Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Mencoba Menghindar


__ADS_3

Waktu terus bergulir. Berputar dan terus berjalan. Membiarkan setiap takdir yang telah tertulis, terjadi dan berlalu tanpa henti. Menuntun pada takdir yang akan terjadi berikutnya. Yang tak pernah kita ketahui apa itu.


Hari demi hari berganti. Naina masih sibuk dengan semua pekerjaannya. Ia pun juga mempersiapkan diri untuk dua minggu kedepan, yang mungkin akan sangat berat baginya.


Mengurusi semua usahanya seorang diri, tanpa Sinta, akan cukup melelahkan baginya. Belum lagi, Rissa yang mulai mendapat undangan beberapa acara talk show di stasiun televisi swasta untuk peluncuran filmnya. Hal itu menambah daftar agenda Naina yang sudah cukup padat.


Dan hari ini, tepat dua hari sebelum pernikahan Sinta dan Niko. Naina sudah sangat sibuk sejak pagi. Ia bahkan sudah melewatkan jadwal makan siangnya sejak kemarin. Naina selalu lupa untuk makan siang jika Sinta tak mengingatkan.


Naina sedang berada di Zee Cafe seperti biasa. Ia masih sibuk memeriksa laporan yang belum sempat ia periksa sejak pagi. Sesekali, ia menyeruput coffe latte favoritnya yang selalu ditemani sepotong kue red velvet yang selalu bisa menggoyang lidahnya.


"Mommy!" Teriak Rissa saat ia memasuk kafe dengan sedikit berlari.


Naina yang sedang fokus pada benda layar datar di tangannya, segera mencari sumber suara. Ia tadi tak melihat Rissa yang berjalan melalui depan jendela yang ada di dekat Naina.


"Rissa! Kamu sama siapa Sayang? Kok udah pulang?" Tanya Naina bingung.


Naina mulai celingukan mengamati setiap jengkal tubuh Rissa. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada putri tersayangnya karena pulang lebih awal. Tapi hasilnya nihil.


Naina segera berpindah pada ponselnya. Ia mencoba mencari panggilan atau pesan dari Rissa, yang mungkin saja terlewat karena kesibukannya. Tapi, hasilnya pun nihil.


"Kamu pulang sama siapa Sayang?" Tanya Naina bingung.


Karena biasanya, jika bukan Naina yang menjemput Rissa ke sekolah, hanya satu orang lain, yaitu Sinta. Tapi, Sinta pun sudah mulai cuti sejak kemarin.


"Sama Om Dean Mom." Jujur Rissa.


"Om De,," Ucapan Naina terhenti.


"Hai Na!" Sapa Dean ramah sembari berjalan menuju kursi di seberang kursi Naina.


Naina menghela nafas panjang. Ia berusaha mengatur perasaannya. Yang tadi terkejut dan panik, mulai tak karuan karena kehadiran Dean.


Tak dapat Naina pungkiri, dalam hati kecil Naina, ia juga merindukan sosok laki-laki yang baru saja menyapanya itu. Ia bahagia bisa bertemu dengan Dean sekarang.


Tapi, Naina juga tak bisa terus merawat perasaan itu tumbuh dengan baik. Ia harus berusaha membunuhnya, agar luka yang mungkin akan ia rasakan kelak, tak akan terlalu dalam.


"Kenapa kamu bisa pulang sama Om Dean Sayang?" Tanya Naina seraya menarik Rissa ke pelukannya.


"Tadi kelas Rissa pulang lebih cepat Mom. Waktu Rissa mau telepon Mommy, Om Dean telepon duluan. Kata Om Dean, dia mau jemput Rissa ke sekolah." Cerita Rissa jujur.


"Lain kali, tetap telepon Mommy ya! Dan tunggu Mommy datang jemput kamu. Oke?" Pinta Naina tegas, tapi tetap lembut.


"Oke Mom!" Sahut Rissa sambil mengangguk.


"Sini duduk Sayang!" Ucap Naina seraya menepuk kursi yang tak jauh darinya dan Dean.


Rissa pun menuruti permintaan Naina. Naina lalu memanggil salah satu pegawainya untuk memesan makanan untuk Rissa dan Dean.


Naina masih diam pada Dean. Hatinya masih bergejolak tak beraturan karena bertemu Dean. Ia memilih diam dan tak begitu memperhatikannya. Ia memilih sibuk dengan Rissa atau pekerjaannya.


Dean pun memilih diam menanggapi sikap Naina. Ia sedikit banyak mulai paham sikap Naina padanya. Kadang bisa sangat manis, tapi juga kadang bisa ketus dan diam padanya.


"Na,," Panggil Dean pelan setelah pesanan mereka datang.


"Iya." Jawab Naina singkat tanpa menoleh pada Dean.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah."

__ADS_1


"Kapan Mommy makan?" Tanya Rissa penasaran. Karena ia juga tahu, ibunya itu sering melewatkan makan siang jika tak diingatkan.


"Sudah Sayang, cepat dimakan makanannya. Mumpung masih hangat. Mommy mau memeriksa laporan dulu ya!" Jawab Naina sekenanya.


"Oke Mom!" Jawab Rissa bahagia. Karena ia pun sudah merasa lapar.


Naina kembali berkutat dengan pekerjaannya lagi. Ia membiarkan Rissa dan Dean menikmati makanannya.


"Siang Bu'!" Sapa seseorang dari samping Naina tiba-tiba.


Tiga orang itu pun menoleh. Rupanya ada Sinta dan Niko yang baru saja tiba. Mereka berniat sekedar menghabiskan waktu di kafe milik Naina. Tak sengaja, mereka bertemu dengan atasannya masing-masing.


"Kalian?" Sahut Naina bingung.


"Kami sedang jalan-jalan Bu'." Sahut Sinta jujur.


"Baiklah. Nikmati waktu kalian!" Ucap Naina tulus.


Sinta dan Niko pun menyapa Dean dan Rissa yang sedang menikmati makanannya. Mereka lantas duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Naina.


Tiba-tiba, Rissa terdengar sangat berisik dengan Dean. Mereka bercanda dan tertawa dengan begitu bahagia.


"Rissa! Jangan berisik jika sedang makan!" Bentak Naina tiba-tiba.


Dan CEP. Dean dan Rissa langsung diam mendengar suara Naina. Sinta dan Niko pun langsung menoleh pada Naina.


"Oke Mom!" Sahut Dean dan Rissa bersamaan tanpa sengaja.


Dean dan Rissa saling pandang. Dean dan Rissa cekikian bersama. Sedang Naina mengerutkan keningnya. Ia menoleh pada Dean dengan tatapan tajam.


"Ngapain kamu ikutan panggil aku 'mommy' kayak Rissa?" Ketus Naina.


"Ayolah Na! Aku cuma bercanda." Jujur Dean.


Naina yang memang sedang banyak pekerjaan, dan masih dalam masa datang bulan, ia bisa dengan cepat tersulut emosinya. Apalagi, ia harus bergelut dengan hati dan logikanya jika berhadapan dengan Dean, tentang perasaan yang tak Naina harapkan.


"Rissa, selesaikan makanmu! Mommy akan mengecek laporan kafe dulu, setelah itu Mommy antar kamu pulang." Ucap Naina sedatar mungkin.


Rissa pun hanya mengangguk pada ibunya. Naina segera meraih ponsel dan tasnya. Ia segera meninggalkan meja dan berjalan menuju ke lantai dua. Dimana letak kantor di kafe itu berada.


"Na!" Panggil Dean seraya berdiri.


Naina tak menggubrisnya. Ia tetap berjalan dan menghampiri pegawai kasir yang sedang bertugas.


"Dimana Johan?" Tanya Naina tegas.


"Pak Johan sedang di kantor Bu'." Jawab sang kasir penuh hormat.


"Oke, terima kasih." Jawab Naina singkat.


"Sama-sama Bu'."


Naina segera melangkahkan kakinya kembali menuju tangga dan segera ke kantor yang ada di lantai dua. Ia ingin menghindari Dean karena tak bisa mengatur perasaannya sejak tadi.


"Rissa! Kamu sama Tante Sinta dan Om Niko dulu ya! Om mau bicara sama Mommy sebentar!" Pamit Dean setelah kembali duduk di samping Rissa.


"Oke Om!" Jawab Rissa polos.


"Niko! Sinta! Tolong temani Rissa sebentar! Aku ingin bicara dengan Naina!" Pinta Dean pada sepasang kekasih yang sedari tadi mengamati tingkah Naina dan Dean.

__ADS_1


"Baik Tuan!" Sahut Niko yakin.


"Tapi Tuan,," Cegah Sinta tiba-tiba.


"Ada apa?" Tanya Dean penasaran.


"Bu Naina sedang memeriksa laporan kafe, Tuan. Beliau tak suka diganggu jika sedang bekerja." Cegah Sinta sebisa mungkin.


Sinta masih ingat benar, ucapan Naina saat mereka mengobrol di rumah Naina beberapa hari lalu. Ia berusaha mencegah Dean untuk mendekati Naina saat ini.


"Aku akan menunggunya menyelesaikan pekerjaannya." Jawab Dean santai.


"Tapi,,"


Sinta tak bisa mencegah Dean. Dean pun tak menggubris ucapan Sinta tadi. Ia berjalan menuju lantai dua mengikuti Naina, yang sudah menghilang bayangannya di ujung tangga. Sinta hanya bisa menghela nafas penuh penyesalan.


"Maaf Bu'!" Batin Sinta sedih.


Di kantor kafe, Naina sedang bersama Johan, manajer kafenya. Johan pun dengan sabar memberikan laporan mingguan pada Naina.


Tak berapa lama, Johan sudah keluar dari kantor. Ia bertemu dengan Dean tepat di depan pintu.


"Apa Naina masih di dalam?" Tanya Dean ramah.


"Anda siapa?" Tanya Johan penuh selidik. Ia juga tahu, bahwa pemilik kafe, tak biasa menemui siapapun di kafenya sebagai pemilik, kecuali karyawannya.


"Aku temannya. Aku tahu, dia pemilik tempat ini." Jawab Dean santai.


"Oh. Iya, Bu Naina masih di dalam." Jujur Johan.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Johan pun segera meninggalkan Dean karena mendapat sebuah perintah dari Naina tadi. Ia tak ingin mengecewakan sang pemilik tempatnya bekerja.


Tok, tok, tok. Dean mengetuk pintu kantor perlahan.


"Masuk!" Sahut Naina dari dalam.


Dean pun segera membuka pintu. Naina pun menunggu siapa gerangan yang mengetuk pintu.


"Hai Na!" Sapa Dean ramah.


"Dean? Ngapain kamu kesini? Rissa sama siapa?" Tanya Naina panik seraya berdiri.


"Rissa sama Niko dan Sinta. Aku ingin bicara denganmu Na."


"Maaf De, aku sedang banyak kerjaan!" Jujur Naina.


"Hanya sebentar Na!" Pinta Dean kembali. Ia berjalan mendekati naina perlahan


"Maaf De! Tolong pergilah! Aku harus menyelesaikan laporanku dan segera mengantar Rissa pulang." Jawab Naina tanpa melihat Dean. Ia pun kembali duduk ke kursinya.


"Naaa,," Panggil Dean lembut.


Naina menoleh pada Dean. Ternyata ia sudah berada tepat di sampingnya. Ia bahkan sudah memegang pegangan kursi putar yang Naina duduki. Dean pun memutar kursi Naina, hingga mereka berhadapan. Naina membelalakkan matanya.


"Deee,," Gumam Naina lirih.

__ADS_1


Dean mengungkung Naina di kursi dengan kedua tangannya. Wajahnya pun mulai mendekati wajah Naina yang terkejut.


"Aku merindukanmu Na!" Ucap Dean lirih.


__ADS_2