
Apapun yang harusnya terjadi, pasti akan terjadi. Entah itu hal baik ataupun hal buruk. Semua telah tergariskan dengan sempurna. Yang akan menyisakan pelajaran dan pengajaran bagi semua yang menyadarinya.
Redup. Sebuah ruangan yang asing bagi Naina. Ia terbangun di sebuah ruangan berukuran sedang dengan cahaya yang redup. Tak banyak barang di ruangan itu. Ia pun berada di sebuah kursi kayu dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Kayak di film action aja." Batin Naina santai saat menyadari kondisinya diikat kuat pada kursi dengan mulut yang tertutup lakban.
Naina mengedarkan pandangannya sambil mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Ini dimana lagi? Dasar Delvin sialan!" Umpat Naina kesal.
Naina masih mencoba melihat seluruh ruangan. Ruangan yang kurang terawat. Ada kain putih menutupi beberapa furniture di beberapa sudut ruangan. Ia pun berada sedikit di tengah ruangan. Tepat di bawah sinar lampu yang hanya beberapa watt saja dayanya.
Naina mencoba melepaskan ikatan yang melilitkan tubuhnya pada kursi itu. Ia melongok ke kanan dan ke kiri mencari ujung tali tambang yang berukuran cukup besar yang mengikatnya.
"Argh, aku tak bisa menjangkau ujungnya!" Kesal Naina.
Ya, ujung tali berada di kaki kursi bagian belakang. Dan tangan Naina tak dapat menjangkaunya. Tapi Naina tak menyerah. Ia tetap berusaha untuk menjangkaunya meskipun harus memaksa tangannya kesakitan.
"Argh, tetap tidak sampai!" Geram Naina.
"Iisshh! Kenapa sekarang malah nggak ada kamera yang ngeliput sih? Kan lebih seru." Batin Naina frustasi.
"Mmmmm!" Naina berusaha berteriak dibalik mulutnya yang tertutup lakban.
Tiba-tiba, satu-satunya pintu di ruangan itu terbuka. Naina menatap dengan seksama orang yang membuka pintu dan menghampirinya.
Nampak seorang laki-laki berperawakan sedang tapi cukup gagah. Wajahnya pun tak begitu menyeramkan. Ia berjalan santai menghampiri Naina.
"Ah, masak dia yang jagain aku? Nggak ada serem-seremnya sama sekali." Batin Naina remeh.
SRET.
"Au! Sakit! Pelan-pelan bodoh!" Bentak Naina kesal, karena lakban yang menutupi mulutnya dibuka paksa dengan cepat oleh laki-laki itu.
"Karena kamu sudah sadar, makan!" Ucap laki-laki itu keras.
Laki-laki itu mengambil sebuah kotak yang ada di meja yang tak jauh dari tempat Naina duduk. Ia pun mengambil kursi dan duduk tepat dihadapan Naina. Ia mulai bersiap menyuapkan makanan untuk Naina.
"Buka mulutmu!" Pinta laki-laki itu kasar.
Naina membuang pandangannya. Ia tak mau memakan makanan yang sudah siap disuapkan ke mulutnya oleh laki-laki tadi.
"Cepat buka mulutmu! Itu perintah Pak Delvin!" Pinta laki-laki itu lagi.
"Dasar, Delvin sialan! Baj*ngan!" Umpat Naina keras.
"Tolong! Tolong!" Teriak Naina sekencangnya.
Tapi, tiba-tiba laki-laki itu berdiri dan menutup kembali mulut Naina dengan lakban. Naina berusaha memberontak dan menghindar, tapi sia-sia. Posisinya kini, membuatnya tak bisa berbuat banyak.
"Teriaklah sesukamu! Tak akan ada yang mendengarnya. Rumah ini berada jauh dari pemukiman warga." Bentak laki-laki itu.
"Dan terserah jika kamu tak mau makan! Bukan salahku jika nanti Pak Delvin melakukan hal yang lebih buruk padamu dan kamu tak bisa melawannya." Ancam laki-laki itu.
Naina membelalakkan matanya.
"Sial!" Batin Naina kesal.
Laki-laki itu kembali meninggalkan Naina di ruangan itu sendirian. Naina hanya menatap laki-laki itu sampai hilang di balik pintu.
"Ya Allah, tolong hamba!"
__ADS_1
Jauh dibelahan bumi lain, seorang laki-laki tengah gelisah hatinya. Ia tak tahu kenapa, tapi hatinya benar-benar merasa tak tenang di pagi yang cukup cerah.
"Kenapa aku gelisah? Apa terjadi sesuatu dengan Papa dan Mama di Indonesia?" Gumam Dean sembari menatap langit Jerman yang cerah pagi ini.
Dean kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Ia berniat menghubungi orang tuanya yang sedang berada jauh darinya.
"Nandini."
Dean menghentikan langkahnya ketika nama itu tiba-tiba terngiang kembali di kepalanya. Ia kembali berusaha mencari sosok pemilik nama itu di benaknya seperti biasa.
"Aahh, kenapa masih belum kutemukan pemilik nama itu?" Gumam Dean setelah beberapa saat memejamkan matanya.
Dean pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia segera menghubungi ayahnya yang sedang di Indonesia.
Dean merasa sedikit lega setelah memastikan keadaan kedua orang tuanya baik-baik saja. Jonathan hanya mengatakan, akan menunda kepulangannya ke Jerman beberapa hari karena ada urusan mendadak. Dan Dean mempercayai itu.
"Kenapa perasaanku masih belum tenang?" Gumam Dean setelah bersantai di balkon kamarnya.
Dean menatap langit biru Kota Munich pagi ini dengan perasaan yang gelisah. Ia teringat pada Naina dan Rissa yang sudah tak pernah ia dengar kabarnya selama ia di Jerman.
"Bagaimana kabarmu Na? Apa kamu bahagia setelah menikah dengan ayah Rissa?" Gumam Dean dengan tatapan kosong.
Hati Dean masih tertaut pada Naina. Wanita yang berhasil membuatnya kelabakan di awal perkenalan mereka. Meski kini, setahu Dean, Naina telah menikah dengan Delvin dan membina rumah tangga mereka.
"Aku rasa, aku tak akan bisa melupakanmu Na." Batin Dean.
Dean berusaha menghapus bayangan senyum Naina yang terukir indah di benaknya. Ia masih berusaha melepaskan Naina. Karena ia tahu, Naina sudah menjadi milik orang lain kini. Dan juga, ibunya pun tak merestui hubungannya dengan Naina karena masa lalu Naina.
"Biar kusimpan kenangan itu Na. Kuharap, kau tak akan keberatan untuk itu!"
...****************...
Para polisi pun langsung menyelidiki kasus ini. Mereka segera menangkap Delvin sebagai tersangka utama, sesuai penuturan Rissa dan bukti rekaman CCTV kafe yang sempat ia datangi untuk bertemu Naina.
Tapi sayang, Delvin memiliki alibi yang kuat dan itu cukup bisa mematahkan tuduhan atas dirinya sebagai tersangka hilangnya Naina. Delvin memiliki bukti bahwa ia tidak menculik atau menyembunyikan Naina saat ini. Bahkan, ada beberapa saksi yang menguatkannya. Delvin sudah merencanakannya dengan sangat matang.
Delvin akhirnya hanya ditahan selama 1×24 jam untuk dimintai keterangan dan diperiksa. Setelah itu, ia hanya diwajibkan melapor ke kantor polisi selama Naina belum ditemukan.
Tapi, anak buah Niko dan Joe tidak mempercayai itu pastinya. Mereka diam-diam mengintai dan mengikuti kemanapun Delvin pergi.
Selama tiga hari, Delvin tidak pergi ke banyak tempat. Ia hanya ke lokasi syuting dan berbelanja ke supermarket bersama ibunya. Tak ada yang mencurigakan.
Dan tepat di hari ke empat pukul tujuh malam, Delvin terlihat pergi bersama Jenita ke sebuah tempat yang cukup jauh dan terpencil dari hiruk pikuk ibukota. Dan pastinya, anak buah Niko dan Joe pun segera mengikuti mereka. Dan Delvin tidak menyadari itu.
"Selamat malam Sayang!" Ucap Delvin lembut pada Naina yang terlelap di kursinya.
Naina berusaha mengangkat kepalanya yang terasa begitu berat. Ia tertidur dalam keadaan terduduk selama empat hari ini.
Badan Naina sangat lemah. Ia menolak memakan dan meminum apapun yang disiapkan oleh penjaganya selama ia disekap di tempat itu. Dan itu berakibat pada kondisi tubuhnya kini yang menjadi sangat lemah. Apalagi, mengingat penyakit lamanya yang pasti sudah kambuh sejak kemarin, tapi masih berhasil ia tahan.
Bukan tanpa alasan Naina menolak makanan dan minuman itu. Naina hanya berusaha lebih waspada setelah apa yang ia alami di kafe beberapa hari yang lalu. Ia khawatir, jika ada obat yang kembali dicampurkan pada makanan dan minuman yang diberikan padanya.
Naina berusaha menajamkan penglihatannya. Ia berusaha mengenali siapa yang tadi menyapanya.
"Kenapa Sayang? Apa kau tak mengenaliku?" Tanya Delvin dengan seringai jahat di wajahnya, sambil menarik paksa dagu Naina, setelah melepaskan lakban yang menutup mulutnya.
"Delvin."
Naina yang terlalu lemah, tak mampu untuk menjawab Delvin. Ia hanya mengucapkannya dalam hati.
Delvin menghempaskan dagu Naina.
__ADS_1
"Siram dia!" Pinta Delvin tegas.
Delvin sedikit menjauh dari Naina. Seorang penjaga pun membawakan seember air untuk Delvin. Naina yang lemah, tak bisa berbuat banyak.
BYUURR.
Satu ember air itu berhasil membasahi seluruh tubuh Naina. Naina pun menjadi gelagapan. Ia pun tanpa sengaja meminum air yang disiramkan padanya.
"Kau terlihat lebih baik sekarang." Ejek Delvin puas.
"Sialan kamu Del! Dasar banci!" Umpat Naina kesal.
"Kamu yang memintaku melakukan semua ini! Andai saja kamu tak membatalkan pernikahan kita kemarin, kamu tak akan berada disini dengan keadaan seperti ini BODOH!" Sahut Delvin keras.
Naina yang tubuhnya masih sangat lemah, memilih tak menanggapi ocehan Delvin. Delvin meluapkan kekesalannya pada Naina dengan memaki Naina sesuka hatinya. Ia menyalahkan Naina karena telah mengungkapkan masa lalunya sebagai cassanova di depan umum secara tidak langsung. Dan itu berimbas pada beberapa kontrak kerja yang sudah ia ambil.
PLAK.
Sebuah tangan tiba-tiba mendarat keras di pipi Naina. Naina yang tadi menunduk, lantas menengadahkan pandangannya karena terkejut.
"Dasar wanita jal*ng! Tak tahu diuntung!" Umpat Jenita marah.
Naina ingin mengusap pipinya yang terasa panas karena tamparan keras Jenita, ia sedikit memiringkan kepalanya hingga pipinya bisa bersentuhan dengan bahunya.
"Sudah untung Delvin mau menerimamu yang mantan pelac*r dan Rissa yang bukan anak kandungnya tanpa syarat. Tapi kamu malah menghancurkan nama baiknya di depan umum." Marah Jenita.
"Mama, jangan gitu dong Ma!" Ucap Delvin tiba-tiba.
Delvin berjalan mendekati Naina. Ia mengusap rambut Naina yang basah dan pipinya yang sedikit merah karena bekas tamparan dari Jenita.
Naina sedikit memberontak. Ia tak ingin sedikitpun disentuh oleh Delvin.
PLAK.
Tamparan yang lebih keras, mendarat di pipi Naina. Delvin meluapkan kekesalannya yang membuncah dengan mengikuti cara ibunya. Ia menampar Naina, hingga kursi yang Naina duduki pun rubuh. Tubuhnya pun ikut rubuh, karena masih terikat erat di kursi.
DUG.
Kepala Naina membentur lantai cukup keras. Naina meringis kesakitan karena kepala dan tubuhnya membentur lantai tanpa bisa menahan atau menghindar.
Kepala Naina pun berdenyut sangat keras. Tanpa ia sadari, kepalanya yang membentur lantai mengeluarkan darah. Pandangannya pun makin tak jelas. Ia samar-samar mendengar ucapan Delvin.
"Kamu itu cantik Na. Bisnismu juga berjalan lancar. Kamu pasti pandai bukan? Tapi kenapa kamu bisa begitu bodoh tentang ayah biologis Rissa?" Sindir Delvin sambil berjalan membelakangi Naina.
Delvin dan Jenita yang puas menampar Naina, mereka berdiri membelakangi Naina. Mereka tak mengetahui, jika kepala Naina yang terbentur lantai mengeluarkan darah. Dan bahkan, Naina pun mulai kehilangan kesadarannya.
"Tolong!" Batin Naina sambil menatap punggung Delvin dan Jenita.
"Apa kamu tak menyadari kemiripan Rissa dan Dean? Kamu terlalu bodoh jika tak menyadari itu! Dan aku yakin, kamu pasti juga belum tahu jika Dean adalah ayah Rissa. Benar bukan?" Imbuh Delvin.
Delvin membalikkan badannya untuk melihat ekspresi Naina karena mendengar ucapannya. Jenita pun melakukan hal yang sama.
"Merepotkan!" Gumam Delvin kesal saat melihat Naina sudah memejamkan matanya dengan darah yang mengalir di bawah kepalanya.
Naina sudah tidak sadarkan diri. Tubuh lemah dan kepala yang membentur lantai hingga berdarah, membuatnya kehilangan kesadaran. Delvin dan Jenita menyeringai puas menatap kondisi Naina.
BRAK.
Suara benda keras yang membentur tembok atau lantai, menggema di ruangan itu.
"Ayo Ma!" Ajak Delvin cepat.
__ADS_1