
Waktu terus berlalu. Terkadang terasa lambat, tapi terkadang juga terasa cepat. Mengalir dan terus berjalan mengikuti arus.
Kondisi Naina perlahan membaik setelah meminum obat. Ia pun sempat tertidur karena reaksi obat yang ia minum. Tamu Naina pun belum pulang hingga sore menjelang. Mereka menemani Rissa selagi Naina beristirahat.
"Sin,," Panggil Naina saat ia keluar dari kamarnya.
"Iya Bu'." Sahut Sinta sembari menoleh ke arah Naina.
Semua orang sedang asik bercengkrama di ruang keluarga. Semua pun menoleh pada sumber suara.
"Mommy,,"
Gadis kecil itu langsung berlari menghampiri ibunya. Naina pun menyambutnya dan langsung menggendongnya.
"Sudah lebih baik Na?" Tanya Dean seraya berdiri hendak menghampiri Naina yang sudah menggendong Rissa.
"Sudah. Makasih ya." Nada bicara Naina mulai melembut pada Dean.
Dean tersenyum padanya. Naina pun berjalan menghampiri semua tamunya. Ia ikut duduk dan mengobrol sejenak. Rissa pun kembali bermain dengan Sinta.
"Na, Mama boleh tanya?" Tanya Lita.
"Iya Ma."
"Jadi, sebenarnya pekerjaan kamu apa Na?"
"Eh, maaf Ma tentang itu." Sahut Naina seraya tertunduk tak enak hati.
"Jadi??"
"Naina mengelola usaha yang Naina rintis bersama Rissa Ma." Jujur Naina.
"Usaha apa?"
Naina masih diam dan berfikir. "Mommy punya lima kafe Oma." Sahut Rissa.
"Oh ya? Berarti yang bekerja di perusahaan properti itu?"
"Bu Naina juga mengelola sebuah usaha propertinya sendiri."
Lita menutupkan keempat jarinya ke mulutnya. Ia tak percaya atas ucapan yang baru ia dengar.
"Apa ada lagi?" Tanya Lita lagi.
"Saham. Apa Bu Naina juga bermain saham? Sinta pernah bertanya itu pada saya." Sahut Niko.
Naina melirik ke arah Sinta. Sinta hanya mendelikkan wajahnya dan bersikap polos seolah tak tahu menahu.
"Apa itu benar Na?" Tanya Dean.
Naina menoleh pada Dean. "Kenapa langsung terbongkar semua?"
Naina menghela nafas panjang. "Iya."
"Kamu wanita yang hebat ternyata." Puji Dean.
Pipi Naina merona mendengar pujian Dean. Ah entah kenapa, hati Naina serasa berbunga-bunga hanya karena sebuah pujian sederhana dari Dean.
Naina memang menutup rapat semua itu dari orang. Bahkan para karyawannya, tak banyak yang tahu bahwa Naina memiliki beberapa bidang usaha. Karena memang, Naina memisahkan bidang usahanya dengan rapi. Naina akan menjadwalkan laporan masing-masing bidang usaha dihari yang berbeda. Hingga tak ada yang saling tahu tentang usaha lain sang atasan. Hanya Sinta-lah yang tahu semua itu.
"Bukan aku yang hebat. Tapi putriku, Clarissa-ku."
Ya, Rissa-lah yang selalu membantu Naina, hingga bisa seperti saat ini. Saham, Naina hanya menuruti semua yang diucapkan Rissa. Rissa kecil, malah lebih paham perkara saham dibanding Naina.
__ADS_1
Bisnis properti Naina, Rissa yang akan menentukan tempat dan lokasi yang menguntungkan. Ia bisa sangat lihai membaca prospek suatu lokasi meski hanya melalui peta digital. Lantas, Naina yang akan berunding perkara harga dengan orang yang bersangkutan.
Untuk bisnis kuliner Naina, itu adalah salah satu bentuk penyaluran hobinya pada awalnya. Naina memang memiliki hobi memasak. Ia dulu juga terbiasa membantu warung makan milik Hera dan Lea. Sehingga, ia pun ingin memiliki rumah makannya sendiri.
Tapi karena seiring perkembangan jaman, Naina memilih membuka kafe bernuansa modern tapi dengan konsep kehangatan keluarga dan kebersamaan. Hal yang selalu Naina ridukan, kehangatan keluarga.
"Oh iya Sin, kamu ada apa kesini? Mau ngenalin Niko?" Tanya Naina berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya Bu'. Dan saya mau minta izin, besok nggak bisa menemani Ibu ke lokasi syutingnya Rissa." Jujur Sinta.
"Kamu nggak papa kan tapi?"
"Nggak papa Bu'."
"Rencananya kita tunda saja Yang. Kasihan Bu Naina harus pergi sendiri besok kalau kamu nggak ada." Sahut Niko tulus.
"Nggak papa Ko, aku sudah mendingan. Kalian punya rencana apa memangnya?" Jawab Naina.
"Nggak papa Bu'. Bener kata Mas Niko, rencananya kita tunda saja. Kasihan Ibu harus nyetir sendiri ke puncak besok." Ucap Sinta.
"Kalian punya rencana apa?" Tanya Naina lagi.
"Niko mau ngenalin Sinta ke orang tuanya di kampung halaman." Sahut Dean.
Naina menoleh pada Dean karena terkejut. "Kalau itu, nggak boleh ditunda. Harus segera dan secepatnya kalau memang kalian berdua sudah serius menjalin hubungan." Tegas Naina.
"Tapi Bu',,"
"Nggak pakai tapi Sin! Kamu nggak boleh nunda rencana itu, oke?"
"Iya Bu'. Tapi besok Ibu bagaimana?"
"Besok pasti udah baikan Sin. Aku pasti minum obatnya, tenang aja!" Ucap Naina berusaha meyakinkan Sinta.
Apalagi ia esok harus mengantar Rissa syuting di puncak, sebagai lokasi syuting pertama. Ia ragu, bahwa ia bisa pulang dengan lancar setelah syuting.
"Maaf Bu', Ibu mau makan sekarang apa nanti? Biar Atun siapkan." Tanya Atun tiba-tiba.
"Nanti saja Mbak Atun." Sahut Naina santai.
"Mommy,,"
"Naina,,"
"Ibu',,"
"Nona,,"
Semua menatap tajam pada Naina. Deg. Naina terpaku mendapat tatapan tajam dari semua orang. Naina sudah terlupa bahwa ia baru saja pingsan dan membuat panik semua orang.
"Maaf semuanya, hhehe. Iya Mbak Atun, tolong siapkan!" Ucap Naina canggung.
"Biar aku yang siapkan." Dean segera beranjak dari kursinya. Ia lalu berjalan ke arah dapur.
"Nggak usah De,," Cegah Naina.
Dean tak menghiraukan ucapan Naina. Ia tetap berjalan ke arah dapur. Semua orang menatap Dean dengan acuh. Mereka sudah tahu sifat keras kepala Dean, kecuali Naina. Rissa pun kembali menonton acara kartun kegemarannya. Sedang yang lain, kembali mengobrol.
Naina berdiri dan membuntuti Dean. Ia merasa tak enak hati jika Dean kembali menyiapkan makanan untuknya. Mengingat, sikapnya yang selalu ketus selama ini pada Dean. Tapi Dean selalu bersikap manis padanya.
"Tolonglah De! Kamu tak perlu melakukan ini. Biar Mbak Atun yang menyiapkannya." Ucap Naina saat ia sampai di dapur bersama Dean.
"Hanya memasak sayuran dan lauk sedikit, tak akan lama. Kamu tunggulah di sana, aku segera menyelesaikannya." Ucap Dean lembut sembari menunjuk ke arah meja makan.
__ADS_1
Atun yang berdiri di dekat meja makan, hanya tersenyum melihat tingkah dua manusia yang hampir sama keras kepalanya itu. Ia akhirnya melangkah pergi menuju halaman belakang hendak mengambil jemuran yang telah kering. Ia tak ingin mengganggu momen uwu sang majikan yang terjadi tanpa mereka sadari.
"Cukup De! Ini rumahku, tolong hargai aku sebagai tuan rumahnya!" Bentak Naina seraya bergerak menutupi kulkas dengan tubuhnya. Karena Naina yakin, Dean pasti akan mencari bahan makanan di kulkas.
Bukannya Dean mundur dan mengalah, ia malah mendekatkan tubuhnya dan memepet tubuh Naina di kulkas. Satu tangannya meraih handle pintu kulkas untuk membukanya.
"Tentu, aku menghargaimu sebagai tuan rumah. Anggap saja,,"
Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Naina. Naina yang terkejut, ia terpojok ke kulkas, dan hanya bisa mematung kala wajah Dean mendekat. Dean menyeriangai melihat ekspresi Naina yang ketakutan dan malu.
"Anggap saja, layanan plus-plus dari tamumu." Dean lantas menarik pintu kulkas. Naina pun refleks berjalan menyamping menghindari Dean.
Dean menyeringai puas karena berhasil menggoda Naina. Ia lalu memilih beberapa bahan mentah yang ada di kulkas Naina.
Sedangkan Naina, masih berusaha menguasai dirinya. Ia berdiri mematung di samping kulkas. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia merasa gugup, malu, takut, dan entah apa itu. Semua bercampur menjadi satu seketika. Pipinya merona dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya.
"Kamu berdiri disitu terus nggak capek Na?"
Ucapan dean menyadarkan lamunan Naina. Ia segera beringsut menjauh dari dapur. Ia berjalan ke arah teras belakang. Ia masih berusaha menetralisir perasaannya.
"Ada apa denganku?" Batin Naina.
"Ibu nggak papa?" Tanya Atun yang telah selesai mengambil jemuran baju yang sudah kering.
"Nggak papa Mbak." Sahut Naina ramah.
Atun pun masuk ke rumah. Ia melirik ke arah dapur, dimana Dean sedang sibuk dengan hobinya. Memasak. Dean memang memiliki hobi memasak. Resto dan kafe yang ia kelola adalah bentuk dari penyaluran hobinya dan juga bentuk kasih sayangnya pada almarhumah adiknya.
Naina akhirnya duduk dan bersantai di teras belakang. Menetralisir perasaannya sembari menikmati suasana sore dengan badan lemasnya.
"Sudah selesai Nona. Silahkan dimakan!" Ucap Dean seraya berjongkok dihadapan Naina.
Naina yang matanya terpejam karena menikmati semilir angin, terkejut dengan ucapan Dean. Ia beringsut membenarkan posisi duduknya kala melihat Dean berjongkok di hadapannya dengan sebuah nampan yang berisi sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya dan segelas teh jahe hangat.
"Dean?"
"Makanlah!" Ucap Dean tulus.
"Perlu aku suapi?" Goda Dean.
"Tak perlu, aku akan makan sendiri. Terima kasih." Sahut Naina sembari menerima nampan yang di bawa Dean.
Naina lantas meletakkan nampan itu dimeja. Dean pun ikut duduk di kursi kosong yang ada di sebrang Naina. Naina mencicipi teh jahe yang dibuat Dean.
"Hati-hati panas!"
"Sudah hangat." Sahut Naina sembari tersenyum. Ia pun mulai mencicipi masakan Dean.
Hati Dean berbunga-bunga karena mendapatkan senyuman tulus dari Naina. Senyuman yang sudah lama ia nantikan.
Dean memperhatikan Naina yang sedang menikmati makanannya diam-diam. Seperti selama ini, ia memperhatikan Naina secara diam-diam.
Awalnya Dean merasa mungkin hanya ketertarikan sesaat ketika melihat Naina pertama kali di kafe lima bulan lalu. Tapi Dean segera menyadari, perasaan itu bukanlah perasaan yang sesaat, setelah melihatnya untuk yang kesekian kalinya di kafe yang bersebelahan dengan resto miliknya.
Dean akhirnya sadar, ia telah jatuh cinta pada gadis yang tanpa sengaja ia lihat itu. Ia mulai memperhatikannya diam-diam tanpa berani menyapanya.
"Apa enak?"
"Ya, ini enak. Kamu pandai memasak?" Tanya Naina.
"Tidak. Hanya sekedar iseng saja." Sahut Dean malu-malu.
"Ehem,,"
__ADS_1