Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Ibu dan Anak


__ADS_3

Burung-burung bertengger di pepohonan. Berlompatan dari dahan satu ke dahan lain. Saling bersiul bersahut-sahutan menyanyikan suara-suara alam yang menyejukkan pagi.


"Rissa tidur lagi Mbak?" Tanya Naina ketika baru saja kembali dari jogging yang menjadi rutinitas paginya.


"Kurang tahu Bu'. Tadi sepertinya sudah ada suara, tapi belum keluar kamar." Jujur Atun.


Naina pun segera mencuci tangan lalu menenggak habis satu gelas air putih yang disiapkan Atun. Ia lantas berjalan menuju kamar Rissa.


"Sayang, ayo bangun! Rissa kan harus sekolah." Teriak Naina dari depan pintu kamar Rissa.


Hening tak ada jawaban. "Rissa,,"


Beberapa kali Naina memanggil, tetap tak ada sahutan. Ia lalu membuka pintu kamar Rissa. Sang putri cantik, masih meringkuk di bawah selimutnya. Naina pun menghampiri putrinya.


"Sayang, ayo bangun! Nanti terlambat sekolahnya." Ucap Naina sembari menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di wajah Rissa.


"Rissa nggak mau sekolah!" Ucap Rissa dengan mata yang masih terpejam.


"Kenapa nggak mau? Kamu sakit?" Tanya Naina panik.


Rissa menggelengkan kepalanya. "Terus?"


"Rissa mau ikut casting!" Tegas Rissa.


Naina menghela nafas panjang. Ternyata putri kecilnya masih merajuk sejak semalam. Ia masih tetap ingin ikut casting meski ibunya sudah melarang.


"Oke!" Ucap Naina singkat seraya berdiri.


Rissa tiba-tiba menyibakkan selimutnya lalu duduk tegak dengan wajah berbinar. Ternyata Rissa sudah siap dengan seragam sekolahnya. Hanya rambutnya saja yang belum dirapikan.


"Are you sure Mom? Rissa boleh ikut casting?" Tanya Rissa dengan senyum yang sangat lebar.


"No!" Ucap Naina tegas.


"Oke! Rissa nggak akan berangkat sekolah!"


"Oke kalau kamu nggak mau sekolah. Semua fasilitas kamu Mommy cabut. Uang jajan, ponsel, bahkan komputer dan laptop pribadi kamu." Ucap Naina sembari berjalan keluar dari kamar Rissa.


"Mommy,, "


Naina melenggang keluar dari kamar Rissa tanpa menghiraukan panggilan Rissa. Ia pun menutup kembali pintu kamar Rissa.


"Mommyy,,"


"Mommyy,,"


"Kalau semua dicabut, gimana aku mau daftar casting? Ah Mommy jahat!" Gerutu Rissa setelah Naina keluar dari kamarnya.


Rissa akhirnya turun dari ranjang kesayangannya. Ia lalu merapikan seragam sekolahnya yang sedikit kusut karena ia pakai bersembunyi di bawah selimut demi mendapat izin dari sang ibu. Tapi ternyata gagal total pemirsah.

__ADS_1


Rissa adalah anak yang disiplin. Ia selalu bangun pagi untuk menunaikan kewajibannya. Setelah itu, ia akan menghabiskan waktunya di depan laptop atau komputer di kamarnya.


Dengan otak encernya, Rissa membantu sang ibu mengurusi semua bisnisnya. Bahkan mereka sering berunding untuk mencari cara agar dapat memajukan dan memperbesar skala bisnisnya. Hanya mereka berdua pastinya.


Tak banyak yang tahu tentang kemampuan luar biasa Rissa, yang bisa tahu dan paham tentang bisnis diusia sekecil itu. Naina menutupinya dengan rapat. Ia takut jika karena kemampuan Rissa, ia akan menjadi incaran orang-orang jahat yang ingin memanfaatkan kemampuannya.


Rissa adalah orang yang berada dibalik layar kesuksesan seorang Naina Andini.


"Mommy! Tolong ikatkan rambut Rissa!" Pinta Rissa seraya berjalan menuju meja makan dimana sang ibu sedang duduk dan mengobrol dengan Atun.


"Sini sayang, Mommy ikatkan rambutnya! Mau diikat satu atau dua?" Tanya Naina sambil menerima sisir dan ikat rambut yang Rissa bawa.


"Satu saja Mom,," Jawab Rissa senang.


"Oke princess!"


Naina pun segera mengikat rambut hitam nan tebal milik Rissa. Rambut dengan panjang hampir sepinggul itu kini telah terikat rapi dengan sebuah ikat rambut berwarna biru dengan hiasan maskot seorang tokoh kartun dari negeri sakura.


"Selesai. Sekarang Rissa sarapan dulu ya! Mommy mau mandi."


"Oke Mom!" Sahut Rissa sambil berlari menuju kamarnya untuk mengembalikan sisir yang ia bawa tadi.


"Anak itu! Kalau ada maunya aja, semua dilakuin. Hhuufftt,," Naina bergumam sendiri melihat tingkah putrinya.


Naina paham betul bagaimana sifat putrinya itu. Menyandang status sebagai single parent, tak membuat Naina melupakan perhatiannya untuk Rissa. Meski, ia harus bekerja lebih keras membagi waktu untuk Rissa dan pekerjaannya demi mencukupi kebutuhan hidup mereka.


Naina dan Rissa kini telah bercanda kembali di dalam mobil. Insiden kecil pagi tadi, telah sedikit terlupakan oleh kedua ibu dan anak itu. Tapi Naina tahu pasti, ada rencana kecil dibalik sikap Rissa yang kini sudah bersemangat kembali untuk bersekolah.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Naina. Naina dan Rissa pun tertawa bersama.


"Thank's Mom!" Ucap Rissa seraya menyalami tangan Naina. Ia lalu membuka pintu mobil.


"Hati-hati Sayang!" Naina melambaikan tangannya dari dalam mobil yang kaca jendelanya sudah ia turunkan.


Rissa pun membalasnya dengan bahagia. Ia lantas berjalan masuk gerbang bersama murid-murid yang lain.


Rissa bersekolah di salah satu sekolah elit bertaraf internasional di ibukota. Dan merupakan salah satu sekolah terbaik di yang ada di negeri ini. Di sekolah, ia dibiasakan menggunakan bahasa Inggris dalam kesehariannya. Dan kebiasaan itu terbawa hingga ke rumah.


Naina tak keberatan akan hal itu. Asalkan Rissa tak melupakan bahasa asli negeri ini dan bahasa tanah kelahirannya. Dan Rissa, menguasai itu semua. Meski, untuk bahasa tanah kelahirannya, ia tak begitu mahir.


...****************...


Di tempat lain, seorang laki-laki tampan sedang bersiap berangkat ke kantornya. Ia tengah melihat pantulan dirinya di cermin yang telah siap dengan setelah kerjanya.


"Kurang apa coba aku ini? Tampan, sukses, smart. Banyak wanita yang mengejarku bahkan. Tapi kenapa dengannya? Hanya aku ajak kenalan aja nggak mau?" Gumam Dean sendirian ketika berada di almari pribadinya yang super besar dan luas.


"Siapa yang nggak mau diajak kenalan? Hah?" Suara seorang wanita mengalihkan lamunan Dean. Dia Jelita, mama Dean.


"Mama. Kapan Mama datang?" Sahut Dean sekenanya. Ia sedikit malu, karena terciduk sang Mama sedang bergumam sendiri.

__ADS_1


"Kamu aja yang terlalu fokus, jadi nggak dengar panggilan Mama. Mama udah dari tadi ngelihatin kamu siap-siap."


"Maaf Ma, hhihi,,"


"Siapa yang nggak mau diajak kenalan?"


"Bukan siapa-siapa Ma." Kilah Dean.


Dean masih belum yakin untuk menceritakan tentang gadis yang mengusik hatinya akhir-akhir ini pada Mamanya. Gadis yang selalu mendatangi kafe yang berada tepat di sebelah restoran miliknya.


Bukan karena iri, karena gadis itu tak datang ke kafenya. Tapi entah perasaan apa itu namanya, ada sesuatu yang mengusik hati Dean ketika melihat gadis itu pertama kali. Perasaan yang bahkan Dean pun tak dapat menjabarkannya.


Padahal Dean adalah seorang laki-laki yang sudah terbukti kecerdasannya dalam banyak hal. Bagaimana tidak? Ia lulus dari bangku SMA saat usianya masih lima belas tahun. Setelah itu ia melanjutkan studi S1 dan S2 nya di Jerman sembari memantau perusahaan ayahnya di sana. Dan menyelesaikan S3 nya di negeri ini. Dan ia menyelesaikan itu semua saat usianya baru 22 tahun.


Dan kini ia dibuat kebingungan oleh seorang wanita. Wanita yang bahkan dia belum tahu namanya. Sebenarnya, Dean bisa dengan mudah menemukan semua informasi tentang wanita itu. Ia tinggal meminta Niko, sang asisten pribadi, untuk mencarikannya. Tapi itu tidak ia lakukan. Ia ingin mengetahui semuanya itu dari mulut wanita itu sendiri. Meski hanya sebatas namanya saja.


"Kamu nggak bisa bohongin Mama De." Cibir Lita.


"Dean nggak bohong, Mamaku sayang." Dean menatap mata wanita paruh baya itu dengan keyakinan. Ia benar-benar ingin meyakinkan mamanya bahwa ia tidak berbohong.


"Oke, oke, Mama percaya!" Sahut Lita dengan senyuman hangatnya.


Dean pun tersenyum lega. "Mama ada apa kesini?" Dean mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh iya, Mama sampai lupa. Mama mau ngajak sarapan, udah ditungguin Papa di bawah." Jujur Lita. Ia terlupa karena melihat putranya sedang sibuk dengan fikirannya di depan cermin.


"Oke, Mama turun dulu ya! Dean mau ambil jas sama tas." Rayu Dean sembari mendorong pelan tubuh mamanya agar keluar dari walk-in closet miliknya.


"Mama tunggu di bawah ya!" Pamit Lita yang paham sikap aneh putranya.


Dean hanya mengangguk sambil tersenyum. Lita pun segera keluar dari kamar Dean dan kembali ke bawah menghampiri sang suami yang telah menunggu di meja makan.


"Hhuufftt,," Dean menghela nafas lega ketika berhasil menutupi rahasianya dari sang mama.


"Aahh, sial! Aku harus segera tahu siapa namanya." Gerutu Dean ketika mengingat kejadian tempo hari saat ia berada di kafe.


"Tapi kenapa dia begitu cuek dan terlihat angkuh padaku? Coba aja dia kayak wanita yang biasa Mama kenalin, pasti aku nggak akan sepenasaran ini. Dengan mudah aku ajak dia kenalan."


Dean masih menggerutu sembari menenteng jas dan tas kerjanya keluar kamar.


"Mungkin itu yang membuatku tertarik padanya. Dia berbeda."


"Nandini." Dean terbersit sebuah nama yang selama beberapa tahun terakhir seolah menghantuinya.


"Ah, siapa sebenarnya gadis itu? Namanya masih kuingat sampai sekarang. Tapi kenapa kenangan tentangnya tak ada satu pun. Bahkan Mama, Papa dan Niko juga tak tahu ada yang tahu siapa Nandini. Atau itu hanya khayalanku saja? Tapi kenapa aku tak pernah lupa namanya."


Dean menghentikan langkahnya sejenak, tepat di anak tangga terakhir. Ia memejamkan matanya mencari bayangan sosok wanita yang namanya terukir dalam di benak dan hatinya.


Dean akan melakukan itu setiap nama itu muncul di otaknya tiba-tiba. Ia akan berusaha mencari sosok wanita itu dalam mata terpejam. Tapi lagi dan lagi, ia tak menemukan apapun. Nihil.

__ADS_1


Dean akhirnya hanya melepaskannya begitu saja dan membiarkannya hingga perlahan akan hilang dengan kesibukan yang menyita waktu dan pikirannya. Meski nanti nama itu akan hadir kembali, Dean tak pernah mempermasalahkannya. Dean akhirnya melanjutkan langkahnya menghampiri kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu menikmati sarapannya.


__ADS_2