedang pergi melakukan survei sekaligus menjemput Rissa ke sekolah nanti.
Di sekolah Rissa, bel tanda sekolah telah usai baru saja berbunyi. Bertepatan dengan Sinta yang baru saja sampai di sekolahnya. Sinta pun segera keluar dari mobil dan menuju tempat biasa ia menjemput Rissa. Tak berapa lama, gerombolan murid sekolah itu pun segera berlarian keluar.
"Tante!" Panggil Rissa sambil berlari menghampiri Sinta yang sudah melambaikan tangan padanya.
__ADS_1
"Ayo pulang Sayang!" Ajak Sinta bahagia.
Rissa pun mengangguk bahagia. Tanpa Rissa dan Sinta sadari, ada seseorang yang sedang mendekati mereka.
"Halo Rissa!" Sapa orang itu.
Rissa dan Sinta segera menoleh. Mereka terkejut saat mendapati sosok yang sedang tersenyum ramah pada mereka saat ini. Sinta menyapa orang itu dengan tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
"Om Delvin kenapa kemari?" Tanya Rissa polos.
"Om mau ajak kamu jalan-jalan. Mau?" Jawab Delvin jujur.
Rissa segera menoleh ke arah Sinta. Sinta pun menoleh ke arah Rissa.
"Maaf Pak Delvin, apa Bapak sudah mendapat izin dari Bu Naina? Saya tidak bisa membiarkan Rissa pergi dengan Anda tanpa izin beliau." Sahut Sinta cepat.
"Belum. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan putriku, itu saja." Jawab Delvin singkat.
Deg. Rissa terkejut mendengar jawaban Delvin. Ia menarik tangan Sinta dan meminta Sinta untuk sedikit menunduk. Sinta pun segera menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Rissa.
"Boleh Rissa pinjam ponselmu Tante? Aku akan bilang ke Mommy!" Bisik Rissa.
Sinta hanya mengangguk. Rissa pun segera menghubungi Naina yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Assalamu'alaikum. Mom!" Ucap Rissa saat telepon sudah tersambung.
"Wa'alaikumussalam Sayang."
"Mommy!"
"Iya. Pulang bersama Tante Sinta ya Sayang!"
"Mom, Om Delvin datang ke sekolah. Dia bilang ingin jalan-jalan denganku. Apa Mommy mengizinkan?"
Naina terdiam.
"Mom, do you hear me? Are you there Mom?" Tanya Rissa khawatir karena tak mendapat jawaban dari Naina.
"Yes sweet heart, Mommy is here. Jika kamu mau, pergilah! Tapi, jangan pulang malam! Sebelum waktu maghrib, kamu harus sudah di rumah!"
"Oke. Thank's Mom. Love you."
"Love you too My Princess."
Panggilan pun terputus. Rissa segera mengembalikan ponsel Sinta.
"Oke Om, Rissa akan pergi dengan Om. Tapi kata Mommy, sebelum waktu maghrib, Rissa harus sudah di rumah." Ucap Rissa yakin.
"Oke Sayang!" Jawab Delvin bahagia.
"Rissa pergi dengan Om Delvin ya Tante!" Pamit Rissa.
"Hati-hati ya Sayang!" Jawab Sinta.
"Aku pasti menjaganya, dia putriku!" Sahut Delvin yakin.
__ADS_1
Sinta hanya mengangguk. Rissa pun segera pergi bersama Delvin. Gadis kecil itu, ingin mencoba menghabiskan waktunya bersama sang ayah. Meski, ia belum bisa menerimanya seutuhnya.
Dalam hati kecil Sinta, ia berharap Rissa bisa bahagia setelah tahu siapa ayahnya. Dan kelak, bisa menerima ayahnya seutuhnya. Sinta pun menatap kepergian Rissa dengan Delvin. Lalu, ia pun pergi dan kembali ke kantor Naina.